
Khalisa 144. Kecamuk Rasa
Dion diseret dan diamankan pihak berwajib lantaran kembali berteriak-teriak membuat keributan akibat tak bersedia menerima kekalahannya. Menyangkal dengan telunjuk mengacung pada Yudhis dan Khalisa, mengatakan surat pernyataan hamil yang dibawa Khalisa pasti hanya rekayasa. Para pengacaranya pun mulai kewalahan dan dibuat pusing, sangat kentara dari raut wajah frustrasi mereka.
Tak berlama-lama di ruang sidang, Yudhis meraih pergelangan tangan Khalisa dengan tak lupa menyambar selembar kertas yang tadi diletakkan Khalisa di meja. Bergegas pergi menuju parkiran dan tancap gas dari sana, tanpa berbasa-basi mengambil jalur arah pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang hingga kendaraan terparkir manis di garasi, Yudhis tak berucap sepatah kata entah apa penyebabnya. Hanya hening yang membentang, dan Khalisa pun tak berani mengajak mengobrol, melihat air muka Yudhis yang berubah datar sejak keluar dari ruang sidang membuatnya enggan membuka pembicaraan.
Kendati ekspresi mukanya ditekuk tanpa senyuman, Yudhis tetap membukakan pintu mobil untuk Khalisa, walaupun setelahnya Yudhis berlalu berderap cepat masuk lebih dulu.
“Ada apa dengan Bang Yudhis, ya? Apakah mungkin dia enggak senang dengan kabar kehamilanku,” lirih Khalisa sedih, mulai overthinking sembari memandangi punggung lebar Yudhis menjauh.
Meremat tali tas yang dipegangnya, Khalisa mengikuti dengan langkah lunglai. Mendorong pintu kamar utama yang sedikit terbuka, ia masuk dengan sangat perlahan.
Di dalam sana, Khalisa disajikan sorot menelisik dari netra tajam Yudhistira Lazuardi, menguarkan aura merinding menyapu tengkuk. Tidak biasanya Yudhis begini, karena biasanya suaminya ini selalu hangat dan penuh perhatian dibumbui candaan jahil saat berinteraksi dengannya, bukan dingin dan datar semacam ini.
Pikiran-pikiran tak mengenakkan memenuhi isi kepala Khalisa. Prasangka buruk merecoki, benaknya bertanya-tanya, mungkinkah sikap manis Yudhis sebelumnya untuk mengelabuinya semacam umpan perangkap? Dan setelah Khalisa kini mengandung anaknya, Yudhis baru menunjukkan aslinya? Apakah artinya, sekarang ini ia kembali terjerembap ke dalam lubang pernikahan nelangsa yang sama seperti dulu? Atau mungkin lebih?
Yudhis duduk bersedekap di sisi kasur, memaku netra lurus padanya, sedangkan Khalisa masih betah berdiri di dekat pintu yang baru saja ditutupkannya, menelan ludahnya resah.
__ADS_1
“Duduk,” titah Yudhis masih dengan nada dingin, menepuk kasur di bagian kanan posisi duduknya.
Meski ragu-ragu, Khalisa menyeret kedua kakinya dengan tetap menjatuhkan tatapan ke lantai, tak berani bertukar pandang dengan Yudhis. Mendaratkan pinggul lumayan berjarak sekitar setengah meter, tidak berani terlalu dekat dengan Yudhis.
“Abang marah ya?” cicit Khalisa takut-takut, suaranya sangat pelan.
“Ya, lebih dari marah,” geram Yudhis di balik gigi gemeletuknya, rahangnya tampak mengeras.
“A-apakah ... apakah Abang marah karena aku... aku ha-hamil?” tanyanya langsung saja meski terbata-bata sembari tetap menunduk, tak tahan ingin menyemburkan tanya yang sejak tadi mengganggunya hingga terasa mencekik “Kalau iya begitu, aku minta maaf,” sambungnya serak amat sedih. Memberanikan diri menoleh, Khalisa menatap Yudhis dengan mata berkaca-kaca.
Yudhis meniupkan napasnya kasar juga memijat pangkal hidung. Menggeser duduknya, Yudhis mengupas jarak, merangkul Khalisa yang sepertinya malah salah paham padanya. Khalisa langsung tersedu-sedu di dadanya tanpa balas memeluk seperti yang biasa dilakukan wanita bermata sendu itu.
“Maaf, bukan begitu maksudku. Maaf,” desah Yudhis frustrasi. Dikecupnya dalam puncak kepala Khalisa dari balik kerudung, merasa bersalah lantaran sesaat tadi sempat tak bisa mengontrol emosi.
Yudhis melonggarkan pelukan, mengusap lembut wajah basah Khalisa. “Kapan kamu pergi ke dokter?”
“Kemarin sore,” jawab Khalisa masih di sela-sela isak tangisnya.
“Kenapa enggak ngasih kabar kalau kamu ingin pergi memeriksakan kondisimu? Dan kenapa saat kutelepon kemarin sore kamu bilang baik-baik saja? Pasti kamu memutuskan berangkat ke dokter karena merasa gejala masuk anginmu tak kunjung mereda kan? Kamu enggak ingat dengan masalah keamananmu di luar rumah yang pernah kita diskusikan?” cecar Yudhis menuntut, kendati begitu dia masih berusaha mengatur nada suaranya agar tidak tergerus kemarahan yang mendadak tersulut.
__ADS_1
Yudhis marah mengetahui ternyata Khalisa pergi ke dokter tanpanya. Kemarahan yang berasal dari kekhawatiran yang teramat besar. Akan kondisi kesehatan, keselamatan juga keamanan wanita tercintanya. Terlebih lagi setelah tahu Khalisa sedang mengandung, rasa khawatir dan marahnya kian bertumbuh subur berkali-kali lipat, sama-sama tumbuh selaras.
Begitulah para suami sejati, selalu ingin melindungi keluarganya penuh tanggung jawab, meski terkadang rasa sayang mereka diekspresikan melalui kemarahan yang di dalamnya tentu saja berisi berjuta kasih sayang serta limpahan cinta.
“Karena hari kemarin Abang sibuk banget kan. Aku enggak mau ganggu konsentrasi Abang. Sebagai seorang istri aku juga ingin membantu meringankan beban pikiran suamiku, terlebih lagi yang Abang kerjakan semuanya demi aku. Juga, kemarin sore aku pergi ke dokter beramai-ramai. Mang Darjat. BI Dijah, sama satpam di depan rumah ikut mengantar. Aku dijaga dengan sangat aman. Kami lebih terlihat seperti hendak pergi piknik, bukan mau pergi ke dokter,” jelas Khalisa yang masih tersedu-sedu meski mulai mereda.
“Dan hasil pemeriksaannya adalah ini?” Yudhis mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya. Kertas yang Khalisa sebut sebagai bukti lain tentang kebenaran pernikahan, kertas yang berisi keterangan bahwa Khalisa dinyatakan positif hamil.
Khalisa mengangguk-angguk sembari menyusut sudut mata. “Hmm. Ternyata mual-mualku bukan karena masuk angin, tapi karena positif hamil,” cicitnya dengan lugunya, membesit hidung merahnya yang berair.
Mengulurkan tangan, Yudhis meraba permukaan perut Khalisa yang masih rata, mengelusi di sana. Raut wajahnya yang tadi mengeras, kini berubah menyendu.
“Jadi, di sini ada anakku?” kata Yudhis parau.
“Iya, usianya tujuh minggu,” sahut Khalisa serak.
“Ada anakku tumbuh di rahimmu yang artinya darah dagingku? Keluargaku?” ujarnya, kecamuk berbagai rasa terdengar dari nada suaranya.
Khalisa mengangguk lagi. “Ada anak abang di rahimku. Adiknya Afkar, anak kita.”
__ADS_1
Di luar dugaan, tangis Yudhis seketika pecah membuat Khalisa terheran-heran. Si pria tinggi tegap itu membungkuk, memeluk perut Khalisa erat-erat. Bersedu-sedan di sana, bersama derai kata 'Alhamdulillah' tak henti dilafalkan dengan bibir bergetarnya.
Bersambung.