Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Siasat


__ADS_3

Bab 103. Siasat


Yudhis menginjak pedal gas dalam-dalam, masuk dalam kategori mengebut, membuat Khalisa berpegangan sangat erat pada sisi jok. Yudhis tengah melampiaskan emosi tertahannya terhadap Dion pada kecepatan kendaraannya, saat mantan suami Khalisa itu melontarkan kata merendahkan juga menuduh pada wanita yang dipujanya sepenuh jiwa, dia sangat-sangat tidak terima.


Bukannya Yudhis tak mampu mempersembahkan bogem mentah ke mulut Dion yang tak berakhlak itu karena sesungguhnya dia mati-matian untuk tidak lepas kendali sewaktu di parkiran mal tadi. Namun, jika dirinya kehilangan kontrol sekarang, maka tipe-tipe semacam Dion ini pasti dengan tak tahu malu memutar balikkan fakta andai terdapat bukti fisik kekerasan, bisa saja digunakan untuk playing victim, dan hal semacam itu khawatir mempersulit posisi Khalisa, serta perjuangan untuk mendapatkan hak asuh menjadi alot nantinya. Berusaha menyimpan rasa ingin menghajarnya, menunda sampai waktunya tepat.


Mobil terpaksa diturunkan kecepatannya ketika hampir mendekati traffic light, Yudhis memelankan laju kendaraannya saat dari kejauhan terlihat lampu merah lah yang menyala. Khalisa yang dilanda tegang, meniupkan udara nyaring dari mulutnya begitu ban mobil berhenti berputar.


“Maaf, Bang. Abang marah ya karena aku lancang? Maaf banget, Bang, tadi aku terbawa emosi jadinya sikapku enggak sopan sama Abang,” cicit Khalisa tegang.


Ia melirik Yudhis takut-takut sebab sejak melaju dari parkiran mal tadi, rahang Yudhis mengeras dengan pandangan tajam lurus ke depan, juga membawa mobil mengebut laksana para pembalap di arena formula satu, dan Khalisa menyimpulkan sikap dadakan Yudhis ini pasti karena kesal padanya.


Yudhis masih bungkam, mengatur napas guna meredam luapan amarah diiringi jakunnya yang ikut bergerak seirama. Mengusap wajahnya kasar, juga menyugar rambutnya sembarang.


“Bukan karenamu, Khal. Maaf, aku hanya sedang berusaha meredam emosiku terhadap mantan suamimu yang berkata kurang ajar tentangmu. Andai kita tidak sedang dihadapkan pada kasus penting yang sangat krusial, sudah pasti dia kubuat babak belur di tempat parkir tadi. Seenak jidat menghinamu, mengataimu simpanan juga murahan, dasar bajingan!”


Yudhis memukul setir kencang, melampiaskan gerombolan rasa marah yang bercokol dalam dada. sesabar-sabarnya seorang pria, tetap akan tersulut emosinya jika seseorang yang disayangi dan teramat berarti diusik orang. Terlebih lagi dihina seperti tadi, sudah pasti ego Yudhis mengambil alih, ingin meremukkan rahang Dion, mengingat betapa besarnya rasa cinta dan sayang Yudhis pada wanita yang duduk di jok sebelahnya itu.


Walaupun sedikit berjengit, Khalisa akhirnya paham penyebab reaksi kemurkaan Yudhis. Mengulurkan tangan, diusapnya punggung Yudhis dengan lembut. Khalisa mengulas senyum, merasa tersanjung Yudhis membelanya di hadapan Dion lantaran tak pernah mengira sebelumnya, bahkan kini marah luar biasa untuknya. Wanita mana pun pasti terenyuh juga tersentuh dihujani perhatian penuh tiada henti.

__ADS_1


Mobil kembali melaju, tetapi kini kecepatannya sedang saja. Ajaib, Yudhis langsung tenang dan kadar kemarahannya menukik tajam setelah diberikan sentuhan lembut oleh Khalisa di punggungnya.


“Maaf, aku sudah menyeret Abang terlibat begitu dalam dengan masalahku. Juga bikin Abang emosi. Tapi, aku beneran makasih banget tadi, Abang sudah membelaku di hadapan mantan suami brengsekku. Aku juga minta maaf, untuk panggilan lancangku saat membalas pancingan Abang di tempat parkir tadi, maaf ya, Bang,” tutur Khalisa, tulus dari hati.


Suasana hati Yudhis yang membaik, menerbitkan keinginan jahilnya pada Khalisa yang baginya selalu polos menggemaskan di setiap saat. kini Yudhis mengulum senyum setelah tadi tergulung amarah, saat teringat kembali Khalisa memanggilnya dengan sebutan 'papa sayang' meski hal tersebut dilakukan di saat Khalisa terlalap kemarahan pada si mantan suami.


“Memangnya tadi kamu panggil aku apa?” ujarnya berpura-pura tak ingat.


“Ya itu. Tadi aku ... aku.” Khalisa menggigit bibir, bola mata indahnya menatap Yudhis sembari mengedip kikuk. “Tadi aku lancang panggil Papa sayang,” sahutnya yang langsung memalingkan mata ke arah lain. “Sekali lagi maaf.”


“Oh, itu. Tapi kalau boleh jujur, aku suka panggilan itu. Dan aku sangat berharap kamu akan memanggilku begitu lagi ke depannya, Bunda Sayang,” goda Yudhis yang sukses membuat Khalisa merona malu.


Khalisa mondar-mandir resah di depan pintu kamar Yudhis. Sudah hampir tiga puluh menit kegiatan serupa terus berulang sembari sesekali menggigit bibirnya bimbang. Yudhis hampir terjengkang, saat membuka pintu, dibuat kaget dengan keberadaan Khalisa di depan kamarnya.


“Ada apa, Khal?” tanya Yudhis sembari menggosok handuk kecil di rambut basahnya, sedang mengeringkan rambut.


“Bang, kamar tamu kekunci dan kuncinya enggak tahu di mana. Aku enggak bisa mandi sama ganti baju. Juga, di mana aku tidur nanti?” cerocos Khalisa panik.


“Hah, masa sih?” Yudhis hendak beranjak ke kamar tamu, tetapi niatannya terhenti saat ponselnya berdering dari dalam kamar.

__ADS_1


“Tunggu sebentar.”


Khalisa menunggu di ambang pintu harap-harap cemas, tidak berani masuk padahal semalam ia tidur di kamar paling besar dan paling mewah di rumah Yudhis itu dan sepuluh menit berlalu Yudhis keluar lagi.


“Pantas saja terkunci. Barusan dari Bali ada telepon, kuncinya terbawa di tas mami, bahkan kunci kamar yang biasa ditempati mami dan papi ikut terbawa juga. Pasti saat sedang berbenah tadi tak sengaja masuk ke dalam tas. Terus kamar Mang Darjat juga kuncinya kebawa sama Bi Dijah tadi,” jelas Yudhis dengan raut meyakinkan, sedangkan Khalisa langsung lemas.


“Terus, aku tidur di mana? Mandi dan ganti baju gimana? Semua bajuku bahkan body lotionku semuanya ada di kamar tamu,” keluhnya frustrasi. “Apakah ada kunci cadangan?” desaknya.


Yudhis menggeleng, menghela napas pura-pura bingung padahal hatinya sedang bersorak. Beberapa saat lalu Maharani meneleponnya dan menjelaskannya siasat kunci ini pada Yudhis demi misi mendekatkan Khalisa dengan sang putra.


"Beneran enggak ada? Abang yakin? cecarnya.


"Iya, dulu sempat ada, tapi karena jarang dipakai, aku lupa lagi kuncinya disimpan di mana. Cuma kunci pagar garasi, pintu depan dan pintu kamarku saja yang kusimpan cadangannya," sahut Yudhis beralasan.


“Duh, gimana ini?” Khalisa langsung percaya saja pada geleng kepala Yudhis, membuat Yudhis gemas sekaligus dibuat cemas dengan kepolosan Khalisa.


“Jangan bingung begitu. Tidur lagi saja di kamarku, bukankah semalam juga begitu? Mandi juga bisa di kamarku dan kamu bisa pakai kemejaku untuk baju ganti sementara. Dalaman bisa pakai yang dari bingkisan paket pernikahan, belum dibuka, disatukan dengan paket mas kawin yang ditaruh di dekat meja dekat lemari bajuku,” tutur Yudhis, terdengar memberi solusi untuk kebingungan Khalisa, padahal justru lebih banyak untung bagi Yudhis sebenarnya.


“Pakai kemeja Abang? Cuma kemeja?” Khalisa tampak tak yakin.

__ADS_1


“Iya, masa iya kamu mau pakai gamis itu terus-terusan, pasti gerah dan enggak nyaman kan? Tidur juga enggak enak. Kamu mungkin lupa, kita ini sudah menikah, jadi bukan hal terlarang kalau kamu buka-bukaan di hadapanku. Sebaiknya kamu masuk ke kamarku dan mandi, baju dan badanmu semuanya beraroma steik,” imbuh Yudhis mencari alasan, mengibaskan tangan di depan hidung.


Bersambung.


__ADS_2