
Hari minggu telah tiba. Chenoa sedang memilih baju yang cocok untuk dipakai hari ini. “Hemh … sepertinya sudah pas,” kata Chenoa. “Baiklah! Aku akan pakai yang ini,” seraya tersenyum melihat penampilannya di cermin.
Pukul 10.00
Chenoa sedang menunggu kedatangan penjemputnya di ruang tamu. Sesekali ia melihat layar ponselnya, siapa tahu ada pesan atau telepon masuk.
Tidak menunggu lama, ponsel Chenoa pun bergetar.
Drrrtt
Aku ada di depan.
Setelah membaca pesan itu, Chenoa segera keluar dari rumahnya.
Ketika Chenoa melihat mobil yang sedang terparkir di depan rumahnya, Chenoa menghampiri mobil tersebut dan masuk ke dalamnya. Kemudian, mobil itu pun bergerak meninggalkan rumah Chenoa.
####
“Kita beli di sini saja,” ucap Joan kepada Jean sembari menepikan mobilnya.
“Oke. Kau ikut denganku, yah,” bujuk Jean.
“Cuman beli es krim doang masa kau tidak bisa,” tukas Joan.
“Hah! Baiklah! Demi Tante Diandra yang tersayang.” Jean mengalah.
Jean keluar dari mobil lalu berjalan menuju kafe es krim yang ada di depannya.
Beberapa menit kemudian…
“Kenapa balik lagi?” tanya Joan saat melihat adiknya masuk ke dalam mobil dengan tangan kosong.
“Aku melihat Kakak Ipar sedang duduk berdua dengan seorang pria,” jawab Jean.
“Kakak Ipar dengan seorang pria? Paling itu Vendy,” ucap Joan santai.
“Bukan! Kalau tidak percaya coba hubungi Vendy,” perintah Jean.
Joan mengambil ponselnya lalu menghubungi Vendy.
“Halo! Ada apa?” kata Vendy dari balik telepon.
“Kau ada di mana?” tanya Joan.
“Di rumah. Kenapa?”
“Jadi, bukan kau yang bersama Kakak Ipar?”
“Apa maksudmu? Aku sedang sendiri di rumah. Tadi pagi Chenoa kirim pesan, katanya mau keluar karena ada urusan penting hari ini.”
“Oh. Begit–” ucapan Joan terpotong.
“Datang ke Happy Ice Cream, sekarang!” teriak Jean.
“Untuk apa?” tanya Vendy.
“Kakak Ipar ada di sini,” jawab Jean.
“Oke. Aku ke sana sekarang.”
__ADS_1
Tut.Tut.Tut.
Joan menyimpan ponselnya lalu mengetuk dahi Jean.
“Auh … sakit,” pekik Jean sambil mengusap dahinya.
“Kenapa kau menyuruh Vendy kemari? Kalau terjadi pertengkaran antara Vendy dan Kakak Ipar, kau mau tanggung jawab?!” bentak Joan.
“Tenang dulu! Aku akan menyingkirkan pria itu sebelum Vendy datang dan setelah itu, dia dan kakak ipar bisa kencan berdua. Tunggu di sini! Biarkan Jean beraksi,” ucap Jean lalu berjalan menuju kafe.
Sesampainya di dalam kafe, Jean langsung menyapa Chenoa. “Kakak ipar! Ternyata kau ada di sini.”
“Eh, Jean. Mau apa ke sini?” tanya Chenoa.
“Mau beli es krim untuk Tante Diandra,” jawab Jean. “Dia–” sambil menunjuk pria yang duduk di hadapan Chenoa.
“Dia adalah kakak kelasku saat SMP. Namanya Kak Vito,” kata Chenoa.
Jean mengulurkan tangannya, “Jean,” ucapnya.
“Kau … Jean Hansen, kan?” tanya Vito.
“I–ya. Kau mengenalku?” tanya Jean heran.
“Tentu saja. Ak–” ucapan Vito terpotong.
“Maaf membuat kalian menunggu,” sela seseorang.
Jean menatap orang itu, “Revina? Kau juga ada di sini?”
“Iya. Lalu, kenapa kau ada di sini? Mau mengganggu kencanku dengan Chenoa, yah?” tuduh Revina.
Jean menghampiri Joan yang sedang duduk di dalam mobil.
“Bagaimana? Apa pria itu sudah pergi?” tanya Joan.
“Belum. Ternyata Revina juga ada di dalam. Sepertinya kita telah salah paham.”
Joan menghela napasnya, “Lalu, es krimnya mana?”
Jean menepuk dahinya, “Aku lupa. Kau saja yang masuk beli!” perintahnya.
Joan menggeleng mendengar ucapan Adiknya. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju kafe.
Setibanya di tempat duduk Chenoa, ia berhenti lalu menyapa Chenoa. “Hai, Kakak Ipar,” sapanya.
“Jean! Ayo duduk dulu!” ajak Revina.
Joan mengambil tempat duduk di samping Vito.
Vito menatap Joan dengan saksama lalu berkata, “Kau … Joan Hansen, kan?”
“Dia bukan Joan, tapi Jean!” sela Revina.
“Tidak! Dia memang Joan Hansen. Lihat! Gaya rambut dan gaya berpakaiannya benar-benar berbeda dengan yang tadi,” jelas Vito.
“Iya, Vin. Dia memang Joan dan yang tadi adalah Jean saudara kembarnya,” ungkap Chenoa.
“Kembar? Jadi, sebenarnya siapa yang kutemui di rumah sakit dan di restoran pada waktu itu? Jean atau Joan?” pikir Revina. Ia memegangi kepalanya karena pusing.
__ADS_1
“Kak, bagaimana kau mengenal Jean dan Joan?” tanya Chenoa penasaran.
“Tentu saja aku mengenalnya. Mereka adalah anak dari Alan Hansen pemilik Hansen Group. Sebuah perusahaan multinasional yang memiliki banyak anak perusahaan. Di salah satu anak perusahannya lah Kakakku bekerja. Oh ya, kau tahu Universitas Hansen yang terkenal itu? Itu juga milik Hansen Group loh,” jelas Vito panjang lebar. Kemudian, ia memandangi Joan dengan mata berbinar layaknya bertemu dengan seorang selebritis.
Chenoa tercengang mendengar penjelasan Vito. Ia tidak menyangka jika Jean dan Joan adalah anak dari pengusaha kaya.
Tiba-tiba, Revina memukul meja dengan keras.
Braakkk!
Chenoa, Joan, Vito dan bahkan beberapa pengunjung kafe memandang Revina.
“Joan! Sepertinya kita harus bicara,” ucap Revina. Ia berjalan ke arah Joan dan menarik pria itu keluar dari kafe.
####
Vendy dan Jean berjalan memasuki kafe.
“Mereka ada di san–” ucapan Jean terpotong saat melihat hanya ada Chenoa dan Vito yang sedang duduk berdua di sana.
Vendy mengepalkan tangannya, ia memandang Jean, “Tadi kau bilang bersama Revina, sejak kapan Revina berubah jadi pria, hah?” kata Vendy marah.
“Bu–kan begitu, Ven. Tadi, memang ada Revina di sana!” Jean berusaha menjelaskan kepada Vendy.
Vendy mengabaikan penjelasan Jean, ia segera menghampiri Chenoa dan Vito. Sementara Jean hanya bisa mengikuti Vendy sambil menggaruk kepalanya karena kebingungan.
Tanpa sepatah kata pun Vendy segera menarik tangan Chenoa keluar dari kafe.
“Tunggu! Siapa kau?” Vito berusaha mencegah Vendy namun Jean segera menghalanginya.
“Dia pacar Chenoa. Jangan mengganggu!” ucap Jean.
Vendy membawa Chenoa ke mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan memerintahkan kepada Chenoa untuk segera masuk.
Setelah berada di dalam mobil, Vendy hanya diam sambil memandangi Chenoa. Ia berusaha meredakan amarahnya sebelum bertanya pada gadis itu.
“Apa kau sedang marah?” tanya Chenoa tiba-tiba.
“Iya. Siapa pria itu?” Vendy balik bertanya.
Chenoa tersenyum mendengar pertanyaan Vendy, ia meraih tangan Vendy untuk menenangkannya. Ia tahu jika saat ini hati Vendy sedang terbakar api cemburu.
“Dia kakak kelasku saat SMP. Aku dan Revina tidak sengaja bertemu dengannya di kafe. Dia datang ke sana untuk membelikan pacarnya es krim,” ungkap Chenoa.
“Tapi, Revina tidak ada di sana."
“Dia keluar bersama Joan. Percayalah padaku, Ven! … aku punya buktinya kalau hari ini aku keluar dengan Revina,” ucapnya.
Chenoa mengambil ponselnya dan menunjukkan pesan yang dikirimkan Revina. “Kau bisa bertanya pada Joan dan Kak Vito jika masih tidak percaya,” sambungnya.
Vendy langsung memeluk Chenoa, “Aku percaya padamu. Sangat percaya. Maafkan aku, Chen! Aku sangat takut kehilanganmu.”
Chenoa membalas pelukan Vendy, “Aku juga takut kau salah paham dan meninggalkanku" batinnya.
Beberapa menit kemudian...
Chenoa dan Vendy keluar dari mobil, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Revina dan Joan. Keempatnya pun berjalan bersama memasuki kafe.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.