
Seperti biasa Annisa yang pulang dari mengajar berlanjut kerumah salah satu muridnya untuk mengajarkan les privat mengaji.
Kebetulan untuk menuju lokasi tersebut maka Annisa akan turun di sebuah gang lalu berjalan melewati kebun yang cukup sepi.
Pada saat itulah, Bopeng beserta Gareng dan satu orang lainnya yang sebut saja namanya Petruk, tiba-tiba menyergap langkahnya.
Ketiga orang itu memutari Annisa dengan seringai mereka yang menakutkan.
"Astagfirullahal adzim," gumam Annisa kaget. Ketika pria-pria berwajah garang bin mesum ini memasang tatapan mata lapar ke arahnya.
"Siapa kalian?" tanya Annisa dengan suaranya yang tegas.
"Aw, suaranya empuk banget coy!" celetuk Petruk, sambil memasang seringai buas. Otak kotornya langsung membayangkan bagaimana rupa di balik kain penutup wajah itu.
"Hei, Bu haji. Kamu gak perlu tau siapa kita. Tapi yang pasti kita bertiga bakalan ngajak kamu ke tempat yang asik," jawab Bopeng.
Sementara, Gareng sejak tadi mengarahkan kamera untuk merekam.
Pria itu akan mengirimkannya kepada Rudi. Karena pada saat ini Choki sengaja memprivasi nomer ponselnya.
"Maaf, saya tidak bisa ikut dengan kalian karena harus mengajar anak murid mengaji. Saya mohon kalian memberikan saya jalan," ucap Annisa tenang.
Wanita muslimah ini seperti tidak memiliki rasa takut sama sekali.
"Hah! Dia bilang apa Bang? Kasih jalan? Eh eh eh, enak aja ...!" Kali ini yang berkata adalah pria yang bernama Petruk.
"Diem Luh! Jaga bikin dia takut, nanti Bu haji gak mau ikut kita!" omel Bopeng seakan-akan dia marah pada Petruk.
"Bu haji, kita bertiga juga mau dong di ajarin ngaji," kata Bopeng seraya memajukan langkahnya. Dan hal itu sontak membuat Annisa mengambil langkah mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba, Gareng berjaga di belakangnya.
Annisa menoleh sekilas dengan sikap waspada. Ia paham niat orang-orang yang kini menghadang jalannya.
Seketika, Annisa menjatuhkan dirinya untuk berjongkok.
Berniat memeriksa sepatu yang ia kenakan dan juga mengikat kencang tali-talinya.
Celah itu pun di manfaatkan oleh Bopeng untuk mendekati Annisa.
Bopeng bahkan mengulurkan tangannya ke atas kepala Annisa berniat menyentuh kerudungnya.
Annisa pun melirik dengan ekor matanya, hingga sebuah seringai terbit di balik niqob-nya.
"Laa hawla wala kuwata Illa Billah," bisik Annisa dan ia pun langsung menggerakkan kakinya untuk menyapu langkah Bopeng yang sudah sangat dekat padanya.
Tak.
__ADS_1
Dugh.
Gerakannya yang tak terduga tentu saja membuat Bopeng tak siap. Sehingga, pria itu terjatuh ketika kaki Annisa menyapu langkahnya yang cukup cepat itu.
"Akh!" teriak Bopeng yang mana pantatnya mencium tanah kering yang pasti keras itu. Belum lagi ada bebatuan kecil yang mungkin sedikit tajam.
"Sialan!"
"Lu perempuan ngajakin main kasar ya! Padahal gue udah nawarin dengan cara baik-baik ya sama lu!" tunjuk Bopeng dengan raut wajah yang menunjukkan betapa ia sangat kesal.
Sementara kedua orang anak buahnya ini malah tergelak, saat melihat bos mereka jatuh tanpa kharisma.
"Diem lu berdua! Tangkap tuh cewek cepet!" teriak Bopeng seraya memerintahkan anak buahnya itu.
Sontak Gareng dan Petruk pun maju dengan cepat dan Annisa yang sudah siap tentu saja mampu berkelit dengan mudah.
Bahkan Annisa menggerakkan satu kakinya untuk menendang bokong dari keduanya bergantian.
Sehingga, Gareng dan Petruk pun jatuh tersungkur dengan keadaan muka duluan.
Ough!
Keduanya berteriak ketika merasakan keningnya menyeruduk tanah keras berbatu.
Bopeng semakin kesal saja, sekalipun ia sempat terkaget, melihat respon serta reaksi dari wanita yang tertutup rapat ini.
Maka Bopeng berniat merekam aksi itu untuk menyiksa batin Choki, yang merupakan musuh besarnya sejak beberapa tahun ini.
Tapi sayang, Annisa nampak biasa saja dan kini bahkan wanita itu berani melawan.
"Anak buah tolool!!" maki Bopeng lantas maju untuk menyerang Annisa dengan pukulan. Ia harap wanita itu pingsan agar tak perlu susah-susah dalam pembuatan vidionya.
Annisa kembali berkelit dan langsung dapat menangkap lengan Bopeng lalu memutar tangan itu hingga kebelakang tubuh pria tersebut.
Argh!
Bopeng berteriak ketika merasakan sakit pada tangannya yang dipelintir oleh Annisa. Akan tetapi pria itu bisa melepaskan dirinya dengan baik.
Sementara Choki yang sudah mendapatkan laporan dari Rudi beserta rekaman Vidio dimana annisa di hadang pun langsung meluncur ke lokasi yang sebenernya ia cukup tau itu dimana.
Bopeng pikir pada saat Choki sampai nanti ia telah merusak Annisa di rumah bedeng yang telah mereka siapkan di belakang kebun kosong ini.
Sayangnya rencana tinggal rencana.
Bopeng dan dua anak buah lainnya tak tau siapa wanita yang tengah mereka hadapi saat ini.
Annisa dengan gerakan cepat berhasil mematahkan setiap pukulan maupun tendangan bopeng yang diarahkan pria itu kepadanya.
__ADS_1
Dug.
Dug.
Dugh!
"Heh, cewek sialan! Kenapa lu bisa berantem hah!" kesal Bopeng sekaligus heran.
Bagaimana bisa orang yang ia anggap lemah dan sama sekali tak mungkin bisa berkelahi menurut pikirannya.
Kini, wanita itu bahkan mampu menumbangkan kedua anak buahnya hingga mereka terjerembab dan lemas.
"Kau pikir, wanita itu lemah ya. Gak bisa bela diri gitu?" tandas Annisa dengan sorot mata yang menatap tajam pada Bopeng.
"Banyak bacot lu! Awas aja kalo ketangkep dan kalah lu bakalan abis sama gua!" maki Bopeng seraya melemparkan ancaman.
Annisa hanya menggeleng melihat gaya dari Bopeng. Karena Annisa sudah mengukur kemampuan pria itu dari beberapa serangan di awal tadi.
"Banyak bicara, bukan berarti kau lebih hebat dan bisa mengalahkan orang yang kau anggap lemah ini!" tekan Annisa lagi dengan suara yang lebih tegas dari yang tadi.
Bopeng pun mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di dalam saku celananya, kemudian maju untuk kembali menyerang.
Annisa dengan cepat menangkis tangan Bopeng yang hendak menghujamkan pisau ke arah dada sebelah kiri Annisa.
Lagi-lagi Bopeng mengincar perut Annisa untuk menerima tusukan pisau tersebut, akan tetapi Annisa dengan gerakan cepat dan kuat kembali menampik jurus asal dari pria yang teramat bernapsu untuk melukainya itu.
Annisa melayangkan sebelah kakinya kali ini untuk menghalau serangan entah yang ke berapa kalinya dari Bopeng.
Hingga, sebuah mata silet yang sengaja Annisa selipkan pada ujung sepatunya pun mengenai pipi Bopeng.
Sreett.
Sshh.
Bopeng menyeka darah yang keluar dari luka di pipinya kemudian menatap Annisa dengan surat amarah luar biasa.
Jadilah kini codet bukan bopeng lagi pada pipi tersebut.
"Awas kau perempuan!"
Choki yang sudah tiba di tempat tersebut sejak beberapa detik yang lalu sempat melihat bagaimana aksi dari istri jelitanya itu dalam mematahkan serangan demi serangan dari Bopeng alias Ronald.
Bopeng kembali bangkit dan langsung menyerang Annisa dengan kalap karena dirinya merasa tak terima terus di hajar oleh sasaran yang seharusnya menjadi korbannya.
Annisa memundurkan tubuhnya cepat untuk dapat berkelit dari serangan membabi buta Bopeng, dan tiba-tiba dari arah samping Choki merangsek maju.
Bugh!
__ADS_1
...Bersambung...