
Setelah sarapan bersama Jean dan Joan serta Vendy, Chenoa kembali ke kamar hotel untuk mengambil ponselnya.
“Ah ... HP-ku,” ucap Chenoa saat menemukan ponselnya.
Chenoa mengaktifkan ponselnya dan seketika itu juga pesan dari Bu Siska masuk ke ponsel Chenoa.
“Pesan dari Bu Siska?” batin Chenoa.
Chenoa terkejut membaca pesan itu. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tasnya dan bergegas meninggalkan hotel untuk menemui Bu Siska.
Sepanjang perjalanan, pikiran Chenoa hanya terfokus pada pesan Bu Siska. Ia bahkan tidak menyadari jika dari tadi ponselnya telah berdering.
“Maaf, Non. Ponsel Anda dari tadi berdering terus. Mungkin ada sesuatu yang penting. Kenapa tidak dijawab, Non?” tegur sang sopir taksi.
“Hah? Maaf, Pak,” jawab Chenoa mulai tersadar dari lamunannya.
“Halo. Ven? Ada apa?” tanya Chenoa kepada si penelepon yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Kau ada di mana?”
“Aku sedang di jalan menuju toko Bu Siska.”
“Apa?! Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku akan segera menyusulmu,” ucap Vendy lalu mengakhiri panggilannya.
“Non, sudah sampai,” ujar Pak Sopir.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Chenoa keluar dari mobil dan berjalan ke arah toko Bu Siska.
Tepat di depan pintu toko, Chenoa mengambil ponselnya lalu menghubungi Bu Siska.
Tidak lama kemudian, dengan senyum semringah, Bu Siska membuka pintu toko dan menyambut kedatangan Chenoa.
“Kau sudah datang! Ayo, masuk!” ajak Bu Siska.
Chenoa berjalan mengikuti langkah Bu Siska menuju ruangannya. Tidak seperti biasanya, kali ini Chenoa merasa canggung berada di tempat itu.
“Ayo duduk, Chen!” ucap Bu Siska.
Mendengar ucapan Bu Siska, Chenoa tidak langsung duduk. Ia menatap sekeliling ruangan. Ruangan yang biasanya ramai dengan berbagai perabotan rumah tangga, kini berubah menjadi ruangan biasa. Hanya ada sofa dan beberapa lemari. Tempat tidur, meja kerja dan berbagai macam buku di ruangan itu pun sudah menghilang.
“Kenapa Ibu tiba-tiba ingin pergi?” tanya Chenoa.
“Ibu ... hanya ingin menikmati suasana baru. Oh iya, selamat atas pernikahanmu. Maaf karena Ibu tidak sempat menemuimu. Dan juga ini ....” Bu Siska menyerahkan sebuah kotak perhiasan kepada Chenoa.
“Ini ....” Chenoa membuka kotak perhiasan itu.
“Hadiah untukmu,” jawab Bu Siska.
“Kau ingat desain cincin yang ada di buku Ibu waktu itu? Inilah hasilnya. Ibu harap kau dan Vendy menyukainya.”
Chenoa tertegun menatap cincin pasangan yang ada di hadapannya. Ia tak sanggup menerima hadiah dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya.
“Kenapa ... kenapa Ibu melakukannya? Padahal aku sangat bahagia saat bertemu denganmu. Tapi pada akhirnya aku harus menerima kenyataan pahit ini,” ucap Chenoa. Air matanya sudah meluncur deras membasahi kedua pipinya.
“Maafkan Ibu, Chen. Ibu telah dibutakan oleh rasa cemburu.” Bu Siska memeluk Chenoa. Air matanya pun turut mengalir.
*Kilas balik*
“Tolong! Jangan bunuh anakku, Siska! Demi persahabatan kita ampuni nyawa anakku!”
“Hah? Ampuni? Apa kau tahu penderitaan yang kualami? Teganya kau merebut Samuel dariku.”
“Ampun, Siska! Aku tidak tahu kalau kau juga menyukainya. Bukankah selama ini kau menyukai Kakaknya?”
“Memang aku menyukai Sammy, tapi itu hanya sekedar rasa kagum. Aku menyalah artikan rasa kagumku sebagai rasa suka. Melihat kau bersama Samuel, akhirnya aku sadar bahwa pria yang benar-benar kucintai adalah Samuel. Anak ini ... Anak ini lahir karena pengkhianatanmu!”
“Siska! Tolong! Kali ini saja, asalkan kau menyerahkan anakku, aku akan melakukan apa pun untukmu. Aku bersumpah.”
“Aku tidak percaya padamu. Anak ini harus mati.”
“Tidakkkk! Kau ingin Samuel kan? Baik, aku kembalikan kepadamu. Aku akan pergi dari sisi Samuel. Aku akan menghilang, tapi tolong serahkan anakku.”
“Aku tidak bisa percaya padamu.”
“Aku bersumpah! Bahkan aku rela menyerahkan nyawaku demi anakku.”
“Baiklah. Ambil ini!”
__ADS_1
“Anakku! Sayang, kau tidak apa-apa kan?”
“Pergilah! Jangan pernah kembali atau berusaha menunjukkan wajahmu lagi. Ambil uang ini!”
*Kilas balik selesai*
Bu Siska mempererat pelukannya. Ia tidak menyangka jika anak yang hampir ia bunuh kini berada dalam pelukannya.
Mengingat kesalahan yang pernah ia buat, Bu Siska sadar bahwa kebencian yang ia dapatkan dari Ayah Chenoa maupun keluarganya tidak setimpal dengan apa yang telah ia perbuat.
Beberapa tahun yang lalu setelah kejadian itu, Bu Siska memang sangat bahagia karena telah berhasil menyingkirkan sahabatnya sendiri. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena ternyata Ayah Chenoa telah menaruh curiga pada dirinya.
Ayah Chenoa sangat membenci Bu Siska, bahkan untuk menatapnya pun dia tidak sudi. Hati Ayah Chenoa benar-benar telah berubah. Awalnya, Bu Siska mengira Ayah Chenoa menikahi sahabatnya hanya untuk pelampiasan. Namun, pada akhirnya ia sadar bahwa itu tidak benar. Pria itu memang sudah melupakannya. Hingga kini, hanya ada satu wanita di hati Ayah Chenoa yaitu Cindy, ibu Chenoa.
“Tolong katakan padaku, apa yang telah Ibu lakukan pada Ibuku?” tanya Chenoa sembari melepaskan pelukan Bu Siska.
Bu Siska melepaskan pelukannya lalu menatap kedua bola mata Chenoa. Ia pun menceritakan segalanya.
Mendengar cerita Bu Siska, Chenoa berdiri menjauhi Bu Siska.
“Kenapa kau begitu tega? Kenapaaaaa?!” teriak Chenoa.
“Maafkan Ibu, Chen. Ibu tahu, Ibu salah. Oleh karena itu, Ibu mencari Ibumu dan juga kau untuk menebus dosaku.” Bu Siska berdiri, ia berusaha mendekati Chenoa.
“Tidakkk! Jangan mendekatiku! Aku tidak mau melihatmu lagi,” ucap Chenoa lalu berlari meninggalkan Bu Siska.
Bugghh
Chenoa terjatuh. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
“Chen! Kau kenapa?” tanya Vendy. Ia segera membantu Chenoa berdiri.
Chenoa memeluk erat tubuh Vendy. Ia hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
“Tidak apa-apa. Menangislah! Tumpahkan semuanya,” ucap Vendy sembari menepuk punggung Chenoa.
Bu Siska yang berusaha mengejar Chenoa, hanya bisa berdiri kaku menatap Vendy dan Chenoa dari kejauhan.
“Maafkan Ibu, Chen,” ucapnya lirih.
Vendy membawa Chenoa masuk ke mobil. Ia membersihkan mata dan pipi Chenoa dengan tisu, kemudian mengecup kedua pipi gadis itu secara bergantian.
“Aku akan terus menciummu sampai kau berhenti menangis.”
“Aku sudah tidak menangis! Jadi, berhentilah!”
“Oke. Oke. Aku berhenti.”
Vendy menggenggam erat tangan Chenoa.
“Ceritakan padaku, apa yang telah terjadi?” tanya Vendy.
“Bu Siska, dia telah menceritakan segalanya kepadaku,” jawab Chenoa.
“Hemhh ... ternyata dia yang telah membuatmu menangis. Sudahlah! Aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak ingin melihat istriku yang tercinta meneteskan air matanya. Sebagai gantinya ayo kita makan es krim, mau kan?”
Chenoa mengangguk.
“Baiklah, ayo kita berangkat!” ucap Vendy penuh semangat.
####
Vendy dan Chenoa sedang duduk di kafe sambil menyantap es krim yang telah mereka pesan. Walaupun Vendy tidak menyukai es krim, tetapi demi kebahagiaan Chenoa, ia rela memakan gundukan es krim yang ada di hadapannya.
“Berhenti memakannya kalau tidak suka, tidak usah memaksakan diri,” larang Chenoa.
Chenoa menarik es krim Vendy ke hadapannya.
“Aku tidak mau kau sakit. Jadi, berhenti memakannya!”
“Wah ... istriku sangat perhatian. Aku makin cinta kepadamu!”
“Jangan merayuku! Jelas-jelas kau tidak suka es krim, kenapa malah mengajakku ke sini?”
“Aku pernah melihat seorang anak kecil menangis, lalu ibunya membelikan es krim dan dia pun tertawa gembira.”
“Ha-Ha-Ha! Jadi kau menyamakanku dengan anak kecil itu?”
“Bukan begitu. Aku hanya berusaha membuatmu bahagia.”
__ADS_1
“Mendekatlah! Aku ingin mengatakan sesuatu!”
“Apa?” tanya Vendy. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Chenoa.
Cup!
Chenoa mengecup bibir Vendy.
“Bagaimana rasanya, manis kan?” tanya Chenoa.
Pipi Vendy merona. Ia terkejut mendapat kecupan singkat dari Chenoa.
“Mulai hari ini, aku menyukai es krim,” ungkap Vendy.
Chenoa hanya bisa tertawa mendengar pernyataan Vendy. Ia sangat bahagia bisa bersama dengan Vendy.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah memerhatikan mereka. Orang itu berjalan menghampiri Vendy dan Chenoa.
“Kau Chenoa, kan?” tanya orang itu.
“Kau ... Rafa!” ucap Chenoa.
“Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” tanya Rafa.
“Aku baik-baik saja. Kau makin tampan saja,” puji Chenoa.
Vendy cemberut menatap keakraban Rafa dan Chenoa.
“Ehem ....”
Chenoa menatap Vendy. Ia tahu kalau Vendy sedang cemburu.
“Oh iya, Rafa. Perkenalkan, dia adalah suamiku, namanya Vendy.”
“Suami? Jadi kau sudah menikah?” Rafa terkejut.
“Iya, aku adalah suaminya,” ucap Vendy dengan menekankan kata 'suami' kepada Rafa.
“Aku adalah Rafa, teman SMP Chenoa,” ucap Rafa seraya mengulurkan tangannya.
Vendy membalas uluran tangan Rafa.
“Boleh aku duduk di sampingmu, Chen?” tanya Rafa.
“Tidak boleh. Kau bisa duduk di sampingku!” sela Vendy.
“Dasar, Vendy! Sikap cemburunya tidak bisa diubah," batin Chenoa.
“Chen, kau mau kuliah di mana?” tanya Rafa.
“Di Universitas Hansen. Kalau kau?”
“Sama, aku juga mau kuliah di Universitas Hansen.”
“Kau sudah mendaftar?” tanya Rafa lagi.
“Belum. Baru mau,” jawab Chenoa.
“Kalau kau mau, aku bisa membantumu mendaftar.”
“Tidak perlu. Sebagai alumni Universitas Hansen, aku bisa membantu istriku,” sergah Vendy.
“Wow ... ternyata kau alumni di sana?” Rafa menatap Vendy dengan penuh rasa kagum.
“Iya,” jawab Vendy.
“Suamimu hebat, Chen,” ucap Rafa.
“Kalau begitu, aku balik duluan, yah. Adikku sudah menunggu es krimnya. Sampai jumpa di Universitas Hansen, Chen,” sambungnya. Ia pun meninggalkan Vendy dan Chenoa.
“Kenapa kau bisa begitu akrab dengannya?” tanya Vendy penasaran.
“Karena dia temanku. Dia adalah pria yang ditaksir oleh Revina saat SMP. Kau tahu kan, aku adalah sahabat Revina, ke mana pun Revina pergi pasti ada aku. Jadi, mau tidak mau aku juga dekat dengan Rafa,” jelas Chenoa.
“Hemhh ... pokoknya, kau tidak boleh terlalu dekat dengannya!” perintah Vendy.
Chenoa tersenyum, "Oke. Suamiku!” ucapnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.