
Bab 75. Manis dan Hangat
“Ssuuttt.”
Desis maskulin mengalihkan kepanikan Khalisa, menoleh ke arah sumber suara. Di sisi kanan dekat jendela kaca, Yudhis sedang menggendong Afkarnya sembari memegangi tiang infus. Bocah tersayangnya terkulai lelap di pundak Yudhis. Kedua mata si buah hati memejam tenang dengan mulut sedikit terbuka membingkai wajah lucu sang anak yang kini lebih tirus.
“Jangan berisik, Bunda. Afkarnya tadi habis minum susu dan baru saja tertidur lagi.” Yudhis berkata serendah mungkin, menaruh telunjuk di depan mulutnya yang mengukir senyum menampakkan lesung pipinya, memberi isyarat pada Khalisa untuk berbicara lebih pelan.
Menyibak selimut dan melompat turun dengan cepat, Khalisa menghambur ke arah Yudhis. Memeluk sang anak yang tanpa sadar ikut memeluk yang menggendongnya.
“Kukira kembalinya Afkar padaku hanya mimpi. Aku takut itu cuma mimpi lalu, saat aku bangun Afkar hilang dari pandanganku, aku takut.” Khalisa sesenggukan, memeluk erat.
“Afkar benar-benar nyata sudah ada di dekatmu lagi, Khal. Maaf, bikin kamu kaget,” hibur Yudhis berusaha menenangkan Khalisa yang panik.
Jakun Yudhis naik turun imbas dari degup jantung memburu sebab lengan Khalisa ikut memeluknya erat dalam waktu yang cukup lama. Berteriak dalam hatinya sendiri memerintahkan si detak sumber kehidupan untuk tidak terlalu murahan saat Khalisa begitu dekat tanpa jarak dengannya, mudah sekali berdisko di dalam sana.
“Kenapa Abang enggak bangunin aku sewaktu Afkar terbangun. Aku ingin mengobrol dengan anakku, juga rindu membuatkannya susu,” isaknya dengan nada merajuk yang tak disengaja, masih dilanda keterkejutan, bahkan tidak ingat untuk melonggarkan kedua lengan yang masih melingkar kencang.
“Afkar sendiri yang enggak mau bangunkan kamu, katanya Undanya lagi bobo. Dia terlihat tak tega mengganggu tidurmu. Dan perlu kamu tahu, tadi aku sudah mencoba bangunkan kamu. Tapi kamunya tidur seperti kerbau mati, nyenyak sekali.” Yudhis menyelipkan kelakar guna mencairkan suasana, supaya Khalisa tidak terus terpaku pada rasa paniknya.
“Masa sih?” Khalisa mencebik, mengerucutkan bibirnya, melayangkan tatapan tak percaya.
__ADS_1
“Iya, aku sudah tepuk-tepuk pundakmu bahkan ngomong tepat di telingamu, tapi kamu enggak bangun-bangun.” Yudhis menyengir jahil, disusul kekeh pelan.
Yudhis dan Khalisa tak tahu, dua orang di sofa cekikikan pelan sembari memerhatikan interaksi mereka. Yang satu mengambil pose mereka bertiga menggunakan ponsel dan yang satu lagi mengamati sembari melipat bibir.
“Ahhh, Pak Yudhis itu memang idaman. Selain ayang able, suami able, dia juga bapak able,” cicit Erika yang sama-sama baru saja terbangun dari tidurnya dan Aloisa pun demikian.
“Kamu enggak cemburu? Bukannya kamu pernah bilang naksir level Uranus sama Abang ganteng kita itu?” balas Aloisa usil.
“Hhh, cemburu pun percuma, enggak laku. Sampai odong-odong berubah jadi pesawat jet pun rasanya mustahil bikin dia melirikku. Telanjang di depannya pun sudah dapat ditebak pasti dianggurin.”
“Hhohoho, putus asa sekali Anda, Nona? Bagus. Lanjutkan,” bisik Aloisa, cekikikan puas.
“Rasa sukaku yang mendidih ini tak cukup hangat untuk mencairkan hati si tuan gunung es. Dan ternyata janda berparas ayu beranak satu nan lugu yang memiliki kehangatan nyaris panas. Seorang wanita pasif, penuh problematik, tapi juga penuh tekad juang tinggi secara bersamaan, itulah yang mampu melumerkan seorang Yudhistira Lazuardi, yang selalu terkesan enggak berminat pada pesona wanita. Cuma kayaknya dua-duanya masih amatir mengungkapkan rasa, perlukah kuajarkan secara privat?” Erika menukas yang disambut dengusan tak setuju dari Aloisa.
Aloisa menangkap gambar langka yang terpampang di ruang perawatan, menjepret pemandangan manis penuh kehangatan itu dan mengirimkannya pada sang suami diikuti pesan teks.
“Jomblo abadi kita sepertinya akan segera sold out.”
Ufuk timur menghantar pagi. Kicau burung menyambut riang bernyanyi. Dedaunan dibasuh embun jernih nan murni. Hangat berpadu sejuknya menenangkan hati.
Pagi-pagi sekali Khalisa sudah membasuh diri dan berganti pakaian. Terlihat lebih segar, tak sekusut kemarin sore. Tidurnya semalam meski tidak sampai delapan jam, mampu mengisi ulang energi yang terkuras. Kata-kata dan perlakukan menenteramkan dari orang-orang baru yang mengelilinginya, mampu membuatnya berpikir lebih tenang, tidak terus dihantui ketakutan menghebat yang berasal dari kejadian buruk yang dialaminya beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Erika berpamitan pulang begitu Aloisa, dijemput Ghaisan yang turut menjenguk Afkar membawa buah tangan. Bukan hanya bingkisan untuk Afkar, Ghaisan pun membeli menu sarapan untuk Yudhis dan Khalisa, juga tak lupa membawakan kopi panas yang katanya favorit Yudhis.
“Mereka benar-benar sahabat sejati,” cicit Khalisa kagum. Menyaksikan pertemanan yang begitu erat saling mendukung.
Khalisa kembali memerhatikan sang anak dalam riak rindu menggebu. Afkar masih tertidur, masih belum saling tatap dengannya, malah Yudhis lah yang mencuri start berinteraksi dengan Afkar setelah berpisah lama darinya.
Di sofa dekat kaca tembus pandang, Yudhis pun terlelap dalam posisi bersandar. Tak sengaja memejamkan mata sekembalinya dari musola subuh tadi. Terayu kantuk yang merongrongnya selepas semalaman terjaga.
Mengambil selimut tambahan yang dibawakan Aloisa, Khalisa menghampiri. Menyelimuti Yudhis yang tampak kedinginan. Tertegun di sisi sofa, Khalisa menatap Yudhis yang memejamkan mata. Cukup lama ia tercenung, bersama untaian syukur juga rasa kagum yang bertasbih menggema dalam kalbu.
Melewati jalan takdir pernah dipertemukan dengan sosok seperti Yudhis sungguhlah bagai keajaiban luar biasa bagi Khalisa yang tidak memiliki keluarga juga sanak saudara di dunia ini. Saat bertemu kembali pun meski di situasi berbeda, tidak sedikit pun mengurangi esensi Yudhis dalam menolong dan membantunya. Totalitas membantunya yang sedang bersusah hati.
Kebaikan tulus Yudhis juga rekan-rekan serta kawan-kawannya yang bergandengan membantunya, merupakan anugerah tak terhingga bagi Khalisa. Khalisa juga teringat pada Tya, yang tak pernah bosan membujuk untuk mengurungkan niatan nekatnya. Berkat ide Tya juga, Khalisa bisa kembali dipertemukan dengan sosok Yudhis, yang membantunya maksimal memperjuangkan haknya atas Afkar.
“Makasih, Mbak Tya,” gumam Khalisa pada udara, berharap semilir angin mengantarkan hatur terima kasihnya pada Tya nun jauh di sana.
“Terima kasih banyak, Bang Yudhis. Atas semua kebaikan Abang yang sudi membantuku sampai di tahap ini. Entah bagaimana caraku membalas. Tapi bagiku kamu datang seperti malaikat tak bersayap yang dikirimkan Sang Maha Baik buatku. Bukan sekadar membantuku yang tengah bersusah hati ini, tapi meluruskanku kembali yang sempat berbelok ke jalan menyimpang. Juga, makasih untuk_”
Ucapan Khalisa terhenti sesaat, tercekat haru berpadu nelangsa di tenggorokan. Teringat pada momen saat dirinya terbangun menjelang subuh tadi. Bagaimana hangatnya sikap Yudhis memperlakukan buah hatinya, memastikan Afkar terlelap kembali dan membaringkan bocah tersayangnya dengan hati-hati. Bahkan rela menyeduhkan susu untuk anaknya, hal yang tak pernah dilakukan Dion untuk Afkar.
“Makasih, Abang sudah begitu peduli pada anakku, pada Afkar. Sudah mengusahakan yang terbaik, yang selama ini enggak pernah Afkar dapatkan. Makasih banyak atas bantuannya, Bang,” lirihnya parau, sudut matanya berair. Sungguh berterima kasih murni dari lubuk hati. Mendapati permata hatinya diperlakukan begitu berharga, ibu mana pun takkan mampu membendung air mata haru.
__ADS_1
“Semoga kehidupan Abang selalu dipenuhi keberkahan. Selalu dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya. Seperti Abang yang membantu memudahkan masalah pelikku, makasih banyak.”
Bersambung.