Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Puasa


__ADS_3

Bab 150. Puasa


Kediaman Yudhis tampak ramai dan hangat. Sudah empat hari, Afkar berkumpul kembali bersama Yudhis dan Khalisa. Khalisa tak bisa menyembunyikan luapan gembiranya. Bahkan tadi malam merengek ingin tidur bertiga dengan Afkar. Maklum, kehamilannya kali ini agak manja, tidak seperti yang pertama, dan beruntung Yudhis memaklumi serta mengizinkan.


Maharani dan Barata tidak bisa berlama-lama di Kota Bandung dan akan pulang siang ini. Pekerjaan mereka di Bali sedang sibuk-sibuknya, menjelang jadwal pembukaan yayasan pendidikan untuk anak tidak mampu yang akan segera diresmikan.


Maharani mau tak mau bersiap kembali, kendati merasa berat hati setelah mengetahui Khalisa sedang mengandung anak Yudhis, cucunya. Kebahagiaan jelas terpancar dari Maharani dan Barata, Maharani tak henti menangis haru penuh syukur, menantunya dikaruniai kemudahan dalam mengandung merupakan hal luar biasa baginya, mengingat dirinya harus banyak melalui onak berduri demi mendapat keturunan.


“Yudhis, ingat. Jangan biarkan Khalisa terlalu capek. Bila perlu tambah satu orang ART lagi di rumah. Supaya Khalisa bisa fokus hanya pada kehamilannya juga tumbuh kembang Afkar.” Maharani mengultimatum sembari berpamitan.


“Jaga cucu Papi baik-baik. Jadilah suami siaga, banyaklah bertanya pada yang sudah lebih berpengalaman. Seperti Papi misalnya.” Barata sama-sama bawel kali ini, membuat Yudhis maupun Khalisa menyengir akan serbuan protektif orang tua mereka itu.


Yudhis menggaruk-garuk kepalanya tak gatal. Entah sudah yang ke berapa kalinya kedua orang tuanya mengucapkan untaian kalimat yang sama sejak mengetahui istrinya sedang hamil.


“Iya, Mi, Pi. Jangan khawatir,” sahut Yudhis, singkat menenangkan.

__ADS_1


Beralih pada Khalisa, Maharani memeluk sang menantu, mengecup pipinya penuh sayang. “Menantu Mami yang cantik, pandai memasak dan tidak sombong, jaga kondisimu juga kehamilanmu baik-baik. Kalau Yudhis mendadak jahat padamu, telepon saja Mami. Mami pastikan akan langsung datang saat itu juga.”


Kehamilan menjadikan Khalisa lebih sensitif, disayangi sedemikian rupa membuat matanya berkaca-kaca. Masih terasa asing baginya yang sekian lama hanya mendapat caci maki dan perundungan.


“Makasih, Mi,” sahutnya serak, tak dapat berkata panjang lebar, saking tak bisa mengungkapkan luapan bahagianya dengan kata-kata.


*****


Sebulan berlalu. Mual muntah Khalisa masih sering datang dan pergi meski tak separah di awal.


Malam ini, Khalisa baru selesai mandi sebelum naik ke peraduan. Yudhis yang semula sedang fokus membaca buku filsafat bermodalkan penerangan lampu tidur, meneguk ludah saat matanya menangkap Khalisa yang keluar dari kamar mandi hanya terbalut sehelai handuk melilit minim. Rambutnya digulung ke atas, mengekspose leher jenjangnya yang masih sedikit basah.


Padahal, Yudhis sedang dalam rangka berpuasa memadu kasih untuk sementara waktu, sudah sebulan lamanya dia menahan dan mendoktrin diri. Sudah diniatkan demi si jabang bayi yang masih rentan dikunjungi meski dokter tak melarang sepenuhnya, masih boleh asalkan pelan saja.


“Ada apa?” Yudhis berusaha tetap kalem.

__ADS_1


“Kapan mau ziarah ke makam ibunya Abang? Sekarang mual-muntahku sudah mulai baikan, dan dokter kandunganku juga memperbolehkan bepergian asalkan tetap hati-hati. Aku sudah enggak sabar,” cicitnya dengan mata berbinar, tersenyum tanpa dosa, tak sadar dirinya tampak menggoda, membuyarkan fokus yang diajak bicara.


“Ehm, a-akhir pekan ini ba-bagaimana?” kata Yudhis tergagap, salah fokus pada handuk yang tersingkap lebih atas, menampakkan paha mulus Khalisa, mengolok-olok dorongan purbanya.


“Aku setuju. Kalau sekalian pingin bawa Afkar ke akuarium raksasa yang terkenal di Jakarta. Boleh enggak? Sebetulnya bukan cuma Afkar yang ingin ke sana, tapi aku juga belum pernah lihat,” cicitnya malu-malu, pasti Yudhis menganggap keinginannya mirip permintaan bocah.


"Apakah ini bagian dari permintaan ngidam selain ingin mandi bersama ikan Koi di kolam?" tukas Yudhis terkekeh. Teringat minggu lalu Khalisa mendadak turun ke kolam ikan, mengatakan ingin mandi di sana, padahal airnya sudah pasti bercampur kotoran ikan. Beruntung akhirnya niatannya terhenti saat mual muntahnya menerjang lagi.


"Ish, Abang. Udah ah, jangan dibahas," sahutnya merajuk malu.


“Tentu saja, boleh, Unda,” kekeh Yudhis diiringi anggukan, merasa lucu dengan tingkah Khalisa yang antusias meminta, tetapi tetap malu-malu. Sembari tetap mengontrol diri supaya tidak serta merta memakan Khalisa bulat-bulat di detik ini juga.


“Asyik! Makasih Abang.” Khalisa berjingkrak senang, memeluk Yudhis tanpa aba-aba. Membuat Yudhis berdesir seketika, laksana diterjang setruman listrik saat gunung kembar Khalisa di balik handuk menempel menekan dadanya.


Khalisa mengurai pelukan saat Yudhis mengaduh pelan, dan ia ikut tertegun sekarang. Mengerjap tak menentu ketika sikunya tidak sengaja menyentuh sesuatu yang mengeras di balik selimut.

__ADS_1


“A-aku ke kamar mandi dulu,” ucap Yudhis cepat, menyingkap selimut dan setengah meloncat terbirit-birit ke kamar mandi.


Bersambung


__ADS_2