
Bab 69. Sandaran
Tatapan Amanda beralih Wulan, merengut jelas tak suka dengan kalimat Wulan barusan.
“Pengacara yang menjadi kuasa hukum Mas Dion adalah tim kuasa hukum keluargaku. Ibu enggak bisa seenaknya memakai jasa mereka!” sergah Amanda ikut bersuara setelah sedari tadi menjadi penonton.
Wulan dibuat tersentak kaget, tak memprediksi reaksi Amanda akan begini.
“Bukan begitu Manda sayang, Ibu … Ibu cuma menjalankan pesan Dion untuk tidak memberikan Afkar pada Khalisa,” sahut Wulan melunak, nada bicaranya yang tadi naik beberapa oktaf, terjun bebas amat rendah jika Amanda sudah angkat suara. Takut tambang emasnya lepas dari genggaman.
“Buat apa sih gaduh begini? Bikin kepalaku pusing! Mbak Khalisa sama kuasa hukumnya juga sudah membawa surat resmi. Biarkan saja Afkar dibawa sama Mbak Khalisa. Ngapain tetap ditahan di sini juga? Mana lagi sakit kayak gitu siapa yang mau ngurus? Ceu Wati juga punya pekerjaan lain. Aku bayar Ceu Wati bukan buat ngurusin itu anak. Kalau aku secara pribadi jelas enggak mau ngurus ya, bikin repot saja. Nangisnya juga berisik, ganggu anak bayiku. Lagian anak Mas Dion kan bukan cuma Afkar. Ada anak kami juga.” Amanda mencerocos dengan raut masam ditekuk, tak sedap dipandang.
“Tapi kan Manda, nanti gimana kalau Dion bertanya ke mana Afkar sama Ibu, Ibu harus jawab apa?” ujarnya membujuk.
Jujur saja Wulan merasa tak terima melihat Khalisa yang malah tampak lebih baik dibanding dulu saat bertemu kembali padahal sudah dipisahkan paksa dari Afkar. Seharusnya Khalisa muncul dalam keadaan kacau dan acak-acakan, bukan cantik bersinar. Mencuatkan nafsu iblis ingin menyiksa lebih, memuaskan ego.
“Ya itu masalah Ibu. Bukan masalahku!” balas Amanda sinis, masa bodo.
“Pak Yudhistira, Mbak Khalisa, dibawa saja Afkarnya. Lebih cepat lebih baik. Di sini juga cuma bikin rumah bau muntah,” ujarnya dengan ekspresi jijik, menutup hidung.
__ADS_1
Walaupun sikap Amanda sangat tidak sopan dan tidak berempati, tetapi untuk kali ini Khalisa merasa berterima kasih walau hanya secuil, berkat Amanda yang tidak menginginkan Afkar tetap di rumah ini memuluskan jalannya membawa si jantung hati.
“Terima kasih Bu Amanda, atas kerja samanya yang baik sebagai sesama warga negara. Perkiraan saya tidak salah, orang-orang berkelas seperti Anda sudah pasti mencerna informasi secara berbeda, menyikapi dengan cerdas, bukan mencerna dengan otot,” ucap Yudhis tetap sopan, selalu menghaturkan terima kasih seperti apa pun situasinya sebagai adab dalam setiap urusan, terlebih saat maksudnya membuahkan hasil, dengan menyelipkan sedikit sindiran halus untuk Wulan di akhir kalimat.
“Tapi Man_” Kalimat Wulan terpotong cepat oleh Amanda.
“Stop, Bu! Aku berhak memutuskan apa pun yang terjadi di sini, karena ini adalah rumahku dan aku butuh ketenangan di tempat tinggalku! Ingat, ini bukan rumah Ibu!” tegas Amanda, membungkam ribuan bantahan yang terpaksa ditelan Wulan bulat-bulat meski benci harus kalah dari Khalisa.
Menggendong Afkar menggunakan kain jarik, Khalisa dan Yudhis bergegas. Dan saat melewati Wulan yang berdiri di luar kamar, Khalisa berhenti sejenak. Dengan tatapan tajam mengkilap oleh tirai basah air mata, Khalisa berkata menekankan kata-katanya bersama amarah menggelegak.
“Kalau terjadi hal buruk pada anakku setelah ini, ingat baik-baik kata-kataku ini. Aku akan menuntut dan mengejar Pak Dion juga Anda Bu Wulan sampai mendapat ganjaran setimpal hingga aku mati! Camkan itu!” tegasnya berani, tak ada lagi Khalisa yang takut-takut, hanya terpampang kemarahan menyala-nyala dari seorang ibu yang terluka.
Di luar pagar Khalisa sempat berpapasan dengan Dania. Dan Khalisa tak peduli, menabrak bahu Dania kencang sebelum masuk ke dalam mobil.
Mobil hitam Yudhis melesat cepat meninggalkan kediaman Amanda. Khalisa tak hentinya menangis sembari memeluk Afkar erat-erat. Diserbu kecemasan hebat melihat kondisi anaknya yang kian lemah dan kepayahan. Ibu mana pun pasti khawatir luar bias dan sedih bukan main saat anaknya jatuh sakit terlebih sakitnya seperti ini. Dunia Khalisa seakan nyaris runtuh menyaksikan buah hatinya terkapar tak berdaya setelah berpisah tiga bulan lebih darinya.
Khalisa rindu Afkarnya memanggilnya 'Unda', tetapi si kecil kini hanya merintih lemah saat bertemu dengannya. Khalisa menciumi anaknya lagi, seluruh wajahnya, kepalanya, bahkan tangan mungilnya tak luput dari kecup sayang dan cintanya. Semakin sedih saat meraba dengan benar raga anaknya yang lebih kurus dari sebelumnya. Menjeritkan do’a dalam hati, memohonkan keselamatan anaknya, berharap sangat belum terlambat.
Yudhis mengikuti panduan map, mencari rumah sakit terdekat guna mendapat penanganan darurat. Tentu saja untuk sementara, karena Yudhis akan membawa Afkar ke rumah sakit yang fasilitasnya tetap memadai tetapi terjamin aman keamanannya, supaya informasi penting pasien tetap terjaga kerahasiaannya, demi ketenangan Khalisa dan Afkar yang sedang sakit dari gangguan Dion yang pasti akan merongrong setelah ini.
__ADS_1
“Bang, maaf, Afkar jadi mengotori mobil Abang,” ciict Khalisa di sela-sela sedu sedannya saat Afkar lagi-lagi muntah, kendati volumenya cuma sedikit.
“Sudah, jangan pikirkan itu. Kita sudah hampir sampai ke rumah sakit terdekat.”
Yudhis mengambil alih menggendong Afkar saat sampai di rumah sakit terdekat, berlarian disusul Khalisa di belakangnya menuju unit gawat darurat. Yudhis bahkan sampai berteriak lantang di UGD meminta Afkar segera ditangani secepatnya karena balita itu semakin lemas dan pucat juga dibanjiri keringat dingin.
Perawat bersama dokter jaga sigap menangani, Yudhis juga meminta dokter anak yang bertugas dipanggil secepatnya untuk dilibatkan. Di ujung ranjang Khalisa menggenggam kedua tangannya sendiri erat-erat, menggigit bibir menahan isakan bersama air mata yang terus berderai. Takut kehilangan. Andai terjadi hal buruk pada putranya Khalisa tak sanggup walau cuma membayangkan, merasa menjadi ibu yang gagal menjaga anaknya.
“Orang tua pasien tolong tunggu di luar dulu sebentar, untuk kepentingan penanganan perawatan,” pinta perawat, dan dengan berat hati Khalisa mundur meski tak rela setelah Yudhis berbisik bahwa permintaan perawat juga demi kesembuhan anaknya.
“Afkar, maafin Bunda, Nak. Maafin, Bunda,” isaknya nyeri di luar pintu UGD. “Afkar akan baik-baik saja kan Bang?” tanya Khalisa tercekat kesedihan di tenggorokan.
Hati dan dada Yudhis ikut terasa diremas melihat bias bola mata basah Khalisa begitu rapuh sekarang. Yudhis sangat paham, di saat manusia sedang rapuh yang dibutuhkan hanyalah kata penghibur juga aksi menenangkan untuk menguatkan, bukan narasi panjang. Berharap sedikit saja mengobati hati yang lara.
“Hmm.” Yudhis mengangguk sembari mengulas senyum menentramkannya seperti biasa.
Rasa sayang yang telah tumbuh berpadu getar tak tega, menggerakkan lengan Yudhis meraih bahu Khalisa. Perlahan menarik tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukan setelah sebelum ini selalu menahan diri, menepuk-nepuk punggung Khalisa lembut menenangkan. Bukan pelukan terbalut syahwat.
“Kita sudah berikhtiar, sekarang waktunya berdo’a, memohon yang terbaik untuk kesembuhan Afkar.”
__ADS_1
Di saat begini jujur Khalisa butuh sandaran setelah sekian lama selalu menelan segala duka lara seorang diri. Tangisan Khalisa pecah di pelukan Yudhis, punggungnya berguncang hebat, kedua tangannya memegangi sisi kemeja Yudhis erat, dan air matanya membanjiri kemeja Yudhis membasahi bertabur pilu di sana.
Bersambung.