
Hari yang dinanti-nantikan oleh Vendy akhirnya telah tiba. Dengan menggunakan atribut wisuda, ia telah siap untuk mengikuti acara wisuda yang dilaksanakan di auditorium kampusnya.
Ayah dan Ibu Vendy serta Paman Sam tentunya tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti acara pengukuhan tersebut. Oleh karena itu, sehari sebelumnya mereka sudah tiba dari Singapura.
Setelah berjam-jam mengikuti acara wisuda, akhirnya tibalah saatnya untuk sesi foto bersama anggota keluarga. Dengan senyum semringah Vendy dan keluarganya berdiri berjejer mengikuti arahan sang fotografer yang akan memotret mereka.
Sementara itu...
Chenoa melangkahkan kakinya memasuki Universitas Hansen. Ia tercengang menatap betapa luasnya kampus tersebut. Siapa sih yang tidak tahu Universitas Hansen? Universitas swasta yang cukup terkenal dan setiap tahun menjadi incaran beribu-ribu orang untuk mendaftar di kampus tersebut.
Setelah puas menikmati kemegahan Universitas Hansen, Chenoa pun beralih mencari Vendy. Namun, tentu saja hal itu tidak akan mudah. Akhirnya, Chenoa memutuskan untuk menelepon Vendy.
“Halo, Chen. Kau ada di mana? Dari tadi aku sudah menunggumu,” kata Vendy dari balik telepon.
“Aku ada di depan pintu masuk. Kau ada di mana?”
“Jangan kemana-mana. Aku akan menemuimu.”
“Oke.”
Chenoa mengakhiri panggilannya dan tetap berdiri menunggu Vendy.
Tidak lama kemudian Vendy menghampiri Chenoa dengan senyum terpancar di wajahnya. Ia meraih tangan Chenoa lalu membawanya menuju spot foto yang sudah disediakan oleh pihak kampus.
“Nah, itu pacarnya Vendy. Namanya Chenoa. Gadis yang pernah kuceritakan pada kalian,” ucap Paman Sam pada kedua orang tua Vendy.
“Dia sangat cantik, tapi sayangnya dia bukan gadis yang cocok untuk Vendy,” ucap Ibu Vendy.
“Lalu, apa kau sudah mengurus wanita iblis itu?” tanya Ayah Vendy.
“Tenang. Dia tidak akan bisa hadir. Aku sudah mengirim pengacau ke tokonya,” jawab Paman Sam.
Vendy menghampiri keluarganya, ia segera memperkenalkan Chenoa.
“Ibu, Ayah! Perkenalkan, dia adalah Chenoa. Gadis yang akan menjadi istriku,” ucap Vendy.
“Senang bertemu denganmu. Panggil saja Om atau Paman Sammy,” ucap Ayah Vendy.
“Panggil saja Tante Bella,” sambung Ibu Vendy.
“Senang bertemu dengan Om dan Tante,” balas Chenoa lalu mencium tangan kedua orang tua Vendy.
“Kalian bisa berfoto dulu, kami akan menunggu kalian di mobil,” ucap Ayah Vendy.
Mereka pun meninggalkan Vendy dan Chenoa untuk berfoto bersama.
####
Vendy, Chenoa beserta keluarga Vendy sedang duduk bersama di meja makan. Ayah dan Ibu Vendy sepakat untuk merayakan wisuda Vendy dengan cara sederhana yakni berkumpul dan makan bersama di rumah Paman Sam.
__ADS_1
“Bagaimana makanannya Chen, kau suka?” tanya Ibu Vendy.
“Sangat enak, Tante. Chenoa suka.”
“Baguslah. Ayo makan yang banyak.”
“Iya, Tante.”
Chenoa sangat senang berkumpul dengan keluarga Vendy. Akhirnya, ia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga.
Selesai makan bersama, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Ayah dan Paman Sam saling melirik. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan.
“Vendy, Ayah sudah mendengar cerita dari Pamanmu. Apa kau benar-benar serius?” tanya Ayahnya membuka pembicaraan.
“Iya. Aku sudah yakin dengan keputusanku,” jawab Vendy mantap.
“Baiklah. Ayah sangat menghargai keputusanmu. Tapi sebelum itu, Ayah ingin kau ikut kami ke Singapura.”
Vendy merasa terpukul mendengar ucapan Ayahnya.
“Kenapa? Aku tidak bisa meninggalkan Chenoa sendiri. Tidak bisakah aku ke Singapura setelah Chenoa lulus? Aku ingin membawanya bersamaku,” ucapnya.
“Belakangan ini kesehatan Ibumu menurun, Ayah tidak bisa fokus bekerja. Kalau kau ke Singapura kau bisa membantu Ayah,” ungkap Ayah Vendy.
“Apa?!” Vendy terkejut, “Kenapa Ayah baru bilang?!” Vendy menghampiri Ibunya. Ia duduk di hadapan Ibunya yang sedang duduk di sofa. Ia menggenggam tangan Ibunya dan menatap sedih kepada Chenoa. Hatinya sedang bimbang.
Chenoa membalas tatapan Vendy. Ia sadar jika saat ini Vendy sedang sedih. Chenoa menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Maaf jika aku lancang berbicara. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku setuju jika Vendy ke Singapura,” ucapnya.
“Baiklah! Aku akan ke Singapura. Tapi, pada saat Chenoa lulus, izinkan aku kembali untuk menjemputnya,” ucap Vendy.
Ayah Vendy menatap Paman Sam. Dan Paman Sam pun mengangguk tanda setuju.
“Baiklah! Ayah setuju. Persiapkan dirimu karena malam ini kita akan berangkat,” kata Ayah Vendy menutup pembicaraan.
Chenoa menatap sedih pada Vendy. Itu tandanya hari ini adalah hari terakhir ia bisa melihat Vendy. Apakah kelak ia mampu menahan rindunya? Chenoa tidak tahu, yang jelas ia akan berusaha untuk menjalaninya.
Vendy menarik tangan Chenoa menuju halaman belakang. Ia memeluk gadis itu dengan erat.
“Tunggu aku, Chen! Aku pasti datang menjemputmu,” ucapnya lirih. Hatinya begitu berat meninggalkan Chenoa.
Chenoa juga mempererat pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu. Walaupun hanya sementara, tapi ia sangat berat berpisah dengan Vendy.
“Aku akan sangat merindukanmu. Cepat kembali!” ucap Chenoa.
Vendy sangat terharu mendengar ucapan Chenoa, ia melepas pelukannya, “Baru kali ini aku mendengar kata rindu keluar dari mulutmu,” ledeknya.
“Bisa-bisanya kau bercanda di saat seperti ini.” Chenoa memarahi Vendy.
“Bisakah aku meminta sesuatu padamu?”
__ADS_1
“Apa?”
“Sebuah ciuman perpisahan.”
Chenoa terkejut mendengar permintaan Vendy. Ia tidak menyangka jika Vendy akan mengatakan hal itu. Chenoa tampak ragu, namun setelah menatap mata Vendy, ia memberanikan dirinya.
Cup!
Chenoa mencium bibir Vendy dan tentu saja Vendy segera membalas ciuman Chenoa dengan lembut. Chenoa ingin melepaskan ciumannya tapi Vendy jelas belum puas. Ia makin memperdalam ciumannya.
Hah! Hah! Hah!
Napas Chenoa tersengal-sengal saat Vendy melepaskan ciumannya.
“Kau berjanji tidak akan menciumku sebelum menikah, tapi apa ini?” Chenoa memarahi Vendy.
“Bukan aku yang memulai menciummu. Tapi kau yang memulai menciumku. Jadi, ini ciumanmu,” ucap Vendy seraya tersenyum.
“Kau ....” Chenoa menunjuk Vendy, ia telah kehabisan kata-kata.
“Setelah kita menikah nanti, aku akan mengajarimu cara berciuman yang sebenarnya,” goda Vendy.
“Aku tidak mau mempelajarinya!” tolak Chenoa.
“Harus!”
“Tidak mau!”
“Pokoknya harus!”
“Pokoknya tidak mau!”
Keduanya pun saling menertawakan diri mereka masing-masing.
“Sepertinya Vendy sangat mencintai gadis itu,” kata Ayah Vendy dari balik jendela.
“Bagaimanapun caranya kita harus memisahkan mereka,” balas Paman Sam.
“Kita harus segera memikirkannya. Mengajak Vendy ke Singapura merupakan awal yang bagus.”
“Untung saja istrimu mau bekerja sama. Jika tidak, rencana kita pasti gagal.”
“Seandainya Chenoa bukan anak dari wanita iblis itu, pasti aku merestui mereka,” ucap Ayah Vendy.
“Sudahlah! Ayo kita masuk! Jangan sampai mereka tahu kita mengintipnya,” ajak Paman Sam.
Ayah Vendy dan Paman Sam berbalik dan melangkahkan kakinya kembali ke ruang tamu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.
Terima kasih