Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Solusi Akhir


__ADS_3

Bab 91. Solusi Akhir


Mobil Yudhis berbelok mengambil jalur berbeda saat mencapai persimpangan jalan. Bukan jalan menuju rumah yang diambil, melainkan arah berlawanan.


Afkar muntah-muntah lagi membuat Khalisa panik, sehingga Yudhis yang semula hendak membawa Khalisa dan Afkar pulang, melajukan kendaraannya mengambil lajur ke Rumah Sakit Satya Medika.


“Jadwal kontrol Afkar seharusnya besok, Dok. Tapi dari keterangan Khalisa, hari ini sedari pagi Afkar tidak mau makan dan beberapa saat lalu muntah-muntah lagi.” Yudhis to the point saja pada intinya, membuang basa-basi begitu dokter anak yang menangani Afkar datang memeriksa.


Dokter memeriksa secara saksama. Walaupun muntah-muntah Afkar kali ini tidak parah, tetapi Khalisa tak mampu menghindari panik mengingat Afkar masih dalam masa pemulihan. Memegangi lengan Yudhis erat-erat saat dokter memeriksa anaknya.


“Anak saya kenapa lagi, Dok?”


“Kemungkinan Afkar memakan benda kotor sewaktu orang tua ataupun yang mengasuh lengah, bisa saja melahap makanan yang terjatuh di lantai yang tidak bersih di saat kurang pengawasan. Sudah pasti terkontaminasi kuman dan bakteri, belum lagi pencernaan Afkar akibat alergi susunya belumlah pulih sepenuhnya, masih dalam masa pengobatan. Sehingga saat ada kuman lain yang masuk, pencernaan yang masih sensitif lebih mudah terjangkiti.”

__ADS_1


Lagi-lagi Khalisa merasa bersalah. Maksud hati ingin menjaga sang anak sembari mengais rupiah, tetapi ternyata ia lengah juga, menyebabkan Afkar sakit lagi. Beruntung kondisi Afkar kali ini tidak harus dirawat inap. Setelah dua jam observasi dan tidak terjadi gejala lanjutan, dokter memperbolehkan Afkar dibawa pulang dengan tetap berpesan untuk dipantau ketat.


Sore hari mereka sampai di rumah. Erika yang tadi menyusul setelah mengurus beberapa hal ternyata sudah menunggu. Dia langsung menuju rumah Yudhis sesuai intruksi sang pimpinan sebab tak tahu bahwa Yudhis ternyata pergi ke rumah sakit dulu. Erika sedang berbincang dengan Maharani dan Ghaisan turut hadir di sana, sengaja mampir sepulang dinas hari ini untuk menyapa Maharani satu tahu ibu sang sahabat sedang berkunjung ke Bandung.


“Lho, kok baru sampai? Kata Erika kalian pulang dari kantor siang tadi.” Maharani langsung memberondong begitu Yudhis dan Khalisa menginjakkan kaki di ruang tamu.


“Tadi kita ke rumah sakit dulu, Mi. Afkar muntah-muntah lagi,” jelas Yudhis. Maharani otomatis terkejut, menghampiri Khalisa dan meraba-raba lembut pipi Afkar yang tertidur di gendongan Khalisa.


“Terus sekarang gimana?” ujarnya cemas.


“Erika bilang ada hal darurat. Ada apakah?” Ghaisan yang juga ada di sana menimpali, bertanya pada Yudhis.


Fokus Yudhis yang sempat berhamburan karena sakitnya Afkar, kembali teringat jelas dalam benak berkat ucapan Ghaisan. Tak membuang waktu, Yudhis dan semua orang yang sedang berada di rumahnya berkumpul di ruang tengah, bertukar kata serius membahas temuan Erika terkait gugatan Khalisa.

__ADS_1


Khalisa ikut dilibatkan setelah lebih dulu membaringkan Afkar yang tertidur di kamar tamu. Dan benar saja, Erika menuturkan bahwa pengacara yang diutus Dion balik menggugat, mencantumkan beberapa klausul yang lebih memberatkan hak asuh jatuh ke tangan Dion. Walaupun kelalaian dalam hal mengasuh sebelumnya dicantumkan, tetap saja Dion berpotensi menang dari Khalisa.


Laporan pengacara Dion menyatakan bahwa Khalisa tidak punya tempat tinggal pasti serta keluarga yang akan mendukung tumbuh kembang Afkar. Berdasarkan pernyataan dari Yudhis dan tim yang dicantumkan dalam permohonan, pekerjaan Khalisa hanya sebagai OB. Tentu saja kalah finansial dengan Dion, entah dari segi pekerjaan maupun naungan yang dinilai terjamin, sehingga pengadilan sedang mengkaji ulang kembali dan kemungkinan Dion memenangkan hak asuh lebih besar sekarang dari berbagai sisi pertimbangan.


"Lalu, aku... aku harus gimana, Bang? Kalau sudah begini aku harus gimana? Aku takkan sanggup kalau harus dipisahkan dari Afkar lagi." Khalisa memucat mendengar kabar ini, sekujur tubuhnya lemas seraya menggeleng-gelengkan kepala berulang kali. Bola mata sendunya mengkilap oleh air mata putus asa.


"Katakan aku harus bagaimana. Abang seorang pengacara yang sangat cerdas, berikan aku solusi tercepat. Aku akan menyanggupi apa pun itu. Tolong aku, Bang. Afkar segalanya buatku, cuma Afkar yang kupunya di dunia ini," mohonnya terisak-isak.


Yudhis meraba bahu Khalisa dan meremasnya lembut. Menarik napas panjang sebelum berucap. "Aku punya solusi tercepat dan terbaik. Tapi apakah kamu yakin mau melakukannya?"


"Apa pun itu, Bang. Demi Afkar apa pun akan kulakukan," jawabnya penuh tekad, dari seorang ibu yang merasa telah habis daya upaya.


"Aku akan menikahimu, Khal. Dengan begitu akulah yang akan menjadi wali Afkar, dan dari segi manapun mantan suamimu menyerang, kupastikan bisa lebih unggul kalau kamu menikah denganku secepatnya. Dengan begitu, hak asuh Afkar akan lebih dominan kamu yang mendapatkan. Hanya itu solusi akhir yang paling cepat."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2