
Chenoa tiba di depan pintu rumahnya.
“Apa Tante Diandra ada di dalam?” pikirnya.
Ceklek
Chenoa membuka pintu rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Kosong, tidak ada siapa pun di rumah itu.
“Tante! Kau ada di mana? Aku sudah datang!” panggil Chenoa.
Chenoa menelan ludahnya, “Kenapa jadi mistis begini? Ini kan, rumahku bukan rumah hantu,” batin Chenoa.
Chenoa mencari keberadaan Tante Diandra.
Di ruang tamu? Tidak ada.
Di dapur? Tidak ada.
Di toilet? Tidak ada.
“Jangan-jangan di kamarku,” ucapnya.
Chenoa bergegas menuju kamarnya.
Ceklek
Chenoa membuka pintu kamarnya. Gelap. Ia bahkan tidak bisa melihat apa pun.
“Sepertinya tidak ada di sini juga,” pikirnya.
Tiba-tiba...
Kamar Chenoa menjadi terang.
“Vendy?” Chenoa terkejut melihat kehadiran Vendy di kamarnya.
Chenoa segera berbalik namun dengan cepat Vendy memeluknya dari belakang.
“Jangan pergi! Jangan menyiksaku lagi!” pintanya.
“Maaf, Tuan Vendy Carnavaro. Apa seorang pria beristri pantas memeluk wanita lain?”
Vendy membalikkan tubuh Chenoa lalu memandang wajah gadis itu. Ia menghela napasnya.
“Siapa yang sudah menikah?” tanya Vendy.
“Oh ... jadi kau tidak mau mengakuinya. Lepaskan aku! Aku mau pergi!” ucap Chenoa seraya menepis kedua tangan Vendy dari pundaknya.
Vendy jengah dengan tingkah Chenoa. Ia menarik gadis itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
“Apa yang kau lakukan? Minggir! Aku mau keluar!” Chenoa berusaha menyingkirkan Vendy yang sedang berdiri menghalangi pintu.
“Aku tidak akan melepaskanmu! Kau pikir aku pria bodoh yang mau membiarkan wanita yang dicintainya pergi begitu saja. Jangan mengharapkan itu dariku, Chen! Karena itu tidak akan pernah terjadi!” teriak Vendy.
Chenoa tidak peduli, ia berusaha menyingkirkan tubuh Vendy dari pintu, namun kekuatan pria itu terlalu kuat.
Vendy menarik tubuh Chenoa dan menyudutkannya di pintu. Ia menahan kedua tangan Chenoa.
Chenoa meronta-ronta namun tetap tidak bisa lepas dari kungkungan Vendy.
“Aku akan melepaskanmu, tapi kau harus berjanji untuk mendengarkan penjelasanku,” ucap Vendy.
Chenoa menyerah, ia tidak mungkin menang melawan Vendy. “Baiklah, aku akan mendengarkanmu.”
Vendy melepaskan Chenoa. Ia menarik gadis itu dan mendudukkannya di ranjang.
“Chen, maafkan aku karena tidak bisa datang di hari kelulusanmu. Hari itu Ibuku sedang sakit dan tidak mungkin aku meninggalkannya, dan juga tentang pernikahanku dengan Rara itu tidak benar. Rara adalah anak dari teman Ibuku yang memiliki usaha butik di Singapura. Entah mengapa, pada hari itu Om memintaku untuk mencoba baju pengantin di sana. Di sanalah Rara memintaku berfoto bersamanya dengan bersama-sama menggunakan gaun pengantin,” jelas Vendy panjang lebar.
Chenoa terdiam. Ia terkejut mendengar penjelasan Vendy.
“Lalu, kenapa Paman Sam bilang kau sudah menikah?” Chenoa masih bingung.
“Itu yang tidak kumengerti, oleh karena itu aku akan membawamu ke Singapura untuk meminta penjelasan.”
“Hah? Kapan?”
“Besok! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini. Kalau kau melarikan diri lagi bagaimana? Kau mau tanggung jawab jika aku harus membuat jadwal ke psikiater?”
“Maksudmu?”
“Aku bisa stres jika kau meninggalkanku.”
Chenoa tersenyum, "Aku rindu gombalanmu," ucapnya. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Vendy.
“Kau sudah tidak marah lagi, kan?” tanya Vendy.
“Siapa yang marah?”
“Kau.”
“Aku tidak marah.”
“Oke. Kau tidak marah tapi mengamuk,” ejek Vendy.
“Cie ... yang sudah baikan,” sela Tante Diandra tiba-tiba berdiri di depan kamar Chenoa.
__ADS_1
Vendy dan Chenoa tersenyum.
“Ayo Chen, kita pulang! Sudah malam,” ajak Tante Diandra.
Chenoa terdiam, ia mengaitkan tangannya di lengan Vendy.
“Apa kau tidak mau pulang? Dasar gadis ini! Kau lebih memilih pacarmu dibanding Tante. Ah, hatiku terluka,” ucap Tante Diandra.
“Aku masih ingin bersama Vendy,” ujar Chenoa jujur.
“Baiklah, kau boleh bersama Vendy. Tapi ingat! Malam ini perawan, besok juga harus masih perawan,” ucap Tante Diandra lalu meninggalkan keduanya.
Chenoa dan Vendy tercengang. Mereka tidak menyangka jika Tante Diandra begitu blak-blakan.
Chenoa dan Vendy saling menatap dalam diam. Detak jantung keduanya sudah mencapai batas kewajaran.
“Kenapa kau tidak pulang saja?” tanya Vendy.
“Aku sudah pulang. Ini kan, rumahku,” balas Chenoa.
“Iya juga sih. Jadi aku yang harus pulang?”
“Iya. Bye!”
Vendy menelan ludahnya, “Gadis ini benar-benar tidak peka, aku mati-matian menahan rinduku dan dia mengusirku begitu saja,” batinnya.
“Kenapa belum pulang? Apa yang kau pikirkan? Atau kau mau menginap di sini?” tanya Chenoa asal.
Vendy mengangguk cepat.
Chenoa langsung menyilangkan tangannya di dadanya.
“Tidak! Kau tidak dengar petuah Tante Diandra? ‘Malam ini perawan, besok juga harus perawan' kau mengerti kan, maksudnya?”
“Jelas aku mengerti! Memang siapa yang mau melakukannya. Aku masih waras. Aku hanya ingin melepas rindu denganmu. Apa kau tidak rindu denganku?”
“Tidak!”
Vendy menggelitiki Chenoa.
“Ayo mengaku!”
“Ha-Ha-Ha! Iya, iya aku mengaku! Jangan menggelitiki aku lagi, geli. Ha-Ha-Ha!”
Vendy berhenti menggelitiki Chenoa. Namun, mereka segera sadar bahwa posisi mereka saat ini sangat intens.
Vendy menindih tubuh Chenoa. Ia menatap kedua bola mata gadis itu.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Chenoa pelan.
“Mau makan,” jawab Vendy.
“Apa?!”
“Oh ....”
Vendy mengetuk jidat Chenoa. “Memangnya apa yang kau pikirkan? Hah?”
“Tidak ada,” jawab Chenoa malu.
“Apa kau juga lapar?”
Chenoa mengangguk.
“Kalau begitu, ayo kita belanja lalu masak bersama,” ajak Vendy.
Vendy berdiri dan menarik tubuh Chenoa. Keduanya pun berjalan bersama meninggalkan kamar Chenoa.
“Tunggu! Mobilku ada di rumah Tante Diandra,” ucap Vendy.
“Jadi? Atau kita makan mi instan saja. Aku punya beberapa bungkus,” usul Chenoa.
“Ayo!" Vendy sepakat.
####
Setelah makan, Vendy dan Chenoa menonton TV bersama di ruang tamu.
Saat ini Vendy sedang bermanja-manja dengan Chenoa.
Vendy membaringkan tubuhnya di sofa dan menggunakan paha Chenoa sebagai bantalnya.
“Apa yang kau lakukan saat aku tidak ada?” tanya Vendy.
“Banyak. Mandi, makan, tidur, belajar–”
“Bukan itu. Maksudku saat kau merindukanku.”
“Hemh ... jalan-jalan dengan Revina dan bertemu teman-teman untuk mengalihkan perhatian.”
“Ada cowok?”
“Ada, bahkan ada yang mengajakku berkencan.”
“Apa?!” Vendy cemberut.
“Tapi aku menolak mereka karena tidak ada yang se-level denganmu,” ucap Chenoa.
__ADS_1
Vendy tersenyum, ia memeluk perut Chenoa.
“Kenapa perutmu kecil sekali?”
“Aku kan, tidak hamil. Kalau hamil baru perutku besar.”
Vendy senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Chenoa.
“Apa yang sedang kau bayangkan?” tanya Chenoa.
“Aku sedang membayangkan kau sedang hamil anak kita.”
Chenoa menepuk dahi Vendy, “Menikah saja belum, sudah berpikiran aneh-aneh.”
“Namanya juga impian. Tidak masalah, kan?” Vendy menggoda Chenoa.
“Kau belum mau pulang? Sekarang sudah pukul 10 malam.”
Vendy bangun dan duduk di samping Chenoa.
“Aku kan, sudah bilang mau bermalam di sini,” ucap Vendy.
“Tidak boleh,” tolak Chenoa.
“Bagaimana jika ada yang menculikmu? Atau ada hantu yang menakutimu. Siapa yang akan melindungimu?” ucap Vendy berharap Chenoa mengizinkannya bermalam.
“Tidak ada. Yang ada aku akan diterkam binatang buas kalau kau bermalam di sini." Chenoa tetap bersikukuh menolak Vendy.
“Diterkam binatang buas? Aku?” sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. Siapa lagi.”
Vendy mendesah, “Sudah jam 10 malam, udara di luar pun pasti terasa dingin,” ucap Vendy sok mendramatisir.
“Ha-Ha-Ha!” Chenoa tidak bisa menahan tawanya. Ia sangat terhibur dengan segala upaya Vendy.
“Baiklah. Aku akan mengizinkanmu bermalam. Tapi tidak boleh macam-macam. Janji!” ucap Chenoa sambil menaikkan jari kelingkingnya.
“Oke. Aku janji,” balas Vendy lalu mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Chenoa.
"Jangan percaya, Kakak Ipar!" sergah Jean yang baru saja masuk ke ruang tamu bersama Joan.
“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Vendy.
“Tante Diandra meminta kami mengawasimu,” jawab Joan.
“Kakak Ipar! Aku merindukanmu!” teriak Jean seraya merentangkan tangannya untuk memeluk Chenoa.
Vendy tentu saja tidak membiarkan Jean memeluk Chenoa, akhirnya ia mendahului Jean memeluk Chenoa.
Jean cemberut, “Kau tidak asyik, Ven,” celotehnya.
“Kakak Ipar, kau tahu tidak? Saat Vendy mencarimu, dia datang menghina dan mencerca kami habis-habisan,” curhat Jean.
“Dia bahkan mau memutuskan hubungan persahabatan kami karena tidak menjagamu. Dia kira hubungan persahabatan yang telah lama kami jalin setipis kulit bawang apa?!” sambung Joan. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa dengan jengkel.
Chenoa, Vendy dan Jean melongo. Baru kali ini mereka mendengar Joan berceloteh.
“Ada apa dengan dia? Tumben marah-marah.” tanya Vendy kepada Jean.
“Mungkin karena kelelahan. Ayah dan Paman kami benar-benar diktator. Mereka menggembleng kami habis-habisan di kantor,” ungkap Jean sambil duduk di samping Joan.
“Ck.Ck.Ck. Nasib pewaris keluarga Hansen ternyata tak seindah yang kukira,” ejek Vendy.
“Jangan menghina keluarga Hansen. Kakak Ipar juga termasuk keluarga Hansen." Joan kembali bersuara.
“Apa?!” Vendy terkejut.
“Tante Diandra belum memberitahumu kalau Chenoa itu keponakannya yang hilang?” tanya Jean.
“Belum,” ucap Vendy lalu menatap Chenoa.
“Wah. Aku bisa menggantungkan hidupku kepadamu dong, Chen. Kau kan, kaya!” ucap Vendy.
“Maaf, aku tidak menerima pengemis!” tolak Chenoa.
Ha-Ha-Ha-Ha!
Jean dan Joan tidak bisa menahan tawa mereka.
“Kakak Ipar, kau memang yang terbaik. Tidak ada yang bisa menundukkan Vendy selain dirimu,” puji Jean.
Vendy cemberut, “Kalian berdua pulang sana!” usir Vendy.
“Oke. Kami akan pulang. Aku memang mau istirahat. Jaga Kakak Ipar! Aku percayakan dia padamu. Urusan lapor melapor kepada Tante Diandra, kita serahkan pada Joan,”ucap Jean.
“Kok jadi aku sih?” tolak Joan.
“Bilang saja, aman terkendali. Gampang, kan?
“Kenapa bukan kau saja?"
“Tante Diandra kurang percaya padaku. Kalau kau yang bicara pasti dia percaya,” ujar Jean.
Vendy menutup telinga Chenoa. Ia tidak ingin Chenoa merasakan penderitaan yang selama ini ia rasakan gara-gara pertengkaran Jean dan Joan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.
Terima kasih