Suamiku Bad Boy

Suamiku Bad Boy
Bab#37. Mendonorkan Darah.


__ADS_3

"Tenanglah," ucap Choki, berusaha meyakinkan kekhawatiran kawannya itu.


Choki tak bisa menjelaskan karena keadaan benar-benar emergency.


Ia harus cepat demi keselamatan Jhoni. Sekalipun pria itu memusuhinya tetapi Choki tak pernah memiliki dendam padanya. Dan dia juga tak mungkin membiarkan keadaan Jhoni yang kritis dan membutuhkan pertolongannya.


Choki hanya mengikuti apa kata hatinya di saat ini sisi kemanusiaannya terpanggil untuk melakukan sesuatu yang berguna.


Setelah diperiksakan, Choki langsung diambil darahnya. Kemudian suster segera melakukan tindakan transfusi darah kepada Jhoni. Para tim medis bergerak cepat dan bertindak semaksimal mungkin.


Hingga, pada akhirnya Jhoni berhasil melewati masa kritisnya.


"Makasih banyak bang Jack. Makasih banyak udah nolongin bos kami!" ucap para anak buah Jhoni serempak.


Mereka meraih tangan Choki untuk berjabat bahkan menciumnya penuh syukur.


"Sudahlah. Saya tidak pernah ada dendam dengan bos kalian maupun Gengnya. Semoga, Jhoni masih Allah beri kesempatan untuk kembali kepada kalian. Dan, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini," tutur Choki yang mana hal itu membuat Rudi melongo tak percaya.


"Ngomong apa dia barusan? Sebenarnya bang Jack kenapa dah? Gak mungkin kesambet wali kan?" batin Rudi penuh tanya.


"Rud, yok balik!" ajak Choki yang mana langsung menyadarkan Rudi dari lamunannya.


"Bang Jack. Boleh saya nanya?" kata Rudi.


"Boleh, apaan?"


"Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Abang sampe mau nolongin Jhoni? Bukankah kalau dia gak selamat itu artinya Genk kita gak akan ada yang ganggu lagi? Lalu, apa pelajaran yang Abang maksud dari kejadian ini?" cecar Rudi dengan raut wajah yang sangat serius dan keingintahuan yang besar.


Sebelum menjawab Choki lebih dulu tersenyum. Lalu dia menepuk bahu Rudi.


"Pertanyaan yang bagus. Itu artinya kamu mau menelaah kejadian ini."

__ADS_1


"Ini juga yang mau saya tau, gaya bicara Abang sekarang beda banget."


"Jadi mana yang mau kamu tau lebih dulu Rud?" tanya Choki.


"Dua pertanyaan pertama bang," jawab Rudi.


"Kenapa aku peduli kepada Jhoni padahal pria itu jelas-jelas memusuhi kita? Satu hal Rud, kita ini sesama manusia. Sekalipun terhadap orang yang memusuhi kita tidak tetap memiliki kewajiban untuk menolong ketika dirinya butuh pertolongan. Terlepas dari siapapun Jhoni dan niatnya serta perlakuannya sebelum ini pada kita. Berbeda jika dia adalah musuh agama," tutur Choki yang berhenti sebentar untuk menghela napasnya.


"Ada yang mengatakan padaku, Rud. Bahwa sekecil apapun kebaikan maka akan mendapatkan balasan dari Allah yang maha pengasih dan penyayang. Tau kan selama ini, aku belum pernah berbuat baik terhadap sesama manusia. Karenanya aku memutuskan menolong Jhoni karena Allah, tanpa melihat garis hubungan antara kami berdua," jelas Choki.


"Pelajaran dari kejadian ini, Bang?" tegas Rudi lagi kepada Choki yang telah menaiki kendaraan roda dua milik Rudi.


"Oh iya, pelajarannya adalah ... bahwa setiap kejadian takkan ada yang bisa menerka. Semua itu telah berada di dalam kuasa Allah yang menjadi garis takdir kita. Seperti kejadian yang aku alami, merubah hampir seluruh cara pandang hidupku," tambah Choki.


"Jadi penasaran sama istri Abang, eh maaf!" Rudi buru-buru meralat ucapannya ketika pemuda ini mendapat tatapan tak suka dan penuh curiga dari sang ketua.


"Lupakan keinginan saya Bang, jangan di pikirkan," ucap Rudi lagi berharap sang ketua tidak salah paham padanya.


Choki kini sudah melajukan kendaraannya dengan cepat, karena mengejar waktu. Setidaknya dirinya harus kembali sebelum subuh.


"Abang gak usah anter saya ke markas. Langsung balik aja!" teriak Rudi dari jok belakang.


"Tapi, Rud--"


"Gapapa Bang!" potong Rudi. Dia paham jika sejak tadi ketuanya ini gusar karena memikirkan keadaan istrinya.


Choki pun menghentikan kendaraannya di sebuah pangkalan ojek.


Membayar ongkos yang terus di tolak oleh Rudi.


"Udah Abang, balik aja. Gak usah mikirin saya," tolak Rudi seraya mendorong belakang motor agar Choki segera pergi.

__ADS_1


"Oke deh. Kalo ada apa-apa, kabarin Abang. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam," jawab Rudi melepas kepergian sang ketua dengan tatapan bingung sekaligus kagum.


Sebab Rudi yang paling tau gimana tabiat dan sifat Choki. Dimana sebelumnya pria itu begitu keras kepala dan hati sehingga tidak akan pernah mau mengalah kepada orang lain. Juga tidak akan mau mencampuri urusan yang bukan menjadi urusannya kecuali semua yang berkaitan dengan para anggotanya.


Karena itulah, Rudi dan juga para anak buah Jhoni sempat terheran-heran dan tak percaya ketika Choki alias bang Jack mau mendonorkan darahnya.


__________


"Ya Allah. Udah mau subuh tapi Abang Zakaria belum juga kembali," gumam Annisa seraya mencengkeram mukenanya.


Sejak tahajjud tadi dirinya belum turun dari atas sajadah.


Jemari dan bibirnya terus bergerak seirama untuk melantunkan dzikir dan sholawat. Berharap keselamatan selalu menyertai suaminya.


Dimana pemuda itu entah sedang melakukan apa. Annisa tak ingin membayangkan apapun dan berusaha menghempas prasangka yang sesekali datang ke dalam kepalanya.


"Abang ... pulanglah. Jangan membuat dadaku sesak karena menghawatirkan keadaanmu," gumam Annisa lirih.


Beberapa detik kemudian.


Di saat Annisa tengah merebahkan dirinya di atas sajadah dengan jari yang terus bergerak menggulirkan butiran tasbih.


Terdengar suara salam yang teramat pelan dan lembut.


"Assalamualaikum."


Annisa seketika bangun dari posisinya dan gadis itu segera berbalik.


"Abang!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2