
“Haruskah kita melaporkan ini?” tanya Jean kepada Joan.
“Tidak. Kita tidak boleh melaporkannya. Apa kau siap menerima segala risikonya?” balas Joan.
“Tentu saja aku tidak siap. Tante Diandra akan menguliti kita berdua jika dia tahu hal ini. Kita berdua harus menutup rapat-rapat mulut kita,” ungkap Jean.
“Oke. Kali ini aku setuju denganmu,” ucap Joan.
“Lihat! Keduanya tampak serasi. Aku juga mau punya pacar, Ah. Aku iri dengan mereka,” tukas Jean.
Aaaaaaaaa!
Sebuah suara teriakan mengagetkan Jean dan Joan.
“Sepertinya mereka sudah bangun. Ayo kita nikmati drama pagi ini,” ajak Jean kepada Joan.
“Kenapa kau ada di kamarku?” tanya Chenoa kepada Vendy.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa kau ada di sini? Perhatikan sekelilingmu! Ini kamar Ibumu bukan kamarmu.”
Chenoa menatap sekeliling ruangan. Akhirnya ia sadar bahwa dirinya sedang berada di kamar Ibunya.
“Bukankah tadi malam aku tidur di kamarku? Kenapa bisa ada di sini?” batinnya.
Chenoa menyipitkan matanya, ia menatap curiga pada Vendy.
“Apa kau yang mengangkatku ke sini?” tuduh Chenoa.
Vendy terperangah, ia tidak bisa menerima tuduhan tak berdasar Chenoa.
“Tidak mungkin! Jelas-jelas tadi malam kau mengunci pintu kamarmu. Mustahil aku menembus pintu dan mengangkatmu ke sini.”
“Tunggu! Aku harus memastikan sesuatu!” sambung Vendy.
Vendy segera menyibak selimut Chenoa.
“Baju? Masih utuh.”
Vendy menghela napasnya, “Berarti tidak terjadi sesuatu. Aku aman,” batinnya.
Chenoa dengan penuh rasa malu berdiri meninggalkan ranjang. “Ah, perih!” pekiknya.
Brakkkk!
Joan dan Jean membuka pintu kamar dengan keras.
“Perih?!” teriak Jean dan Joan bersamaan.
Vendy menelan ludahnya dan matanya berkedip cepat, “A–pa y–ang perih?” tanya Vendy terbata-bata.
“Matilah aku, Tante Diandra akan mencabik-cabik tubuhku.” Vendy bergidik ngeri.
“Kakiku,” jawab Chenoa.
Jean terduduk lemas di depan pintu sedangkan Vendy mengusap dadanya. “Aku selamat,” ucapnya.
Chenoa tidak memedulikan kehadiran Jean dan Joan di kamar Ibunya, ia hanya fokus untuk segera keluar dari kamar itu. Ia sangat malu dengan apa yang telah terjadi, bisa-bisanya ia masuk ke kamar Ibunya saat Vendy sedang berada di kamar itu.
__ADS_1
“Ah, malunya,” batinnya.
Chenoa segera masuk ke kamarnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, Chenoa segera mengobati kakinya yang sedikit terluka. Ia juga bingung, entah apa yang telah membuat kakinya terluka.
“Oke. Sudah selesai,” ucapnya.
Chenoa keluar kamar untuk menemui Jean, Joan dan juga Vendy yang sudah berada di ruang tamu.
“Kakak Ipar, bagaimana kakimu? Apa sudah kau obati?” tanya Joan.
“Ah, i–ya. Sudah tidak apa-apa,” jawab Chenoa ragu. Ia masih sangat malu untuk berhadapan dengan ketiganya.
Vendy menatap Chenoa yang tertunduk malu.
“Ehem ... masalah tadi, aku pikir kit–” ucapan Vendy terpotong.
“Stop! Jangan membahasnya lagi! Kau tidak lihat aku sedang menahan malu,” ucap Chenoa mencegah Vendy melanjutkan perkataannya.
Ha-Ha-Ha!
Jean dan Joan tidak mampu menahan tawa mereka. Apa yang terjadi pagi ini membuat mereka sedikit terkejut dan juga terhibur.
“Ven, kau mau lihat foto yang menarik?” tanya Jean menggoda Vendy.
“Foto? Aku tidak tertarik,” jawab Vendy ketus.
“Benarkah? Sayang sekali. Padahal sangat bagus loh, di dalam foto itu ada gambar sepasang kekasih yang sedang tidur bersama,” ucap Jean.
“Wah, aku ketahuan. Ha-Ha-Ha!” ledek Jean. Ia segera berlari sebelum Vendy mengejarnya.
“Jean, tunggu! Cepat berikan ponselmu itu!” teriak Vendy sembari mengejar Jean.
“Kenapa kalian berdua bisa datang se-pagi ini?” tanya Chenoa kepada Joan.
“Tante Diandra yang suruh. Dia bahkan memberikan kami kunci rumahmu,” jawab Joan seraya menunjukkan kunci rumah Chenoa.
“Tante Diandra memang sangat gesit. Dia bahkan telah membuat duplikat kunci rumahku,” ujar Chenoa.
Hah! Hah! Hah!
Vendy dan Jean mengatur napas mereka. Setelah puas bermain kejar-kejaran keduanya kembali duduk di sofa.
“Nih, ambil HP-mu! Aku sudah menghapus semua foto yang ada di dalamnya,” ucap Vendy seraya melemparkan ponsel yang ada di tangannya kepada Jean.
“Apa?! Semuanya?!” teriak Jean. Ia memeriksa ponselnya dan ternyata benar, Vendy telah menghapus semua foto termasuk aset berharganya.
“Kau ....” Jean kehabisan kata-kata, ia hanya bisa tertunduk lesu. “Semua foto gadis cantikku telah hilang,” keluhnya.
“Sudahlah. Ikhlaskan saja. Siapa suruh cari gara-gara dengan Vendy,” ucap Joan.
“Ayo kita kembali ke rumah Tante Diandra. Dia sudah mengirim pesan untuk segera membawa Vendy dan juga Chenoa,” lanjutnya.
####
Vendy, Jean, Joan dan juga Chenoa berjalan bersama menuju ruang tamu Tante Diandra sedangkan sang tuan rumah sedang asyik duduk menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap Tante Diandra saat melihat kedatangan Vendy, Jean, Joan dan Chenoa.
“Jadi, apa yang telah terjadi?” sambungnya.
“Aman, Tante. Tidak terjadi apa-apa,” jawab Jean cepat.
“Benarkah?” tanya Tante Diandra seraya menatap tajam pada Vendy.
“A-man, Tante. Tenang saja,” jawab Vendy.
“Oke. Karena Tante telah mempercayakan Chenoa padamu berarti Tante tidak boleh meragukanmu. Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya untuk mempertahankan hubungan kalian?”
“Aku ingin meminta izin kepada Tante untuk membawa Chenoa bertemu keluargaku di Singapura.”
“Ke Singapura? Apa kau yakin bisa menjaga Chenoa?”
“Aku yakin. Aku tidak akan pernah membiarkan Chenoa tersakiti. Aku ingin memperjelas segalanya. Aku ingin tahu alasan kenapa keluargaku berani membohongi Chenoa dengan mengatakan aku sudah menikah. Aku mohon Tante memberi izin,” ucap Vendy mantap.
“Hah ... sepertinya tidak ada jalan lain selain mengizinkan kau membawa Chenoa. Baiklah! Aku setuju. Chen, sepertinya kau tidak sia-sia telah mengemas barang-barangmu sebelumnya.”
“Jadi, kapan kalian berangkat?” sela Joan.
“Hari ini,” jawab Vendy.
“Vendy, Kakak Ipar, semoga semuanya berjalan lancar dan kami segera mendapat kabar baik dari kalian,” ucap Jean menyemangati Vendy dan juga Chenoa.
####
Setelah menempuh perjalanan menggunakan kendaraan udara dan darat, akhirnya Vendy dan Chenoa telah sampai di tempat tujuan. Saat ini keduanya sedang berdiri tepat di depan rumah keluarga Vendy.
Sebelumnya Vendy sudah menghubungi keluarganya untuk menunggu kedatangannya di rumah. Ia bahkan sudah yakin pasti saat ini keluarganya sudah menunggu di ruang tamu.
“Jangan takut, pasti kita bisa melewati ini,” ucap Vendy menyemangati Chenoa.
Chenoa tersenyum, rasa takut yang selama ini ia rasakan saat berada di perjalanan seakan sirna setelah mendengar ucapan Vendy. Chenoa tahu ini tidak akan mudah, tapi ia percaya jika Vendy dan dirinya akan berjuang untuk mempertahankan hubungan mereka.
“Kau siap?” tanya Vendy.
Chenoa menggenggam tangan Vendy, “Aku siap!” jawab Chenoa mantap.
Vendy menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia meraih gagang pintu dan...
Ceklek!
Bersambung...
***
Mohon maaf, karena kesibukan author yang tak bisa dihindari, akhirnya baru bisa up hari ini.
Terima kasih bagi yang sudah sabar menunggu dan selalu setia menantikan kisah Vendy dan Chenoa.
***
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.
Terima kasih.
__ADS_1