Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 24


__ADS_3

Hari pertemuan antara Paman Sam dan Bu Siska telah tiba. Keduanya sepakat bertemu di sebuah kafe dekat sekolah Chenoa.


Setelah memarkirkan mobilnya, Paman Sam keluar dari mobil sembari membawa buket bunga yang sudah ia sediakan sebelumnya. Tidak lupa pula ia merapikan penampilannya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe.


Saat tiba di dalam kafe, Paman Sam langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Chenoa dan Bu Siska. Tiba-tiba...


Paman Sam menjatuhkan buket bunga yang ia bawa. Matanya melotot melihat Bu Siska. Paman Sam segera menyembunyikan wajahnya dan berbalik keluar dari kafe itu.


Setibanya di dalam mobil, Paman Sam segera mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Kenapa harus bertemu wanita itu?” pikirnya.


Paman Sam hendak meninggalkan area kafe, namun ia teringat pada Chenoa. Ia mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.


Chen, maafkan Om karena tidak bisa bertemu Ibumu. Ada urusan mendesak. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ibumu.


Paman Sam menekan tulisan send kemudian berlalu meninggalkan kafe.


####


Paman Sam buru-buru masuk ke dalam kamar. Ia berlari menghampiri nakas berlaci tiga yang terletak di samping tempat tidurnya. Seakan sudah tahu apa yang ia cari, dengan sigap Paman Sam membuka laci pertama. Dengan tangan bergetar, ia mengeluarkan selembar foto dari laci tersebut.


“Sayang! Hari ini aku bertemu wanita iblis itu. Kau ada di mana? Apa benar kau dan anak itu sudah meninggal?” ucapnya lirih seraya menatap foto tersebut.


Paman Sam mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Sementara itu...


Di sebuah ruangan, tampak seorang pria sedang duduk menghadap laptop. Jari-jarinya yang panjang bergerak lincah menekan setiap tombol pada keyboard.


Drrrtt


Pandangan pria itu teralihkan, ia segera meraih ponselnya yang bergetar.


“Halo,” ucapnya.


“Aku melihat wanita iblis itu,” ucap si penelepon yang tak lain adalah Paman Sam.


“Apa dia melihatmu?” tanya pria itu.


“Tidak. Tapi sepertinya Vendy sudah bertemu dengannya.”


“Lebih baik kalian segera pindah ke sini.”


“Kita tunggu sampai Vendy selesai. Tanggung, sebentar lagi dia skripsi."


“Baiklah! Untuk sementara kau datang ke sini dulu." Pria itu mengakhiri panggilan dan kembali fokus pada laptopnya.


####


Tok.Tok.Tok


Vendy mengetuk pintu kamar Pamannya.


“Om. Apa kau tidur?” teriak Vendy di balik pintu.


Ceklek


Pintu kamar Paman Sam terbuka.


“Kenapa teriak-teriak? Om tidak tuli,” kata Paman Sam.


“Bagaimana pertemuanmu dengan Bu Siska? Apa yang kalian bicarakan?” tanya Vendy penasaran.


Paman Sam tampak ragu. “Om tidak sempat bertemu dengannya karena ada urusan mendadak. Lihat! Om bahkan sedang packing karena besok mau ke Singapura,” jawab Paman Sam.


“Hah? Lagi? Kenapa mendadak mau ke Singapura?”


“Ada urusan penting. Om berjanji akan datang bersama orang tuamu saat kau wisuda nanti.”


“Apa sepenting itu? Lalu bagaimana dengan rencana pernikahanku?” tanya Vendy lagi.


“Nanti kita bicarakan lagi. Selesaikan dulu pendidikanmu,” ucap Paman Sam.


“Baiklah,” Vendy mengalah. Ia tertunduk lesu kemudian berjalan menuju kamarnya.


Paman Sam menatap kepergian Vendy dengan sedih. “Maafkan Om, Vendy. Sepertinya pernikahanmu dan Chenoa tidak bisa terjadi. Kenapa kau harus menyukai anak dari wanita iblis itu?" batinnya.


Vendy masuk ke dalam kamarnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian...


Vendy sudah selesai berpakaian dan segera melompat ke tempat tidurnya. Ia sudah tak sabar untuk menghubungi Chenoa.


Vendy mengambil ponselnya dan menghubungi Chenoa melalui video call.


“Tumben VC. Ada apa?” tanya Chenoa.


“Aku merindukanmu,” jawab Vendy.


“Hah? Baru juga sehari tidak ketemu,” ejek Chenoa.


“Masa kau tidak rindu padaku?”


“Tidak.”


“Dasar Gadis Musang! Tidak mau mengaku.”


“Tuh kan, mulai lagi.”


“He-He! Aku minta maaf. Kebiasaan. Oh ya, kau sedang apa?

__ADS_1


“Nih,” sambil memperlihatkan buku-bukunya.


“Kau sedang belajar?”


“Barusan selesai. Sekarang sudah bisa santai.” Chenoa membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


“Oh ya, Bu Siska tidak marah kan, gara-gara Om-ku tidak jadi menemuinya?”


“Tidak. Tenang saja. Malah Bu Siska bertanya, kapan Paman Sam ada kesempatan lagi?”


“Hemh ... sepertinya, tidak dalam waktu dekat ini soalnya Om-ku mau ke Singapura lagi.”


“Benarkah? Ya sudah, nanti aku bilang ke Bu Siska. Bagaimana magangmu? Pasti banyak wanita yang menggodamu.”


“Kok tahu.”


“Aku cuma menebak saja. Awas yah, jangan sampai kau tergoda!”


“Ha-Ha-Ha! Bagaimana bisa tergoda kalau sepanjang hari cuma memikirkanmu.”


“Bagus! Ya sudah, besok kita lanjutkan lagi, yah. Aku mau makan dulu. Bye!”


“Bye!” Vendy mengakhiri panggilannya. Ia mengambil guling dan memeluknya, “Aku mencintaimu, Chen!”


####


Beberapa bulan kemudian...


Masa magang Vendy telah selesai dan saatnya ia memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap skripsi.


Vendy sebagai salah satu mahasiswa jurusan Business Management di Universitas Hansen tentunya sudah tahu bahwa tidak mudah untuk melewati tahap skripsi. Ia harus melewati berbagai tahap terlebih dahulu. Mulai dari pengajuan judul, penentuan dosen pembimbing, sidang proposal dan tahap-tahap selanjutnya hingga sampai pada sidang skripsi. Oleh karena itu, agar cepat selesai, Vendy bahkan rela mengurangi intensitas pertemuannya dengan Chenoa. Untungnya, Chenoa juga sudah memasuki awal semester genap. Jadi, ia juga tengah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk mengikuti UN.


Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Vendy, Jean dan Joan sedang duduk bersama di taman kampus. Ketiganya sama-sama sedang menunggu dosen pembimbing mereka masing-masing.


“Haah ... aku bosan main kejar-kejaran dengan dosen,” keluh Jean.


“Sama. Aku merindukan masa-masa santaiku bersama Chenoa.” Vendy ikutan mengeluh.


“Ha-Ha-Ha! Dasar kalian berdua. Bagaimana bisa cepat selesai kalau suka mengeluh?” ejek Joan.


“Bagaimana tidak mengeluh, dosennya dicari di gedung A eh, ternyata ada di gedung B. Belum lagi kalau sudah mengoreksi, tulisannya tidak bisa dibaca. Aku bahkan selalu begadang hanya untuk menerka-nerka apa maksud tulisannya,” curhat Jean.


“Makanya kalau lagi mengetik, jangan menghayal!” ejek Vendy.


“Ven, bukankah dia dosen pembimbingmu?” kata Joan sambil menunjuk seorang dosen yang berjalan melewati taman.


“Aku pergi dulu,” ucap Vendy lalu bergegas mengejar dosen itu.


Sementara itu...


Chenoa sedang duduk di bangkunya sambil memegangi perutnya yang nyeri.


“Kau kenapa, Chen?” tanya Revina cemas.


“Apa kau punya pembalut?”


“Tidak. Ayo! Aku antar ke UKS. Siapa tau ada pembalut di sana.”


“Aku malas ke UKS. Paling tempat tidurnya sudah penuh sekarang.”


“Ya udah, aku antar pulang, yah?”


“Tidak usah. Lebih baik aku pulang sendiri. Kau tinggal saja di sekolah supaya nanti aku bisa pinjam catatanmu,” kata Chenoa.


Revina mengerti, ia mengambil tas Chenoa dari loker dan memasukkan buku-buku Chenoa ke dalam tas tersebut.


“Hati-hati, yah!” ucap Revina sembari menyerahkan tas Chenoa.


“Oke. Aku pulang dulu.”


Chenoa keluar dari ruang kelas dan melangkahkan kakinya menuju ruang guru.


“Ada apa, Chen?” tanya Pak Theo saat Chenoa menghampirinya.


“Aku mau minta izin pulang, Pak! Aku sedang tidak enak badan,” jawab Chenoa.


“Kau tampak pucat. Apa perlu Bapak antar ke rumah sakit?" Pak Theo mulai khawatir.


“Tidak perlu, Pak! Ini sudah biasa terjadi. Aku mau istirahat di rumah saja."


"Baiklah! Bapak mengizinkan. Cepat pulang dan beristirahatlah!"


"Baik, Pak! Terima kasih."


Pak Theo menatap kepergian Chenoa. Ia lalu menghubungi Vendy.


“Halo, Pak Theo. Apa kabar?”


“Jangan pedulikan kabarku. Pedulikan saja pacarmu. Sekarang dia sedang sakit. Sepertinya sedang sakit perut.”


“Sekarang dia ada di mana?”


“Pulang. Eh, jangan lupa belikan dia pembalut.”


“Pembalut? Oh ... Oke.”


Pak Theo mengakhiri panggilannya. “Ah, enaknya punya pacar,” gumamnya.


####

__ADS_1


Vendy telah tiba di rumah Chenoa dengan membawa kantong besar berisi pembalut.


Belum sempat ia mengetuk pintu rumah Chenoa, tiba-tiba Chenoa sudah membuka pintunya.


Chenoa terkejut dengan kedatangan Vendy.


“Kau mau ke mana?” tanya Vendy.


“Ah, itu. Aku mau beli sesuatu,” jawab Chenoa pelan karena menahan rasa nyeri di perutnya.


“Tidak perlu. Ayo masuk!” Vendy mendorong Chenoa agar segera masuk ke rumahnya.


“Tapi, persediaanku hampir hab–” ucapan Chenoa terpotong saat Vendy menyodorkan kantong besar kepadanya.


“Apa ini?” tanya Chenoa.


“Lihat saja sendiri,” jawab Vendy.


Setelah membuka kantong besar di tangannya, betapa terkejutnya Chenoa saat melihat kantong besar itu berisi banyak pembalut.


“Aku tidak tahu kau biasa pakai yang mana. Jadi, aku beli saja berbagai merek,” ucap Vendy malu.


Chenoa tersenyum, “Terima kasih! Tunggu aku di ruang tamu! Aku mau menyimpan ini dulu," katanya. Chenoa berjalan menuju kamarnya sambil membungkuk.


Aaaaaahhh!


Chenoa berteriak saat Vendy tiba-tiba menggendongnya.


“Turunkan aku! Tidak usah menggendongku!” perintah Chenoa.


Vendy tidak menggubris perkataan Chenoa. Ia terus menggendong Chenoa dan membawa gadis itu ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Vendy membaringkan tubuh Chenoa di tempat tidur.


“Istirahatlah! Aku akan menjagamu,” ucap Vendy lembut.


“Tidak perlu! Kau bisa pulang sekarang!” suruh Chenoa.


Vendy tidak peduli dengan ucapan Chenoa, ia melepas ranselnya lalu mengeluarkan laptopnya dari sana. Ia kemudian naik ke tempat tidur Chenoa dan duduk di samping gadis itu.


Tentu saja Chenoa terkejut melihat Vendy duduk di atas tempat tidurnya. Chenoa merasa malu dan ia pun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Namun, tidak berapa lama Chenoa mengintip Vendy dari balik selimutnya.


"Dia serius sekali. Sebenarnya dia sedang apa?" pikir Chenoa.


"Sedang revisi. Kenapa belum tidur?" ucap Vendy seakan mampu mendengar isi pikiran Chenoa.


"Bagaimana bisa tidur kalau kau ada di tempat tidurku," jawab Chenoa dalam hatinya.


"Tenang saja. Aku tidak akan berbuat apa-apa padamu," balas Vendy lagi.


Chenoa membuka selimutnya dan duduk di samping Vendy. "Kenapa kau bisa membaca pikiranku?" tanya Chenoa penasaran.


"Cuma menebak saja."


"Jangan bohong! lihat mataku!" Chenoa mengarahkan wajah Vendy menghadap wajahnya.


"Apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Chenoa.


"Aku mencintaimu," jawab Vendy.


"Bukan itu. Ayo, ulangi lagi." Chenoa masih penasaran dengan Vendy.


"Aku kan, sudah bilang kalau aku hanya menebak saja," jelas Vendy.


Vendy jengah, ia meletakkan laptopnya lalu menarik tubuh Chenoa untuk berbaring bersamanya.


Chenoa berusaha bangun kembali, namun Vendy menahannya. Ia memeluk erat tubuh Chenoa.


"Ayo, Tidur!" ucap Vendy.


"Tidak mau. Kenapa kau harus tidur di tempat tidurku?"


"Terus aku tidur di mana? di lantai?"


"Di rumahmu."


"Malas."


"Kalau begitu di rumah Jean dan Joan."


"Jauh."


"Kalau begitu di–" ucapan Chenoa terpotong karena dengan sigap Vendy menutup mulut Chenoa.


"Tidur saja," ucap Vendy.


Vendy menarik tangannya dari mulut Chenoa.


"Kalau kau tidak mau tidur, biarkan aku saja yang tidur," ucap Vendy sembari memejamkan matanya.


Tidak lama kemudian, Chenoa menatap Vendy " Apa dia benar-benar sudah tidur?" pikir Chenoa.


"Hoaam, lebih baik aku juga tidur." Chenoa ikut memejamkan matanya dan seketika ia pun tertidur dalam pelukan Vendy.


Bersambung...


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.

__ADS_1


__ADS_2