
Bab 125. Tertohok
Yudhis masih setia mengulurkan tangan. Menarik napas dalam-dalam, Khalisa meragu untuk turun dari mobil, malah inginnya berlari memutar balik, khawatir kedatangannya ke sini disambut tidak baik. Akan tetapi, saat sekali lagi menelaah pikiran buruknya lalu teringat betapa betahnya Afkar tinggal di sini, menghempaskan semua ketakutannya meski tak sepenuhnya.
“Iya, Bang.”
Menerima uluran tangan Yudhis, Khalisa memantapkan hati untuk beringsut turun. Dan saat baru saja alas sol sepatunya menapak di lantai garasi, suara heboh mengalihkan perhatiannya. Suara dari Maharani yang menghambur, tergesa menghampirinya.
“Selamat datang di Bali, menantu Mami yang cantik,” sambut Maharani riang gembira, langsung memeluk Khalisa. “Gimana penerbangannya? Lancar?” seloroh Maharani tanpa jeda, sembari menggandeng Khalisa masuk.
“Alhamdulillah lancar, Bu Ran_ eh, Mi.” Khalisa dibuat gelagapan dengan sambutan tak terduga Maharani, ramah lagi hangat. Juga lidahnya masih belum terbiasa memanggil Maharani dengan sebutan Mami secara langsung, masih sungkan.
“Nah, gitu panggilnya. Biar lebih akrab, kamu juga kan anak Mami,” sahut Maharani manis. Membuat Khalisa terus mengerjap lugu, melihat mertuanya itu dengan sorot seakan tak percaya bahwa ini nyata.
Yudhis yang masih berdiri di tempatnya tadi, melongo melihat tingkah antusias maminya yang bahkan terlupa menyapanya, seolah dirinya tak terlihat, tergeser pamor istrinya.
“Memangnya aku ini dedemit!” gerutu Yudhis sebal, tetapi melipat bibir kemudian menahan tawa dan mengekori dua wanita di depannya.
Maharani langsung membawa Khalisa ke ruang bersantai, berdampingan dengan taman asri yang ditanami berbagai macam varietas bunga cantik. Kudapan kecil beserta jus jeruk dingin sudah tersaji di meja, ditata rapi untuk menjamu anak dan menantunya yang datang berkunjung. Sambutan ramah yang pertama kali didapat Khalisa dari yang namanya ibu mertua, merasa dirinya memiliki ibu sungguhan sekarang.
__ADS_1
Maharani yang terlalu antusias dengan kedatangan Khalisa, akhirnya teringat pada putra tersayangnya yang bagi hidupnya adalah berkah. Memeluk dan membujuk Yudhis yang berpura-pura merajuk sebab merasa tak dipedulikan, dan mereka berbincang santai bersama sambil menikmati hidangan di atas meja.
“Maaf, Mi. Afkar di mana ya? Sejak tadi tidak kelihatan.” Khalisa bertanya sungkan di sela-sela perbincangan, tetapi bahasa tubuhnya jelas ingin tahu.
“Oh iya, sedari tadi aku pun tak melihatnya. Apa Afkar tidur, Mi?” Yudhis mengedarkan pandangan ke sudut-sudut ruangan yang terjangkau mata. Sejak masuk tadi rumah ini hening, tidak terdengar celotehan anak kecil.
Maharani menepuk dahinya sendiri. “Ya ampun, Mami sampai lupa saking senangnya dengan kedatangan kalian. Afkar lagi dibawa main golf sama Papi, ada kolega dekat yang ingin ditemani bermain golf. Biasanya sebelum matahari terbenam pulang ke rumah. Tadi Afkar ingin ikut, dan sengaja belum diberitahu tentang rencana kedatangan kalian. Biar surprise. Afkar pasti senang,” tutur Maharani, yang sepanjang menguntai kalimat senyumannya tak surut.
“Afkar jadi banyak ngerepotin Papi dan Mami, bahkan ingin ikut di acara yang berkaitan dengan pekerjaan. Saya jadi tidak enak,” tukas Khalisa, terlihat tak enak hati.
Maharani menggeleng masih dengan senyuman merekah. “Sama sekali enggak ngerepotin. Bahkan tensi darah Papi yang biasanya tinggi, berangsur normal berkat keberadaan Afkar yang selalu berceloteh lucu dan menggemaskan.”
“Duh, yang sudah jadi Papa. Khawatir banget,” canda Maharani, menggoda sang putra yang kini berdehem kikuk.
“Tenang saja. Papi pergi diantar sopir, ditemani sama Erlangga juga, jadi semuanya aman. Erlangga sama sopir yang jagain kalau Papi mukul bola. Selama di sini, sudah dua kali Afkar ikut main golf. Erlangga itu adiknya Yudhis, tuh yang di foto itu, yang berdiri meluk Mami.” Maharani mengarahkan jemari pada foto di dinding, menunjukkannya pada Khalisa.
Jawaban Maharani menghasilkan reaksi berbeda. Kelegaan dan senyuman menghiasi wajah cantik Khalisa, sedangkan manik hitam Yudhis langsung waspada bersama punggung yang ikut menegang.
*****
__ADS_1
"Tersisa berapa kali persidangan ke depan?" tanya Dion, setelah mematikan rokoknya entah sudah bakaran batang ke berapa di sore ini.
"Tersisa dua kali lagi, Pak."
"Sudah ada senjata lain untuk membuatku lebih unggul di persidangan nanti? Jangan sampai uang yang kugelontorkan terbuang percuma!" desak Dion.
"Sedang kami usahakan," jawabnya pelan, meski tak yakin.
"Tentang siapa sosok Yudhistira Lazuardi, sudahkah ada info lengkapnya seperti yang kuminta?"
“Pak. Mungkin Anda belum tahu siapa beliau, tapi para advokat di kota ini cukup mengenal siapa Yudhistira Lazuardi. Pengacara sekaligus suami Bu Khalisa yang sekarang itu adalah pemilik LBH Raksa Gantari, bukan cuma bekerja di sana. Kesehariannya memang biasa saja, tampak umum dan standar, tidak mencolok, tidak terlalu mencerminkan bahwa dia orang hedon. Tapi pada faktanya, dia berasal dari keluarga terpandang, bukan orang sembarangan. Meski sangat tertutup tentang hal-hal pribadinya, tetapi informasi dari sumber terpercaya menjelaskan bahwa orang tuanya masih merupakan bagian keluarga besar Syailendra, dengan usaha utama di bidang tekstil tersohor di tanah air. Bahkan salah satu anggota keluarga Syailendra masuk dalam peringkat sepuluh orang terkaya di negeri ini.”
Informasi panjang lebar yang dijelaskan oleh salah satu tim advokatnya, menohok ego Dion juga menggoyang-goyangkan kesombongannya yang merasa paling kaya dan paling berkasta dari Khalisa setelah menikahi Amanda. Fakta mengejutkan tentang siapa sosok suami Khalisa yang sekarang, ibarat menjerembapkan kejumawaannya hingga tersungkur. Sosok Yudhistira Lazuardi ternyata sungguh luar biasa, yang jika dibandingkan dengan dirinya amat nyata kesenjangannya, di luar espektasinya.
“Bagaiamana dengan informasi lainnya? Misalnya tentang track record dunia para pria dewasa, dunia malam atau, ya, kamu pasti tahulah apa maksudku tanpa harus dijelaskan,” cecar Dion pada si pria muda berambut klimis yang duduk berhadapan dengannya di ruangan pribadinya itu.
“Sayangnya tidak ada, Pak. Semuanya bersih, orangnya juga alim. Kalau pun terlihat masuk ke tempat hiburan malam, Pak Yudhistira hanya pergi ke sana terkait kepentingan mengurus kasus kliennya, dan hampir semua yang berprofesi di bidang ini tahu itu. Bukan untuk berhura-hura dan bersenang-senang.”
Dion mendengus kesal dan mengusap wajahnya kasar. “Kenapa jadi begini? Bagaimana caranya Khalisa yang bahkan tak punya harta, orang tua serta asal-usul kotor dan hina itu malah bertemu seseorang yang bukan orang sembarangan? Pengacara hebat lagi. Bahkan sudah menikah dengan pria itu. Kenapa dia begitu cepat melupakan rasa cintanya untukku? Bukankah Khalisa sangat tergila-gila padaku? Ini pasti ada yang tidak beres!” ujarnya tak terima, semakin tergerus obsesi gilanya. Terus menyangkal yang berasal dari sesal tak terperi dalam jiwa.
__ADS_1
Bersambung.