Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Angan Seorang Ibu


__ADS_3

Bab 36. Angan Seorang Ibu


“Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?” Khalisa bertanya pada Jordan setelah teriakan Tya yang diseret beberapa kacung Jordan semakin menjauh, tertinggal sayup-sayup, lalu hening tak terdengar lagi.


“Kondisimu sekarang tentu saja tidak memungkinkan melayani para tamuku. Walaupun harus kuakui kamu memang cantik meski wajahmu pucat, tapi badanmu kurus, juga kamu pasti amatir. Bisa-bisa bisnisku tercoreng karena menjual jasa yang tidak becus.”


“Lalu, aku harus bagaimana? Aku butuh uang itu secepatnya!”


“Tidak ada yang instant di dunia ini. Khalisa suciku yang cantik. Mie instant pun yang katanya instant perlu dimasak. Kamu akan menjalani pelatihan dulu selama dua bulan, satu untuk membentuk bodymu supaya tidak kurus, kedua merawat kulit tubuhmu supaya semakin menarik, dan yang ketiga untuk ditatar cara melayani tamu dengan benar. Setelah itu barulah uang yang kamu minta aku kuberikan setelah sepuluh orang pelanggan VIP berkata puas. Karena si sini Tya merupakan salah satu yang terbaik, kamu akan dibimbing oleh dia mulai besok. Bagaimana? Masih mau berlanjut atau berhenti? Kalau kamu berkata ya, maka mulai detik itu kamu tak bisa lagi memutar balik haluan atau mengubah keputusan. Kalau memutuskan ingin pergi, masih ada kesempatan yang terbuka lebar. Dan selama waktu pelatihan dimulai, kamu tidak diizinkan pergi keluar dari lokasi khusus yang kusediakan.”


Telah seluruhnya putus asa dan hanya mengandalkan diri sendiri dalam situasi amat terimpit, dengan hati menjerit menjatuhkan harga dirinya sendiri, Khalisa mengangguk dalam-dalam. Terlebih lagi di telinga, kepala hati dan telinganya hanya terisi tangisan Afkar yang terus berputar seperti kaset rusak. Demi kembali memeluk si buah hati yang ingin berasa dalam dekapannya, jangankan harga diri, raga dan nyawa pun akan dikorbankannya demi satu keinginan sederhana seorang Khalisa, yakni ingin terlepas dari jerat muslihat keluarga Dion dan hidup tenang dengan Afkarnya.


Tepuk tangan Jordan menggema, bersama gelak tawa membahana. “Bagus, keputusan yang tepat. Tidak ada tempat lain yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat selain di sini bukan? Aku yakin kamu akan berkilau lebih dari berlian setelah dipoles nanti. Sekarang, kamu akan diantar para asistenku menuju tempatmu untuk dilatih selama dua bulan ke depan. Aku harus mengurus pembangkangan Tya, sekaligus memberinya tugas melatihmu mulai besok pagi.”


“Aku punya satu syarat. Aku hanya menjual diriku untuk sejumlah uang yang kubutuhkan. Tapi, setelah aku mendapatkannya dan selesai dengan semua persyaratan darimu, aku akan berhenti dari pekerjaan ini.”

__ADS_1


“Baik, syarat diterima.”


*****


Di pagi buta, Tya mendatangi sebuah rumah kecil yang lokasinya tak jauh dari tempatnya bernaung. Sebuah rumah yang disediakan Jordan untuk menggembleng anak baru.


Pintu didorong kasar, di dalam sana Khalisa termenung di depan jendela terbuka yang menghadap kolam kecil. Kantung mata mengerikan menjadi penanda bahwa Khalisa sama sekali tidak tidur. Dan dirinya pun tak terlihat lebih baik, sudah pasti jejak tak baru di tubuh Tya merupakan souvenir yang ditorehkan Jordan atas bentakkan nekatnya tadi malam.


“Khalisa, kenapa kamu malah mengambil jalan pintas dengan mendatangi Jordan untuk mengatasi masalahmu?” cecar Tya tanpa basa-basi. Dia mengetahui sekelumit kisah rumit juga situasi sulit yang dialami Khalisa sewaktu bertukar kata di warung pecel lele.


“Mbak Tya mau kasih aku uang lima ratus juta? Bukan meminjamkan, tapi memberi,” tuntutnya terbalut tanya.


“Aku tidak punya uang sebanyak itu karena Jordan kini hanya memerasku tanpa aku mampu melarikan diri. Bukankah kalau kalian resmi bercerai maka ada harta gono-gini. Pakai saja itu untuk bernegosiasi.”


“Gono-gini?” Khalisa tertawa sumbang. “Kemarin aku membahas itu dengan Mas Dion lewat telepon, aku sudah mengambil langkah ini untuk bernegosiasi tentang Afkar. Tapi jawabannya sungguh di luar dugaan. Dia mengatakan sama sekali tidak ada harta gono-gini, karena aku datang pun ke rumahnya tanpa harta sepeser pun.”

__ADS_1


Tya menyugar rambutnya frustrasi. Khalisa sudah dianggap seperti adik sendiri ketika di panti, ia tak rela kalau Khalisa harus menempuh jalan hitam yang sama dengannya, lantaran sudah tahu seperti apa mengerikannya dunia kelam di bawah kendali Jordan.


“Aku yakin mantan suamimu hanya menggertak karena egonya tersentil pemberontakan beranimu juga kecemburuannya padamu, Khal. Dia pasti tidak sungguh-sungguh dengan opsi yang diajukannya. Hanya ingin menaklukkanmu di bawah kendalinya. Pasti masih ada cara lain untuk memperjuangkan anakmu kembali ke pangkuanmu.”


“Apa, cara lain itu? Memilih menjadi babu mereka dan mengorbankan perasaanku setiap hari sampai aku menjadi gila begitu?” tuntut Khalisa sengit. “Aku hanya ingin bebas dari cengkeraman mereka dan hidup damai bersama anakku, meski nantinya harus banting tulang untuk bertahan hidup, yang penting Afkar bersamaku. Anakku butuh aku, begitu juga sebaliknya,” lirihnya parau, tersendat sebah di tenggorokan.


“Kita bisa minta bantuan pengacara, Khal. Jujur aku enggak paham tentang hal semacam itu. Keterbatasan dalam wawasan juga kesempatan belajar membuatku begini. Tapi yang pernah kudengar, para pengacara bisa membantu permasalahan merebut hak asuh anak.”


“Pengacara? Aku tidak ingin bermimpi muluk-muluk. Aku jelas tak punya uang untuk menyewa pengacara. Kecuali Mbak Tya mau membayarkannya untukku. Kalau enggak bisa, jangan ikut campur lagi urusanku!” tegasnya dingin, tak lagi mempan dinasihati.


Bersambung.


Halo semua pembacaku tersayang, aku tambah update lagi untuk menemani akhir pekan kalian. Terima kasih selalu setia menanti kisah Khalisa dengan penuh cinta. Selamat membaca dan happy weekend 🤗💜.


Ingin kenal lebih dekat dengan author? follow instagramku di @Senjahari2412

__ADS_1


__ADS_2