
Bab 134. Bulan Madu
Maharani sempat menahan keinginan Khalisa dan Yudhis yang hendak membawa Afkar untuk ikut serta dalam acara bulan madu, dimaksudkan supaya acara honeymoon pasangan pengantin yang masih terbilang baru itu berlangsung syahdu tak terganggu.
Namun, melihat raut menyendu Khalisa, Maharani tak tega. Pada akhirnya mengerti dengan ide Yudhis yang memutuskan mengajak Afkar, pasti karena Yudhis paham bahwa Khalisa sampai datang ke Bali saking dilanda rindu berat pada si buah hati.
Sore harinya mereka berangkat tanpa sopir. Yudhis ingin berkendara bertiga menyusuri jalanan menuju Uluwatu. Bernyanyi riang gembira sepanjang perjalanan.
Saat melewati area-area perbelanjaan oleh-oleh pengrajin lokal, Khalisa tertegun memandangi baju-baju terusan yang terbuat dari kain batik Bali yang dipajang dengan kain pantai, mengingatkannya pada daster ruffle yang dirusak Dion tempo hari, sewaktu malam perceraian. Daster yang sangat disukainya dan didapatkannya dengan penuh perjuangan.
Yudhis menghentikan laju kendaraan saat menangkap arah pandang Khalisa yang memaku pada satu titik.
“Kenapa, Khal? Kamu lihat apa?” tanya Yudhis penasaran.
“Oh, bu-bukan apa-apa, Bang. Itu, daster di sini pada bagus-bagus, apalagi yang warna pink,” sahutnya tersenyum, sembari membetulkan posisi Afkar yang duduk di pangkuannya.
“Kamu mau beli? Kalau begitu kita turun dulu saja dan pilih semua yang kamu suka,” tawar Yudhis kemudian.
Yudhis mengerutkan kening melihat air muka Khalisa yang berubah sedih dan menggelengkan kepala lemah.
“Enggak usah, Bang. Bajuku sudah banyak. Abang dan mami membelikanku begitu banyak baju bagus, masih banyak yang belum kupakai.”
“Serius enggak mau beli? Gosipnya, para wanita sangat menyukai daster. Memangnya kamu enggak?”
“Beneran, enggak usah. Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi matahari terbenam.”
Afkar berlarian gembira ke sana kemari sesampainya di vila. Mereka bermain bertiga saat malam tiba, yang dilanjutkan dengan mengisi perut. Tema candle light dinner pasangan bulan madu ini terbilang berbeda. Pada umumnya memesan tema romantis, tetapi Yudhis justru memesan tema lucu yang disukai anak-anak.
__ADS_1
Yudhis memutuskan berenang malam-malam sedangkan Khalisa tengah mengeloni Afkar. Kolam renangnya privat menyatu dengan area kamar pribadi. Sehingga yang menginap bebas berenang tanpa terganggu ranah privasinya.
Yudhis hanya mengenakan boxer hitam. Membiarkan bagian daksa lainnya terekspose yang pahatan tinggi tegapnya sudah pasti amat menggiurkan di mata kaum hawa.
Yudhis berenang piawai lincah, dan di tengah-tengah kegiatannya, Yudhis melihat Khalisa yang terbalut gaun tidur warna hitam menghampirinya.
“Mana si pipi gembul?” tanya Yudhis.
“Sudah bobo, Bang. Afkar capek main kayaknya, saking senangnya liburan bersama. Ini sudah malam. Enggak dingin berenang jam segini?”
“Agak dingin sih. Walaupun sebetulnya ada pilihan tempat berenang yang justru membuat gerah dan berkeringat,” sahut Yudhis sembari menyeringai, menepi dan keluar dari air, menerima handuk yang disodorkan Khalisa.
“Huh? Memangnya ada tempat berenang semacam itu?” ujar Khalisa lugu, membuat Yudhis ingin sekali menjitak sayang istrinya yang terkadang kelewat polos ini.
“Ada dong, Unda,” goda Yudhis jail.
Mencondongkan tubuh, Yudhis sedikit membungkuk dan berbisik mesra. “Tempat berenangnya setiap malam kita pakai bersama, yang berakhir dengan mengganti seprai setiap pagi, walaupun tadi malam akhirnya libur juga karena lawan bertarungku malah tertidur saat baru pemanasan.”
“Ih, Abang!” sungut Khalisa malu. “Maaf, semalam aku ketiduran. Enggak tahu kenapa beberapa hari ini aku gampang ngantuk. Mungkin efek samping naik pesawat,” ucap Khalisa, memprediksi asal saja membuat Yudhis tergelak.
“Nah kalau sekarang ngantuk enggak?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau menagih jatah kadoku yang gagal semalam.”
“Sekarang?” Khalisa tercengang.
__ADS_1
“Tentu saja sekarang. Kalau tahun depan bisa-bisa aku berkarat.”
“Tapi ada Afkar lagi bobo di kasur kita.” Khalisa menggigit bibirnya bimbang. “Kalau kebangun gara-gara ranjangnya bergoyang bagaimana?” imbuhnya mengutarakan kekhawatiran.
“Mau berenang?” ajak Yudhis tiba-tiba.
“Aku berenang?” Khalisa mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri lalu menggeleng. “Aku enggak bisa berenang, takut tenggelam. Terus, bukannya Abang mau itu_”
Khalisa mengusap tengkuk, membasahi bibir tak meneruskan kalimatnya.
“Ada aku. Kamu enggak akan tenggelam.” Yudhis turun kembali lebih dulu, lalu mengulurkan tangan pada, Khalisa. “Ayo turun, aku pegangi.”
Meski ragu-ragu, Khalisa turun dan langsung melingkarkan kedua kaki juga lengan pada tubuh atletis itu.
“Dan aku ingin mencoba itu di sini,” desis Yudhis ke telinga Khalisa penuh arti.
“Di kolam ini?” Khalisa menelan ludah tak yakin, wajahnya merona.
“Iya, biar enggak terciduk kalau Afkar tiba-tiba bangun. Juga yang penting jangan berisik biar Afkar enggak terganggu tidurnya. Jadi, pelankan suara lenguhanmu, Sayang,” jawab Yudhis yang langsung meraup bibir merah Khalisa dalam ******* panas, memagut mesra, melenakan, memabukkan.
Dua insan dimabuk asmara itu bercumbu rayu di bawah cahaya temaram nan syahdu. Mereka memadu kasih penuh cinta, penuh kelembutan. Entah mengapa akhir-akhir ini Khalisa justru merasa berhasrat menggebu lain dari biasanya. Balas membelai, bukan hanya membiarkan diri dibelai.
Sementara itu, Erlangga yang malam ini sedang mengantar orang tuanya berkunjung ke rumah orang tua papinya, lagi-lagi bertemu dengan tantenya yang selama ini selalu memprovokasi, yang membuat hubungannya dengan Yudhis merenggang.
"Erlangga, jadi kamu memilih berbagi orang tuamu juga kekayaannya dengan si anak pungut? Enak sekali hidup Yudhis. Cuma orang luar, tapi bisa dapat warisan. Enggak takut kalau Yudhis malah lebih berkuasa daripada kamu di masa depan? Biasanya anak pungut itu serakah nantinya."
"Cukup, Tante. Aku enggak mau bahas ini lagi, Dan juga, setelah kutelaah menggunakan akal sehatku dengan benar, yang berambisi serakah di sini justru Tante. Bahkan memberi tawaran menghabisi Kak Yudhis asalkan aku mau memberi imbalan tinggi. Sebaiknya berhenti sampai di sini, atau aku laporkan Tante pada polisi."
__ADS_1
Bersambung.