
Bab 57. Spesial
“Bisa pakainya?” tanya Aloisa, muncul di ambang pintu kamar Khalisa yang sedikit terbuka.
Di akhir pekan ini, Khalisa yang baru selesai dengan ritual mandi pagi setelah membantu ART berbenah, berganti pakaian mengenakan gamis cantik warna toska, sedang kesusahan memasang jilbab di depan cermin. Sudah lima belas menit Khalisa mencoba, tetapi masih belum berhasil.
“Oh, ini … ini, saya masih belum paham cara memakainya, Dokter,” sahut Khalisa malu-malu.
“Panggil Kak Loi saja, ini bukan di klinik, enggak perlu pakai embel-embel dokter.”
Aloisa tahu informasi usia Khalisa dari sang suami yang ternyata terpaut tiga tahun dengannya, sehingga dia menyebut dirinya dengan panggilan kakak. Aloisa turut prihatin, di usia Khalisa yang terbilang masih begitu muda, sudah menyandang status janda dengan segudang permasalahan pelik.
“Butuh bantuan,” tawar Aloisa.
“Kalau tidak merepotkan, jujur saja saya butuh bantuan karena ternyata memakai jilbab tidak semudah kelihatannya. Kak Loi begitu pandai memakai jilbab, rapi dan cantik.” Khalisa mengutarakan fakta, entah itu tentang kesulitannya memakai jilbab juga tentang pujiannya pada Aloisa.
__ADS_1
“Dengan senang hati. Perhatikan Aloisa beraksi,” cicitnya ceria.
Aloisa memosisikan diri berdiri di belakang Khalisa yang duduk di kursi berhadapan dengan cermin. Si dokter cantik namun sedikit bar-bar itu mengerahkan seluruh kemampuan bak profesional, terlampau percaya diri seperti biasa. Andai Khalisa tahu, sebetulnya Aloisa juga sedang dalam tahap belajar, terbilang amatir dan masih di bawah pengarahan Farhana dalam perihal berbusana muslim.
“Kenapa, Khal? Ada yang ingin kamu tanyakan? Kalau wajahmu diperiksa X-ray, seluruh permukaannya penuh dengan tanda tanya,” celetuk Aloisa terkekeh, sembari sibuk menata jilbab yang dipakai Khalisa. Sejak tadi bola mata Khalisa bergulir resah mencuri tatap pada Aloisa lewat cermin.
Khalisa meringis malu. “Kelihatan jelas ya?”
“Sangat, terlihat sangat jelas. Terpampang nyata. Jadi, bilang saja, mau tanya apa?”
“Mungkin ngepet,” jawab Aloisa asal.
“Hah, Yang benar?” Khalisa memucat sekarang, seketika gelisah. Aloisa tak mampu menahan gelak tawa disuguhi respons Khalisa yang baginya teramat lucu.
“Aku cuma bercanda. Tentu saja enggak. Bang Yudhis itu anak dari orang hedon, keluarga besarnya kaya raya. Bahkan pamannya masuk ke dalam jajaran sepuluh orang terkaya di tanah air. Kamu tahu Arjuna Syailendra? Pengusaha tekstil yang pernah diwawancara majalah Forbes.”
__ADS_1
Khalisa menggeleng lugu. “Saya tidak tahu,” ujarnya pelan. Mau tahu dari mana, Khalisa amat sempit wawasan karena penghakiman orang-orang membatasi ruang geraknya dalam berbagai hal sejak ia kecil hingga kemudian menikah, sehingga banyak informasi tentang dunia luar yang tidak diketahuinya. Selama ini hidupnya ibarat katak yang terjebak di dalam tempurung.
“Untuk LBH Raksa Gantari sendiri, dia memang mendedikasikannya benar-benar ingin membantu yang kesusahan. Murni hasil jerih payahnya. Sedangkan sumber dana melimpah yang mengalir padanya berasal dari tiga pabrik industri Garmen di daerah Jawa Tengah. Tapi banyak yang tidak tahu tentang hal itu, hanya orang-orang terdekat saja. Karena Bang Yudhis sendiri yang tidak ingin memublikasikannya, yang memang orang tuanya bangun ketika Bang Yudhis masih kecil untuk dikelolanya setelah dewasa.”
“Wah, ternyata memang orang kaya yang baik hati,” ucap Khalisa seraya mengulas senyum. Khalisa yang tadi sempat tegang, tampak lebih rileks sekarang.
“Ya, dia memang baik hati walaupun kadang-kadang bawel juga tengil. Banyak kliennya yang akhirnya ikut bekerja di garmennya setelah kasus mereka terselesaikan, sebagai bantuan maksimal Bang Yudhis akan finansial klien yang kesusahan. Tapi sejak dulu, gaya hidupnya terbilang sederhana jika disandingkan dengan betapa kayanya keluarga besar orang tuanya. Tak pernah risi walaupun makan siomay sambil berjongkok di pinggir jalan. Untuk tempat tinggal pun memilih membeli kavling di kawasan kalangan menengah, bukan di area mewah eksklusif. Kendaraan yang paling sering dipakainya memilih memakai mobil merakyat yang harganya terbilang standar. Menghindari menonjolkan diri. Tidak banyak yang tahu, bahwa di garasi tertutup rumahnya ada beberapa mobil mewah yang sangat jarang dipakainya, Mercedes Benz dan Audi. Bukan dia yang membeli, tapi hadiah yang dibelikan ibunya,” jelas Aloisa di sela-sela memakaikan jilbab pada Khalisa hingga terpasang sempurna.
“Nah selesai, sangat cantik.”
“Makasih, Kak Loi.” Khalisa tersenyum senang, kendati gurat sendu masih membias di balik wajah ayunya.
“Sama-sama. Perlu kamu tahu, Bang Yudhis selalu total dalam membantu klien-kliennya. Cuma, bantuannya buat kamu bukan sekadar total, tapi spesial,” ujarnya penuh arti, sebelum meninggalkan Khalisa yang kini mengerjap tak tentu setelah mendengar kalimat Aloisa.
Bersambung.
__ADS_1