
Pertemuan antara Chenoa dan Bu Siska memberikan bekas luka tersendiri di hati Chenoa.
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan mereka, rasa sedih di hati Chenoa tak sepenuhnya hilang. Untung saja ia disibukkan dengan segala rutinitas pendaftaran di Universitas Hansen.
Chenoa duduk melamun di kamarnya sambil memandangi layar ponselnya yang menyala.
Ibu pergi, Chen! Selamat tinggal! Ibu harap kau selalu bahagia.
Sudah beberapa hari ini Chenoa terus saja membaca pesan dari Bu Siska. Walau tidak ada sedikit pun keinginan untuk membalas pesan tersebut, Chenoa juga tidak berani untuk menghapusnya.
Chenoa beralih memandangi kalungnya.
“Ibu ... aku rindu padamu!” batinnya.
Hingga saat ini sebenarnya masih banyak hal yang mengganggu pikiran Chenoa.
Apa alasan Ibunya membuat kalung itu di toko Bu Siska?
Apakah hanya sekedar kebetulan atau di sengaja?
Kenapa Bu Siska bisa mengenali kalung itu? Apakah kalung itu ada hubungannya dengan Bu Siska?
Chenoa benar-benar pusing dengan deretan pertanyaan itu.
“Kalung ... ya, pasti Ayah tahu tentang kalung ini,” pikir Chenoa.
“Chen!” panggil Vendy dan ia pun berlari memeluk Chenoa.
Cup!
Tidak lupa kecupan manis mendarat di bibir lembut Chenoa.
“Aku merindukanmu!” ucap Vendy.
“Ayah di mana?”
“Masih di restoran. Masih ada beberapa urusan yang perlu dia selesaikan.”
“Lalu, kau meninggalkannya sendiri?”
“Dia yang menyuruhku pulang. Dia tidak ingin anaknya yang tercinta tinggal sendirian di rumah.”
Chenoa hanya bisa menggeleng menghadapi kelakuan Ayahnya dan juga Vendy.
Semenjak Ayah Chenoa dan juga Vendy sibuk menyiapkan pembukaan restoran baru, sering kali Chenoa harus tinggal sendiri di rumah.
Orang tua Vendy juga sudah kembali ke Singapura. Oleh karena itu, terkadang Ayah Chenoa ataupun Vendy bergiliran memeriksa keadaan Chenoa di rumah.
“Apa Ayah akan pulang malam ini?” tanya Chenoa.
“Tidak tahu. Mungkin Om akan bermalam di restoran,” jawab Vendy.
“Kau sudah makan?” tanya Chenoa lagi.
“Sudah.”
“Pergi mandi sana!”
“Lalu?”
“Lalu ... tidur. Pasti kau kelelahan.”
“Sebagai seorang istri kau tidak peka,” bisik Vendy. Vendy pun berjalan menuju kamar mandi.
Bisikan halus Vendy membuat Chenoa bergidik ngeri. Bisikan itu tentu saja mengisyaratkan sesuatu yang hanya di mengerti oleh pasangan suami istri.
Selesai mandi, Vendy keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Hanya ada sebuah handuk yang terlilit di tubuhnya.
Chenoa terpana melihat Vendy.
“Wow ... kau seksi sekali,” ucap Chenoa sambil mengacungkan jempolnya.
“Tunggu sampai aku mengeringkan rambutku!” ancam Vendy.
Chenoa tersenyum, ia berlari mendahului Vendy mengambil hair dryer.
“Chen! Berikan hair dryer itu!” pinta Vendy.
“Tidak mau!” tolak Chenoa.
“Kau mau bermain-main denganku, yah?” Vendy segera menghampiri Chenoa.
__ADS_1
Melihat Vendy menghampirinya dengan tatapan jengkel, Chenoa segera menyodorkan hair dryer yang ada di tangannya.
“Maafkan, aku! Mau kubantu?” ucap Chenoa.
Mau tidak mau rasa jengkel Vendy menghilang setelah mendengar tawaran Chenoa.
Vendy mendudukkan tubuhnya di kursi dan memanggil Chenoa.
“Sini! Katanya mau membantu,” panggil Vendy.
Chenoa menghampiri Vendy dan mulai membantu Vendy mengeringkan rambutnya.
Beberapa menit kemudian...
“Sudah!” ucap Chenoa kemudian meletakkan hair dryer-nya di atas meja rias.
Vendy menyeringai, ia berdiri dan mengangkat tubuh Chenoa menuju tempat tidur.
“Turunkan aku! Apa yang mau kau lakukan?” teriak Chenoa.
“Menurutmu?” tanya Vendy.
Chenoa terdiam. Ia paham maksud Vendy. Sudah saatnya ia kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ya, apalagi kalau bukan melayani suami tercinta.
####
Jam 12 malam, Ayah Chenoa kembali dari restoran. Ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
“Dasar, Vendy! Aku hanya menyuruhnya memeriksa Chenoa dan dia benar-benar tidak kembali lagi,” ujarnya.
“Ayah!”
“Chen? Kau belum tidur?” Ayah Chenoa kaget melihat anaknya berdiri di depan kamar.
“Aku mendengar ada yang berisik. Jadi aku terbangun.”
“Maafkan Ayah telah membangunkanmu! Kembalilah tidur!”
“Ayah ...” panggil Chenoa lagi. Ia tampak ragu.
“Kenapa? Ada yang mengusik pikiranmu? Ayo kita bicara di kamar Ayah!”
“Besok saja. Ayah tampak kelelahan.”
Chenoa berjalan mengikuti Ayahnya menuju kamar.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Ayah Chenoa seraya mendudukkan Chenoa di ranjang.
“Apa ayah tahu tentang kalung ini?” Chenoa menunjukkan kalungnya.
“Tentu saja, bentuk kalungmu sama dengan milik Ibumu.”
“Apa Bu Siska yang memberikan kalung itu pada Ibuku?”
“Apa maksudmu? Ayah yang merancang kalung itu lalu memberikannya pada Ibumu di hari pernikahan kami.”
“Lalu ... bagaimana Bu Siska bisa mengenali kalung ini? Di mana kalung Ibuku sekarang?”
“Tentu saja wanita iblis itu mengenali kalungmu karena dia pernah melihat kalung Ibumu sebelumnya. Kalau kalung Ibumu ada ....” Ayah Chenoa membuka nakas di samping tempat tidurnya.
“Ada di sini!” ucapnya.
Ayah Chenoa meletakkan kalung istrinya di telapak tangan Chenoa.
“Jadi selama ini Ayah menyimpannya?”
“Ayah selalu mencintai Ibumu. Jika Ayah merindukannya, Ayah hanya bisa menatap kalung itu sebagai pelampiasan.”
Chenoa memeluk Ayahnya, “Ayah ... terima kasih telah mencintai Ibuku dan menjadikanku sebagai anakmu.”
“Dasar gadis bodoh! Kau adalah bukti cinta kami. Terima kasih telah kembali kepada Ayah.”
Ayah Chenoa makin mempererat pelukannya.
“Chen! Kau ada di mana?”
Suara panggilan Vendy mengagetkan keduanya.
“Kembalilah ke kamarmu! Atau besok pagi Vendy akan menceramahiku.”
“Ha-Ha-Ha! Baiklah, aku akan kembali! Istirahatlah!”
__ADS_1
####
Keesokan harinya...
Revina datang berkunjung ke rumah Ayah Chenoa yang sekaligus menjadi rumah Chenoa saat ini.
Semenjak pernikahan Chenoa dan Vendy, Chenoa memutuskan untuk tinggal di rumah Ayahnya.
“Aku tidak menyangka kau meninggalkan rumah Ibumu dan pindah ke sini,” ucap Revina.
“Ini rumah Ayahku. Tentu saja aku akan tinggal bersamanya. Walaupun aku sudah bersuami tapi Ayah melarangku tinggal di tempat lain,” jelas Chenoa.
Mendengar ucapan Chenoa, Revina tertunduk sedih. Ia juga merindukan Ayahnya.
“Maafkan aku! Di saat aku bersama Ayahku, kau malah terpisah dengan Ayahmu.”
“Sudahlah, jangan dibahas lagi! Aku tidak ingin terlihat menyedihkan, Chen!”
“Baiklah! Oh iya, aku pernah bertemu Rafa di sebuah kafe. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau masih menyukainya?” tanya Chenoa penasaran.
“Ah ... dia sudah jadi masa lalu. Sekarang aku menyukai orang lain.”
“Benarkah? Siapa?”
“Kau mengenalnya, Chen.”
“Hemh ... Jean?!” teriak Chenoa.
“Amit-amit,” Revina bergidik ngeri.
“Jangan bilang ....”
Revina mengangguk cepat.
“Sabar, yah! Sepertinya kau harus berjuang dengan keras."
“Apa maksudmu? Ada apa dengan Joan?”
“Nanti kau akan tahu sendiri,” ucap Chenoa seraya menepuk pundak Revina.
Chenoa merasa iba dengan nasib percintaan Revina. Saat mengejar Rafa, perasaan cintanya selalu diabaikan. Sekarang, Revina malah mencintai pria tidak peka seperti Joan. Belum lagi Jean sangat membenci Revina.
Chenoa menghela napasnya, “Benar-benar rumit,” batin Chenoa.
“Chen! Apa yang kau pikirkan?” panggil Revina.
“Hah? Aku hanya berpikir, bagaimana kau akan memenangkan hati Joan?”
“Tunggu saja, aku pasti bisa mendapatkannya!”
Revina mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sebuah pesan.
“Aku akan mengajak Joan makan malam!” ucap Revina.
Drrrttt
Ponsel Revina bergetar.
“Lihat! Joan langsung meneleponku!” Dengan semangat Revina menunjukkan ponselnya pada Chenoa.
Chenoa tercengang, “Apa Joan juga menyukai Revina?” pikir Chenoa.
“Halo. Joan! Apa kau setuju dengan ajakanku?” tanya Revina dengan nada lembut.
“Jangan mengganggu Kakakku! Dia sedang sibuk! Kalau mau makan malam, makan malam sendiri sana di rumahmu!” teriak Jean di balik telepon.
Tut. Tut. Tut.
“Dasar, Pria kurang ajar!”
“Kalau bukan saudara Joan, sudah dari dulu kusingkirkan dia!” teriak Revina penuh emosi.
“Sabar! Sabar!” ucap Chenoa mulai menenangkan Revina.
“Chen ...” panggil Revina. Ia sudah memasang muka memelasnya.
“Bantu aku, yah. Please!"
Chenoa tertunduk lesu, “Sudah kuduga ini akan menjadi sangat-sangat rumit,” batin Chenoa.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.
Terima kasih.