
Bab 128. Sun Bunda
“Undaaaa ….”
Afkar berjingkrak-jingkrak senang di gendongan si tampan berlesung pipi itu begitu memasuki kamar Yudhis di lantai dua. Di dalam sana, Khalisa baru selesai berpakaian selepas mandi, mengenakan piyama santai berbahan dasar kain rayon lembut dan adem yang disiapkan Maharani.
“Sayangnya Bunda.” Khalisa yang hendak memakai kerudung, menaruh jilbabnya sembarangan dan menghambur ke arah pintu, memeluk erat dua laki-laki yang begitu berarti dalam hidupnya, si malaikat penyelamat jiwanya serta si jantung hatinya.
“Bunda kangen Afkar,” cicit Khalisa serak, terdesak haru di tenggorokan.
Kedua bola matanya berkaca-kaca. Bersama kerinduan yang menggunung, Khalisa menciumi sang anak yang semakin bersih dan tampan saja. Tubuh Afkar juga lebih berisi, pipinya semakin bulat gembul, lucu menggemaskan, tampak sangat sehat juga gembira.
Yudhis merangkul pinggang Khalisa dan menggiringnya ke tempat tidur. Mereka duduk bertiga di kasur empuk nan luas itu dengan Afkar di tengah-tengah. Khalisa terisak-isak haru, menumpahkan segala kerinduan dengan memeluk Afkar erat dan menciuminya lagi dan lagi.
“Perut Af masih sakit enggak?” tanya Khalisa khawatir sembari mengusap perut Afkar.
Hal itulah yang paling pertama ditanyakannya, setelah hampir dua bulan tak bersua, tak bisa bersama dekat dengan sang anak dikarenakan keadaan belumlah aman dan terpaksa haru berjauhan untuk sementara waktu. Pertanyaan yang terbersit spontan itu pun berasal dari trauma yang masih berbekas, masih dihantui kejadian buruk alergi hebat sewaktu Afkar berhasil dibawa keluar dari rumah Amanda, mengingat ketika Afkar diboyong ke Bali, sang anak sedang dalam masa pemulihan.
Afkar menggeleng-gelengkan kepala. “Endak, Unda. Peyutnya baik, endak nakal yagi.” Afkar menunduk, ikut mengusap dan menepuk-nepuk perutnya sendiri.
Khalisa membuang napas lega. Meraup Afkar dan mendudukkannya di pangkuan. Menghirup aroma harum balita kesayangannya dalam-dalam. Aroma yang amat dirindukannya.
“Unda tenapa angis?” Tangan mungil Afkar menepuk-nepuk pipi Khalisa, menatap Khalisa dengan kedua bola mata lucu dan jernihnya yang berkilauan. “Mau di sun juga ya?” celotehnya dengan intonasi cadelnya yang khas menggemaskan.
“Di sun?” imbuh Khalisa penuh tanya, begitu pula Yudhis yang bereaksi serupa.
“Talau Oma angis, Abah cuka sun Oma. Udah deh angisnya. Cini, Af sun Unda.” Afkar menarik Khalisa supaya lebih membungkuk, mendaratkan bibir basahnya yang bercampur liur di pipi Khalisa. Afkar juga mengusap-usap kepala bundanya lalu tersenyum senang dan bertepuk tangan.
“Hole, cudah!” teriaknya senang. “Dangan angis yagi ya, nanti Af kacih pemen tapas.”
__ADS_1
Yudhis terkekeh melihat tindak tanduk Afkar, dan Khalisa dibuat tersentuh juga gembira dengan perlakuan sang anak. Afkar lebih ceria dan lebih ekspresif dari sebelumnya, Khalisa dapat melihatnya dengan jelas dari sorot mata juga raut mungil putranya. Berbeda dengan dulu, Afkar terkesan seolah kurang percaya diri, imbas penghakiman sekitar kepadanya karena terlahir dari ibu yang memiliki asal-usul miring di mata orang-orang tak berhati.
“Afkar suka di sini, di rumah Abah dan Oma?” Yudhis berkata seraya mengusap sayang rambut Afkar.
Bocah itu mengangguk-angguk. “Cuka, ada Om danteng, main obilan bayeng, acik," ujarnya riang.
Afkar yang semula bertepuk tangan, tampak berpikir saat melihat Khalisa masih menyusut ujung mata basahnya. Lalu, bocah itu menatap lekat-lekat Yudhis juga Khalisa bergantian.
“Ada apa anak ganteng?” tanya Yudhis penasaran melihat ekspresi Afkar yang seolah sedang bingung.
“Tadi cayah,” ujarnya, sembari menggaruk kepala.
“Huh, apanya yang salah?” imbuh Khalisa kemudian.
“Sunnya cayah.”
“Unda macih angis. Sunnya cayah.” Afkar yang asalnya duduk di pangkuan Khalisa, beringsut turun dan menarik-narik lengan Yudhis supaya lebih dekat dengan bundanya.
“Tadi sunnya cayah. Oma juga sunnya cama Abah. Unda juga halus sunnya cama Pappah. Ayo cepet sun duyu cini, bial Unda endak angis yagi,” pintanya polos pada Yudhis sembari menyentuh pipi Khalisa. Membuat Khalisa mengerjap bingung dan Yudhis berdehem kikuk, canggung tak karuan jika harus mencium Khalisa di depan Afkar.
*****
Meja makan besar nan luas di rumah Barata kembali hidup, setelah beberapa waktu seringnya hanya diisi ketegangan atau tidak lengkapnya anggota keluarga karena salah satu anaknya memilih menghindar, sebab kedua putranya saat beranjak dewasa terlibat perselisihan yang cukup rumit, saling mendiamkan tak menyapa satu sama lain, padahal sebelumnya keduanya akur.
Acara makan malam kali ini terasa lebih hangat dan meriah bagi Maharani dan Barata. Mereka menikmati hidangan spesial penuh sukacita. Raut senang tercetak jelas di wajah Barata juga Maharani. Berkumpul lengkap semua anggota keluarga dalam suasana hangat, yang kini lebih meriah berkat bertambahnya anggota keluarga yakni Khalisa dan Afkar.
Erlangga juga menyapa Khalisa sopan, meski tidak begitu ramah, mungkin karena baru saling kenal, baru saling bertemu muka dengan kakak iparnya yang harus Erlangga akui sangatlah cantik.
Selepas acara makan malam, Khalisa menemani sang anak bermain di sebuah kamar yang menjadi ruangan tidur Afkar, bersama Maharani yang tidak ingin ketinggalan nimbrung, meninggalkan Barata yang sedang bercengkerama dengan ikan-ikan koi juga burung-burung bersuara merdu peliharaannya di taman belakang.
__ADS_1
Sedangkan Yudhis memilih bersantai di kursi dekat kolam renang sembari mengotak-atik ponselnya, memeriksa satu persatu berkas digital terkait pekerjaan yang dikirimkan Erika, baru sempat membuka ponsel.
“Mau kopi?” Sekaleng kopi siap minum ditaruh di meja yang terdapat di hadapan Yudhis.
Erlangga yang menawarkan. Dia mendudukkan diri di kursi yang bersebelahan dengan Yudhis, meneguk kopi kaleng miliknya sembari memandang riak air kolam.
“Kopi dingin memang yang terbaik untuk menemani membaca dokumen.” Yudhis menerima sekaleng kopi dingin yang ditawarkan Erlangga. Tertegun sejenak saat melihat mereknya dan membolak-balik kemasannya. “Apa kopi ini aman? Jangan-jangan kamu menyuntikkan sianida ke dalamnya?” Yudhis memicingkan matanya curiga secara terang-terangan pada Erlangga, menyeringai tengil.
Erlangga menoleh, mendengus sebal. “Ada pistol lengkap dengan pelurunya di kamar Papi kalau aku memang ingin melakukan hal fatal semacam itu! Nih, tukar dengan punyaku kalau Pak Pengacara takut diracun!”
Erlangga merampas kopi yang masih utuh dari tangan Yudhis, menaruh kopi yang sudah diteguknya dengan raut kesal.
“Hei, gaya marahmu mirip wanita yang sedang datang bulan!” ejek Yudhis, tergelak puas.
“Mulut para pengacara memang menyebalkan!” Erlangga komat-kamit bersungut-sungut.
“Kembalikan kopiku, kamu sudah memberikannya padaku. Juga, aku tidak sudi bertukar liur dengan sesama pria.” Yudhis mengambil kembali kopinya yang tadi, tersenyum senang karena ternyata Erlangga masih ingat dengan jenis kopi instan kesukaannya yang tak dipungkiri membuat hatinya terenyuh.
“Cih, memangnya Kakak pikir aku sudi!” decaknya, yang lagi-lagi membuat Yudhis terbahak.
“Ga, makasih, sudah ikut jaga Afkar di sini,” ucap Yudhis, yang kini nadanya serius, tulus dari hati setelah mendengar celoteh Afkar panjang lebar tadi sore yang banyak bercerita tentang Erlangga.
“Enggak usah makasih. Aku melakukannya karena aku ingin,” ujar Erlangga mengulas senyum sekilas, masih enggan berbincang sembari saling tatap dengan Yudhis, setia memandangi kolam.
“Ingin? Atas alasan apa?” Yudhis meruncingkan ujung mata.
“Karena dia lucu. Dan kami bersahabat sekarang.”
Bersambung.
__ADS_1