Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Hadiah


__ADS_3

Bab 129. Hadiah


Kantuk merayap hinggap. Gegas menutup gadget, Yudhis menguap dan mengerjapkan matanya yang mulai perih, beranjak masuk dan berpapasan dengan Maharani yang sedang menuruni tangga, baru keluar dari kamar Afkar.


“Anak Mami masih sibuk saja di malam menjelang akhir pekan begini. Sesekali cobalah bersantai.” Maharani menepuk-nepuk pundak Yudhis, menatap khawatir melihat gurat lelah di wajah tampan si sulung.


Yudhis mengulas senyum manisnya, meraih tangan Maharani dan menggenggamnya. “Jangan cemas. Hal begini sudah biasa, Mi. Bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Apa Afkar sudah tidur?”.


“Lagi dikelonin sama Khalisa. Baru saja selesai minum susu.”


“Mami juga sebaiknya segera istirahat, sudah jam sepuluh. Usia Mami sudah tidak ideal untuk dibawa begadang.” Yudhis menggoda, menunjukkan arloji yang melingkar gagah di pergelangan tangannya.


“Baiklah, anak Mami yang ganteng dan manis. Selamat tidur juga, pengantin baru.”

__ADS_1


Yudhis meniti tangga setelah maminya berlalu ke arah kamar besar di lantai satu. Kakinya terhenti saat mendengar suara Erlangga yang entah baru kembali dari mana memanggilnya.


“Kak, tunggu.”


Kedua kaki Yudhis berhenti melanjutkan langkah, menoleh dan menundukkan pandangan, di bawah sana Erlangga setengah berlari tergopoh-gopoh, lalu menaiki tangga dan menghampirinya.


“Ada apa, Ga? Terus, dari mana kamu malam-malam begini? Kukira tadi kamu sudah masuk ke kamarmu,” cecar Yudhis sembari memindai sang adik yang napasnya kembang kempis.


“Ada urusan sedikit, jadi aku keluar sebentar. Ini, hadiah dariku.” Erlangga memberikan sebuah amplop pada Yudhis, membuat Yudhis tertegun heran.


“Hadiah dariku untuk pernikahan Kakak. Sorry, aku enggak datang sewaktu akad nikah.” Erlangga si tampan mahal senyum itu tampak bersungguh-sungguh sekarang, meski seperti biasa, gurat senyumnya hanya tipis saja.


Masih tersisa gengsi membalut ego Erlangga akan ulahnya dulu yang pernah terang-terangan mengobarkan peperangan pada Yudhis, akibat dorongan provokasi menghasut dari salah satu kerabat papinya, hasutan yang berkaitan dengan tahta, harta juga cinta kasih. Kerabat Barata ada yang tidak suka dengan kehadiran Yudhis di keluarga Maharani, sehingga situasi kakak dan adik itu memanas.

__ADS_1


Ada yang sengaja ingin memecah belah, melampiaskan kekecewaan tak kesampaiannya, iri dengkinya, karena dulu si kerabat ini berharap Maharani mengadopsi salah satu anaknya karena kebetulan anak yang bersangkutan banyak. Hanya saja niat buruk yang terselubung, membuat Maharani maupun Barata tak tergerak hati.


Pernah suatu waktu tepat saat Yudhis selesai wisuda, si kerabat pun pernah mengusulkan perjodohan Yudhis dengan salah satu anak perempuannya. Akan tetapi lagi-lagi Maharani menolak, dengan alasan tidak ingin menjadi penyebab anak-anaknya tak bahagia andai memaksakan kehendak dalam urusan asmara. Berujung kecewa dari harapan tak sampainya ingin mendompleng kemewahan Syailendra pupus sudah.


Yudhis menaikkan sebelah alisnya dan menyipitkan sudut mata. “Apakah ini artinya kamu memberi selamat atas pernikahan kakakmu ini?”


Mengusap tengkuk, Erlangga kemudian mengangguk cepat kendati bahasa tubuhnya kikuk. “Hmm, selamat atas pernikahan Kakak dan selamat sudah menjadi mantan perjaka,” celetuknya dengan nada cuek khas seorang Erlangga Rajata Lazuardi.


“Hei, beri selamat dengan benar. Sini, peluk aku.” Yudhis merentangkan kedua tangannya dengan senyum merekah gembira.


“No! Jangan peluk-peluk. Nanti aku dikira penyuka batang!” tolak Erlangga sengit, bersegera menuruni tangga demi menghindari Yudhis yang sengaja malah merangsek hendak memeluknya berbalut canda, membuat Yudhis tak bisa menahan tawa.


“Ga, makasih hadiahnya.” Yudhis mengangkat amplop yang diberikan sang adik.

__ADS_1


“Hmm, semoga suka. Dan aku sangat yakin Kakak akan lebih dari suka,” ujarnya menyeringai jail sebelum berlalu ke bagian sisi kiri bangunan di mana kamarnya berada.


Bersambung.


__ADS_2