
Bab 62. Memancing
Dion dan si wanita berbaju coklat terlihat duduk di kursi kafe paling pojok. Yudhis sengaja mengambil tempat duduk pada kursi tepat di belakang punggung mereka. Dion terbilang nekat, memilih tempat ini untuk dikunjungi dan berpelukan dengan wanita yang bukan istrinya, di sebuah kafe yang kacanya tembus pandang dari luar.
Entah sedang mabuk atau bagaimana Yudhis pun menerka-nerka, jikalau sedang waras rasa-rasanya tak mungkin Dion berani menggandeng mesra wanita lain, mengingat dari keterangan Khalisa, Amanda merupakan anak dari bos Dion. Termasuk dalam jajaran kalangan pebisnis yang pasti luas pergaulan juga banyak kenalannya.
“Bos, enggak apa-apa kita ke tempat umum begini? Nanti kalau ketahuan Bu Amanda gimana?” tanya si wanita seksi berbaju coklat itu.
“Tidak akan. Amanda enggak akan mudah percaya andai ada yang melapor dan aku cuma tinggal merayunya lagi, dia itu mudah luluh dengan rayuanku, jadi kamu tenang saja. Lagi pula kamu itu kan sekretarisku di show room baru yang kupimpin. Bos dan sekretaris terlihat pergi bersama adalah hal yang wajar,” jawab Dion.
Dari nada bicara Dion, sekarang Yudhis dapat menyimpulkan dugaannya bahwa saat ini Dion memang sedang sedikit mabuk. Yudhis terlatih untuk membaca situasi dan instingnya amat tajam. Gemar mempelajari banyak hal guna menunjang kariernya.
“Tapi ini kan Sabtu sore, staf cuma bekerja setengah hari kecuali bagian marketing. Bagaimana kalau Bu Amanda curiga?”
“Mudah saja. Tinggal bilang kalau kita kerja lembur. Walaupun lembur yang sebenarnya bukan di sini,” ujarnya sembari terkekeh.
“Ih, genit," balas si wanita manja.
“Akhir pekan pulang cepat ke rumah juga membosankan, bikin kepala pusing. Telinga ini penuh dengan cerocosan ibuku yang sibuk meminta ini itu. Amanda yang bawel mengatur seperti bos pada bawahnya juga terus mendorongku berseteru dengan ibu membuat posisiku terjepit. Si anak bayi juga sering sakit-sakitan, capek dan bosan aku bolak-balik harus mengantar ke rumah sakit, padahal ada sopir yang bisa mengantar. Tiap malam nangis melulu, bikin susah istirahat. Anakku yang satu lagi ikutan merajuk terus, susah dibujuk makan, di rumah semuanya terasa kacau," keluh Dion meracau.
"Belum lagi kehangatan ranjang yang kurang memuaskan, apalagi sekarang Amanda libur melayani. Cuma kamu yang paling memahami keluh kesahku dan pandai menghibur kepenatan juga kebosananku selama sebulan ini. Tenang saja, gaji bulan depanmu dipastikan lebih besar berkali-kali lipat dibanding gaji bulan kemarin.”
__ADS_1
Dion memang sudah dilanda sindrom lupa diri juga tak tahu diri. Menjadikan kebosanan juga tekanan yang merupakan bagian risiko dari pilihan hidup yang dipilihnya sebagai tumbal keserakahan juga ketidaksetiaan, demi memuaskan diri pada hal-hal yang tidak seharusnya. Tak ingat dari mana asal-muasal harta berlimpah yang sekarang digenggamnya.
“Jangan lupa bonusnya juga ya, Bos. Aku pingin beli tas baru, Longchamp. Biar kerja makin semangat.”
“Berapa?”
“Delapan belas juta.”
“Gampang, aku transfer nanti di hotel setelah kamu menyelesaikan tugasmu melemaskan yang mendesak ini setiap kali dekat-dekat kamu. Kamu dan Amanda itu berbeda, kamu cantik dan berlekuk indah, sedangkan dia? Ah sudahlah, enggak perlu saya terangkan semua orang juga punya mata.”
Dion memang kerap terprovokasi omongan ibunya, baru sekarang terasa jelas bahwa ternyata hatinya tak pernah bergetar karena cinta pada Amanda. Harta Amanda yang melimpah ruah itulah yang membuatnya silau dan bersedia menikahi Amanda. Bukan cuma ambisi ingin dihormati juga kedudukan tinggi, tetapi juga didesak mewujudkan keinginan Wulan yang ingin hidup senang melalui cara pintas. Risikonya mulai merayap kini, dan rasa hambar menggerogotinya sedikit demi sedikit.
“Siap dong bosku,” bisik si wanita itu dengan nada manja setengah mendesah. “Mau gaya apa?”
“Sebentar, aku ke toilet dulu, Amanda menelepon.”
Dion meninggalkan tempat duduknya dan membiarkan si wanita berbaju coklat seorang diri. Tanpa membuang waktu, Yudhis memasukkan ponsel yang sejak tadi dipegangnya ke dalam saku celana. Berdiri dan merapikan pakaiannya, dia mengambil green tea latte utuh juga slice cake red velvet yang tadi dipesannya, meletakannya dengan gaya elegan ke atas meja di mana si wanita itu duduk.
“Green tea latte dan red velvet cake sangat sempurna untuk dinikmati oleh wanita secantik Anda,” ucap Yudhis karismatik.
Si wanita itu langsung merekahkan senyum dengan mata berbinar lapar pada pria rupawan paripurna berkemeja Tom Ford yang menyapanya. Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga, gerakan tersipunya dibuat-buat, semakin belingsatan melihat jenis jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Yudhis.
__ADS_1
“Benarkah begitu?” imbuhnya senang, melambung tinggi dipuji cantik oleh sosok tampan berkelas yang baru kali ini dilihatnya.
“Ya, green tea memiliki pesona penuh misteri memikat dari aroma juga rasa, sedangkan red velvet identik dengan sisi feminin, manis dan romantis seorang wanita. Persis seperti Anda.”
“Ah, Anda terlalu memuji.” Si wanita berbaju coklat itu semakin salah tingkah.
“Boleh duduk? Sejak tadi, aura Anda berbeda, pasti bukan cuma saya yang tertarik pada kecantikan Anda. Kalau boleh berkenalan itu lebih bagus lagi,” ujar Yudhis begitu meyakinkan.
Ditunjang rupa tampan juga terlihat tajir dipandang dari sisi manapun, sudah pasti mudah saja membuat para wanita yang haus akan kemegahan dunia tergoyahkan. Maklum saja, sore ini Yudhis sedang tebar pesona, sehingga tanpa sadar mengenakan barang-barang mewah secara maksimal yang biasanya menjadi penunggu lemari.
“Oh, tentu saja boleh. Silakan duduk,” tukasnya cepat.
Yudhistira Lazuardi bukan kaleng-kaleng dalam hal menggali informasi menggunakan trik ciamik dan apik, seperti yang sedang dilakukannya saat ini. Bercakap-cakap mengutarakan pertanyaan terselubung pancingan informasi di tengah-tengah diburu durasi waktu kemungkinan Dion kembali dari toilet setelah berusaha mengulur.
Sebelum menghampiri meja wanita ini tadi, Yudhis sudah mengantisipasi membuat permintaan pada seorang karyawan coffe shop yang pernah menjadi kliennya, meminta mengulur waktu Dion di toilet melalui pesan singkat yang diangguki cepat dari jauh oleh mantan kliennya tersebut.
“Jadi kamu karyawan show room baru yang sedang booming itu? Yang kabarnya merupakan gerai terbaru penjualan mobil paling lengkap di kota ini?” Yudhis menukas sok tahu dengan ekspresi tercengang juga kagum palsu yang sudah terencana. Padahal dia hanya menebak saja.
“Iya benar, yang itu,” jawabnya antusias.
“Sepertinya gerainya memang luar biasa, seperti halnya karyawannya pun memesona luar biasa. Saya jadi ingin melihat-lihat koleksi mobil di sana, mungkin membeli satu untuk menambah koleksi, apalagi kalau pilih-pilihnya ditemani seseorang secantik Anda.”
__ADS_1
Bersambung.