Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Ladies First


__ADS_3

Bab 53. Ladies First


Jalanan macet, cukup menyulitkan Yudhis mempercepat laju kendaraan sementara perutnya sudah berteriak keroncongan. Memerhatikan sekitar, Yudhis menepikan mobilnya di parkiran sebuah kedai mie bakso terdekat. Si pria berlesung pipi tunggal itu memilih mengisi perut di sana sebagai penanggulangan darurat akan perutnya yang terus bergemuruh. Dan ternyata bukan cuma lambungnya, Khalisa pun sama demikian.


Padahal, semula Yudhis berniat ingin mengajak Khalisa makan steik spesial di sebuah restoran yang terdapat di pusat perbelanjaan eksklusif yaitu di The Royal Departemen Store. Yang merupakan salah satu cabang gerai perbelanjaan elit yang dipimpin dan dikembangkan saudaranya yang juga masih betah menjomblo, Sadewa Bramantya Syailendra, saudaranya yang dijuluki keluarga besar Syailendra dengan sebutan ganteng-ganteng broken heart.


“Kita makan di sini dulu sambil menunggu arus jalanan lancar. Kamu suka mie bakso?” tanya Yudhis sembari melangkah masuk.


“Lebih dari suka, Bang,” jawab Khalisa jujur, apa adanya. Ia memang menyukai makanan ini, hanya saja jarang menyantapnya, apalagi ini adalah gerai bakso cabang kedai di daerah Andir yang merupakan favoritnya.


“Ayo duduk.” Yudhis menarik kursi untuk Khalisa sebelum dia duduk, mengedepankan ladies first seperti yang selalu ditanamkan ibunya tercinta, mengajarkannya untuk mengutamakan dan menjunjung derajat wanita sebagai perbuatan mulia.


Lagi-lagi Khalisa dibuat kagum diperlakukan demikian oleh seorang Yudhis. Ia malah mematung sebab tak biasa.

__ADS_1


“Kenapa berdiri terus? Ayo duduk dan pesan menu bakso yang kamu mau.” Yudhis hendak menarik tangan Khalisa, tetapi cepat-cepat dia mengurungkan.


“Pesan terserah Abang saja, aku suka semua kok.”


Dua porsi bakso tulang iga dipesan komplit dihidangkan ke meja mereka, beserta dua buah kelapa muda lengkap dengan es batu dalam gelas sebagai pembasuh mulut pereda dahaga. Jenis menu bakso ini merupakan yang harganya paling tinggi di kedai tersebut. Dulu Khalisa hanya dapat melihat saja dan tak berani membeli karena harganya termasuk mahal baginya, di saat punya uang ia memilih memesan bakso halus yang banderolnya paling murah.


Mereka fokus pada isi mangkok masing-masing, walaupun sebenarnya Yudhis selalu tak tahan ingin mencuri pandang pada paras ayu di hadapannya melalui ekor mata.


“Bang, itu enggak kekenyangan?” Khalisa bertanya sembari meringis dan mengusap perutnya sendiri setelah Yudhis menyelesaikan santap siangnya. Ikut begah membayangkan dua porsi bakso komplit telah berpindah seluruhnya mengisi lambung Yudhis


Yudhis mengulas senyum sembari menggeleng. “Ini bakso terlezat yang pernah aku makan, jadinya pengen nambah,” jawabnya semringah.


Yudhis membuka dompet dan mengambil sebuah kartu berwarna biru muda dari dalamnya, tidak lain dan tidak bukan adalah KTP Khalisa.

__ADS_1


“Ini kartu Identitasmu, mungkin kamu terlupa.” Yudhis menaruhnya di meja dan menyorongkannya ke hadapan Khalisa.


Untuk beberapa detik Khalisa ternganga, merutuki diri kenapa sampai tidak ingat kartu penting ini tak lagi bersamanya beberapa bulan ke belakang, saking kalut dan peliknya permasalahan yang dialami.


“Makasih, Bang. Tapi, di mana Abang menemukan ini? Jujur saja aku sendiri tidak ingat sejak kapan KTPku tidak lagi ada padaku,” tanya Khalisa penasaran.


“Kamu mungkin lupa juga, tapi tiga bulan lalu aku pernah menemukanmu pingsan di depan sebuah kedai kopi malam-malam. Aku membawamu ke rumah sakit malam itu, maaf lancang membuka dompetmu dan mengambil KTP itu untuk keperluan data pasien. Tapi sayang, kamu tiba-tiba menghilang dari rumah sakit dan kartu pentingmu tertinggal di sana. Aku juga, sempat pergi ke alamat yang tertera untuk mengembalikan, tapi tidak ada orang di sana. Hanya ada rumah kosong. Jadi aku menyimpan KTP mu selama ini dan tahu namamu dari sana.”


Terjawab sudah pertanyaan Khalisa yang ingin tahu dari mana Yudhis mengetahui namanya. Ucapan terima kasih lagi-lagi berderai, untuk semua kebaikan Yudhis saat ini juga yang telah berlalu, dengan hati yang ikut mengucap syukur bukan hanya lisan saja yang berkata.


“Maaf, aku kabur karena takut harus membayar biaya rumah sakit. Sekali lagi maaf, Bang,” ucapnya tak enak hati, menunduk dengan pipi bersemburat malu, yang membuat Yudhis kian betah saja memandangi wajah cantik Khalisa yang merona merah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2