Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 23


__ADS_3

Satu bulan berlalu, akhirnya Paman Sam telah kembali dari Singapura. Sebenarnya ia ingin menunda kepulangannya, namun ia khawatir akan terlalu lama merepotkan Vendy. Paman Sam juga sudah memutuskan untuk berhenti mengajar dan fokus untuk mengelola bisnisnya saja.


Selama ini, Paman Sam beralih profesi menjadi guru sebab ada orang yang ia cari, tepatnya, seorang wanita dan seorang bayi yang hilang bertahun-tahun yang lalu setelah tragedi yang menimpa keluarganya. Bahkan polisi saja sudah menyatakan bahwa keduanya telah meninggal. Namun, Paman Sam tetap yakin jika keduanya masih hidup di luar sana. Dan jika dugaannya benar, pasti bayi itu sekarang sudah besar dan sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah. Itulah alasannya, sehingga Paman Sam suka berpindah-pindah sekolah. Dan tentu saja itu bukan perkara mudah, tak jarang ia harus mengeluarkan uang untuk itu.


Sudah bertahun-tahun semenjak Paman Sam mencari keduanya, namun tetap saja tidak menuai hasil. Oleh karena itu, Paman Sam sudah menyerah dan memutuskan untuk resign saja dari sekolah yang ia tempati mengajar saat ini.


####


Pagi ini, seperti biasa, Paman Sam sedang duduk di ruang tamu sembari membaca koran dan ditemani secangkir kopi panas. Tidak lupa pula dua buah kapas untuk menyumbat telinganya.


Saat Vendy keluar dari kamarnya, dengan sigap Paman Sam menyumbat kedua telinganya dengan kapas. Dan benar saja, Vendy mulai bersenandung tidak jelas sambil menyiapkan sarapan. Sudah beberapa hari ini, Paman Sam dibuat heran dengan perubahan tingkah Vendy. Ia bahkan bertanya-tanya, apa yang telah membuat Vendy begitu bahagia.


Beberapa menit kemudian, Vendy menghampiri Pamannya.


“Om, ayo sarapan!” panggil Vendy.


Hening, tidak ada respon dari Paman Sam. Vendy melihat kedua telinga Paman Sam dan seketika ia tertawa terbahak-bahak karenanya.


Vendy mengambil kapas tersebut lalu berkata, “Ayo, makan!”


Paman Sam meletakkan korannya di atas meja dan mengetuk dahi Vendy, “Baiklah, ayo!” ucapnya.


Saat keduanya sedang asyik sarapan, Paman Sam mulai mengintrogasi Vendy.


“Kenapa setiap pagi kau sudah rapi begini?” tanya Paman Sam.


“Mau ke kampus,” jawab Vendy.


“Jangan bohong. Katakan yang sejujurnya!”


“Betulan, aku lagi sibuk baca-baca skripsi di perpustakaan kampus sebagai referensi.”


*Uhuk! Uhuk*!


Paman Sam tersedak mendengar ucapan Vendy.


“Ada apa denganmu? Kenapa bisa rajin begini? Om kira semester depan baru skripsi.”


“Memang, tapi aku kan, harus mempersiapkan sedini mungkin biar cepat selesai. Apalagi besok aku sudah mulai magang. Jadi, bisa sekalian cari-cari masalah yang akan diangkat jadi skripsi.”


“Oh iya, kau magang di mana?”


“Di Hansen Group. Ada Jean dan Joan juga.”


“Ha-Ha-Ha! Enak yah, kalian bertiga tidak usah jauh-jauh cari tempat magang.”


“Iya, dong.”


“Dasar kau ini! Tapi, Om bangga melihat semangatmu itu. Berarti tidak lama lagi, kita bisa pindah ke Singapura.”


Kini giliran Vendy yang tersedak mendengar ucapan Paman Sam.


“Apa maksud Om?”


“Ayah dan Ibumu sudah memutuskan, setelah kau wisuda kita berdua akan ikut pindah ke Singapura. Sebenarnya sudah lama mereka menginginkan kau pindah, tapi Om yang meminta agar menunggu sampai kau menyelesaikan kuliahmu dan sekalian menemani Om di sini.”


“Benarkah?” Vendy tampak ragu.

__ADS_1


“Iya, kenapa kau ragu? Apa ada masalah?” Paman Sam heran melihat perubahan ekspresi Vendy.


“Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan dengan Om. Sesuatu yang penting.”


“Apa?”


“Nanti kita bicarakan. Lebih baik Om selesaikan dulu makannya.”


Selesai sarapan, Vendy dan Paman Sam melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Paman Sam. Ia sudah sangat penasaran.


“Aku ... ingin menikah,” ucap Vendy.


“Apa?! Om tidak salah dengar, kan?” teriak Paman Sam.


“Sama sekali tidak. Ada seorang gadis yang kutemui saat menggantikan Om mengajar. Namanya, Chenoa. Dia salah satu siswi SMA di sana dan aku sangat mencintainya,” ungkap Vendy. Ia menutup matanya, takut jika Paman Sam akan marah dan memukulnya.


“Ha-Ha-Ha! Om sangat bahagia mendengarnya. Awalnya Om curiga kau itu ‘penyuka jeruk' tapi ternyata kau pria normal,” kata Paman Sam.


“Om tega sekali menuduhku seperti itu.” Vendy merajuk.


“Om cuma bercanda. Buktinya, sekarang kau sudah punya pacar. Chenoa kelas XII A kan?” Paman Sam memastikan.


“Iya.”


“Baiklah! Nanti malam bawa dia ke rumah. Om ingin bertemu dengannya.”


“Terima kasih! Om memang yang terbaik,” ucap Vendy sambil memeluk Paman Sam.


Malam harinya...


“Kenapa harus malam ini?” pikirnya.


Ia mengusap dadanya. “Apa seperti ini rasanya jika ingin bertemu calon mertua?” ucapnya.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson mobil dari luar. Chenoa menyemangati dirinya sendiri kemudian berjalan keluar menemui Vendy.


Vendy tertegun melihat kehadiran Chenoa di hadapannya. Make up natural serta dress merah selutut yang dikenakan gadis itu ternyata mampu menghipnotis kedua mata Vendy. “Cantik,” batinnya.


Vendy tersenyum, sebelum berangkat tentunya ia ingin menggoda Chenoa terlebih dahulu.


“Maaf, Nona cantik. Bisa panggilkan Gadis Musang yang ada di dalam rumah ini?” tanya Vendy berpura-pura.


“Siapa yang kau maksud Gadis Musang?” tanya Chenoa jengkel.


“Oh ... ternyata kau Gadis Musang itu? Kenapa bisa cantik begini? Aku bahkan tidak bisa mengenalimu,” kata Vendy sambil merangkul Chenoa.


Chenoa melepaskan rangkulan Vendy, “Jangan menyentuhku!”


“Wah, ternyata Gadis Musang cantik ini sedang marah,” Vendy makin menggoda Chenoa.


“Berhenti memanggilku Gadis Musang! Aku sudah berdandan seperti ini dan kau masih mengata-ngataiku?” Chenoa makin jengkel.


“Ha-Ha-Ha! Iya deh, maaf. Kau itu selalu saja menggemaskan!” katanya seraya mencubit pipi Chenoa.


Chenoa mengelus pipinya yang sakit karena dicubit Vendy. Ia heran, kenapa Vendy selalu saja mencubit pipinya, padahal dirinya bukan lagi anak-anak. Ia memeriksa pipinya di spion mobil dan ternyata benar, pipinya memerah karena cubitan Vendy.

__ADS_1


“Lihat! Kau telah merusak make up ku! Padahal Revina sudah berjuang mendandaniku seperti ini,” celoteh Chenoa.


“Oh ... ternyata Revina dalang dari semua ini?” sambil menunjuk dandanan Chenoa dari atas sampai ke bawah.


“Iya, kenapa?”


“Aku akan memarahinya. Sepertinya dia sengaja ingin membuatku menderita. Dengan penampilanmu seperti ini, pasti banyak pria yang tertarik padamu.” Kini giliran Vendy yang berceloteh.


Chenoa menepuk dahinya, “Sudahlah! Ayo berangkat!” perintah Chenoa.


“Baiklah,” ucap Vendy. Ia membuka pintu mobil lalu mempersilakan Chenoa masuk layaknya seorang putri raja.


Chenoa tersenyum melihat tingkah Vendy dan segera masuk ke dalam mobil.


Melihat Chenoa sudah duduk, Vendy pun ikut masuk ke mobil dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Paman Sam.


####


Chenoa dan Vendy sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi Paman Sam yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.


“Apa yang sedang dia lakukan?” bisik Chenoa.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Vendy ikut berbisik.


“Mungkin dia tidak suka padaku,” balas Chenoa.


“Tidak mungkin. Tadi pagi dia sangat bersemangat menyuruhku membawamu ke rumah,” kata Vendy.


Ha-Ha-Ha!


Suara tertawa Paman Sam mengagetkan Chenoa dan Vendy.


“Akhirnya, selesai juga. Wah, ternyata anak kalian sangat tampan,” tukas Paman Sam.


Chenoa dan Vendy saling menatap kebingungan. Menikah saja belum, bagaimana bisa punya anak? Itulah yang dipikirkan keduanya.


“Lihat!” Paman Sam menunjukkan ponselnya. Akhirnya Chenoa dan Vendy tahu apa maksud Paman Sam. Ternyata, dari tadi Paman Sam sedang menyatukan foto Chenoa dan Vendy untuk memprediksi wajah anak mereka.


Vendy dan Chenoa tertawa bersama. Mereka tidak menyangka jika Paman Sam begitu kekanak-kanakan. Vendy bahkan sampai meneteskan air mata saking lucunya.


“Baiklah! Aku merestui kalian. Om akan membicarakan rencana pernikahan kalian kepada orang tua Vendy,” ucap Paman Sam.


“Oh ya, Chen. Kalau tidak salah kedua orang tuamu sudah tiada, kan?” tanya Paman Sam. Ia sedikit memelankan suaranya, takut jika Chenoa akan tersinggung dengan pertanyaannya.


“Bagaimana Om tahu? Apa Om menyelidiki Chenoa?” Vendy mulai curiga.


“Ah, tidak. Kebetulan saja Om tahu. Sudahlah. Jangan dibahas lagi,” elak Paman Sam.


“Tidak, Om! Chenoa masih punya Ibu. Namanya Bu Siska. Dia adalah Ibuku,” jawab Chenoa.


“Benarkah?” Paman Sam terkejut, “Kalau begitu, Om ingin bertemu Ibumu,” sambungnya.


“Baik. Nanti akan Chenoa sampaikan.”


Paman Sam menatap Chenoa. Entah mengapa ia sangat bahagia menatap wajah gadis itu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


__ADS_2