
Bab 77. Kalang Kabut
“A-apa?” Dion tergagap sekaligus terhenyak.
“Iya, kemarin siang diambil Mbak Khalisa.” Amanda menjawab enteng saja di tengah-tengah kunyahan makan siangnya. Menggerakkan pisaunya santai mengiris tenderloin steik di atas piringnya. “Ayo, Mas. Makan siang dulu, pasti lapar kan, tenaga terkuras habis. Ini steiknya mumpung masih hangat.”
Menarik kursi makan, Dion duduk pada kursi yang bersebelahan dengan Amanda. “Khalisa datang ke sini? Datang langsung?” Bukannya menyentuh makanannya, Dion mencecar setengah tak percaya, sebab seingatnya Khalisa tidak tahu alamat rumah ini.
“Iya. Datang ke sini bawa pengacara. Mereka membawa berkas-berkas surat resmi pengambilan Afkar dan katanya sudah mengajukan permohonan tentang hak asuh Afkar ke pihak berwenang. Mbak Khalisa juga titip salam, dia bilang sampai jumpa di pengadilan.”
Ribuan umpatan yang ingin meluncur terpaksa tertahan di tenggorokan. Saat ini Dion panik juga murka bukan kepalang, lantaran pion ampuhnya untuk menjerat Khalisa supaya kembali ke bawah kendali kakinya telah lepas dari genggaman.
“Pengadilan? Serius dia bilang begitu?” Dion mati-matian menahan geram yang ingin meledak, mengepalkan tangan di bawah kolong meja.
“Memangnya pengadilan cocok buat dijadikan bahan bercandaan? Ibu juga ada kemarin pas Mbak Khalisa datang didampingi pengacara kalau Mas enggak percaya.”
“Pengacara asli atau cuma gadungan?”
__ADS_1
“Ya asli lah. Mas pikir aku ini enggak bisa membedakan mana yang gadungan dan enggak. Lihat saja berkas surat kelengkapan yang kemarin dibawa Mbak Khalisa, semuanya lengkap dan resmi. Masih ada di kolong meja ruang tamu.”
“Punya uang dari mana dia buat bayar pengacara!” Nada bicara Dion meninggi tanpa sengaja.
“Ya mana kutahu? Kenapa Mas malah jadi sewot sama aku? Mas marah sama aku karena Afkar dibawa oleh ibunya saat Mas enggak ada begitu? Afkarnya juga lagi sakit, sakitnya mengganggu seisi rumah. Dan Mbak Khalisa ingin membawanya ke rumah sakit, masa dilarang? Terus bawa surat tertulis resmi juga, nanti malah aku yang balik dilaporkan. Lagian di rumah ini siapa juga yang mau mengurusi Afkar andai anak itu masuk rumah sakit? Mas sendiri jarang ada di rumah, masa harus aku yang rawat? Aku jelas enggak mau ya, ada bayiku juga diriku sendiri yang harus kuurus,” tegas Amanda yang tentu saja tidak berani di bantah Dion. Bisa-bisa segala kemewahan dan kemudahan hidup yang dinikmatinya sekarang raib dari kuasanya.
“Masa marah sama kamu? Enggak lah, Sayang,” kata Dion manis, berkelit. “Cuma kenapa kamu enggak ngabarin aku tentang sakitnya Afkar?” Dion bertanya tentang hal ini sungguhlah ironi. Dia bahkan sering tidak ingat pulang apalagi pada Afkar saking terlenanya menggarap lahan becek si sekertaris.
“Mereka datangnya dadakan bertepatan dengan Afkar yang muntah-muntah. Mana keburu aku ngabarin Mas. Juga, di rumah ini aku adalah nyonya, punya hak yang sama mengambil keputusan walaupun Mas enggak ada di rumah. Sudahlah, biar Afkar diurus ibunya saja, supaya Mas juga bisa fokus sama anak kita biar perhatian Mas enggak terbagi-bagi. Seharusnya Mas lebih memperhatikan bayi kita yang sering sakit-sakitan, kenapa terus saja Afkar dan Afkar yang dibahas! Jangan bilang kalau Mas menahan Afkar karena masih mengharapakan Mbak Khalisa? Silakan pilih antara Mbak Khalisa atau aku! Kalau iya pilih Mbak Khalisa, silakan angkat kaki dan jangan bermimpi membawa harta secuil pun!”
“Lho, kok gitu, Sayang. Aku cuma kaget saja tiba-tiba Khalisa mengambil Afkar tanpa sepengetahuanku, sama sekali enggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu jelas-jelas tahu, sudah sejak lama aku tak lagi memiliki rasa pada Khalisa. Rela menduakannya cuma demi kamu. Lanjutkan makannya ya, aku suapi.”
Dion kalang kabut membujuk, berusaha keras tetap mengendalikan kekesalan dan kemarahan kendati tak mudah. Sebab jika dirinya tak mampu menjaga image di depan Amanda, maka tamatlah riwayatnya. Dan seperti biasa Amanda luluh kembali setelah dirayu mendayu.
Dion mencari-cari ibunya setelah memastikan Amanda dan bayinya tidur siang dengan pulas. Sejak kemarin sore, Dion juga tidak melihat keberadaan ibunya maupun Dania di rumah. Salah satu ART mengatakan kalau Dania pergi kemping dari kampus, sedangkan ibunya berangkat ke rumah sepupunya di Cilacap kemarin, pergi mendadak menggunakan angkutan umum karena Amanda mengatakan sopirnya tidak boleh dibawa pergi seenaknya, takut bayinya yang sering sakit-sakitan tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit saat Dion sedang tidak di rumah.
“Bu Wulan berangkat ke Cilacap, Pak. Katanya ada saudaranya yang sakit, dianter sopir cuma sampai terminal,” jelas salah satu ART.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada sanak keluarga yang sakit. Wulan pergi ke Cilacap dalam rangka menghindar sementara dari cecaran Dion perihal Khalisa yang telah berhasil membawa Afkar. Semenjak Dion punya jabatan tinggi dan uang melimpah di tangan, keadaan menjadi berbalik. Dulu Dion mudah saja disetir Wulan, tetapi setelah berkuasa malah banyak membangkang dari berani mengancamnya, di luar ekspektasi Wulan, malah Wulan lah yang cenderung harus menurut pada Dion kalau ingin finansialnya tetap makmur. Menjadi budak putranya sendiri, padahal Wulan yang menyetting hingga Dion bisa menduduki kursi tinggi di perusahaan keluarga Amanda. Sedangkan Amanda sejak awal jelas susah dikendalikan.
Dion beralih memeriksa rekaman CCTV rumah hari kemarin. Semula Dion kebingungan sendiri sebab tak mendapati kemunculan Khalisa di rumah ini, hanya terlihat datang seorang pria rapi dan tampan ditemani wanita yang sangat cantik berkerudung. Namun, setelah diputar berulang-ulang terutama di menit bagian wanita berkerudung putih itu membawa Afkar, Dion membelalak. Ternyata wanita cantik berkerudung itu adalah mantan istrinya. Ayu bersinar. Mendapati Khalisa malah tidak menggembel setelah lama dipisahkan dari Afkar membuatnya makin murka saja, bersama rasa tak rela yang menggerogoti semakin dalam.
Dion berangkat dari rumah ke kantor menjelang jam tiga sore ini, beralasan pada Amanda ada beberapa hal darurat yang harus dikerjakannya. Dion memang benar datang ke kantor koperasi, memanggil beberapa kacung juga pengacaranya. Bukan hendak mengurus pekerjaan, melainkan bertanya perihal seputar Khalisa dan meminta kacungnya mencari ke rumah sakit mana Khalisa membawa Afkar.
Dion semakin berang saat salah satu kacungnya melaporkan bahwa akta cerai Khalisa sudah diambil oleh yang bersangkutan, dan pengacaranya melaporkan adanya gugatan resmi yang dilayangkan padanya terkait hak asuh Afkar.
“Sial!” Sebuah gelas kristal menjadi sasaran pelampiasan kemarahan juga kedongkolan mengetahui akta cerai mantan istrinya yang semula akan dijadikan pion juga sudah tak bisa diharapkan lagi. Gelas dilempar kencang membentur tembok hingga pecah berkeping-keping berserakan di ruangan pribadinya. Dion uring-uringan, semua orang di ruangan itu terkena semprot.
“Aku akan membayarmu dua kali lipat dari yang biasa Amanda berikan. Yang penting hak asuh Afkar tetap jatuh padaku, tidak peduli bagaimana caranya!”
“Bagaimanapun caranya? Menempuh jalan belakang tentu bisa. Tapi dananya sudah pasti lebih besar kalau mau lewat jalur belakang,” terang si pengacara berperut buncit yang merupakan kuasa hukum pribadi Dion yang ditunjuk Amanda.
“Ya, lakukan cara apapun! Aku jadi ingin tahu, sampai di mana Khalisa bisa bertahan dengan keangkuhan seumur jagungnya itu,” desisnya meremehkan.
Bersambung.
__ADS_1