Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Pantaskah Aku?


__ADS_3

Bab 100. Pantaskah Aku?


Tersentak.


Ya, Yudhis tersentak bangun dari mimpi erotisnya yang nyaris terasa nyata tepat ketika pelepasan di dalam mimpinya usai. Sepasang netranya terbuka nyalang di detik itu juga, bersama deru napas kembang kempis berlarian tak beraturan.


Efek pusat didihnya menegang pada waktu sebelum tidur juga hasrat mendamba yang mati-matian dikubur, menjadikan alam tidurnya merefleksikan keinginan terpendamnya. Yakni mencumbui sang pengantin adinda tercinta, membawanya bermuara pada mimpi panas tak terelakkan. Terlebih lagi di dalam mimpi manisnya bersama si pujaan hati, Khalisa lah yang membimbingnya, mengajarinya terbang ke nirwana, membuatnya kian mendamba memuja.


Dan mimpi basahnya kali ini hampir seperti nyata karena bagi para pria sudah pasti ini bukan mimpi kali pertama semenjak mereka akil baligh, mungkin karena sosok yang dicinta dan ingin dibawa memadu kasih tepat berada dalam pelukan, sehingga rasanya lain dari biasanya.


Saat Yudhis hendak mengusap wajahnya dia dibuat terperanjat lagi dan lagi, memelototi tangannya sendiri, lantaran ternyata telapak tangan besarnya mendarat pada bagian membusung lembut si wanita tak peka yang masih terlelap, menangkup di sana. Bahkan sebelah kakinya ikut melingkar menindih tubuh bagina bawah Khalisa, memerangkap bidadari hatinya dalam dekapan posesif.


“Astaghfirullahhala’dzim.”


Buru-buru Yudhis menarik tangan juga kakinya, takut Khalisa terbangun dan memergoki ulah tangannya ketika dirinya dibuai lelap. Pantas saja sensasi menyentuh benda itu dalam mimpi terasa nyata, karena memang pada kenyataannya teraba indra perabanya.


Mendudukkan diri dengan cepat, Yudhis mengusap wajahnya kasar berulang-ulang. Kemudian dia melirik Khalisa yang posisinya memang tak lagi memunggungi saat dia terbangun tadi, melainkan rebah terlentang. Bersandar di kepala ranjang, Yudhis mengamati Khalisa yang terlelap sembari mengatur napas. Tangannya gatal dan terulur, mendaratkan punggung tangan di kehalusan pipi Khalisa.


“Hei, apakah ini efek feromon memabukkanmu yang ternyata berbahaya? Atau kah getar rasa membuncah di hatiku sendiri yang malah berbalik menjadikanku mabuk kepayang tak tertahankan padamu, Khalisaku, bidadariku, istriku?” ucapnya pelan.


Yudhis terus saja dibuat gemas akan kepolosan Khalisa yang murni terfokus pada Afkar, sehingga lambat menangkap sinyal-sinyal cinta berkekuatan tinggi yang berpendar dari Yudhis untuknya. Sembari menarik naik selimut yang turun agar sempurna membungkus tubuh Khalisa supaya tidak kedinginan.


“Tunggu, apa ini?”

__ADS_1


Yudhis yang sedang betah berlama-lama menatap Khalisa sembari menyelimuti terganggu sesuatu yang mengalihkan, berpindah fokus pada bagian rahasia di antara kedua kakinya. Dia membeliak, saat menyadari pembungkus titik didih rahasianya terasa lembap dan basah. Imbas dari alam tidur erotisnya kali ini benar-benar membuatnya kuyup, bukan hanya sekadar mimpi basah.


“Haish!” Yudhis terlonjak dari kasur, terbirit ke kamar mandi sembari menggerutu dan mengacak rambutnya frustrasi. Langsung mengguyur dirinya dengan tak lupa membaca niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar di pukul tiga dini hari.


Sepeninggal Yudhis, di dalam kamar, kini mata Khalisa terbuka sempurna menatap lurus langit-langit. Yudhis tidak tahu bahwasanya Khalisa terusik dan terbangun dari tidurnya saat Yudhis meracau dalam mimpinya, mengigau berkata cinta berulang-ulang dengan tangan merajalela. Hanya saja saat Khalisa hendak bangun dari baringannya, Yudhis terjaga lebih dulu, sehingga Khalisa mengurungkan niat dan memilih berpura-pura tidur memejamkan matanya rapat-rapat, daripada harus berhadapan dengan situasi canggung.


Khalisa meraba detak jantungnya sendiri yang jujur saja akhir-akhir ini sering berdegup tak biasa setiap kali Yudhis menghujaninya dengan perhatian yang tumpah ruah. Akan tetapi, Khalisa selalu cepat-cepat menepisnya. Insecure, merasa amat mustahil juga tak mungkin sosok semengagumkan Yudhistira Lazuardi menaruh perhatian dalam arti lain untuknya.


Memiringkan posisi tidurnya, Khalisa menggulirkan pandangan pada foto Yudhis yang diletakkan di nakas samping tempat tidur, begitu tampan menawan dalam balutan jas mahal.


Khalisa menelaah pikirannya yang berkecamuk setelah mendengar Yudhis bertutur memuja saat ia berpura-pura tidur, membelai kepalanya lembut, menyelimutinya penuh perhatian, mengigau berkata cinta untuknya dan memanggilnya istriku.


Semua hal itu perlahan menyibak kabut di dalam kepala Khalisa, bahwa dia dan Yudhis sekarang adalah suami istri sungguhan bukan hanya sekadar tentang hak asuh Afkar, pasangan sah, pasangan halal. Hal yang tidak pernah terpikir oleh Khalisa untuk mengarungi kembali sebuah bahtera bernama pernikahan juga rumah tangga yang pernah membuatnya trauma, juga tidak ada dalam rencana asa yang dirajutnya bersama Afkar sebelumnya.


Keesokan harinya, Barata dan Maharani harus kembali ke Bali sebab ada beberapa hal mendesak yang memerlukan kehadiran mereka. Semula Maharani berencana tinggal di Bandung lebih lama dan hanya Barata yang akan pulang, demi misi menyukseskan sang anak yang belum pernah mengucap kata cinta pada sekuntum bunga itu supaya lugas mengungkap rasa pada wanita yang berhasil diperistri melalui jalur spesial ekspres.


Namun, yang jadi masalah di sini sekarang adalah Afkar. Afkar yang akhir-akhir ini lengket pada Maharani merajuk tak mau ditinggal, ingin ikut pergi. Apalagi jika ada Barata, bocah itu langsung menempel ingin bersama Barata dan Maharani sepanjang hari, seolah balita itu menemukan oasis setelah sekian lama mengembara di padang pasir. Mengingat bocah itu tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua ayah kandungnya selama ini. Padahal pertemuannya dengan Maharani dan Barata belumlah lama.


Mungkin memang benar anak-anak yang masih suci bersih dari dosa, dengan mudah mengetahui siapa yang berhati tulus dan tidak. Seperti halnya Afkar sekarang.


“Unda, Af mau Abah cama Oma tantik duyu ya, bental aja,” ujarnya cadel membujuk Khalisa, bibirnya mencebik lucu dan pelupuk matanya menggenang. Memanggil Maharani dengan sebutan oma cantik sesuai petuah yang diajarkan Barata penuh semangat.


“Maaf, Pak, Bu, keberangkatannya jadi tertunda. Biar saya bujuk Afkar dulu.” Khalisa menggendong sang anak dari ruang tengah menuju kamar tamu. Duduk di sisi ranjang bersama Afkar dalam gendongan.

__ADS_1


“Sayang, Af sama Bunda lagi ya, Bu Rani sama sama Pak Bara mau pulang dulu ke Bali. Af enggak boleh merajuk, kan anak pintar,” bujuknya manis.


Afkar menggeleng kencang. “Butan, Unda, Butan itu bilangnya,” protesnya.


“Apanya yang bukan?” sahut Khalisa lembut.


“Abah cama Oma tantik, butan pak bu pak bu,” ujarnya, memonyongkan bibirnya maju, membuat Khalisa meringis bingung sembari melirik Maharani dan Barata sekilas.


Yudhis ikut masuk ke kamar tamu, lalu Afkar mencondongkan tubuh meminta digendong pada Yudhis yang duduk di sebelah bundanya.


“Om Papa, Af mau ikut Abah cama Oma tantik dulu boyeh ya, ya?” pintanya bernegosiasi sembari mengangguk-angguk menggemaskan. “Mau yihat laut, tata Abah banyak ailnya, banyak itannya.”


“Sebetulnya Papi dan Mami enggak keberatan kalau Afkar ingin ikut ke Bali. Minggu depan kami akan kembali ke sini, dan Afkar hanya seminggu saja di Bali, tapi kalau Khalisa mengizinkan.”


Barata ikut menimpali di ambang pintu dengan senyum semringah. Yang memang semua ini merupakan siasatnya bersama Maharani dengan membawa Afkar untuk sementara, supaya Yudhis dan Khalisa bisa lebih dekat satu sama lain. Juga karena mereka memang sayang dan suka pada bocah lucu ini, euforia dua orang yang sudah ngebet ingin memiliki cucu.


“Jangan, Pak. Takut merepotkan.” Khalisa bukannya tak percaya pada Maharani juga Barata, tetapi ia merasa tak enak hati.


Yudhis berpura-pura berpikir. Mulai paham kenapa Afkar sampai ingin ikut pasti sebab telah menjadi korban gombalan papinya yang memang berhati hangat dan sangat menyukai anak-anak begitu pula maminya. Seperti hangatnya Barata terhadapnya dulu. Memang sudah pasti membuat anak-anak mudah luluh.


“Boleh kalau mau ikut, tapi panggilannya harus diganti dulu. Panggilnya Papa saja, enggak usah pakai Om. Karena sekarang, Om adalah Papanya Afkar, bukan cuma Om. Oke jagoan?” kata Yudhis pada Afkar, yang membuat Khalisa mengerjap dan menatapnya melongo.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2