
Tok! Tok! Tok!
“Apa kau sudah siap?” teriak Joan dari balik pintu kamar.
“Sudah. Masuklah!” jawab Jean.
Ceklek!
“Wah ... kau tampak gagah memakai setelan itu,” puji Joan.
“Tentu saja. Tapi ... kenapa di hari yang bahagia ini kita berdua harus memakai pakaian yang sama?!” protes Jean. Ia masih tidak bisa menerima keputusan sepihak Tante Diandra.
“Jangan banyak protes! Kau tahu sendiri bagaimana sikap Tante Diandra. Bahkan Ayah dan Bunda pun di bawah kendalinya. Apalah daya kita berdua,” ucap Joan pasrah.
“Jean, Joan, cepat keluar! Acara sudah mau di mulai!” teriak Tante Diandra.
“Baik, Tante. Tapi ... kami mau bertemu dengan kedua mempelai dulu,” ucap Jean.
“Tidak perlu. Kalian bisa bertemu dengan Vendy dan Chenoa di acara nanti.”
“Tapi ....”
“Tidak pakai protes!”
“Baik!” ujar Jean dan Joan. Keduanya tidak mampu melawan kehendak Tante Diandra.
Jean dan Joan keluar dari kamar hotel dan bergegas ke tempat acara. Yah, hari ini adalah resepsi pernikahan Chenoa dan Vendy.
Baru satu bulan berlalu semenjak Chenoa kembali bersatu dengan keluarganya, Tapi Tante Diandra sudah mendesak Ayah Chenoa dan orang tua Vendy untuk segera melangsungkan pernikahan Chenoa dan Vendy.
Tante Diandra bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Ayah Chenoa dan orang tua Vendy untuk melakukan apapun dalam mempersiapkan resepsi pernikahan Chenoa dan Vendy.
Semua persiapan berada di bawah kendalinya. Mulai dari tempat, pakaian pengantin, dekorasi, makanan dan lain-lainnya, semua sudah di atur oleh Tante Diandra.
Jean dan Joan bahkan hanya bisa takjub melihat cara Tante Diandra mengorganisir segalanya. Hanya ada satu kata dalam pikiran Jean dan Joan– sempurna.
Hari mulai siang dan para tamu mulai berdatangan. Acara hari ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama yakni dari siang sampai sore dan sesi kedua yakni malam hari. Untuk sesi pertama, dikhususkan untuk keluarga serta teman-teman Chenoa dan Vendy. Sedangkan untuk sesi kedua dikhususkan untuk para rekan bisnis, baik rekan bisnis dari keluarga Vendy dan Chenoa maupun rekan bisnis dari keluarga Hansen. Acara serta pakaiannya pun berbeda. Pada siang hari untuk resepsi pernikahan, sedangkan pada malam hari untuk acara makan malam.
“Wah. Hotel keluarga Hansen sangat mewah, yah,” ucap salah seorang teman Chenoa.
“Hush! Jangan malu-maluin dong,” bisik teman yang ada di sampingnya.
“Lihat! Bukankah mereka berdua pewaris dari keluarga Hansen?” bisik salah seorang tamu wanita.
“Andai saja salah satu dari mereka ada yang tertarik padaku,” ucap tamu wanita yang lain.
Kehadiran Jean dan Joan ternyata telah menarik perhatian beberapa tamu wanita. Bahkan ada yang berani menghampiri keduanya secara langsung.
“Wah ... ternyata banyak wanita yang tertarik pada kalian, yah,” ucap Revina seraya berjalan menghampiri Jean dan Joan.
Jean dan Joan saling melirik melihat kedatangan Revina.
“Ya, begitulah. Aura ketampanan kami memang tidak bisa terbantahkan,” ucap Jean dengan pede-nya.
“Ha-Ha-Ha! Kau Jangan terlalu pede,” ejek Revina.
“Menurutku, di antara kalian berdua, Joan yang paling menarik,” ucap Revina sambil melirik Joan.
“Hah? Jangan bilang kau tertarik pada Kakakku?” Jean mulai curiga.
__ADS_1
“Hemh ... kalau iya, bagaimana?”
Uhuk! Uhuk!
Joan terkejut mendengar pernyataan Revina.
“Tentu saja aku tidak setuju!” Jean langsung menolak. Ia tidak akan mau menerima Revina menjadi Kakak Iparnya.
Bagi Jean, Revina sudah masuk dalam daftar hitam kandidat Kakak Ipar ataupun kekasihnya. Ia akan melakukan segala cara agar Revina tidak masuk dalam daftar keluarga Hansen.
“Permisi, kami harus menemui teman-teman kami,” ujar Jean. Ia segera menarik Kakaknya menjauhi Revina.
Sedangkan Joan hanya bisa mengikuti ke mana pun Jean membawanya. Mukanya datar tanpa ekspresi. Ia benar-benar shock mendengar ucapan Revina.
“Kak, jangan terlalu memikirkan ucapan Revina. Dia itu hanya ingin mempermainkanmu. Kau tidak boleh terpengaruh. Kau harus tegas menolak dia,” ucap Jean.
“Kak!”
“Kak! Sadarkan dirimu!” teriak Jean seraya mengoncang-goncangkan tubuh Joan.
“Hah? Kenapa?” Akhirnya Joan tersadar.
“Tidak apa-apa. Pokoknya kau tidak boleh menerima Revina jadi pacarmu. Titik!”
Para tamu undangan yang berbahagia, mari kita sambut kedua mempelai.
Ucapan MC akhirnya menyadarkan Jean dan Joan. Mereka segera mengalihkan pandangan mereka menuju pintu.
Vendy dengan ketampanan di atas rata-rata dan Chenoa dengan wajah cantiknya disertai tubuh langsing berbalut gaun putih nan indah, mampu menghipnotis para tamu.
Dengan langkah seirama, keduanya berjalan beriringan. Tak lupa senyum manis terpancar dari bibir mereka.
Vendy dan Chenoa terlihat begitu bahagia. Akhirnya hari yang mereka nantikan telah tiba. Hari di mana cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan yang sakral. Hari di mana status sepasang kekasih berganti menjadi pasangan suami-istri.
Bu Siska yang tentunya turut hadir dalam acara pernikahan tersebut hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia merasa malu untuk bertemu dengan keluarga Chenoa dan Vendy. Jika bukan karena Chenoa yang mengundangnya, mungkin ia tidak akan hadir dalam acara tersebut.
Perlahan ia berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tempat resepsi pernikahan berlangsung.
Sebelum meninggalkan hotel, Bu Siska mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan.
Chen, maafkan Ibu karena tidak sempat bertemu denganmu. Ibu ucapkan selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian berdua selalu bahagia.
Maafkan Ibu, Chen! Maafkan kesalahan Ibu yang telah memisahkan kedua orang tuamu dan memisahkan kau dari Ayahmu. Melihat kau dan keluargamu berkumpul bersama, akhirnya Ibu bisa hidup tenang. Dua hari lagi, Ibu akan meninggalkan negara ini. Bisakah kita bertemu? Ibu akan menunggumu.
Bu Siska termenung menatap layar ponselnya. Ia menggerakkan tangannya dan menekan tulisan send.
Sesi pertama telah usai, Chenoa dan Vendy akhirnya bisa istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke sesi selanjutnya.
Saat ini Chenoa sedang berbaring di kamarnya. Ia ingin mengaktifkan ponselnya, namun tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
“Siapa?” teriak Chenoa.
“Aku. Suamimu,” jawab Vendy dari balik pintu.
Wajah Chenoa merona mendengar ucapan Vendy. Ia masih belum terbiasa dengan status baru Vendy sebagai suaminya.
“Bukankah tante Diandra melarang kita saling mengunjungi sebelum acara selesai? Kenapa kau datang ke kamarku?” tanya Chenoa. Ia tidak mau membuka pintu kamarnya untuk Vendy.
__ADS_1
“Aku merindukanmu. Cepat buka pintumu sebelum Tante Diandra melihatku.”
Chenoa tersenyum, ia membuka pintu kamarnya dan langsung mengusir Vendy.
“Pergi! Atau Tante Diandra akan marah,” ucap Chenoa.
Vendy melirik kanan kiri dan mendorong Chenoa masuk ke kamar. Ia menutup pintu dan langsung memeluk Chenoa.
“Teganya kau mengusir suamimu. Aku hanya ingin memeluk istriku, masa tidak boleh?" ucap Vendy.
“Tidak boleh!” teriak Tante Diandra tiba-tiba. Ia langsung menjewer kuping Vendy.
“Auh ... sakit, Tante!”
“Rasakan. Tante sudah melarangmu untuk menemui Chenoa tapi kau berani melanggar perintahku.”
“Lepaskan, Tante! Aku akan segera pergi. Maafkan aku!”
Chenoa hanya bisa tersenyum melihat Vendy kesakitan.
Tante Diandra segera menarik Vendy keluar dari kamar Chenoa.
####
Sesi kedua akhirnya dimulai.
Para tamu penting berdatangan. Semua orang sibuk menyambut para tamu, termasuk Vendy dan Chenoa.
Ayah dan Ibu Vendy serta Ayah Chenoa tampak sibuk berbicara dengan para tamu.
Begitupun dengan Tante Diandra beserta Orang tua Jean dan Joan, mereka juga sibuk berbincang dengan beberapa tamu penting.
Lalu apa yang terjadi dengan Jean dan Joan? Jawabannya, mereka tengah di kelilingi oleh gadis-gadis yang merupakan anak dari beberapa tamu yang hadir.
Mohon perhatiannya sebentar!
Mewakili Keluarga Hansen dan kedua mempelai, kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian semua pada acara malam hari ini.
Mari kita doakan agar kedua mempelai selalu diberi kebahagiaan dalam menempuh kehidupan rumah tangga mereka.
Terima kasih.
Semua orang bertepuk tangan setelah mendengar pidato singkat dari Aldy Hansen, suami dari Tante Diandra.
Tanpa terasa malam makin larut dan acara makan malam pun akhirnya selesai.
Setelah mengantar kepergian para tamu, Chenoa pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya.
“Ah, segarnya,” ucap Chenoa.
Ia memandangi pantulan wajahnya di cermin.
“Akhirnya acara telah selesai, aku bisa kembali ke kamarku.”
Chenoa segera keluar dari toilet dan tiba-tiba ada tangan besar yang membungkam mulutnya. Ia tidak bisa melihat siapa pelakunya karena dengan cepat si pelaku menutup mata Chenoa.
Chenoa berusaha melepaskan dirinya dengan meronta-ronta, namun tetap tidak bisa. Kekuatan si pelaku begitu kuat.
“Ven, tolong aku,” rintihnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.