
Bab 92. Demi Afkar
Semua orang di ruangan itu tercengang, terutama Erika. Tak pernah menyangka Yudhis akan mengambil keputusan besar semacam ini, secepat ini. Walaupun Erika tahu bahwa Yudhis memiliki rasa lebih pada si janda ayu ini. Ghaisan berusaha menahan senyum. Maharani berpura-pura kaget sedangkan dalam hati ia tak lagi terkejut.
“Apa! Menikah?” Erika terperanjat setelah dibuat membeku beberapa detik, membekap mulutnya yang tak sengaja berteriak.
“Ya, hanya dengan menikahi Khalisa dan aku menjadi ayah sambung Afkar yang sah, maka hak asuh Afkar sudah pasti jatuh pada Khalisa. Pertimbangan pengadilan dalam urusan hak asuh selalu terfokus pada finansial serta adanya keluarga yang mendukung. Mencakup pula sandang, pangan, papan juga jaminan pendidikan yang mumpuni. Bukannya menyombong, tapi secara finansial aku lebih mumpuni dibanding mantan suaminya, sehingga itu bisa menjadi nilai tambah sebagai pertimbangan pengadilan dalam upaya Khalisa mendapatkan hak asuh Afkar.”
__ADS_1
“Menikah dengan Yudhis memang solusi paling solutif. Tidak ada yang lebih baik dan lebih cepat dari ini. Selain itu, kusarankan Khalisa berhenti bekerja menjadi OB, khawatir dicap lalai andai peninjau yang berwenang mendapati Khalisa membawa-bawa Afkar bekerja, terlebih lagi Afkar sakit lagi saat dibawa serta ke tempat kerja, seperti halnya hari ini. Saranku, walaupun mungkin untuk image sementara, sebaiknya Khalisa menjadi IRT saja, maka Khalisa akan dinilai benar-benar fokus mengasuh Afkar dengan Yudhis sebagai suami yang sanggup menjamin penuh semua kebutuhan Afkar beserta Khalisa. Dan pengadilan sudah pasti menilai Yudhis mampu bertanggung jawab dari berbagi aspek.”
Ghaisan angkat bicara, meski dia tahu ide Yudhis menikahi Khalisa bukan hanya untuk menolong semata. Dia tetap buka suara ikut meyakinkan Khalisa supaya titel jomblo sepi sahabatnya ini lekas berakhir, ingin membantu Yudhis yang amatir mengungkap rasa ini dalam usaha menggaet si bidadarinya dengan cara yang benar dalam ikatan halal. Juga, menikahi janda yang memiliki anak serta dirundung kesusahan lebih diutamakan, bernilai pahala lebih di hadapan Sang Pencipta.
Mungkin cara yang Yudhis tempuh terkesan modus dalam upayanya memiliki wanita yang dicinta dengan hak asuh Afkar sebagai alasan. Akan tetapi, ketulusan dalam hati ingin menolong tetap menjadi fondasi. Karena pada Afkar pun Yudhis tak kalah mengasihi, bertumbuh sayang tak diundang pada bocah itu, bukan hanya pada ibunya.
Keduanya seolah memang diciptakan untuk satu sama lain. Saling membantu dan mengobati keresahan masing-masing. Yang satu resah dengan masalah si permata hati terancam terenggut lagi darinya, sementara yang satunya resah gelisah mendamba si bunga indah menawan jiwa, gundah takut diambil kumbang lain sementara mengungkap pun bimbang. Ingin bicara jujur namun takut ditolak sebab waktu tak tepat, tetapi melepas pun sudah pasti enggan sebab hati telah tertambat.
__ADS_1
Pikiran keruh terbungkus kalut akut memanglah amat mudah mendorong seseorang mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Impulsif mengangguk-angguk cepat itulah yang menjadi respons Khalisa, sebab yang memenuhi hati dan kepalanya sekarang hanya Afkar dan Afkar.
“Bagaimana, Khal? Jadi kamu mau menerima tawaranku?” Yudhis kembali bertanya untuk memastikan apakah anggukan Khalisa itu jawaban ya atau bukan. Bersama rasa was-was menggelitiki hati menjalar ke diafragma.
“Ya, aku terima tawaran Abang. Bukankah sudah kubilang apa pun caranya akan kutempuh dan kujalani? Aku tak punya ide jalan keluar sama sekali, cuma Abang yang paling tahu. Aku terima solusinya apa pun itu, demi mendapat hak asuh anakku secara sah. Demi Afkar.”
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan hadiahnya ya 😁. Terima kasih buat semua yang sudah mendukung ikhlas tanpa tapi, mengapresiasi dengan segenap hati 💕.