Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Memori Pahit


__ADS_3

Bab 165. Memori Pahit


“Aku nyariin kamu ke rumah. Tapi kamunya enggak ada, Win.” Khalisa membuka kata setelah puas berpelukan melepas rindu setelah lama tak bersua.


“Kamu beneran Khalisa kan?” Nada bicara Windy dipenuhi ketidakpercayaan, memindai Khalisa dari ujung kaki hingga kepala.


Senyum Khalisa merekah. “Iya, ini aku. Win,” sahut Khalisa disusul anggukan kepala.


“Ya ampun, kamu manglingin. Auramu sekarang mirip nyonya besar,” ucap Windy terdengar masih tak percaya, menggenggam tangan Khalisa erat. “Ada apa kamu nyariin aku? Kangen ya?”


“Iya, aku cari kamu karena kepingin beli daster-daster jualan kamu, demi menuntaskan ngidamku.”


“Eh, ngidam? Ini, kamu beneran lagi hamil?” Windy mengerjap, menunjuk perut Khalisa yang membuncit.

__ADS_1


“Beneran lah, masa bohongan. Afkar sebentar lagi jadi Kakak.” Khalisa mengusap perutnya penuh sayang. “Oh iya, itu suamiku.” Khalisa mengarahkan tangannya pada Yudhis yang sedang sibuk menyuapi Afkar. Balita itu merengek lapar ingin makan bubur saat melihat orang-orang bersantap di sana.


Mata Windy nyaris meloncat, membelalak. “Ya ampun, ganteng banget. Kamu ketemu pangeran berkuda dari mana?” cecarnya penasaran bukan kepalang.


“Bang Yudhis enggak berkuda, tapi bermobil,” ujar Khalisa berkelakar, membuat Windy gemas sendiri.


Windy mendadak berlinang, terutama saat meliaht Afkar yang dipangku Yudhis begitu ceria dan makan dengan lahap. Windy tahu kisah pahit balita lucu itu, yang pernah ikut dikucilkan dan tak diinginkan sebab asal-usul Khalisa.


Windy kembali mengamati Khalisa, menyusut sudut matanya yang berair. “Aku ikut bahagia. Suamimu yang sekarang kelihatannya sayang benget sama Afkar. Juga dia pasti sayang banget kamu, kamu cantik kayak ratu sekarang, Khal.”


“Semalaman Khalisa merengek ingin membeli daster dari Mbak Windy. Dibujuk membeli di tempat lain pun tidak mempan,” kekeh Yudhis sembari mengawasi Khalisa serius memilah motif di meja lain.


Tatapan penuh cinta Yudhis untuk Khalisa tak luput dari perhatian Windy. “Anda suami juga ayah yang sangat perhatian. Khalisa pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan yang seperti mantan suaminya dulu, enggak ada perhatiannya sama Khalisa, mana pelit lagi. Pingin sepotong daster yang harganya enam puluh ribu saja Khalisa enggak mampu beli karena enggak pernah diberi uang sebagaimana mestinya, walaupun dengan cara kredit, harus kerja keras dulu bantu-bantu di rumah saya sambil bawa-bawa Afkar. Padahal mertuanya memesan daster cukup banyak dari saya yang tentu saja dibayar oleh Pak Dion,” celetuk Windy, yang setelahnya menepuk mulutnya sendiri, dibuat kaget dengan ucapan spontannya. “Maaf, saya kelepasan.”

__ADS_1


Yudhis menoleh. “Khalisa bekerja membawa Afkar hanya untuk sepotong daster di saat suaminya mampu membelikan ibunya lebih dari satu?” tanya Yudhis dengan intonasi berbalut kesal yang mendadak menyeruak.


Windy menghela napas panjang. “Iya, begitulah faktanya. Suaminya dulu bukan sosok bertanggung jawab. Bahkan hanya diam saja saat Khalisa dicemooh, bukannya dibela.”


Windy akhirnya bercerita cukup panjang lantaran Yudhis mendesak ingin tahu detail masa lalu Khalisa yang dipenuhi kepedihan. Perasaan Yudhis berkecamuk bukan main, menyulut emosi sisi lelakinya. Dia tak mampu berkata-kata, menyalurkan segenap rasa melalui tatapan lekatnya untuk Khalisa.


“Abang, aku pingin beli dasternya tujuh potong boleh?” Pertanyaan lantang Khalisa dari meja tempat baju-baju digelar memutus cerita Windy.


Tatapan Yudhis menyendu, sedangkan Khalisa begitu gembira. Bangkit dari duduknya, Yudhis menghampiri Khalisa dan mengusap kepala istrinya itu terbalut rasa prihatin berpadu sayang yang semakin membuncah.


“Belilah sebanyak yang kamu suka, Khal. Bila perlu satu pabrik pun akan aku belikan buat kamu.”


“ish, terlalu banyak. Tujuh sudah cukup, sesuai jumlah hari,” cicitnya senang.

__ADS_1


“Lho, ini kenapa dagangan kamu berserakan di sana, Windy? Dan di mana daster pesananku?” Suara si istri penjual bubur menginterupsi. Khalisa yang pernah memiliki memori buruk tentang sosok tersebut otomatis menciut melihat kemunculannya, meraih lengan Yudhis dan memegangnya erat-erat.


Bersambung.


__ADS_2