Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 35


__ADS_3

Memasuki awal perkuliahan dan berstatus sebagai mahasiswi baru seharusnya tidak ada beban bagi Chenoa. Namun pada kenyataannya permintaan Revina sebelumnya menjadi beban berat yang harus dipikul oleh Chenoa.


Chenoa tahu betul siapa Joan. Pria yang belum pernah pacaran sebelumnya. Semua gadis yang menyukainya akan berakhir menjadi teman bukan sebagai pacar.


“Haaaaaa! Revina, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” pikir Chenoa.


“Hai, Chen! Akhirnya kita bertemu lagi,” sapa Rafa dan tanpa segan merangkul Chenoa.


“Turunkan tanganmu!” perintah Chenoa.


“Oke. Maaf! Aku lupa kau sudah punya suami,” ucap Rafa menyesal.


Chenoa tetap berjalan, ia singgah di taman untuk menyegarkan pikirannya.


“Aku dengar kau keponakannya Diandra, istri Aldy Hansen. Apa benar?”


“Hemh ...” jawab Chenoa seadanya.


Chenoa tidak terlalu peduli dengan kehadiran Rafa di sampingnya. Pikirannya masih kacau karena Revina.


“Hai, Chen ... Rafa!” teriak Revina saat melihat Rafa duduk di samping Chenoa.


“Hai, Revina. Lama tidak berjumpa,” sapa Rafa. Tidak lupa ia melambaikan tangannya kepada Revina.


Revina menghampiri Rafa dan langsung menarik pria itu menjauhi Chenoa. Sedangkan Chenoa tetap duduk dan tidak terlalu memedulikan tindakan Revina.


“Tolong jauhi Chenoa, dia sudah punya suami,” ucap Revina kepada Rafa.


“Aku tahu,” balas Rafa.


“Kau sudah tahu? Kalau begitu menjauh darinya.”


“Apa salahnya aku dekat dengannya?! Kita bertiga kan teman.”


“Hah? Teman? Aku tahu, dulu kau mengabaikan perasaanku karena kau menyukai Chenoa.”


“Itu masa lalu. Sekarang dia sudah punya suami, untuk apa aku menyukainya lagi.”


Rafa meninggalkan Revina dan kembali duduk di samping Chenoa.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Chenoa penasaran.


“Tentang masa lalu. Tapi itu tidak terlalu penting,” jawab Rafa.


“Oh ... kalau begitu aku duluan yah, aku mau ke kelas, bye!” ucap Chenoa.


Revina dan Rafa saling memandang dengan canggung.


“Kalau begitu aku pergi juga, bye!” ucap Revina lalu ia juga meninggalkan Rafa.


####


Perkuliahan telah selesai dan Chenoa memutuskan untuk menemui Vendy di restoran.


Drrrttt


Chenoa menatap ponselnya, ternyata ada pesan dari Joan.


Apa kau sudah selesai? Aku akan menjemputmu. Tante Diandra ingin bertemu denganmu.


Chenoa tersenyum, “ Sepertinya ini kesempatan bagus untuk mempertemukan Revina dan Joan,” ucap Chenoa.


Sudah, apa Jean ikut denganmu? Aku akan menunggumu di taman.


Drrrttt


Tidak. Hanya aku yang akan menjumputmu.


Chenoa tersenyum semringah. Ia segera menghubungi Revina.


“Halo. Chen! Ada apa?” jawab Revina.


“Apa kau sudah selesai?”


“Belum. Masih ada satu mata kuliah."


“Sayang sekali, padahal Joan mau ke sini. Ya sudah, lain kali saja yah, ketemunya.”

__ADS_1


“Eh, tunggu. Joan mau ke sini? Aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini.”


“Tapi kuliahmu?”


“Tenang saja. Aku mau pura-pura sakit.”


“Jangan bertindak bodoh.”


“Demi cinta, aku rela melakukannya. Lagi pula bertemu dengan Joan sangat susah.”


“Baiklah. Pergilah ke taman.”


Chenoa menggeleng. Ia tidak menyangka Revina benar-benar menyukai Joan.


####


Revina duduk di taman sembari menunggu kedatangan Joan.


“Revina?!”


“Jean?!”


Jean kaget melihat kehadiran Revina di taman. Begitu juga dengan Revina ia terkejut melihat kedatangan Jean, seharusnya yang menjemput Chenoa bukan dia tetapi Joan.


“Kenapa kau ada di sini?” tanya Joan.


“Aku kuliah di sini tentu saja aku berada di sini," jawab Revina ketus.


“Mana Chenoa?”


“Dia ada urusan sebentar.”


“Kalau begitu aku akan mencarinya.”


“Tunggu!” Revina menahan tangan Jean.


“Aku ingin bicara denganmu!” sambungnya.


“Lepaskan tanganku. Tidak ada yang perlu kita bicarakan!”


Jean menarik tangannya dengan keras hingga membuat Revina tersungkur ke tanah.


Jean menatap Revina yang sedang kesakitan.


“Ada apa denganmu?” tanya Jean khawatir.


“Tanganku sakit,” ucap Revina lirih.


“Ayo bangun!” Jean segera mengulurkan tangannya untuk membantu Revina.


Melihat itu, Revina langsung menepis tangan Jean.


“Aku bisa berdiri sendiri!” Revina berdiri dan berjalan meninggalkan Jean.


Merasa bersalah atas perlakuan kasarnya terhadap Revina, Jean segera menyusul Revina. Ia merangkul Revina dan membawanya menuju ke mobil.


“Aku akan membawamu ke rumah sakit!”


“Tidak usah! Aku bisa pergi sendiri!” tolak Revina.


“Tidak! Aku yang telah membuat tanganmu terluka, jadi aku yang bertanggung jawab membawamu ke rumah sakit.”


Revina menatap Jean, walaupun Jean yang menyebabkan tangannya terluka tapi Revina sedikit tersentuh dengan perhatian Jean.


####


Joan berdiri di samping Revina yang sedang duduk di ranjang rumah sakit. Tangan Revina kini sudah di balut dengan perban.


“Maafkan aku!” ucap Jean menyesal.


Revina diam saja. Ia tidak menanggapi permintaan maaf Jean.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau marah?”


“Bagaimana aku menulis dan mengerjakan tugas kuliah jika tanganku terluka seperti ini?” keluh Revina.


Jean menatap tangan Revina. Ia sangat menyesali perbuatannya.

__ADS_1


“Selama kau sakit, aku yang akan membantumu!” ucap Jean.


“Tentu saja kau harus membantuku. Tanganku terluka kan gara-gara kau,” tukas Revina seraya tersenyum.


“Apa sekarang kau sedang menertawakanku?”


“Iya,” jawab Revina.


Chenoa tiba di rumah sakit, ia tergesa-gesa masuk ke ruangan Revina.


“Revina! Ada apa dengan tanganmu?” teriak Chenoa segera menghampiri Revina.


“Tidak apa-apa kok, Chen,” jawab Revina.


Chenoa menunjuk Jean, “Pasti gara-gara kau, iya kan?”


Jean mengangguk.


“Maafkan aku! Semua ini salahku! Seandainya kau tidak bertemu dengan Jean pasti ini tidak akan terjadi,” ucap Chenoa sedih.


“Bukan. Ini bukan salahmu, Chen! Aku yang salah karena tidak hati-hati,” balas Revina.


“Kalian berdua kenapa sih? Jelas-jelas ini salahku karena membuat Revina terjatuh. Kenapa kalian yang saling minta maaf?” protes Jean.


Chenoa dan Revina saling memandang. Keduanya pun menertawakan Jean.


“Oh iya, ada apa dengan Joan? Katanya dia yang mau menjemputku,” tanya Chenoa.


“Dia ada urusan mendadak makanya dia menyuruhku menggantikannya,” jawab Jean.


“Kalau begitu aku akan menemui Tante Diandra. Kau tetap di sini menjaga Revina!” perintah Chenoa.


“Tidak usah, Chen. Aku juga sudah mau pulang kok!” tolak Revina.


“Tidak bisa. Dia harus bertanggung jawab penuh atas dirimu! Kalau begitu aku pulang duluan yah, nanti aku akan mengunjungimu lagi.” Chenoa segera berjalan meninggalkan Jean dan juga Revina.


“Kalau begitu, aku antar pulang, yah?” ucap Jean.


“Hemh ...” jawab Revina setuju.


####


Chenoa berjalan memasuki rumah tante Diandra. Ia sangat merindukan tantenya.


“Tante!” panggil Chenoa.


“Chen! Kau sudah datang,” sapa tante Diandra.


Chenoa mendudukkan dirinya di samping tante Diandra.


“Tante tampak gembira. Ada apa?” tanya Chenoa.


“Coba tebak,” jawab tante Diandra.


“Hemh ... Tante mau liburan.”


“Salah.”


“Tante dapat hadiah dari Om Aldy.”


“Salah.”


“Lalu apa? Aku menyerah.”


“Tante ... sedang hamil.”


“Benarkah? Wah ... Ini berita yang sangat menggembirakan. Selamat Tante!” Chenoa memeluk tante Diandra.


Berita kehamilan tante Diandra begitu menggembirakan hingga membuat Chenoa menangis.


Melihat Chenoa menangis, tante Diandra pun turut meneteskan air matanya.


Memang sudah lama tante Diandra menginginkan seorang anak. Dulu tante Diandra pernah mengandung, tapi karena kurang hati-hati ia pun keguguran.


Setelah menanti cukup lama akhirnya penantian tante Diandra membuahkan hasil. Kali ini ia bertekad akan menjaga kandungannya agar tidak keguguran lagi.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa komentar, like, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


__ADS_2