
Bab 121. Telak
Do’a-do’a dipanjatkan khidmat. Dipimpin ustadz yang biasa mengisi kajian ilmu di rumah Ghaisan. Dilanjutkan kultum melengkapi acara do’a bersama yang ditutup dengan salat Isya berjamaah.
Selepas Isya, semua orang berkumpul makan bersama penuh keakraban. Hidangan lengkap ditata rapi ala lesehan di ruang tengah, Yudhis yang meminta makan ala lesehan ini, mengatakan ingin acara makan bersama lebih terasa kekeluargaannya.
Decak kagum pujian pada menu yang disajikan meluncur dari banyak mulut. Kecuali Syafa yang tidak ikut memuji, terus bermuka masam, mengambil makanan sedikit saja dengan dalih sedang berdiet.
Dengan bangganya Yudhis mengatakan bahwa beberapa menu jamuan makan malam kali ini adalah buatan tangan istrinya sendiri. Memuji masakan Khalisa tulus dari hati.
“Ayam bakar bumbu rujaknya itu spesial buatan Khalisa, rasanya lezat, memiliki ciri khas. Dan masakan andalannya yang paling enak itu sambalnya. Sambal apa pun yang dibuat Khalisa semuanya sangat enak, enggak ada rasa yang menyamai di restoran mahal sekali pun,” ucap Yudhis penuh semangat, begitu sebagian orang terutama para laki-laki selesai bersantap.
Aloisa menimpali dengan hebohnya seperti biasa, mengakui sambal buatan Khalisa memang seenak itu. Si dokter cantik itu pun bahkan mulai mengeluarkan jurus andalannya merayu, meminta resep, ingin membuat sambal yang sama di rumahnya nanti.
__ADS_1
“Cuma masakan sederhana. Syukurlah kalau cocok lidah semua orang,” ucap Khalisa yang duduk di sebelah kiri Yudhis, terlihat lega juga senang dipuji terang-terangan demikian.
Ini merupakan kali pertama pujian dilontarkan untuknya di hadapan khalayak. Sebab dahulu hanya ada cemoohan dan sindiran tanpa ada yang membela setiap kali Dion beserta keluarga membawanya berkumpul dengan banyak orang, entah itu acara dengan teman, tetangga, maupun sanak saudara.
Syafa kian berang. Binar cinta dari tatapan dan kalimat Yudhis untuk Khalisa menguar nyata berpendar ke sekitar. Dia menggenggam paha ayam bakar yang sudah disantap separuhnya dengan geram. Meski dalam hati kecilnya mengakui, bahwa ayam bakar yang sebagian sudah ditelannya itu memang bercitarasa amat lezat, pas pedasnya, pas gurihnya.
Khalisa beranjak ke dapur, hendak mengambil hidangan pencuci mulut yang sedang disiapkan Bi Dijah juga Ceu Wati. Syafa yang melihatnya ikut menarik diri dari ruang tengah, menyusul ke dapur entah untuk apa.
“Bi, pudingnya sudah dipotong-potong?” tanya Khalisa pada Bi Dijah.
“Kok pudingnya ada rasa pandannya? Setahuku Bang Yudhis enggak suka dengan makanan apapun yang rasa pandannya. Tahun lalu aku pernah buat kue ulang tahun rasa pandan buat Bang Yudhis, dan dia minta maaf enggak bisa nerima, katanya enggak suka dengan rasa pandan.” Syafa muncul di dapur, bersedekap angkuh, sok tahu ikut menyela pembicaraan tanpa diundang. “Bukannya kamu itu istrinya? Tapi selera suami aja enggak tahu,” nyinyirnya sinis pada Khalisa.
Bi Dijah yang sedang menuang teh tubruk panas ke dalam teko-teko ceret menghentikan kegiatannya. Sudut matanya meruncing tajam pada Syafa. “Pingin tak kruwes itu mulutnya. Muka ayu dan hijaban tapi omongan sama sikapnya naudzubillah!” gumam Bu Dijah pelan kendati geram, komat kamit menggerutu.
__ADS_1
Khalisa yang bermaksud mengangkat salah satu piring berisi puding, meletakkan kembali piring besar tersebut. Sejak tadi ia berusaha ramah sebagai tuan rumah walaupun Syafa terus ketus padanya. Tetap menjaga sikap di depan banyak orang, karena sikap dan etikanya sebagai istri pasti berdampak pada citra sang suami.
“Oh, ya? Soalnya Bang Yudhis enggak pernah protes dengan menu apa pun yang kubuatkan atau kusajikan untuknya, semuanya dimakan dan bilang enak. Bahkan hari kemarin kue Bika Ambon pandan yang kubeli dan kusajikan dimakan lahap. Makasih banyak lho, sudah ngasih tahu. Maklum, aku belum lama mengenal Bang Yudhis, enggak kayak kamu yang mungkin lebih tahu makanan yang disukai dan tidak oleh suamiku,” tukas Khalisa menekankan kata 'suamiku.’
Nada bicara Khalisa meski riuh rendah, jelas mematenkan kepemilikan, sembari menguatkan rasa percaya dirinya. Kendati jujur saja ia juga manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa tersulut emosi jika terus-menerus diprovokasi.
“Masa sih?” Syafa mendelik tak percaya. Kilat matanya menuduh. “Enggak usah membual!”
“Semua itu karena Den Yudhis cinta berat sama Neng Khalisa. Jadi, makanan yang enggak disukai pun asalkan Neng Khalisa yang sajikan pasti terasa enak bagi Den Yudhis. Begitulah cinta,” Bik Dijah yang sedari tadi gatal ingin membalas kalimat Syafa, ikut nimbrung sembari terkikik baper. Penyampaiannya memang terdengar manis, ringan, berbalut canda, tetapi tentu saja menusuk untuk Syafa.
“Lagi pula enggak apa-apa kalau Neng Khalisa belum begitu tahu makanan apa yang disukai dan tidak oleh Den Yudhis seperti halnya yang diketahui Neng Syafa. Selera makan seseorang itu tidak selalu mutlak baku sepanjang waktu. Tapi yang jelas, ukuran cel*na d*lam Den Yudhis cuma Neng Khalisa seorang yang paling tahu. Dan pastinya Den Yudhis kasih tahu hal kayak gitu cuma sama istrinya saja, enggak akan sama orang lain,” sambung Bi Dijah sengaja, ingin sedikit saja menyentil Syafa.
“Ish, Bibi.” Khalisa berujar sembari tersipu malu, berbanding terbalik dengan Syafa yang wajahnya merah padam tak terima kalah telak.
__ADS_1
Bersambung.