Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Istriku


__ADS_3

Bab 106. Istriku


sepulangnya dari pengadilan, Yudhis membawa Khalisa ke klinik kecantikan milik Aloisa. Berkunjung ke sana dan meminta satu paket perawatan lengkap untuk Khalisa, mulai dari perawatan wajah sampai seluruh badan, lengkap dengan produk skincare untuk dipakai harian.


Yudhis ingin Khalisa merelaksasi tubuh dan pikirannya setelah mengalami ketegangan di pengadilan tadi, terutama intimidasi terang-terangan dari mantan suaminya yang pasti menekan mental Khalisa


hingga lelah.


Khalisa menarik lengan Yudhis, berjinjit dan berbisik begitu Yudhis selesai berbincang dengan salah satu petugas klinik


“Bang, perawatan di klinik kecantikan begini pasti mahal banget. Kayaknya enggak usah deh. Semenjak tinggal di rumah Abang, bisa bebas mandi pakai air hangat saja sudah merupakan relaksasi buatku, dan untuk skincare wajah beli di minimarket saja sudah cukup. Lagian, aku enggak pernah masuk ke klinik kecantikan besar begini,” cicitnya sembari mengamati sekeliling, meringis ngeri membayangkan berapa banyak kocek yang harus dirogoh jika melakukan perawatan kulit juga tubuh di sini.


Yudhis menggoyangkan telunjuk juga kepalanya secara bersamaan. “No. Di sini saja, harus di sini, yang jelas berkualitas dan terjamin aman untuk kulit serta kesehatan. Masa aku pakai produk perawatan kulit dari sini sedangkan kamu dari minimarket,” jelas Yudhis, tak mau dibantah.

__ADS_1


“Hah, Abang perawatan di klinik kecantikan juga? Abang kan cowok?” ujar Khalisa melongo aneh, mengerjap lucu hingga bulu mata lentik yang menaungi manik sendunya berkibar cukup intens.


Yudhis terkekeh pelan. Mencubit pipi Khalisa gemas.


“Iya. Walaupun aku seorang pria dan ketampananku ini bawaan sejak lahir, tapi tetap saja harus dirawat,” tuturnya narsis. “Pertanda kita bersyukur, dengan menjaga dan memelihara apa saja yang sudah dianugerahkan Sang Pencipta. Hanya saja perawatan pria lebih simple dan singkat, tak sebanyak perawatan untuk wanita."


“Pantas saja Abang ganteng banget. Selain bawaan dari lahir, ternyata dirawat juga ya,” ujarnya polos, berkata jujur, membuat taman kalbu Yudhis dipenuhi bunga-bunga indah bermekaran sekarang. Diakui tampan oleh si belahan jiwa ternyata semenyenangkan ini rasanya.


“Mulai sekarang, sebagai suamimu, aku juga harus merawatmu dengan baik dan benar, bukan cuma diriku sendiri. Karena kamu adalah istriku.”


“Nyonya Yudhistira.” Seorang terapis berseragam menghampiri. “Silakan ikut saya, semuanya sudah disiapkan. Lebih cepat dimulai lebih baik, karena rangkaian perawatan yang dipesan suami Anda cukup memakan waktu dalam mengerjakannya.”


“Nyo-Nyonya Yudhistira?” Khalisa membeo gugup. Masih terasa asing di telinga saat mendengar panggilan itu.

__ADS_1


“Tolong berikan pelayanan terbaik juga produk terbaik di klinik ini untuk istri saya, ya,” pesan Yudhis penuh perhatian.


“Baik, Pak Yudhis. Dokter Aloisa yang akan turun tangan langsung untuk melakukan perawatan wajah nanti, saat ini beliau sedang menangani customer VIP. Istri Anda sudah sangat cantik, dan pasti akan semakin memukau setelah melakukan treatment lengkap di sini. Dan khusus untuk istri Anda, ada free perawatan khusus spesial pengantin baru," jelas si terapis panjang lebar.


"Perawatan pengantin baru? Jenis perawatan a-apa itu?" Khalisa malah tegang mendengarnya.


"Jenis perawatannya adalah spa yang dilengkapi ratus, saya yakin Anda pasti suka dan suami Anda akan lebih menyukainya."


Yudhis berdehem berpura-pura batuk, sedangkan Khalisa yang tak begitu paham malah mengernyitkan dahi. Walaupun Yudhis ini perjaka ting-ting, tetapi dia sangat tahu tentang perawatan ratus yang disebutkan si terapis untuk apa gunanya, karena Ghaisan pernah membahas ini dalam rangka memanas-manasinya.


"Mari ikut saya, Nyonya.”


“Masuklah. Nanti kujemput. Aku harus ke kantor dulu dan kupastikan aku sudah berada di sini sebelum perawatanmu selesai,” titah Yudhis lembut, tersenyum manis dan membelai kepala Khalisa sekilas.

__ADS_1


Khalisa tak diberikan kesempatan menolak. Akhirnya ia patuh mengikuti si terapis setelah meminta izin dengan kikuk ingin salim mencium punggung tangan Yudhis, dan setelahnya dengan cepat terbirit-birit seperti maling, masuk ke bagian dalam klinik.


Bersambung.


__ADS_2