
Bab 71. Puji Palsu
Menjelang matahari tenggelam Dion baru kembali ke rumah. Wajahnya kuyu, tampak teramat lelah. Terlihat dari bagian bawah mata yang sedikit menghitam berkantung.
“Duh, Mas pasti capek banget sampai kuyu begini. Kenapa enggak nyuruh karyawan koperasi saja sih, buat survei nasabah ke kabupatennya? Enggak usah turun tangan langsung, sampai-sampai waktunya libur pun habis dipakai bekerja. Seharusnya akhir pekan itu saatnya kita menghabiskan waktu dan quality time denganku juga si kecil, mumpung kondisinya sedang membaik,” protes Amanda sembari cemberut manja, menyambut kedatangan Dion dengan pakaian super seksi dan menggandeng suaminya itu menuju kamar mereka di lantai dua. Sengaja tidak berlama-lama di lantai satu menghindari Dion bertanya tentang Afkar pada Ceu Wati.
“Kalau nyuruh yang kerja, takutnya enggak teliti, Sayang. Nasabah dari kabupaten ini mengajukan pinjaman dalam jumlah besar dan tak berpikir panjang menyanggupi bunga tinggi yang kita tawarkan, menjadikan sertifikat sawah dan kebun kopi warisan orang tuanya sebagai jaminan. Memang nilai kebun dan sawahnya itu termasuk tinggi dan kita tetap untung besar kalau dia tidak mampu membayar yang berakhir pada penyitaan nanti.”
“Nah, kan sudah jelas, kenapa harus disurvei ulang sendiri, biarkan para karyawan saja yang pergi. buat apa mereka digaji!” balas Amanda merajuk.
“Aku juga kan enggak pergi sendiri, ditemani karyawan kantor. Tapi tetap saja aku harus mengecek lokasinya dengan mata kepalaku dan menelaah secara langsung nilai lahannya, supaya kita jangan sampai merugi akibat kurang teliti. Nasabah ini butuh uang banyak secepatnya makanya aku bergerak cepat, karena dia bilang kalau mengajukan pinjaman ke bank pemerintah meski bunganya kecil prosesnya cukup lama dan nominal yang diinginkannya tak disanggupi. Selain itu, dia juga berniat membeli mobil di showroom kita dari sebagian uang pinjaman, jadinya kita untung dua kali,” jelas Dion begitu lancar berkilah, meluncur mulus dari mulut manis berbisanya bak jalan bebas hambatan.
“Mmm, suamiku memang terbaik dan cerdas dalam berbisnis.” Amanda merangkul Dion dan mencium pipinya. “Enggak salah mamiku mempercayakan Mas menjabat sebagai kepala koperasi juga memimpin showroom terbaru yang paling besar di antara gerai lainnya,” ujar Amanda bangga. Belum mengetahui dirinya dikibuli oleh pria yang dipujinya.
Dion balas merangkul Amanda kendati kurang bernafsu. Akan tetapi demi menyembunyikan boroknya yang banyak menyalah gunakan kepercayaan dan menghamburkan uang Amanda di jalan yang salah, Dion memaksakan dirinya tetap bersikap manis pada Amanda saat di rumah.
__ADS_1
“Oh, iya. Rencanaku buat libur tiga bulan melayani Mas enggak jadi deh. Lagian sudah lewat empat puluh hari, sudah aman. Bagaimana kalau malam ini? Aku kangen disayang.” Amanda mengerling penuh arti, menggigit bibirnya sensual.
“Ah, Sayang. Bukannya aku enggak kangen, tapi badanku capek sekali sekarang. Pingin tidur buat memulihkan tenaga. Gimana kalau besok di pagi-pagi buta yang dingin pasti menyenangkan, biar tenagaku full isinya? Kalau staminaku kurang, aku khawatir enggak bisa muasin kamu.” Dion membujuk merayu. Berlindung di balik kata khawatir padahal dia sudah lebih dulu terpuaskan oleh madu manis lain di luar sana sehingga tak lagi berselera dan energinya terkuras.
“Baiklah, Mas memang paling mengerti aku,” tukas Amanda senang merasa di nomor satukan segala keinginannya, belum menyadari sanjungan Dion untuknya palsu belaka.
Aloisa datang lagi ke rumah sakit sekitar pukul delapan malam dan ternyata ada Erika juga di sana. Yuhdis ingin menemani Khalisa menjaga Afkar, dia takkan tenang dan pasti tak bisa tidur jika pulang ke rumah. Disiksa berbagai kekhawatiran. Mulai dari cemas pada kondisi Afkar yang belum stabil, pada kondisi psikis Khalisa yang juga sedang terombang-ambing kesedihan hebat, juga cemas pada keselamatan ibu dan anak itu. Cemas keluarga mantan suami Khalisa mendadak menemukan mereka dan menyakiti Khalisa serta Afkar lagi meskipun keberadaan keduanya di Rumah Sakit Satya Medika ditutup rapat informasinya.
Namun, seperti biasa Yudhis khawatir timbul fitnah tak mengenakan terutama bagi Khalisa yang berstatus janda jika dirinya menginap di sana tanpa ada orang lain lagi, meminta perawat menemani bisa saja, hanya saja Yudhis sedang meningkatkan kewaspadaan sekarang, menghindari orang yang tidak begitu dikenal baik terlalu dekat dengan Khalisa dan Afkar. Oleh karena itu Yudhis meminta Erika datang dan tidak disangka Aloisa juga datang lagi, mengatakan akan ikut menginap setelah Ghaisan menceritakan dilema sang sahabat yakni si pengacara muda pada istrinya itu.
“Aku pulang juga percuma, ranjang kami sedang sepi dan aku tidur sendiri. Mas Ghai lagi tugas piket jaga malam di kantor. Tadi Mas Ghai juga cerita tentang kecemasan Abang ini padaku, dan suamiku memintaku menemani Khalisa di sini, subuh nanti dia akan menyusul ke sini selepas tugas piket selesai. Walaupun aku bukan dokter anak, tapi aku bisa ikut memantau kondisi Afkar juga secara intensif, minimal mengenali lebih dini kemungkinan gejala-gejala lanjutan sehingga bisa meminta tindakan pada pihak rumah sakit lebih cepat supaya penanganan enggak terlambat.”
“Makasih banyak, Loi. Maaf, waktu liburmu kali ini banyak terganggu oleh urusanku dan Khalisa,” ucap Yudhis setulus hati.
“Jangan sungkan, Bang. Buat aku terutama Mas Ghai, Abang itu sudah kayak keluarga sendiri. Dan Khalisa juga mungkin enggak lama lagi bakal jadi bagian keluarga Abang.” Aloisa berujar sembari mengerling jahil yang ditanggapi Yudhis dengan batuk pura-pura. “Lagian ini menyenangkan karena ternyata ada Erika juga yang menginap, ini seru, seperti acara kemping dengan teman sewaktu gadis,” celetuknya ceria sembari menyengir.
__ADS_1
Ruangan VVIP memiliki kapasitas ruangan yang terbilang luas. Ranjang pasiennya pun besar, cukup memuat dua orang dewasa. Dua stel sofa juga hadir melengkapi. Satu stel ditata di dekat pintu, satu stel lagi di seberangnya, di pojok dekat jendela. Sehingga keberadaan Erika dan Aloisa menginap sama sekali tidak mengganggu istirahatnya Afkar.
Gemercik air hujan turun membasahi bumi. Iramanya mendayukan simfoni alam membasuh lara hati. Senandung merdunya membalut luka dalam sanubari, mengobati robekan kalbu sisa-sisa siksa rindu seorang ibu yang teramat nyeri tak terperi.
Malam semakin larut. Erika sudah mulai memejamkan mata sementara Aloisa sedang keluar ruangan menerima telepon dari Ghaisan. Sedangkan Khalisa yang tak beranjak dari kursi di dekat ranjang, terlihat mulai terkantuk-kantuk.
“Khal, tidurlah di sofa, Afkar biar aku yang jaga,” kata Yudhis sepelan mungkin.
Khalisa sedikit tersentak dari rasa kantuk yang mulai menggelayuti kelopak mata saat suara maskulin yang mulai akrab iramanya terdengar di telinga.
“Enggak usah, Bang. Abang saja yang tidur. Abang pasti capek mengurus banyak hal buat aku juga Afkar. Aku enggak ngantuk,” sanggahnya, menyangkal bahwa raganya membutuhkan istirahat, malah mengeratkan genggamannya pada kaki mungil Afkar.
Yudhis meringis perih dalam hati, luka psikis Khalisa pasti tidaklah sederhana. Menatap prihatin wanita berparas ayu nan sendu itu yang terus mendekap kaki anaknya. Amat kentara sangat takut kehilangan.
Bersambung.
__ADS_1