Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Sinyal Rasa


__ADS_3

Bab 86. Sinyal Rasa


Afkar akhirnya tertidur dengan tetap memeluk remot mobil mainannya setelah dibujuk. Bocah itu walaupun belum pulih benar, tetapi keceriaannya malam ini melebihi di kala sehat seperti sedia kala. Kecup sayang, juga belai cinta sang ibunda mengantar Afkar menuju lelap terdalam. Disusul selimut lembut membungkus tubuh mungil si lucu yang kini matanya memejam rapat.


Khalisa keluar dari kamar membawa dua buah botol susu bekas pakai. Bermaksud mencuci dan merebusnya supaya tetap steril juga bersih. Di dapur, Bi Dijah sedang membongkar kantung-kantung belanja dari supermarket. Membereskan barang-barang belanjaan, menyusunnya rapi.


“Eh, kebetulan. Neng, itu yang di kantung belanja warna merah isinya bukan kebutuhan dapur maupun susu dedek kecil ternyata, cuma kantungnya tadi tersembunyi di kantung belanja yang paling besar. Isinya kebutuhan balita, pasti punya dedek Afkar. Tadinya mau bibi antar ke kamar besok pagi saja bisi Neng Khalisa sudah tidur.”


“Punya Afkar?” imbuh Khalisa tak paham.


“Iya, Neng. Isinya ada kelengkapan mandi mulai dari sabun khusus balita sampai handuk. Juga ada minyak telon, minyak kayu putih, bedak bayi, tisu basah, sama minyak wangi anak-anak.” Bi Dijah menunjuk kantung belanja berbahan kanvas yang berada di meja kabinet dapur. “Semua itu pasti punya dedek Afkar, enggak mungkin punya Bibi, kan?”

__ADS_1


Khalisa memang tidak merasa membeli barang-barang yang disebutkan Bi Dijah tadi. Namun, rasa penasarannya mendorong Khalisa untuk membuka si kantung merah yang terdampar di sana.


Benar saja, isinya memang produk-produk yang biasa dipakai Afkar, lengkap sampai perintilan terkecil. Untuk sabun mandi, merek dan jenisnya adalah yang direkomendasikan dokter di rumah sakit, jenis yang paling terbaik untuk mengatasi ruam-ruam serta iritasi di kulit Afkar, merek yang sempat Khalisa negosiasikan meminta rekomendasi produk yang lebih murah saja dibandingkan ini yang penting fungsinya sama, karena untuk jenis yang dipegangnya sekarang merupakan yang termahal.


“Kapan Bang Yudhis membeli semua ini? Perasaan tadi kita cuma ngobrol sambil belanja, ngobrolin tentang produk-produk yang dipakai Afkar,” gumamnya kebingungan.


Memang benar Khalisa tidak mengetahui Yudhis membeli itu semua bersamaan dengan barang lainnya. Sewaktu berbelanja, Yudhis meminta Khalisa berjalan di depan. Khalisa menjawab apa adanya saat Yudhis melontarkan tanya terselubung meminta pendapat, tak menaruh sedikit pun curiga saat Yudhis banyak bertanya ini itu tentang kebutuhan barang-barang harian Afkar sampai jenis-jenis makanan yang disukai Khalisa juga Afkar.


“Terima kasih, Bang. Sudah memberikan perhatian begitu besar buat anakku,” gumamnya penuh haru yang terus bertubi melanda hati tak henti akhir-akhir ini. Mengganti lara yang selama bertahun ke belakang membelit diri.


“Kenapa ngelamun, Neng.” Bi Dijah kembali bersuara saat melihat Khalisa terpaku memandangi kemasan sabun di tangan lekat-lekat. “Ngelamunin siapa hayo?” goda Bi Dijah yang memang gemar berguyon ria.

__ADS_1


Obrolan Bi Dijah dengan Khalisa terinterupsi oleh suara maskulin yang menggema di dapur, menarik perhatian Khalisa dari kantung belanja yang sedang dilihat-lihat isinya.


“Bi Dije, tolong buatkan kopi latte favoritku dan antarkan ke ruang kerja ya,” titah Yudhis yang muncul selintas saja di area dapur sembari tetap fokus pada setumpuk lembaran kertas di tangan yang sedang dibacanya, kembali berlalu cepat ke ruang kerja yang bersebelahan dengan ruang makan, tidak menyadari Khalisa juga ada di sana.


“Siap, Den.” Bi Dijah agak menaikkan volume suara supaya Yudhis yang kembali masuk ke ruang kerja mendengar sahutannya.


Khalisa yang mendengar itu tergerak berinisiatif, ingin berbuat sesuatu sebagai ucapan terima kasih semampunya. “Bi, biar aku saja yang buatkan kopi buat Bang Yudhis.”


“Oh, boleh banget, Neng. Apalagi kalau sekalian di antarkan juga ke ruang kerja, pasti Den Yudhis seneng,” ujarnya penuh arti.


Bi Dijah ikut peka akan debar rasa tuannya pada si janda muda nan cantik ini, sedangkan si bunga indah bermata sendu itu masih gagal menangkap gelombang sinyal tersirat yang terefleksi dari setiap untaian perhatian Yudhis yang nyata over dosis padanya, jelas berbeda dan terlampau berlebihan dari sikap seorang kuasa hukum kepada klien yang seharusnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2