Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#44. Keduanya Hanya Bisa Mematung Kaku.


__ADS_3

Mendengar Choki menyebut nama istrinya, sontak kedua orang tuanya itu menoleh ke arah yang ditatap olehnya.


Annisa menatap kedua orang yang menatapnya aneh. Tak lama Annisa menunduk sopan lalu maju mendekat dan meraih tangan Eliana untuk di ciumnya.


Eli membiarkan Annisa melakukan penghormatan padanya tetapi tidak dengan Alberto.


Pria berhati keras itu malah memasukkan tangannya kedalam saku celana dan tatapannya kian tajam menusuk dan menelisik kepada sosok wanita berpakaian rapat di hadapannya.


"Kau apakan putraku sampai berani membangkang seperti itu!" tuduh Alberto seraya menunjuk ke arah Choki.


Dengan cepat, sebelum Annisa membuka mulutnya untuk menjawab, Choki sudah berada tepat di hadapan Alberto.


"Pa, tolong berlakulah sopan terhadap istriku. Jangan melempar tuduhan yang tidak berdasar," bantah Choki membela istrinya karena ia takkan terima siapapun memandang remeh pada Annisa.


Choki yang paling tau bagiamana baiknya dan juga tulusnya wanita itu padanya selama ini. Bahkan di awal pernikahan mereka Annisa yang memberi nafkah tanpa merasa rugi dan keberatan sama sekali.


Alberto tersenyum sinis. "Lihatlah kau kini, Zakaria. Bahkan sekarang kau berani menajamkan matamu kepada Papa. Demi gadis yang terpaksa kau nikahi ini!" sarkas Alberto lagi, yang mana hal itu membuat Eliana memegang lengan suaminya.


"Honey, tahan emosimu. Ini tempat umum," bisik Eliana mengingatkan situasi dan lokasi yang seketika ramai.


Alberto pun melihat ke sekeliling dengan tatapan tajamnya.


"Tolong, Pa. Kita bisa membicarakan masalah ini di rumah. Datanglah ke kontrakan kami yang mungkin adalah gubuk bagi Papa tapi setidaknya tempat itu lebih baik ketimbang pinggir jalan," ucap Choki. Ia membiarkan Annisa tetap di belakang tubuhnya.


Annisa melihat ke bawah kearah tangannya yang digenggam erat oleh sang suami. Menunjukkan betapa lelaki ini begitu melindunginya, sekalipun mereka adalah orang tua Choki nyatanya.


Alberto mendengus, namun ucapan sang putra ada benarnya juga. Jika tetap di sini bisa saja apa yang ia katakan nanti akan di viralkan oleh para penonton gratisan ini.


"Baik sayang kami akan kesana. Ayo, naik mobil," ajak Eliana seraya merangkul sang putra yang cukup lama tidak ia temui. Sungguh seorang ibu mana yang tidak merindukan anaknya.


"Perasaan Mama aja atau emang kenyataan kalo kamu ini tambah ganteng, Nak," puji Eli pada Choki.


Eli bahkan berkali-kali memperhatikan apa yang sang putra kenakan. Meskipun sederhana tetapi aura Choki semakin bersinar. Macam anak sultan yang cosplay jadi rakyat biasa akan tetapi tetap saja terlihat keren.


Meskipun, pakaian yang Choki kenakan adalah outfit murah meriah, tetapi cahaya kalangan kelas atas itu tetapi bersinar dari putranya.

__ADS_1


"Ini, semua karena Annisa yang merawat Choki, Ma," jawabnya singkat namun mengena.


Sehingga, Eliana teringat bahwa ada sosok lain di dalam sana bersama mereka. Dimana sosok pria wanita itu sejak tadi tak lepas dari genggaman tangan putranya. Seakan Choki takut Annisa terlepas jika ia tak memegangnya.


Eliana melihat ke arah Annisa yang mana membuat wanita mengenakan niqob itu tersenyum dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya itu. Semua itu kentara dari kedua mata Annisa yang nampak menyipit.


"Annisa, apa kamu gak bisa buka dulu itu-nya," tanya Eliana seraya menggerakkan tangan menunjuk niqob yang di kenakan oleh istri putranya.


Annisa baru saja hendak membuka mulutnya hingga akhirnya lagi-lagi sang suami yang mengambil alih.


"Annisa gak bisa buka disembarang tempat, Ma. Kalo Mama dan Papa mau lihat wajah Annisa nanti di rumah, jawab Choki, tetap mengedepankan kesopanan dan kelembutan pada saat bicara dengan kedua orangtuanya.


"Memang kalo di sini kenapa?" tanya Eliana lagi.


"Di sini kan ada pak sopir, Ma," jawab Choki lagi.


Eliana mengangguk saja meskipun ia tak mengerti. Kenapa suaminya boleh melihat dan sang sopir tidak.


Sementara itu Alberto tetap Istiqomah dengan ekspresi dinginnya.


Tak lama mereka pun sampai, namun kendaraan mewah milik Alberto tak bisa masuk kawasan kontrakan sang putra yang harus masuk gang.


Emang ninja pake baju gamis ya, Pa Alberto 😆


Jangan ngadi-ngadi papa ganteng. 🤭


"Keterlaluan!" umpat Alberto pelan hingga hanya Eliana yang dapat mendengarnya.


Sementara sang istri tak asing masuk ke tempat ini karena ia pernah sekali datang untuk memastikan sebelum ia ikut terbang bersama suaminya.


Sang tetangga yang selama ini menjadi cctv untuk Eliana pun keluar menampakkan dirinya meski tak kentara.


Eliana hanya memberikan sebuah kode melalui matanya.


Choki yang berjalan lebih dulu di depan terus menggandeng tangan Annisa yang dingin. Ia paham bagaimana perasaan Annisa saat ini. Gugup dan merasa bersalah, sekalipun ini semua bukan salahnya.

__ADS_1


"Ku pikir kau mengajak ke rumah yang lebih baik daripada hari itu, ternyata sama saja. Lalu untuk apa kalian pindah?" tanya Alberto dengan nada sinis.


Choki membuka pintu dengan kunci yang ada di sakunya. "Masuk dulu, Pa. Nanti aku jelaskan di dalam," jawab Choki seraya mempersilakan kedua orang tuanya agar masuk lebih dulu.


"Rumahnya bersih dan rapi, meskipun kecil," ucap Eliana ketika kakinya telah melangkah masuk ke dalam.


"Ma, sandalnya tolong di buka di luar," kata Choki seraya melepaskan sepatu yang ada di kaki sang mama.


"Ah, iya maaf," jawab Eliana dan membiarkan kaki telanjangnya menginjak lantai keramik kontrakan sang putra yang sejuk.


"Pa," panggil Choki bermaksud melakukan hal yang sama pada Alberto. Akan tetapi pria itu justru memberikan tatapan tajam dengan rahang yang mengeras.


"Kau pikir sesuci apa rumah kalian hingga kami harus membuka alas kaki!" hardik Alberto tak terima.


"Eli, kenakan lagi sepatumu!" titahnya pada sang istri.


"Abang, biarkan saja," ucap Annisa agar hal itu tidak semakin membesar dan pokok permasalahan mereka justru semakin melebar.


"Tetapi, membuka alas kaki ketika kita bertemu kerumah orang adalah salah satu adab kesopanan. Jadi, bukan hanya masuk ke tempat suci saja yang harus seperti ini," sahut Choki, membenarkan sikapnya barusan.


Setidaknya ia ingin kdua orangtuanya menundukkan kesombongan mereka terutama sang papa. Di mulai dengan menghormati kediaman mereka.


"Pa, tolong hargai kami dimulai dari hal kecil ini atau kita tidak akan pernah bisa memulai pembicaraan inti," pinta Choki lagi.


Dengan wajah yang semakin keras menahan amarah, mau tak mau Alberto pun mendudukkan dirinya dengan kasar dan membiarkan Choki membuka sepatunya.


Choki akhirnya memasang senyum karena sang papa menurut juga.


Setelahnya Choki memposisikan duduknya di sebelah Annisa dengan kembali menggenggam jemari istrinya dan ia bawa ke atas pangkuannya.


"Pa, Ma. Sekarang Annisa akan membuka niqob-nya di hadapan kalian. Karena Mama adalah mahrom Annisa dan Papa juga," ucap Choki seraya menatap Annisa untuk memberi ijin kepada istrinya itu. Annisa pun mengangguk dan berputar sedikit hingga membelakangi suaminya.


Karena Choki lah yang akan membuka tapi pengikat pada bagian belakang kepala istrinya itu.


Simpul tali telah terbuka, dengan begitu maka terpampang secara nyata bagaimana rupa wajah Annisa.

__ADS_1


Sontak kedua orang tua Choki hanya bisa terpaku dan mematung.


...Bersambung ...


__ADS_2