Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 27


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Chenoa sedang menatap foto dan juga kalung pemberian Ibunya yang ia ambil beberapa hari yang lalu di rumahnya. Ia mengalungkan kalung itu di lehernya, sementara foto ibunya ia masukkan ke dalam koper.


Tok.Tok.Tok


Suara ketukan pintu mengagetkan Chenoa.


“Chen, apa kau tidur?” tanya Tante Diandra di balik pintu.


“Tidak, Tante. Masuk saja!” jawab Chenoa.


Tante Diandra masuk ke kamar sambil tersenyum kepada Chenoa.


“Kau tidak perlu membawa banyak barang. Saat kita sampai di sana, Tante akan mengajakmu berbelanja,” ucap Tante Diandra.


“Tidak banyak kok Tante. Hanya ada beberapa lembar baju dan berkas saja,” balas Chenoa.


Tante Diandra menatap sedih pada Chenoa. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada kalung Chenoa.


“Kalung itu–” sambil menunjuk kalung Chenoa, “Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Tante Diandra.


Chenoa menyentuh kalungnya, “Ini hadiah dari Ibuku sebelum dia meninggal.”


“Kau bilang dari Ibumu?!” Tante Diandra terkejut.


“Iya, dari Ibuku.”


“Siapa nama Ibumu?”


“Rianni.”


"Ri–anni," kata Tante Diandra mengulang ucapan Chenoa.


Chenoa mengambil foto Ibunya dari dalam koper dan menunjukkannya kepada Tante Diandra.


“Ini foto Ibuku, Tante. Cantik, kan?” ucap Chenoa sambil menyodorkan foto di tangannya kepada Tante Diandra.


Dengan ragu-ragu, Tante Diandra melihat foto itu.


“Kakak!” teriak Tante Diandra.


“Jadi kau ...” seraya memandang Chenoa.


Tante Diandra menangis, ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Tante Diandra segera memeluk Chenoa.


“Maafkan Tante, Chen! Maafkan Tante!”


Mata Chenoa berkedip cepat, ia masih mencerna ucapan Tante Diandra. Kakak? Tante? Chenoa masih belum paham maksud Tante Diandra.


Tante Diandra melepas pelukannya lalu menghapus air mata yang telah membasahi pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


“Aku ini Tantemu, adik dari Ibumu,” ungkap Tante Diandra.


“Apa?!” mulut Chenoa membulat saking terkejutnya. Namun, dalam sekejap air mata sudah meluncur membasahi pipinya.


“Tante, apa kau benar-benar Tanteku?” tanya Chenoa memastikan.


Tante Diandra mengangguk, air matanya kembali menetes.


“Iya, sayang. Akhirnya Tante bisa menemukanmu. Tapi, Ibumu ... kenapa dia ... dia ....”


Tante Diandra menangis sekencang-kencangnya. Ia tidak mampu menerima kenyataan jika Kakaknya sudah meninggal. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi Kakaknya.


“Kenapa Tante tidak mencari kami? Tante bahkan bisa mendatangkan orang-orang berpangkat, tapi kenapa tidak mampu mencari kami? Kenapa?” tuntut Chenoa dengan derai air mata.

__ADS_1


“Tante mau, Chenoa! Tapi, Ibumu yang melarang Tante mencarinya, ditambah lagi pada waktu itu Tante tidak punya kuasa sama sekali,” jelas Tante Diandra.


“Tante ....”


“Chenoa ....”


Keduanya saling berpelukan, saling melepas rindu satu sama lain. Isak tangis keduanya bergema di kamar Chenoa.


“Jadi, yang selama ini mengirim uang di rekening Ibu, itu Tante?” tanya Chenoa saat kondisinya mulai tenang.


“Iya, maafkan Tante hanya bisa melakukan itu untuk kau dan Ibumu,” sesal Tante Diandra.


“Seandainya Tante tahu Ibumu meninggal, mungkin kau tidak akan hidup sendiri di luar sana. Tante bodoh macam apa aku ini?" Tante Diandra merutuki dirinya sendiri.


“Lupakan yang sudah berlalu Tante, yang penting sekarang kita bisa bertemu walaupun tanpa Ibu.”


Tante Diandra mengelus lembut kepala Chenoa. Meskipun senang bisa bertemu dengan keponakannya, tapi ia juga merasa sedih menerima kenyataan bahwa Kakaknya sudah meninggal.


*Kilas balik*


“Halo, Diandra.”


“Kakak? Kakak ada di mana sekarang? Kakak Ipar baru saja menghubungiku. Kenapa Kakak pergi?"


“Ceritanya panjang. Jangan beritahu siapa pun kalau Kakak meneleponmu dan jangan pernah mencari Kakak. Nanti biar Kakak yang menemuimu. Oh iya, bagaimana kuliahmu?”


“Baik. Aku juga sudah punya kerja paruh waktu sekarang jadi, Kakak tidak perlu mengirimiku uang lagi. Sebaliknya, aku yang akan mengirimi Kakak uang. Aku mau membantu Kakak.”


“Lama tidak bertemu ternyata kau sudah dewasa sekarang. Maafkan Kakak karena tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Setelah Kakak punya identitas baru, Kakak akan menghubungimu lagi.”


“Kakak ....”


Tut.Tut.Tut


*Kilas balik selesai*


"Tante!” panggil Chenoa.


Tante Diandra tersentak mendengar panggilan Chenoa.


“Apa yang sedang Tante pikirkan?”


“Tidak ada, sayang. Lebih baik kau istirahat dulu, pasti kau lelah setelah menangis.”


“Iya. Tante juga istirahat, yah. Oh iya, kapan kita berangkat?”


“Hemhh ... masalah itu, sepertinya harus di undur. Tante punya beberapa hal yang harus dibereskan.”


Tok.Tok.Tok


“Masuk!” seru Tante Diandra.


“Nyonya, ada Tuan Vendy di luar.”


“Vendy? Pria kurang ajar itu! Baiklah, kau bisa keluar.”


“Baik, Nyonya.”


Tante Diandra menatap Chenoa yang sedang terkejut mendengar nama Vendy.


“Tante akan mencincang-cincang dia untukmu. Beraninya dia menyakiti keponakanku. Belum tahu dia siapa Tantenya,” ucap Tante Diandra penuh emosi.


“Tante ....” Chenoa memegang tangan Tante Diandra.


“Kenapa? Kau tidak tega? Terlihat jelas kau masih sangat mencintainya. Tunggu di sini!”

__ADS_1


Tante Diandra meninggalkan Chenoa dengan penuh aura membunuh di wajahnya.


Tante Diandra menghampiri Vendy yang sedang duduk di ruang tamu.


“Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat khawatir?” tanya Tante Diandra berusaha menahan amarahnya.


“Tante, apa Chenoa ada di sini? Atau mungkin dia menghubungi Tante?”


“Kenapa kau mencarinya? Ada apa dengan Chenoa?”


“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia menghilang dan tidak bisa dihubungi. Memang aku salah karena tidak menepati janjiku untuk menemuinya, tapi, aku punya alasan untuk itu. Tante ... tolong bantu aku mencarinya. Aku benar-benar frustasi karena tidak bisa menemukannya,” ucap Vendy lirih.


“Mungkin kau membuat kesalahan yang telah membuat hatinya terluka.”


“Apa maksud Tante?” Vendy bingung mendengar pernyataan Tante Diandra.


“Misalnya, kau telah menikah dengan gadis lain mungkin.”


“Hah? Menikah? Dari dulu dan sampai kapan pun hanya satu gadis yang ingin kunikahi, yaitu Chenoa. Tidak mungkin aku menikah dengan gadis lain,” ungkap Vendy.


“Jadi maksudmu, kau belum menikah?”


“Belum. Kenapa Tante menanyakannya? Atau jangan-jangan ....”


“Ayo, kita bicarakan ini di tempat lain!” ajak Tante Diandra.


Vendy menatap sekeliling rumah Tante Diandra. Ia mulai curiga Chenoa ada di rumah Tante Diandra. Sikap Tante Diandra pun sangat aneh menurutnya.


“Ayo ikut Tante! Atau kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan Chenoa!” ancam Tante Diandra.


Vendy tersenyum, sepertinya tebakannya benar.


####


Chenoa sedang gelisah di kamarnya, ia menempelkan telinganya di pintu, berusaha mendengar percakapan Tante Diandra dan Vendy. Namun, ia segera menghentikan tingkah bodohnya itu. Tentu saja ia tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak dari kamarnya dan ruang tamu cukup jauh.


Chenoa menatap jam kecil yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya, “Sudah 1 jam berlalu tapi, Tante belum juga kembali. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa lama sekali?” ucapnya.


Chenoa mengendap-endap keluar dari kamarnya, namun dengan cepat ia kembali masuk karena menyadari ada seseorang yang berjalan ke arahnya.


Tok.Tok.Tok


“Non, ada Pak Sopir yang sedang menunggu Nona Chenoa di luar.”


Chenoa membuka pintunya.


“Sopir? Untuk apa, Bi?”


“Katanya mau mengantar Nona Chenoa ke tempat Tante Diandra berada.”


“Baiklah, aku siap-siap dulu.”


Chenoa segera mengganti bajunya dan berjalan menemui Pak Sopir yang sudah menunggu di dalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Chenoa pun sampai di tempat tujuan.


Chenoa tercengang, “Ini kan, rumahku. Apa tidak salah tempat, Pak?” tanyanya pada Pak Sopir.


“Tidak, Non. Nyonya Diandra memang menyuruhku mengantar Nona ke sini,” jawab Pak Sopir.


“Baiklah.”


Chenoa membuka pintu mobil dan berjalan menuju rumahnya. Entah mengapa ia merasa sedikit was-was.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


__ADS_2