Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#40. Mahkota Itu Aku Pemiliknya.


__ADS_3

"Permisi istri cantikku," ucap Choki berusaha santai meskipun hatinya bak gandang yang bertalu-talu.


Bahkan ia berusaha untuk tidak gemetar pada saat membuka satu persatu kain yang melekat di tubuh Annisa.


Annisa hanya bisa pasrah kini, membiarkan lelaki asing yang kini sudah sah melihat apapun yang ada pada dirinya. Di awali dengan terbukanya penutup bagian atas raganya.


Ia membiarkan tangan kekar Choki, melepas satu persatu benda yang melekat pada tubuhnya juga merabanya perlahan hingga desiran itu perlahan membuat kesadarannya menghilang. Annisa akhirnya tau bahwa inilah yang dinamakan mabuk kepayang.


Sehingga Annisa membiarkan saja rasa malu itu menguar sedikit demi sedikit. Membuat wajahnya yang tadi pucat kembali berwarna.


Lalu, bagaimana perasaan pria di depan tubuhnya ini? Bukankah, Choki seumur-umur belum pernah membuat wanita manapun polos tanpa sehelai benang di tubuhnya? Bahkan, berdasarkan pengakuannya Choki sekalipun tidak pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita.


Tapi, Annisa merasa jika Choki sangat faham bagaimana cara dalam memperlakukan seorang wanita. Karena pada setiap tindakannya sangatlah lembut dan penuh perasaan.


Annisa menerima semua perlakuan suaminya dengan jantung yang tentu saja sudah berdetak tak beraturan hingga napasnya tersengal-sengal.


Ujung jari tangannya bahkan mulai gemetar, tatkala ia merasakan sapuan dari jemari Choki di punggung terbukanya itu secara perlahan. Membuka helai demi helai kain yang membalut tubuh indah sempurnanya.


Jiwa kelelakian Choki pun meronta kini.


Tatkala tanpa sengaja atau memang sengaja menyentuh bagian-bagian indah dari tubuh itu. Apalagi ketika penampakan Annisa kini sudah polos bak bayi yang baru lahir.


Hal yang sama ternyata juga tengah di alami oleh Annisa. Jantung gadis muslimah itu seolah berdetak tak karuan. Berdentum begitu kencang. Pasalnya ini pertama kali ada seorang laki-laki yang akan melihat bentuk tubuhnya secara keseluruhan.


Annisa membiarkan Choki memandangi sepuasnya.


"Masyaallah indahnya." Choki tersenyum kagum campur gemas kemudian menarik helai dari rambut Annisa yang sudah lebih dulu tergerai dan menariknya ke depan hidung.


Ia membauinya perlahan, mengendus aroma shampo yang menguar hingga menusuk indera penciumannya. Lalu merasuk hingga memabukkan akalnya.


Rambut hitam panjang Annisa bahkan hampir melewati punggungnya. Dengan ujung yang lurus menjuntai sampai pinggang terbentuknya itu.


"Terimakasih sayang, kamu udah menjaga ini semua dan menutupnya dengan sempurna. Hingga keindahannya hanya kamu persembahkan untuk aku seorang yang boleh melihat," ucap Choki sambil sesekali menciumi apapun ia inginkan, sehingga Annisa menahan suaranya.


Choki mulai menurunkan ciumannya itu hingga, Annisa spontan menunduk dan menyatukan kedua tangannya.

__ADS_1


Dengan gemas, Choki menurunkan kedua tangan Annisa yang menyilang itu. Choki nampak kesulitan menelan ludahnya sendiri. Jakunnya terlihat turun naik menahan hasrat yang mulai membakar kewarasan otaknya.


Menyadari di tatap sedemikian rupa oleh, suaminya, tentu saja Annisa merasa tegang bukan main. Ingin menghindar tapi tangannya di genggam begitu erat oleh Choki.


Sungguh, jantungnya serasa hendak melompat keluar dari rongga dadanya saat ini.


Choki tersenyum dan menarik dagu agar wajah Annisa kembali mendongak, kemudian menangkup kedua pipi yang bersemu merah itu. Memandang lekat kepada sang pemilik, hingga kedua mata mereka mengunci pada tatapan yang dalam.


"Sekarang, Annisa adalah tanggung jawab Abang di dunia maupun akhirat. Dimana artinya adalah, apa yang Abang ridho maka akan menjadi jalan ke surga untukku.Dan itu berlaku sebaliknya. Jika Abang tidak ridho padaku maka nerakalah yang nanti akan menjadi tempatku. Sebanyak apapun nilai ibadahku. Karena kunci surga istri adalah nilai taatnya pada suami," terang Annisa di sela permainan suaminya.


"Tetaplah seperti ini, sayang ... menjaga kehormatanmu demi suami. Karena aku tidak akan rela dan ikhlas bila sejengkal saja dari tubuhmu atau sehelai rambutmu ini terlihat oleh laki-laki lain selain mahrommu," tutur Choki lembut. Namun, penuh penekanan pada setiap kalimat dalam ucapannya itu.


"Insyaallah, Bang. Annisa akan menjaga ini semua hanya untuk Abang Zakaria," jawab Annisa sambil merasakan jika saat ini tubuhnya seakan melayang di atas awan.


"Allahu Akbar!"


Huh ... hah.


Terdengar, Annisa kesulitan mengatur napasnya, ia merasa jika  oksigen di sekitarnya menipis, namun di beberapa titik tubuhnya ia merasakan sensasi menggelitik dan panas.


Sementara itu, Choki tengah asik bermain dengan apapun yang terpampang jelas. Semua itu kini telah halal untuknya. Ia menikmati itu semua dengan puas bak bayi yang kehausan.


"Alhamdulillah, Abang Zakaria sudah paham," ucap Annisa.


"Aku, gak mau nanti setan dan malaikat melihat aksi panas kita sayang. Kamu mau kan ajarkan aku bacaan niat untuk penyatuan kita?" ucap Choki jujur. Ia tak mau menutupi kebodohannya karena memang dirinya adalah fakir ilmu.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathana ma razaqtana," ucap Annisa yang diikuti oleh pria yang memeluk tubuhnya.


"Boleh aku tau artinya," tanya Choki.


"Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. Dari hadis riwayat Bukhari," jelas Annisa.


"Indahnya Islam," ucap Choki kembali melabuhkan ciuman dan sentuhannya.

__ADS_1


Sentuhan dari lawan jenis yang belum pernah Annisa rasakan di seluruh area kulitnya.


Membuat gadis itu merasakan sensasi, yang tak dapat di gambarkan oleh apapun, serta bagaimana geliat gelora yang membuncah pada malam yang istimewa ini.


Dimana peluh keduanya menyatu, tanpa ada sehelai benang pemisah raga, tanpa ada selembar kapas pembungkus badan.


Semua yang telah halal tak memberi jarak, sehingga setiap sentuhan dan deru nafas yang di nilai ibadah itu, mencipta anti bodi serta menaikkan sistem peningkat imun.


Tanpa Annisa sadari ia memekik kencang, dan ucapan istighfar pun melantun dari bibirnya yang kembali di bungkam oleh ciuman dari Choki.


Penyatuan suci atas nama Allah itu, dibarengi dengan derai air mata yang meleleh di kedua pipi Annisa.


"Ya Allah, maafin Abang, ya sayang!" panik Choki yang berniat langsung memisahkan bagian inti mereka.


Akan tetapi Annisa menelan bahu suaminya agar pemuda itu meneruskan apa yang sudah separuh jalan.


Kemudian, Choki menyeka air mata Annisa dengan cara mengecup kedua kelopak yang basah itu bergantian.


Mata sendunya menatap penuh sesal.


"Perasaan, Abang tadi udah pelan, An. Maaf ya sayang," lirih nya kemudian berkali-kali mengecup seluruh area wajah istrinya.


"Kamu istirahat aja ya," ucapnya sambil merapikan rambut yang menutupi wajah Annisa.


"Teruskan saja, Bang," kata Annisa seraya mengusap rahang suaminya dengan lembut dan senyum manis manja.


A few moment later ...


"Annisaaaa ...!!"


"Suamiku ...!!"


...Alhamdulillah .......


Keduanya mengucap syukur dan mengatur napas masing-masing setelahnya.

__ADS_1


Abis ngapain sih mereka? 🙄


...Bersambung...


__ADS_2