Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Masuk Angin


__ADS_3

Khalisa Bab 138. Masuk Angin


“Hoek ... hoek!!”


Suara gaduh mual muntah menginterupsi pagi hari yang hening di kediaman luas sang pengacara. Yudhis berada di ruang kerja, tengah memilah keperluan kerja yang akan dibawanya ke kantor hari ini dalam rangka persiapan akhir untuk persidangan gugatan Khalisa besok, sementara si klien yang kini sudah menjadi istrinya itu sedang menyiapkan sarapan pagi.


Suara itu berasal dari dekat dapur, terdengar berulang-ulang semakin intens. Menaruh macbook yang hendak dimasukkannya ke dalam tas, Yudhis yang sudah tampan dan rapi gegas memeriksa. Langkah kaki panjangnya semakin lebar saat mengenali suara siapa yang tengah mual-mual itu, siapa lagi kalau bukan istrinya yang sejak semalam terlihat kurang enak badan meski tak mengeluh secara gamblang.


Benar saja, di dekat area dapur, Khalisa sedang membungkuk di wastafel khusus mencuci tangan dengan kedua tangannya berpegangan erat ke tepiannya. Tampak kepayahan karena sepertinya mualnya hebat tanpa ada yang bisa dimuntahkan, mengingat baik Yudhis maupun Khalisa belumlah mengisi perut pagi ini.


“Khal?” panggilnya terkejut. Yudhis merangsek mendekat, langsung mengusap-usap punggung Khalisa juga memijat tengkuknya lembut.


“Bagian mana yang paling terasa enggak nyaman? Mungkinkah sakit lambungmu kambuh lagi?” cecar Yudhis khawatir, mengingat Khalisa pernah mengalami asam lambung tinggi hingga pingsan juga malnutrisi, sampai harus dilarikan dan dirawat di rumah sakit, membuat Yudhis dilanda panik sekarang.


“Kita ke dokter sekarang.” Yudhis menggamit tangan Khalisa cepat. Dibuat semakin panik melihat wajah istrinya yang kehilangan rona merah mudanya. Namun, Khalisa menahan lengannya dan menggeleng pelan.


“Enggak usah ke rumah sakit, Bang. Kayaknya cuma masuk angin biasa. Mungkin efek samping naik pesawat, maklum baru pertama kali,” sahut Khalisa setelah berkumur dan membasuh mulut. Mengulas senyum di wajahnya yang pucat.


“Tapi wajahmu pucat. Jangan membantah, aku takut asam lambung parahmu kumat lagi. Apa mungkin penyebab mualmu berasal dari kopi latteku yang semalam kamu cicipin sampai habis setengah gelas?” Yudhis teringat kejadian semalam di saat Khalisa meminta ingin meneguk kopi yang sedang dinikmatinya, tidak seperti biasanya, karena setahu Yudhis, Khalisa bukan kopi lovers.

__ADS_1


“Tapi lambungku kali ini enggak melilit disertai rasa sakit hebat seperti malam kejadian sewaktu Abang membawaku dirawat inap. Terus juga, jadwal makanku selalu teratur sekarang. Jadi kayaknya ini beneran cuma masuk angin biasa. Cukup dibalur minyak angin saja biasanya masuk anginku mereda," terang Khalisa seraya mengusap-usap perutnya yang tak nyaman.


"Mungkinkah ini juga efek dari karena kamu merasa tertekan menghadapi persidangan akhir besok? Setahuku, banyak pikiran bisa memicu asam lambung meningkat," cecar Yudhis tak tenang.


"Kalau aku bilang enggak tertekan tentu saja bohong. Kuakui aku tegang menghadapi hari esok. Tapi, mualku kali ini beneran bukan karena itu, Bang. Tapi lebih pada terpancing bau tak sedap. Tadi sewaktu memanaskan butter buat masak ayam untuk isian sandwich, aroma butternya agak aneh, berbeda dari yang biasanya tercium. Mungkin kadaluwarsa. Harus kuperiksa ulang semua tanggal expired bahan makanan di dapur. Abang jangan cemas begitu, kalau aku merasa tubuhku sudah enggak karuan, aku pasti minta diantar ke rumah sakit tanpa disuruh. Tapi tentu saja bukan sekarang,” tutur Khalisa, nada bicaranya menenangkan kendati sembari meringis-ringis menahan serbuan mual yang masih terasa.


Khalisa mengusap-usap lengan Yudhis yang kentara sangat cemas, terlihat dari bagaimana bola mata maskulin suaminya itu bergulir tak tenang, memindainya lekat dari kepala hingga kaki.


“Tapi kalau nanti sore atau paling lambat besok masih belum mereda, kamu mutlak harus diperiksa dan aku tidak menerima bantahan jika itu berkaitan dengan kesehatanmu. Oke?” Yudhis memberi tekanan pada setiap ujung kata yang terucap. Mengelusi rambut Khalisa lalu turun ke pipi halus istrinya itu.


“Iya, iya, Papa Sayang yang paling ganteng. Jangan sewot begitu, jadi kayak ibu-ibu.” Khalisa terkekeh, masih sempat tertawa di saat rasa mual masih menerjang meski tak sehebat tadi. Merasa senang diperhatikan sedemikian berharga. Ditambah Aroma segar maskulin yang menguar dari daksa Yudhis mampu sedikit meredam gejolak tak nyaman di perutnya.


“Hush, Abang harus tetap berangkat. Jangan sampai semua jadwal rencana yamg sudah tersusun rapi jadi berantakkan cuma karena gara-gara aku masuk angin. Semangat dong.” Khalisa berjinjit, mengecup pipi Yudhis menghibur dan itu berhasil.


“Abang tunggu sebentar ya, bikin sarapannya jadi tertunda. Akan kusiapkan secepatnya,” ucap Khalisa sambil lalu.


“Enggak usah bikin sarapan. Pagi ini biar aku yang siapkan.” Tanpa aba-aba, Yudhis malah meraupnya ke dalam gendongan, berayun cepat menuju ke kamar.


“Ih Abang ngagetin! Ini aku mau dibawa ke mana?” Khalisa memekik terkejut, refleks mengalungkan kedua lengan berpegangan ke leher Yudhis.

__ADS_1


“Ke kamar,” sahut Yudhis yang melangkah cepat.


“Eh, eh, eh. M-mau ngapain?” Kedua mata indah Khalisa membola.


“Menurutmu?” Alis Yudhis terangkat naik, bersama seringai jail terukir si sudut bibir.


“Ta-tapi, Se-sebentar lagi sudah waktunya berangkat kerja, Bang. Juga, se-sebentar lagi Bi Dijah sama Ceu Wati bakal datang,” cicitnya gelagapan, mengerjap blingsatan.


“Memangnya kenapa kalau Bi Dijah sama Ceu Wati datang?” goda Yudhis kemudian.


Khalisa melipat bibirnya bungkam kuat-kuat, enggan menjawab lantaran benci dengan arah pikirannya.


Yudhis tergelak setelah menurunkan Khalisa di ranjang. Dia pun menyusul duduk, mencubit dagu lancip Khalisa gemas


“Tenang saja. Aku cuma mau bantu olesin minyak angin sama mijitin punggung kamu sebentar. Bukan mau makan kamu,” bisiknya usil, yang dihadiahi tinju spontan dari Khalisa yang cemberut juga malu.


Bersambung.


Nah lho, masuk angin atau masuk yang lain eh 😳?

__ADS_1


__ADS_2