Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 36


__ADS_3

“Jean! Tolong ambilkan buah!”


“Jean! Tolong bantu aku mengerjakan tugas!”


Jean berjalan sempoyongan menuju sofa. Tenaganya terkuras habis setelah meladeni segala permintaan Revina.


Revina, gadis yang tengah berbaring santai di kamarnya sungguh membuat Jean jengah. Gadis itu sangat licik dan benar-benar ingin membuat Jean menderita. Bagaimana tidak, dengan sengaja ia meliburkan pembantunya dan membiarkan Jean berlari ke sana ke mari untuk memenuhi segala permintaan Revina.


Hari ini, tepatnya hari keempat Jean datang ke rumah Revina. Jean mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di sofa.


“Jean!” panggil Revina lagi.


“Cukup! Aku tidak tahan lagi! Sebentar lagi mungkin aku yang akan terbaring di rumah sakit.” Jean beranjak meninggalkan ruang tamu sambil berceloteh.


Jean menghembuskan napas berat sebelum membuka pintu kamar Revina.


Ceklek!


“Ada apa lagi?” tanya Jean.


“Bantu aku ke kamar mandi!” jawab Revina.


“Apa?! Apa kau sudah tidak waras?! Aku ini seorang pria! Lagi pula bukan kakimu yang sakit, kau bisa berjalan sendiri ke kamar mandi,” teriak Jean.


“Jangan salah paham, aku hanya ingin kau membantuku membukakan pasta gigi. Aku ingin menggosok gigiku karena sebentar lagi temanku mau datang,” ucap Revina.


“Oh ....” Jean akhirnya paham dengan maksud Revina.


Jean berjalan mengikuti Revina menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, dengan sigap Jean segera melaksanakan tugasnya membantu Revina. Ia mengambil sikat gigi kemudian meletakkan pasta gigi di atas sikat gigi tersebut.


“Ini!” ucap Jean seraya menyodorkan sikat gigi kepada Revina.


Sebelum mengambil sikat gigi itu, Revina menatap lekat mata Jean.


“Maafkan aku!”


“Aku tahu beberapa hari ini kau menderita karenaku. Oleh sebab itu, mulai besok kau tidak perlu datang lagi. Aku sudah puas mengerjaimu,” ucap Revina.


Jean diam saja. Baginya, ia tidak perlu menanggapi ucapan Revina. Lagi pula, sejak awal ia sudah tahu jika Revina memang sengaja mengerjainya.


“Kenapa diam saja? Apa kau marah?” tanya Revina.


Jean akhirnya bersuara, “Tidak! Dari awal aku sudah menyadarinya.”


Revina masih memandangi Jean, kali ini ia beralih menatap hidung dan bibir Jean. Entah mengapa tiba-tiba Revina menjadi gugup berada dekat dengan Jean.


“Ada apa denganku?” pikir Revina.


“Hei ... kenapa terus memandangiku?” tanya Jean mulai risi dengan tatapan Revina.


Revina terdiam, telinganya seakan tertutup hingga tak menggubris pertanyaan Jean. Makin lama ia memandangi Jean, ia makin sadar jika dirinya sudah terpesona dengan ketampanan Jean. Tanpa sadar, ia pun berkata, “Sepertinya aku mulai menyukaimu.”


“Apa?!” Jean terkejut.


“Ada apa denganmu? Sepertinya kau memang sudah tidak waras. Coba ingat kembali, apa mungkin ketika kau terjatuh kepalamu juga terbentur?” tanya Jean. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan Revina.


Mendengar Jean mengucapkan hal yang tidak masuk akal, akhirnya Revina menyadari kesalahannya.


“Revina! Kau sungguh bodoh! Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu!” batin Revina.

__ADS_1


Merasa malu, Revina buru-buru mengambil sikat gigi di tangan Jean dan segera menggosok giginya.


Setelah menggosok giginya, Revina segera meninggalkan Jean yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Revina duduk di sofa kamarnya. Ia sudah bertekad untuk bicara dengan Jean. Ia ingin menjelaskan segalanya agar hubungannya dengan Jean tidak menjadi canggung.


Tidak lama kemudian, Jean kembali ke kamar Revina, ia terkejut melihat Revina sedang duduk di sofa.


“Aku ingin bicara,” kata Revina.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, anggap saja aku tidak mendengar apa yang tadi kau ucapkan,” jelas Jean.


“Tidak bisa! Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa kau tidak memiliki sedikit perasaan untukku?”


“Kau sungguh plin-plan. Kemarin kau menyukai Kakakku, sekarang menyukaiku. Apa kau sebegitu mudahnya jatuh cinta kepada seseorang?”


“Apa kau berbeda? Kau juga sama denganku.”


“Kau ....” Jean kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa mengelak dari ucapan Revina.


Revina berdiri, ia berjalan mendekati Jean.


Cup!


“Kau ... ke–na–pa tiba-tiba menciumku?” tanya Jean.


“Aku hanya ingin menciummu! Aku sudah bilang, aku mulai menyukaimu,” jelas Revina.


“Lalu bagaimana dengan Kakakku?” tanya Jean lagi.


“Apa dia mencintaiku?” balas Revina.


“Tidak!” jawab Jean cepat.


Jean menggeleng mendengar ucapan Revina. Gadis yang ada di hadapannya saat ini sangat tidak mudah untuk dihadapi.


Ting Tong!


Suara bel mengagetkan Jean dan juga Revina.


Sebelum melangkah meninggalkan Jean, Revina berkata, “Pertimbangkanlah dulu. Jika kau ingin menjadi pacarku, dengan senang hati aku menerimanya.”


Revina berjalan meninggalkan Jean.


####


“Silakan masuk!” ucap Revina canggung.


“Bagaimana tanganmu? Apa sudah baikan?” tanya tamu itu yang tak lain adalah Rafa.


“Sudah baikan, kenapa tiba-tiba ingin berkunjung?” tanya Revina.


“Aku ingin menjengukmu, apa kehadiranku tidak diharapkan di sini?” ucap Rafa sambil melirik Jean yang entah kapan sudah berada di ruang tamu.


“Bukan begitu. Silakan duduk!”


“Sepertinya aku berkunjung di waktu yang salah, siapa dia? Pacarmu?” tanya Rafa mulai menyelidiki hubungan Revina dan Jean.


“Masih calon,” jawab Revina.


“Pasti dia termasuk daftar cinta bertepuk sebelah tanganmu. Apa kau tidak kapok mengejar pria?” tanya Rafa.

__ADS_1


Revina menatap tajam ke arah Rafa. Bagaimana tidak, di depan pria yang disukainya, dengan tanpa rasa bersalah, Rafa mengatakan hal yang sangat memalukan bagi Revina. Revina tahu jika dirinya memang suka mengejar pria, tapi setelah mendengar ucapan Rafa, Revina akhirnya menyadari betapa memalukannya dirinya.


“Kau siapa?” tanya Jean emosi.


“Aku temannya,” jawab Rafa.


“Jika sudah tidak ada keperluan, kau boleh pergi!” perintah Jean.


“Oke. Oke. Jangan marah! Aku akan pergi,” ucap Rafa.


Tapi sebelum pergi, Rafa berjalan mendekati Jean kemudian berbisik, “Jangan menyukai Revina. Dia itu gadis murahan. Dia suka mengejar-ngejar pria. Bahkan aku pernah menjadi targetnya.”


Mendengar ucapan Rafa, emosi Jean mulai membuncah. Ia tidak tahan mendengar Rafa menghina Revina. Jean pun melayangkan tinjunya ke perut Rafa.


“Pergi dari sini! Atau aku tidak akan mengampunimu!” teriak Jean.


Sambil meringis kesakitan, Rafa berlari meninggalkan rumah Revina.


“Ada apa? Kenapa kau memukulnya?” tanya Revina penasaran.


“Tidak ada apa-apa. Kau tidak perlu tahu,” jawab Jean.


Revina sebenarnya masih bingung dengan apa yang telah terjadi. Namun melihat ekspresi Jean saat ini, bisa dipastikan bahwa Jean sangat marah. Revina pun tidak berani bertanya lagi. Namun, melihat Jean memukul Rafa, tak bisa dipungkiri kalau Revina cukup senang.


Beberapa menit setelah kepergian Rafa, suasana antara Revina dan Jean berubah menjadi canggung.


Revina masih malu untuk memandang wajah Jean. Jika sekarang ia tidak berada di rumahnya sendiri, mungkin ia akan segera keluar dari rumah itu.


“Kau juga boleh pergi,” ucap Revina. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Jean.


“Oh iya, seperti yang kukatakan sebelumnya, mulai besok kau tidak perlu datang lagi. Dan juga lupakan tawaranku. Kau tidak perlu memikirkan untuk menjadi pacarku,” sambung Revina.


“Tunggu!” Jean menahan tangan Revina.


“Kenapa kau berubah pikiran?” tanya Jean.


“Karena aku wanita yang memalukan. Sebelum aku bertambah malu, kumohon pergi dari sini,” ucap Revina sedih.


Jean menarik Revina ke dalam pelukannya. Entah apa yang mendorong Jean untuk memeluk gadis itu. Hasrat untuk memberi kenyamanan tiba-tiba saja muncul ketika ia melihat Revina bersedih.


Di dalam pelukan Jean, Revina menutup matanya. Rasa hangat yang ditebarkan oleh pria itu membuat Revina merasa nyaman.


“Terima kasih!” ucap Revina.


“Untuk?” tanya Jean.


“Karena telah memelukku dan membantuku beberapa hari ini.”


“Hemhh ....” kata Jean sambil terus memeluk Revina.


“Baiklah! Kau boleh melepaskan pelukanmu.”


“Oh iya, aku lupa.” Jean pun melepaskan pelukannya.


“Lebih baik aku pulang sekarang. Cepat sembuh!” ucap Jean sedikit canggung.


Revina menatap kepergian Jean dengan sedih.


“Jangan sedih Revina. Tidak masalah menambah satu pria lagi ke daftar cinta bertepuk sebelah tanganmu.”


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


__ADS_2