
Bab 22. Fitnah
“Khalisa, apa yang sebenarnya kamu lalukan saat aku sedang tidak di rumah!” geram Dion murka, tak terima saat melihat rekaman amatir yang menayangkan Khalisa dan Afkar diantar seorang pria perlente bermobil di malam hari ketika dirinya sedang bepergian. Lupa akan boroknya sendiri, tak berkaca diri.
“Kenapa? Mas marah?” tantang Khalisa dengan dagu terangkat. Sudah tak peduli lagi akan nasibnya nanti bagaimana, toh ia sudah hancur lebur sekarang, kepalang basah kenapa tidak menceburkan diri saja sekalian. Mengobarkan dorongan membangkangnya yang selama ini terkubur amat dalam. “Jadi di sini Mas boleh marah sedangkan aku dipaksa tenang saat Mas membawa wanita lain ke rumah? Begitu?”
“Jangan mencari pembelaan! Apa yang kmau lakukan dengan laki-laki itu?” cecarnya menggelegar marah. Dion membeliak murka, entah mengapa dia tak rela luar biasa melihat Khalisa tertangkap mata dekat dengan lelaki selain dirinya. Padahal dia bukan hanya sekadar dekat wanita lain, bahkan mendayung sampan hingga menuai benih dengan Amanda.
“Aku memang lahir di lingkungan lingkaran nista. Tapi aku bukan ******!” Khalisa berteriak tak terima. Banyak mata yang memandang hina sebab asal-usulnya, tetapi ia tetap berupaya menjaga dirinya suci meski di cap penuh noda. Khalisa tersengal kembang kempis. kristal beningnya berhenti luruh, tergerus marah bergemuruh.
__ADS_1
“Paling Mbak Khalisa jadi *****. Ya gimana, titisan sih. Biasanya yang mukanya lugu begini menipu. Coba Abang perhatikan bajunya. Bukankah itu terlihat baru? Dari mana dia punya duit? Pasti hasil menjual kue aset pribadi,” Dania ikut bergabung ke halaman belakang. Menambahkan bahan bakar menciptakan hawa panas kian berkobar.
“Tutup mulutmu, Dania!” Khalisa yang selama ini tak pernah membantah Dania, kini membentaknya lantang. Tak lagi sanggup diinjak-injak, Khalisa memberontak, meski tahu risiko yang akan ditanggungnya setelah ini tidak lah sederhana. “Jangan memfitnah! Kamu pikir Mbak enggak tahu kamu pernah berciuman di kamarmu dengan dosen pembimbingmu yang sudah beristri itu ketika dia datang ke rumah sewaktu ibu enggak ada. Jadi siapa yang ****** di sini?”
“Heh! Enggak tahu diri. Lempar batu sembunyi tangan! Seenaknya saja menuduh!” Dania hendak merangsek. Berang juga kelabakan saat salah satu bobrok tersembunyinya terbongkar di depan ibu dan kakaknya. Takut Wulan dan Dion percaya ucapan Khalisa, mengingat selama ini Wulan selalu membanggakannya sebagai anak berprestasi akademiknya, tidak tahu menahu bahwa pencapaian nilai tinggi Dania didapat melalui jalan pintas, bukan bermodalkan giat belajar.
“Mas, kenapa enggak ceraikan saja Mbak Khalisanya sih? Kan dia sendiri yang minta. Lagian buat apa terus dipertahanin, kan sudah ada aku. Lepaskan saja daripada Mas ribut terus sama dia, aku enggak mau ketenanganku terganggu di masa-masa menanti kelahiran bayi kita.” Amanda yang sejak tadi menonton ikut menyuarakan pendapat tak tahu diri, tidak ingat dirinya merupakan salah satu biang kerok yang menyebabkan keributan ini terjadi.
“Manda, istirahat di kamar sama Ibu ya, nanti Mas nyusul. Ini urusan Mas dengan Khalisa. Bu, tolong bawa Manda masuk ke kamar depan,” bujuknya dengan nada lembut, sangat berbeda nada ketika melontarkan kata pada Khalisa.
__ADS_1
“Ayo Manda, kita masuk, takut ketularan murahan kalau kita lama-lama di sini.”
Wulan menggandeng Amanda. Dan setelah semua orang masuk, Khalisa tak sempat membaca situasi, Dion tanpa basa-basi menarik lengannya kasar, menyeretnya menuju ke menuju gudang.
“Mas, lepasin, sakit!”
“Diam kamu!”
Bersambung.
__ADS_1