
Extra Chapter 1
Dua minggu setelah Afkar benar-benar membaik pasca disunat, Khalisa memantapkan niat untuk menjenguk Dion, selagi masih ada waktu untuk bersilaturahmi terutama Afkar yang notabene merupakan anak kandung Dion.
Rutan. Tempat yang tak pernah dibayangkan Khalisa akan menginjakkan kaki di sana. Seumur-umur tak ada pikiran bahwasanya hari ini dirinya memasuki tempat ditahannya para narapidana. Hanya saja keberadaannya di sini bukan sebagai tahanan, melainkan hendak membesuk.
Meminta izin terlebih dahulu pada Yudhis untuk Khalisa membeli sedikit buah tangan berupa buah-buahan juga roti pilihan dari toko bakery. Sebagian diberikan pada para petugas rutan, dan separuhnya lagi tentu saja untuk seseorang yang hendak dibesuk. Bukan sebab masih ada hati dalam arti lain, hanya sebagai bentuk kemanusiaan terhadap orang yang sakit. Memanusiakan manusia, tidak serta merta gelap mata lantaran pernah terluka, meski dulu dirinya tak diperlakukan demikian.
Afkar yang digendong memeluk leher Yudhis erat begitu memasuki lorong rutan menuju ruangan khusus besuk, sedangkan Khalisa mengeratkan genggaman sembari sesekali melirik pada suaminya yang balas meremas tangannya lembut. Yudhis tahu bahwa istrinya butuh dikuatkan dan diberi kerelaan darinya sebagai suami, menuntutnya berpikir bijak dan menurunkan ego di situasi semacam ini. Mendoktrin diri untuk tak melulu posesif, bukan berarti karena tidak cinta dan cemburu, melainkan sebagai bentuk pengertian.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Bu, Pak. Pak Dion sedang menuju kemari. Silakan duduk," ucap si petugas yang mendampingi dan memandu jalan sejak memasuki pintu utama bangunan rutan, mempersilakan dengan sopan.
"Unda. Ini lumah apa?" tanya Afkar pada Sang bunda begitu Yudhis dan Khalisa duduk bersisian pada kursi model zaman dulu yang terdapat di sana. Balita itu kentara tak nyaman, sebab menempel erat terus-menerus pada Yudhis.
Khalisa melirik Yudhis bingung, lidahnya kelu entah harus menjawab apa.
"Ayah?" Bola mata Afkar mengerjap penuh tanya, menengadah menatap Yudhis.
"Iya, ayah Dion. Kan ayahnya Afkar juga." Yudhis menyahuti dengan lembut. Wajah si balita lucu berangsur-angsur muram seolah enggan.
__ADS_1
"Ayah cucu cakit," cicitnya sembari menepuk-nepuk perutnya. Mendengar nama Dion seolah menggali kenangan buruk, di ingatan Afkar adalah susu menyiksa yang ketika dijauhkan dari Khalisa harus diminumnya. Yang terekam kuat adalah sewaktu dirinya tak tahan ingin menyusu, meminta ingin minum susu dan dia ingat Dion memberikan bungkusan berisi susu pada Ceu Wati tetapi setelah meminumnya perutnya selalu sakit.
"Mau cucu beyi Papa, endak mau cucu cakit," cicitnya lagi, Afkar tampak takut dan hendak menangis. Mengira dirinya dibawa ke sini untuk ditinggalkan lagi bersama Dion. Tangan mungilnya memeluk Yudhis erat-erat yang mendudukkannya di pangkuan.
"Iya, dong. Susu Afkar kan banyak di rumah, susu yang sudah Papa beli. Kita ke sini bukan mau biarkan Afkar minum susu sakit lagi, tapi kita ke sini mau jenguk ayah Dion. Ayah Dion lagi sakit katanya, dan orang sakit itu harus ditengok sambil dibawakan ini, supaya cepat sembuh. Namanya menjenguk yang sakit." Yudhis menunjuk keranjang buah dan kotak berisi roti di atas meja.
Sejak lima menit lalu seorang pria kurus kering yang duduk di atas kursi roda dengan mata sendunya mengawasi interaksi Afkar dan Yudhis, siapa lagi kalau bukan Dion yang mematung di ambang pintu.
"Afkar," panggil Dion, yang suara serak bergetarnya membuat tiga orang di ruang besuk menoleh padanya.
__ADS_1