Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 22


__ADS_3

Sudah 2 hari berlalu sejak kejadian di kafe Happy Ice Cream, namun hati Vendy masih tetap gundah. Bagaimana tidak, sampai sekarang Chenoa belum memberikan jawaban atas pertanyaannya yang lalu.


Kegundahan hati Vendy pun telah diketahui oleh kedua sahabatnya yaitu Jean dan Joan.


Pulang dari kampus, Vendy, Jean dan Joan mengobrol bersama di rumah keluarga Hansen. Kali ini, ketiganya berada di kamar Jean.


“Lalu, sampai kapan kau akan menunggu?” tanya Jean.


“Entahlah! Aku juga tidak tahu,” jawab Vendy pasrah.


“Ayo, pikirkan sesuatu! Jangan pasrah seperti itu.” Jean mengguncang-guncangkan tubuh Vendy yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.


“Berhenti mengguncang tubuhku! Kau membuat kepalaku makin pusing!” bentak Vendy.


Jean melepaskan tangannya dari tubuh Vendy lalu berbaring di sampingnya, ia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir.


Tok.Tok.Tok.


Terdengar suara ketukan pintu.


Joan yang dari tadi berbaring di atas sofa sambil bermain ponsel, meletakkan ponselnya di atas meja dan bergegas membuka pintu.


Saat pintu terbuka, tampaklah seorang wanita berdiri di depan pintu.


“Tante Diandra! Ayo, masuk!” ucap Joan.


“Tante Diandra!” teriak Jean sambil berlari ke arah Tantenya.


Melihat kedatangan Tante Diandra, Vendy pun bangun dari tidurnya lalu berdiri di samping Joan.


“Oh ya, Tante. Perkenalkan ini sahabat Joan, namanya Vendy,” kata Joan.


Vendy mengulurkan tangannya, “Saya Vendy, sahabat dari Jean dan Joan. Walaupun baru kali ini bertemu dengan Tante, tapi Jean dan Joan selalu bercerita tentang Tante,” ujar Vendy.


Tante Diandra membalas uluran tangan Vendy, “Benarkah? Senang bertemu denganmu,” ucapnya.


“Saya juga senang bertemu dengan Tante,” balas Vendy sembari tersenyum.


“Ayo duduk, Tante!” ajak Joan.


Tante Diandra melepaskan tangannya dari tangan Vendy kemudian duduk di sofa.


Vendy, Jean dan Joan juga ikut duduk.


“Saya mau berterima kasih kepada Tante karena telah membantu pacar saya menangkap pembunuh Ibunya,” ucap Vendy.


“Ah, itu bukan apa-apa. Kalau kau butuh bantuan Tante, bilang saja. Tidak perlu sungkan,” kata Tante Diandra.


“Kau memang yang terbaik, Tante!” puji Jean.


“Iya dong. Oh ya, Bundamu mana? Dari tadi Tante mencarinya tapi tidak ketemu,” tanya Tante Diandra.


“Lagi ke rumah temannya,” jawab Joan.


“Hemh ... baiklah! Kalau begitu Tante pulang saja. Bilang ke Bundamu kalau tante tadi ke sini.”


“Oke, Tante,” ucap Joan.


“Eh, tunggu!” cegah Jean.


Tante Diandra yang sudah bersiap untuk berdiri, kembali duduk setelah mendengar perkataan Jean.


“Bagaimana cara Om meyakinkan Tante agar mau menikah dengannya?” tanya Jean tiba-tiba.


Tante Diandra menatap heran pada Jean.


“Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”


“Tante tidak perlu tahu, jawab saja pertanyaanku!” desak Jean.


“Hemh ....”


Vendy, Jean dan Joan menatap Tante Diandra dengan saksama. Ketiganya sedang fokus untuk mendengar perkataan Tante Diandra selanjutnya.


“Waktu itu, Ommu membawa Tante untuk makan malam bersama Ayah dan Bundamu. Pada saat itulah dia mengutarakan keinginannya untuk menikahiku. Hatiku benar-benar tergugah dengan keberaniannya melamar Tante di depan keluargamu,” jelas Tante Diandra.


“Jadi, begitu. Sepertinya cara itu belum bisa kau pakai, Ven. Tunggu Kakak Ipar lulus dulu," ucap Jean sambil menepuk pundak Vendy.


“Oh ... jadi kau mau menikah?” sela Tante Diandra.


“Ah, belum Tante. Masih menunggu pacarku lulus SMA dulu. Aku sudah mengutarakan niatku padanya tapi sampai sekarang dia belum memberiku jawaban,” ucap Vendy.


“Mungkin masih ada keraguan di dalam hatinya. Apalagi menikah muda itu butuh pertimbangan yang matang. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah meyakinkan hatinya agar mau menikah muda. Dan Tante punya ide untuk itu,” ucap Tante Diandra panjang lebar.

__ADS_1


“Ide? Apa Tante?” tanya Vendy bersemangat.


“Jam 8 malam nanti, datang ke rumah Tante. Jangan lupa ajak pacarmu.”


“Oke. Tante!” ucap Vendy sambil tersenyum bahagia.


####


Chenoa baru saja sampai di rumah. Wajahnya tertunduk lesu. Ia mengingat kembali kejadian saat dimarahi habis-habisan oleh Pak Theo.


*Kilas balik*


“Chen, apa yang terjadi denganmu? Apa kau punya masalah?”


“Tidak, Pak!”


“Lalu apa ini? Bapak suruh kau mengumpulkan tugas Bahasa Indonesia, kenapa malah mengumpulkan buku Matematika? Dan lihat ini! Bukumu pun penuh dengan coretan 'Terima' dan 'Tolak'. Bisa jelaskan apa maksudnya?”


“Maaf, Pak! Sepertinya aku tidak sengaja menulisnya."


“Bapak tidak melarangmu untuk pacaran, tapi ingat! Tugas utamamu adalah belajar dengan giat apalagi kau sudah kelas tiga, sebentar lagi akan ujian.”


“Saya minta maaf, Pak! Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi.”


“Baiklah. Jangan diulangi lagi! Sebagai hukuman, Bapak kasih tugas tambahan untukmu. Ambil kertas soal ini! Kerjakan sekarang! Kau tidak boleh istirahat kalau belum selesai."


*Kilas balik selesai*


Chenoa menghela napasnya, ia tidak menyangka jika pertanyaan Vendy telah membuat dirinya tidak fokus untuk belajar, “Aku harus cepat-cepat memberi Vendy jawaban. Jika tidak, Pak Theo akan terus memarahiku gara-gara tidak fokus,” pikir Chenoa.


Chenoa mengambil baju ganti dan meletakkannya di atas tempat tidur lalu bergegas menuju kamar mandi.


30 menit kemudian...


Chenoa telah berada di dapur untuk memasak makanan, namun tiba-tiba ada panggilan dari Vendy.


“Halo, Chen. Nanti malam aku akan mengajakmu makan malam. Jadi tidak perlu masak,” ucap Vendy dari balik telepon.


“Baiklah! Aku memang lagi malas untuk masak,” ujar Chenoa.


“Ha-Ha-Ha! Bagaimana nasib suamimu nanti kalau kau suka malas masak?” ejek Vendy.


“Kau kan, pintar masak. Jadi aku tidak perlu repot,” balas Chenoa.


“Oke.”


####


Pukul 19.40


Vendy dan Chenoa telah tiba di tempat tujuan yaitu di rumah Tante Diandra. Saat Chenoa melihat rumah Tante Diandra, ia sadar jika rumah itu adalah rumah Tante Diandra yang ia kenal. Wanita yang pernah menolongnya saat menangis di jalanan.


“Kenapa kau bisa mengenalnya?” tanya Chenoa pada Vendy ketika mereka sedang menunggu kedatangan Tante Diandra di ruang tamu.


“Karena dia Tantenya Jean dan Joan,” jawab Vendy.


“Benarkah? Kenapa bisa kebetulan sekali?” ucap Chenoa.


“Chenoa ....” Tante Diandra terkejut melihat kedatangan Chenoa di rumahnya.


“Iya, Tante. Lama tidak bertemu,” sapa Chenoa.


Tante Diandra duduk di sofa lalu berkata, “Ternyata kau pacarnya Vendy. Itu berarti, kau adalah temannya Jean dan Joan.”


“Iya, Tante. Oh ya, aku mengucapkan terima kasih banyak karena telah membantuku menangkap pembunuh Ibuku,” kata Chenoa.


“Sama-sama. Tante akan selalu siap membantumu,” balas Tante Diandra.


“Nyonya! Ada tamu,” sela pembantu Tante Diandra.


“Diandra!” teriak seorang wanita yang berjalan menuju ruang tamu.


Diandra menghampiri wanita itu dan langsung memeluknya.


“Ayo, silakan duduk!” ucap Tante Diandra.


“Sudah lama yah, kita tidak makan bersama.”


“Iya. Makanya malam ini aku mengundangmu. Oh ya, perkenalkan, mereka adalah Vendy dan Chenoa. Teman dari keponakanku,” jelas Tante Diandra.


“Nama Ibu, Tania. Panggil saja Bu Nia. Ibu adalah teman dari Diandra,” ucapnya sambil menjabat tangan Vendy dan Chenoa.


“Oh ya, mana putri dan menantumu itu?” tanya Tante Diandra.

__ADS_1


Belum sempat Bu Nia menjawab pertanyaan Tante Diandra, muncullah seorang pria dan seorang wanita berjalan menuju ruang tamu.


“Hati-hati sayang! Tidak usah jalan terlalu cepat. Kau kan, sedang hamil,” ucap pria itu.


Yah, mereka adalah orang yang dicari-cari Tante Diandra. Putri Bu Nia dan juga menantunya.


“Ayo kita ke meja makan!” ajak Tante Diandra.


Mereka pun berjalan meninggalkan ruang tamu menuju meja makan.


Setelah sampai di meja makan, Chenoa tercengang melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja makan. Tante Diandra benar-benar maksimal mempersiapkan segalanya.


“Chenoa dan Vendy, perkenalkan, dia adalah Leny putri dari Bu Nia dan dia adalah Rian suaminya,” kata Tante Diandra.


“Kalian pasangan, kan?” sergah Leny.


“I-ya,” ucap Vendy.


“Senang bertemu kalian,” ucap Leny seraya tersenyum pada Chenoa dan Vendy.


Chenoa dan Vendy pun membalas senyuman Leny.


“Kau mau makan apa, sayang?” tanya Rian kepada istrinya.


Melihat keromantisan Leny dan Rian, Tante Diandra terpancing untuk bertanya pada Leny, “Kenapa kau mau menikah muda?”


“Karena aku sudah sangat yakin kepada Rian. Aku percaya jika dia mampu memberiku kebahagiaan. Rian adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, jadi untuk apa aku menunda menikah dengannya,” jelas Leny.


Rian mengelus kepala Leny dengan lembut. Ia menunjukkan kepada semua orang betapa sayangnya ia kepada istrinya.


Chenoa dan Vendy hanya bisa saling menatap melihat keromantisan pasangan muda itu. “Jadi ini rencananya. Tante Diandra, kau sangat hebat,” puji Vendy dalam hatinya.


Pukul 21.00


Akhirnya, acara makan malam atau lebih tepatnya acara memamerkan kemesraan Leny dan Rian telah usai.


Chenoa dan Vendy pun pamit pulang kepada Tante Diandra. Tidak lupa, keduanya berterima kasih atas sajian makanan yang telah di hidangkan oleh Tante Diandra. Mereka sangat puas dengan rasa makanan itu.


Vendy dan Chenoa keluar dari rumah Tante Diandra dan berjalan bersama menuju mobil Vendy.


####


Vendy menepikan mobilnya di depan rumah Chenoa. Ia mematikan mesin mobilnya lalu memandang wajah Chenoa.


Chenoa pun ikut memandang wajah Vendy. Keduanya tampak ragu-ragu untuk berbicara.


“Aku–” kata Vendy dan Chenoa serentak.


“Kau dulu yang bicara!” suruh Chenoa.


“Aku hanya ingin bertanya, kapan kau memberiku jawaban?” ucap Vendy.


Chenoa menarik napas dalam-dalam lalu menjawab pertanyaan Vendy, “Sekarang!”


Vendy terkejut mendengar ucapan Chenoa. “Apa yang kau takutkan Vendy? Bukankah ini yang kau tunggu?" batinnya.


Vendy menelan ludahnya, ia sangat gugup menanti jawaban dari Chenoa.


“Aku ... mau ... melanjutkan pendidikanku!” ucap Chenoa.


Vendy menunduk sedih. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar perkataan Chenoa. Ia berusaha meneguhkan hatinya, “Tidak apa-apa Vendy, kau masih bisa menunggunya,” batinnya.


Vendy menggenggam tangan Chenoa, “Dengan berat hati, aku menerima keputusanmu! Aku tahu melanjutkan pendidikan sangat penting bagimu. Maafkan aku, Chen! Maafkan kebodohanku ini!” ucapnya.


Vendy melepaskan genggaman tangannya, namun tiba-tiba, Chenoa kembali menggenggam tangan Vendy. Kemudian, salah satu tangannya menyentuh pipi pria itu.


“Aku akan melanjutkan pendidikanku setelah menikah denganmu,” ucap Chenoa lembut.


“Baiklah! Ak–” ucapan Vendy terpotong, “Apa tadi kau bilang? Coba ulangi sekali lagi!” teriak Vendy setelah menyadari arti dari perkataan Chenoa.


“AKU AKAN MELANJUTKAN PENDIDIKANKU SETELAH MENIKAH DENGANMU!” ucap Chenoa.


Vendy tersenyum semringah mendengar ucapan Chenoa. Ia langsung memeluk erat tubuh gadis itu. Chenoa pun membalas pelukan Vendy.


Beberapa saat kemudian, Vendy melepaskan pelukannya lalu menatap mata Chenoa, “Seandainya aku tidak berjanji, mungkin saat ini aku sudah menciummu,” ucap Vendy sambil menahan hasratnya.


Chenoa dengan cepat mengecup bibir Vendy, “Kau memang berjanji untuk tidak menciumku, tapi aku bisa menciummu,” ucap Chenoa. Ia bergegas membuka pintu mobil dan berlari masuk ke rumahnya.


Vendy tercengang mendapat ciuman singkat dari Chenoa. Ia menyentuh bibirnya, “Chenoa ... bagaimana aku tidak makin cinta padamu? Kau sangat menggemaskan dan selalu membuat jantungku berdebar kencang,” gumamnya.


Bersambung...


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.

__ADS_1


__ADS_2