Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Sah


__ADS_3

Bab 94. Sah


Barata datang kembali ke Bandung dua hari sebelum hari H tiba. Sudah tak sabar ingin segera berbincang dengan Maharani secara langsung begitu mengetahui rencana Yudhis, juga ingin membantu persiapan pernikahan dadakan putranya itu.


Ijab kabul berencana dilangsungkan secara tertutup di kediaman Yudhis, hanya dihadiri keluarga terdekat, sahabat, teman dekat, warga setempat yang berwenang yakni RT dan RW, juga para karyawan LBH serta Mang Darjat dan Bi Dijah.


Yudhis sengaja menghindari keramaian, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun Maharani dan Barata mengajukan menggelar pesta mewah yang mereka sanggupi meski harus disiapkan dalam waktu singkat, terlebih lagi ini adalah pernikahan anak pertama mereka, tetap Yudhis menolak, mengemukakan alasan logis.


Barata berbincang dengan Yudhis di ruang kerja sang anak membahas banyak hal bersama Maharani juga.


“Aku hanya mengantisipasi, sebab untuk saat ini waktunya kurang tepat menggelar pesta, Mi. Pi. Khawatir mantan suami Khalisa membuat kekacauan andai mengetahuinya, juga demi keamanan Khalisa dan Afkar. Karena mantan suaminya akhir-akhir ini sempat bolak balik ke kantor LBH Raksa Gantari untuk menemui Khalisa, setelah tahu mantan istrinya bekerja sebagai OB di sana berdasarkan informasi kuasa hukum pribadinya.” Yudhis menjelaskan alasannya.

__ADS_1


“Benar juga. Kamu pasti lebih tahu yang terbaik di situasi darurat semacam ini. Pesta bisa ditunda di lain waktu.”


Dion pasti sedang uring-uringan sekarang. Satu kali pun Dion tak pernah berhasil menemui Khalisa, lantaran sejak hari Khalisa menyetujui solusi Yudhis tentang pernikahan, Khalisa tetap tinggal di rumah.


Yudhis tetap memberi Khalisa pekerjaan berbenah di rumah. Sesuai permintaan Khalisa yang ingin tetap bekerja karena ingin punya gaji katanya dengan polosnya, lagi pula Bi Dijah hanya datang di setiap akhir pekan.


Sementara itu, Khalisa asyik menyetrika penuh semangat di ruangan lain ditemani Afkar yang begitu seru bermain mobil-mobilan serta motor-motoran.


“Unda, motolnya badus ya,” celoteh si bocah lucu itu ceria.


“Suka, Unda,” jawabnya sembari bertepuk tangan.

__ADS_1


Cara kerja Khalisa penuh semangat membara, mengingat kesempatan hak asuh Afkar semakin terbuka lebar jatuh padanya, ditambah lagi sekarang dia punya pekerjaan, seperti yang Yudhis janjikan akan dibayar sebagaimana mestinya seperti karyawan di LBH. Khalisa merajut angan tentang hidupnya bersama Afkar setelah hak asuh sepenuhnya didapat. Afkar sepenuhnya bersamanya dan dia punya penghasilan, itulah impian si lugu Khalisa, terlupa akan hal penting dampak dari anggukannya mengiyakan menikah dengan Yudhis, terlupa bahwa ikatan sumpah suci pernikahan bukanlah untuk sementara.


Hari H pun tiba. Barata sibuk menggendong Afkar ke sana kemari begitu gembira karena pada dasarnya dia menyukai anak kecil. Arjuna, Anggi dan anak bungsu mereka Arimbi ikut hadir, sedangkan Brama masih sibuk di Singapura dan Erlangga masih enggan bertemu kakaknya.


Keluarga Barata dari Bali juga datang, sedangkan Marina sang nenek hanya bisa bervideo call sebab terkait kesehatannya dokter melarangnya bepergian jauh. Para pengurus warga setempat sudah hadir. Wali hakim sudah bersiap di tempat. Para karyawan LBH pun telah berkumpul. Aloisa, Ghaisan serta Farhana pun turut datang. Tak lupa Mang Darjat dan Bi Dijah yang memang banyak membantu ini itu sejak hari kemarin, bahkan ikut menginap.


Aloisa masuk ke kamar di mana Khalisa didandani. Bukan dandanan heboh seperti pengantin pada umumnya, hanya riasan sederhana juga kebaya putih muslimah model minimalis buatan VN Fashion yang sudah jadi. Tidak dibuat khusus karena Khalisa mengatakan hal itu tidak perlu, bahkan sempat mengatakan pada Yudhis untuk memakai kebaya sewaan saja, supaya lebih murah. Karena fokus Khalisa hanya berpusat pada hak asuh Afkar.


“Kamu tetap cantik walaupun cuma dioles makeup tipis.” Aloisa mengomentari, tersenyum pada Khalisa melalui cermin, yang dibalas Khalisa dengan seulas senyum biasa, bukan senyum pengantin wanita yang mendamba kumbangnya.


Di luar sana penghulu sudah datang. Sementara Khalisa sesuai instruksi tetap berada di dalam kamar ditemani Aloisa dan Maharani. Dan terdengarlah suara maskulin Yudhis mengucap ijab kabul.

__ADS_1


Ijab kabul terucap lancar tanpa hambatan. Kata sah menggema lantang dari para saksi dan hadirin menyusul kemudian, pertanda kini Yudhis dan Khalisa telah sah menjadi suami istri.


Bersambung.


__ADS_2