Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 30


__ADS_3

Vendy membuka pintu rumahnya, dan dengan penuh keyakinan, ia membawa Chenoa untuk bertemu dengan keluarganya.


Seperti perkiraan Vendy, Ayah, Ibu serta Pamannya memang tengah menunggu kedatangannya di ruang tamu.


Vendy bahkan bisa merasakan aura ketegangan menyeruak dari ketiga orang tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka begitu tidak senang dengan kehadiran Chenoa? Itulah yang ada di pikiran Vendy saat ini.


“Ayah tidak menyangka kau benar-benar membawa Chenoa bersamamu,” ucap Ayah Vendy sinis.


“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan menjemput Chenoa saat ia lulus nanti. Aku hanya menepati janjiku kepada Chenoa, apa itu salah?”


“Salah, Vendy! Gadis ini tidak pantas untukmu!” teriak Ayah Vendy seraya menunjuk Chenoa.


Semua orang terkejut mendengar teriakan Ayah Vendy termasuk Chenoa. Ia hanya bisa menggenggam erat tangan Vendy.


“Apa sebenarnya maksud Ayah? Kenapa Chenoa tidak pantas untukku? Itukah sebabnya kalian menjauhkan aku dengan Chenoa dan bahkan berbohong kepadanya jika aku sudah menikah?” tanya Vendy menuntut penjelasan.


“Iya, kau benar. Kami memang ingin menjauhkanmu dari gadis ini. Kau puas?!” ucap Ayah Vendy.


Vendy terdiam, hatinya benar-benar hancur mendengar perkataan Ayahnya. Ia menatap sedih kepada Chenoa dan makin mempererat genggaman tangannya.


Chenoa membalas genggaman tangan Vendy. Dengan sekuat tenaga, ia menahan agar air matanya tak menetes sedikit pun.


“Tolong jelaskan kepadaku, apa yang tidak kalian sukai dari Chenoa?” tanya Vendy lagi.


“Latar belakangnya atau lebih tepatnya, kami tidak menyukai Ibunya. Dia itu wanita gila yang tak berperasaan,” sela Paman Sam.


“Ibuku bukan wanita seperti itu, Om. Aku mohon, jangan pernah menghina Ibuku,” ucap Chenoa tiba-tiba.


Walaupun Chenoa sudah berusaha agar air matanya tak menetes, tapi saat mendengar Ibunya dihina, air mata itu seakan menerobos dengan sendirinya.


“Om mengerti kau sangat sedih, Chen. Tapi memang begitu kenyataannya. Ibumu itu bukan wanita baik. Dia telah menghancurkan keluarga kami. Aku bahkan harus terpisah dengan istri dan anakku karena dia,” ungkap Paman Sam sedih.


“Apa maksudmu Kakak Ipar?!” teriak seseorang dari arah luar.


“Tante Diandra!” teriak Chenoa dan Vendy saat melihat Tante Diandra berjalan masuk menuju ruang tamu.


“Maaf karena aku menerobos masuk, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu tadi, Kakak Ipar,” ucap Tante Diandra.


“Lama tidak berjumpa, Diandra. Aku senang bisa bertemu kembali denganmu,” sapa Paman Sam.


“Aku sangat baik Kakak Ipar. Chen, kenapa kau menangis sayang?” tanya Tante Diandra. Ia heran melihat Chenoa menangis.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Chenoa bisa menangis seperti ini? Apa yang telah kau lakukan kepada anakmu Kakak Ipar?!” tuntut Tante Diandra.


Semua orang yang berada di ruang tamu sangat terkejut mendengar ucapan Tante Diandra.


“A–nak? Apa maksudmu Diandra? Dia itu anaknya Siska, wanita iblis yang telah menghancurkan keluargaku!” teriak Paman Sam.


“Bu Siska bukan Ibu kandung Chenoa, Om. Dia adalah temannya Ibu Chenoa. Saat bertemu dengannya, Chenoa sudah menganggap Bu Siska sebagai Ibunya sendiri,” ungkap Vendy.


“Tapi kenapa hari itu kau mengatakan jika Bu Siska adalah Ibumu, Chen?” tanya Paman Sam.


“Karena aku telah menganggap Bu Siska sebagai ibuku sendiri, Om. Aku tidak ingin terlihat sebagai anak yatim piatu yang menyedihkan, jadi aku mengatakannya. Aku bahkan sudah berniat menceritakan latar belakangku yang sebenarnya kepada Om saat Bu Siska dan Om berjanji melakukan pertemuan di kafe. Tapi kenyataannya, Om tiba-tiba membatalkan pertemuan itu,” ungkap Chenoa. Ia menghapus air mata yang masih tersisa di pipinya.


“Aku rasa semua sudah jelas. Ini semua hanya kesalahpahaman belaka. Ini semua juga karena kebodohanku, jika sebelumnya aku cepat menyadari bahwa Chenoa adalah anakmu dan Vendy adalah keponakanmu, mungkin masalah ini akan cepat teratasi. Jika hari ini, aku tidak mengikuti Vendy dan juga Chenoa, mungkin aku tidak akan sadar bahwa Vendy itu ternyata adalah anak Kak Sammy dan Kak Bella. Maafkan aku!” ucap Tante Diandra tulus.


Paman Sam memandangi Chenoa, dengan penuh derai air mata dan langkah gontai, ia berusaha menghampiri Chenoa.

__ADS_1


“Chenoa, anakku!” teriaknya. Ia langsung memeluk Chenoa.


Perasaan bahagia bercampur haru membuat Vendy dan Tante Diandra tak sanggup menahan air mata mereka. Bukan hanya itu, kedua orang tua Vendy pun ikut meneteskan air mata melihat pertemuan ayah dan anak itu. Setelah bertahun-tahun terpisah, akhirnya mereka bisa bersua kembali. Ini semua sudah menjadi skenario tuhan, siapa sangka bayi yang sudah dinyatakan meninggal oleh polisi, sekarang tumbuh menjadi gadis cantik dan muncul di tengah-tengah mereka.


Walaupun merasa bahagia bertemu dengan putrinya, namun tetap saja ada rasa kecewa yang menyelimuti Paman Sam. Rasa kecewa yang muncul saat harus menerima kenyataan bahwa Ibu Chenoa sekaligus istrinya telah meninggal.


Sebagai seorang suami sekaligus sebagai seorang ayah, Paman Sam merasa bersalah karena tak mampu untuk melindungi istri dan anaknya.


“Maafkan Ayah, Chen,” ucapnya lirih. Ia semakin mempererat pelukannya.


Uhuk! Uhuk!


“Kau kenapa, Chen?” tanya Paman Sam khawatir. Ia langsung melepaskan pelukannya dan menatap Chenoa.


“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sesak, Om,” jawab Chenoa.


“Jangan panggil Om lagi, panggil aku Ayah atau Papa, terserah kau mau pilih yang mana,” ucap Paman Sam sembari mengelus kepala Chenoa.


“Ehm ... Ayah!” panggil Chenoa dengan sedikit canggung.


“Oh, putriku yang cantik. Ayah sangat bahagia mendengarnya,” ucap Paman Sam, lalu ia mencium kening Chenoa.


“Keponakanku!” teriak Ayah Vendy. Ia langsung menyingkirkan Paman Sam dan memeluk Chenoa.


Tante Bella juga tidak mau kalah, ia menarik suaminya lalu bergantian memeluk Chenoa.


“Keponakanku sayang! Selamat datang kembali!” ucap Tante Bella.


“Kalian jangan keras-keras memeluknya, nanti dia tidak bisa bernapas!” teriak Vendy.


Ha-Ha-Ha!


“Lihat keluargamu itu, saat ini mereka benar-benar mengabaikanku, mereka kan, juga sudah lama tidak bertemu dengan Tante,” keluh Tante Diandra.


Vendy hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan Tante Diandra.


“Kenapa kau tersenyum, hah? Seharusnya kau berterima kasih padaku. Berkat bantuan Tante masalahmu dan Chenoa teratasi.”


“He-He, iya Tante. Vendy sangat berterima kasih kepada Tante,” ucap Vendy seraya menggaruk kepalanya.


Tante Diandra tersenyum dan menepuk pundak Vendy.


“Diandra! Lama tidak berjumpa. Maafkan kami karena tidak sempat datang ke pernikahanmu,” sela Ayah Vendy.


“Tidak apa-apa, Kak. Bagaimana kabar kalian?”


“Kami baik, Diandra,” jawab Ibu Vendy.


“Aku dengar dari Vendy, kau kurang sehat, Kak Bella. Bagaimana kondisimu sekarang?”


“Aku sudah membaik sekarang. Apalagi dengan kehadiran keponakanku Chenoa, membuatku makin membaik.”


“Bagus lah. Aku sangat bahagia mendengarnya.”


“Oh iya, lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan Chenoa dan Vendy? Apa kalian masih tidak merestui?” tanya Tante Diandra dengan nada sedikit mengejek.


“Tentu saja kami sangat merestui. Apalagi mereka adalah sepupu,” sergah Ayah Vendy.

__ADS_1


“Kau dengar itu Vendy? Apa kau bahagia sekarang?” tanya Tante Diandra.


Vendy mengangguk cepat. Ia segera memeluk kedua orang tuanya.


“Terima kasih,” ucap Vendy terharu.


“Tapi, aku masih tidak merestui!” sergah Paman Sam.


“Aku tidak ingin menyerahkan putriku kepadamu,” sambungnya.


“Apa sekarang Om mencampakkanku?” tanya Vendy, ia tak percaya mendengar perkataan Paman Sam.


“Tentu saja. Aku akan mencarikan pria yang lebih baik untuk putriku. Bagaimana menurutmu, Chen?”


“Aku setuju,” jawab Chenoa segera.


“Hemh ... bagaimana kalau salah satu dari pewaris keluarga Hansen? Bagaimana menurutmu Diandra?”


“Aku sih, setuju saja,” jawab Tante Diandra.


Vendy hanya bisa melongo mendengar percakapan mereka. Ia segera meminta bantuan kepada Ayah dan Ibunya.


“Ayah, Ibu!” panggil Vendy.


Mendengar panggilan Vendy, Ayah dan Ibu Vendy segera mengalihkan pandangan mereka.


“Kalian semua tega sekali.” Vendy tertunduk lesu.


Ha-Ha-Ha!


Semua orang langsung tertawa. Mereka sangat senang karena telah berhasil mengerjai Vendy. Paman Sam bahkan tidak menyangka jika Vendy tidak bisa berkutik jika menyangkut Chenoa.


“Om hanya bercanda Vendy. Om sangat bahagia melihat kau begitu mencintai Chenoa,” ungkap Paman Sam.


Wajah lesu Vendy seketika menjadi ceria mendengar ucapan Paman Sam. Ia langsung menarik Chenoa ke sisinya. Ia menyisipkan kelima jemari tangannya ke jemari Chenoa.


“Kau dengar itu, Chen. Jadi, jangan pernah berharap melirik Jean ataupun Joan,” ucap Vendy.


“Siapa juga yang mau dengan Jean dan Joan. Aku sangat mencintaimu, untuk apa melirik yang lain!” ucap Chenoa tegas.


Mendengar pernyataan Chenoa, Vendy langsung memeluk erat tubuh gadis itu.


“Eits ... lepaskan putriku. Jangan sembarangan memeluknya di depanku,” ucap Paman Sam.


“Untuk apa kau melarangnya, Sam? Apa kau tidak ingat? Mereka bahkan sudah pernah berciuman di halaman belakang rumahmu,” sela Ayah Vendy.


“Jadi kalian mengintip kami?” tanya Vendy.


“Ah ... itu. Iya, kami mengintip kalian,” ucap Ayah Vendy jujur.


“Sudahlah. Jangan membahasnya lagi. Mari kita rayakan berkumpulnya keluarga kita dengan makan di restoran. Aku akan menutup restoran, jadi kita bisa makan dengan damai di sana,” ujar Ayah Vendy.


Bersambung...


Jangan lupa like, komentar, rate dan vote untuk mendukung author.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2