Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 32


__ADS_3

Sudah 30 menit berlalu dan Chenoa belum juga kembali dari toilet. Merasa khawatir, Vendy pun segera menyusul Chenoa.


Kekhawatiran Vendy makin meningkat ketika ia mengetahui bahwa tidak ada siapa pun di dalam toilet itu.


“Chen, kau ada di mana? Jangan bercanda!” teriak Vendy.


Vendy segera berlari dan menghampiri keluarganya.


“Chenoa tidak ada di toilet.”


Apaaaaaa?!


Semua orang terkejut mendengar ucapan Vendy.


“Aku akan mencari Chenoa di kamarnya, kalian cari di tempat lain,” perintah Paman Sam.


“Aku akan pergi ke ruang keamanan dan memeriksa CCTV,” timpal Tante Diandra.


Semua orang akhirnya berpencar mencari Chenoa.


“Chen, tunggu aku! Aku akan segera menemukanmu!” batin Vendy.


Drrrrtt


Ponsel Vendy bergetar, dengan sigap ia segera memeriksa ponselnya.


“Sebuah pesan?” pikirnya.


Vendy membaca pesan itu...


Jika ingin tahu keberadaan istrimu, temui aku di kamar 504.


Tanpa basa-basi, Vendy bergegas menuju kamar 504.


Tok! Tok! Tok!


Tidak ada yang membuka pintu untuk Vendy. Vendy mencoba membuka pintu kamar itu dan...


Ceklek!


Pintu kamar itu benar-benar tidak terkunci. Ia sangat terkejut mendapati Chenoa sedang terbaring di ranjang.


“Chen! Bangun! Maafkan aku karena tidak mampu melindungimu!” teriaknya. Ia segera memeluk tubuh lemah Chenoa.


“Hoamm ... Vendy?!” seru Chenoa. Ia kaget saat menyadari dirinya sudah berada di pelukan Vendy.


“Apa yang sedang kau lakukan? Aku baru saja tidur dan kau sudah membangunkanku,” celoteh Chenoa.


“Hah? Tidur? Aku kira kau pingsan." Vendy benar-benar kebingungan mendengar ucapan Chenoa.


“Kenapa kau ada di kamar ini?” tanya Vendy.


“Hemh ... Jean dan Joan yang membawaku ke sini. Awalnya aku kira sedang diculik, ternyata mereka sedang mengerjaiku,” jelas Chenoa.


“Diculik? Jean dan Joan? Tunggu ....” Vendy menyadari sesuatu.


Vendy menatap ruangan itu. Ia langsung terpesona melihat ranjang yang telah dihias dengan bermacam-macam bunga. Ratusan atau bahkan ribuan kelopak Mawar Merah berserakan di lantai. Sangat indah dan tentu saja menambah suasana romantis di kamar itu. Bukan hanya itu, terdapat sebuah gambar love dengan berhiaskan bunga Mawar Merah tertempel di dinding kamar. Di tengah gambar love itu terdapat nama Vendy dan juga Chenoa. Benar-benar sangat mengesankan.


“Dekorasi ini, bukankah untuk kamar pengantin?” tanya Vendy.


“Apa?!” Chenoa terkejut.


“Kenapa kau terkejut? Seharusnya kau sudah tahu itu. Dari tadi kan, kau sudah berada di kamar ini.” Vendy hanya bisa menggeleng.


“Aku tidak memerhatikannya. Karena sudah kelelahan, aku segera mandi lalu tidur,” ungkap Chenoa.


Vendy mengetuk jidat Chenoa. “Dasar gadis bodoh!” ucapnya seraya tersenyum.


“Aku tidak bodoh! Aku hanya tidak menyadarinya.” Chenoa berusaha membela dirinya.


“Ha-Ha-Ha! Oke. Oke. Aku tidak ingin merusak moment malam pertama kita dengan bertengkar denganmu,” ucap Vendy sambil mengedipkan matanya.


Mendengar kata malam pertama, rasa gugup langsung menyerang Chenoa.


Vendy tersenyum melihat kegugupan Chenoa. Ia tidak ingin melewatkan moment berharga ini. Tentu saja ia langsung menggoda Chenoa.


“Hemh ... melihat dekorasi yang indah ini, selanjutnya apa yang harus kita lakukan, yah?” tanya Vendy dengan nada genitnya.


Chenoa terdiam mendengar pertanyaan Vendy. Ia sadar jika Vendy sedang menggodanya.


“A–ku tidak tahu. Aku mau tidur. Selamat malam!” ucap Chenoa. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Vendy tersenyum melihat tingkah Chenoa. Vendy ingin menarik selimut yang menutupi tubuh Chenoa, namun ia segera mengurungkan niatnya.


“Tahan, Vendy! Kau tidak boleh bersikap seperti binatang dengan memaksakan kehendakmu! Kau harus sabar!” batinnya.


Vendy berjalan meninggalkan Chenoa. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Vendy keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Ia mengeringkan rambutnya kemudian berbaring di samping Chenoa. Sedangkan Chenoa masih tetap membungkus dirinya dengan selimut.

__ADS_1


“Chen!” panggil Vendy.


Hening, tidak ada tanggapan dari Chenoa. Melihat itu, Vendy menyerah. Ia tidak ingin mengganggu istrinya.


“Selamat malam, istriku! Mimpi indah!” ucap Vendy.


Walaupun dipenuhi dengan hasrat yang membara, Vendy berusaha bersikap tenang. Meskipun Chenoa sudah menjadi istrinya, ia tidak ingin memaksa Chenoa untuk segera melakukan hubungan suami istri.


Vendy menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Vendy berbalik membelakangi Chenoa lalu memejamkan matanya.


Di balik selimut, Chenoa heran dengan suasana yang tiba-tiba menjadi tenang. Tidak ada suara ataupun pergerakan dari Vendy. Perlahan Chenoa membuka selimutnya. Ia terkejut melihat Vendy berbaring sambil membelakanginya.


“Apa dia marah?” pikir Chenoa.


Chenoa menggeser tubuhnya dan memeluk Vendy.


“Apa kau marah? Maafkan aku!” ucap Chenoa.


Mata Vendy membelalak. Ia melepas pelukan Chenoa dan berbalik menatap wajah wanita yang dicintainya itu.


“Aku tidak marah. Aku hanya berusaha menenangkan diriku. Kau tahu kan, betapa besar keinginanku untuk segera memilikimu seutuhnya. Tapi jika kau belum siap, aku akan sabar menunggu. Tidurlah!” ucap Vendy seraya mengelus kepala Chenoa.


Vendy kembali membelakangi Chenoa.


“Kenapa kau membelakangiku?” tanya Chenoa.


“Aku tidak bisa memejamkan mataku jika melihatmu. Tidurlah, Chen!” perintah Vendy.


“Aku tidak bisa, Vendy,” ucap Chenoa. Ia kembali memeluk Vendy kemudian menenggelamkan wajahnya dipunggung pria itu.


“Ayo, kita lakukan!” ucap Chenoa.


Darah Vendy berdesir mendengar ucapan Chenoa. Vendy berbalik dan menindih tubuh Chenoa.


“Kau tidak boleh menghentikanku!” ucap Vendy.


Vendy mulai menciumi kening, mata, hidung, pipi hingga pada bagian terlembut di wajah Chenoa. Dengan lembut ia menggerakkan bibirnya mencium bibir Chenoa. Chenoa juga tidak mau kalah, ia memeluk Vendy dan membalas ciuman pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Setelah puas bermain dengan bibir Chenoa, Vendy pun beralih mencium leher jenjang Chenoa. Bukan hanya itu, tangan Vendy juga sudah bergerak menanggalkan seluruh kain yang menutupi tubuh Chenoa.


Sebelum melanjutkan aksinya pada tahap yang lebih intens, Vendy mendekatkan bibirnya ke telinga Chenoa dan berbisik, “Aku mencintaimu!”


“Aku juga mencintaimu!” balas Chenoa.


Vendy dan Chenoa akhirnya bisa merasakan keindahan malam pertama mereka hingga pada tahap penyatuan.


Begitupun dengan Chenoa, ia juga bahagia karena telah melaksanakan salah satu tugasnya sebagai seorang istri.


Setelah bergelut dalam kenikmatan duniawi, akhirnya Vendy dan Chenoa tertidur sambil berpelukan.


####


Keesokan paginya...


Vendy membuka matanya, ia tersenyum menatap Chenoa yang masih terlelap.


Vendy mengecup kening Chenoa.


“Istirahatlah! Pasti kau sangat kelelahan,” ucapnya.


Dengan sangat hati-hati, Vendy meninggalkan ranjang menuju kamar mandi.


Chenoa membuka matanya. “Auh ....” Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan juga ada rasa perih pada bagian tertentu.


Vendy keluar dari kamar mandi dan menyapa Chenoa.


“Selamat pagi, istriku!” ucapnya.


Vendy menghampiri istrinya.


“Bisa bergerak?” tanya Vendy.


“Tidak! Ini semua gara-gara kau,” jawab Chenoa.


“Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku.” Vendy merasa bersalah.


Vendy mengangkat tubuh Chenoa dan membawanya ke kamar mandi.


“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, aku tidak memakai apapun!” teriak Chenoa.


“Tidak usah malu. Aku sudah melihat semuanya,” ucap Vendy.


Akhirnya, Chenoa hanya bisa pasrah menerima perlakuan Vendy.


Setelah memandikan Chenoa, Vendy memakaikan bathrobe pada tubuh Chenoa dan kembali mengangkat Chenoa ke ranjang.


“Bagaimana? Apa rasa sakit di tubuhmu sudah berkurang?” tanya Vendy.


“Masih terasa. Tapi aku bisa menahannya. Tidak apa-apa,” ucap Chenoa.

__ADS_1


Drrrttt


Ponsel Vendy bergetar.


“Selamat pagi, Ven!” sapa Jean di balik telepon.


“Untuk apa kau meneleponku?” tanya Vendy.


“Untuk memastikan kau sudah bangun atau belum. Bagaimana keadaan Kakak Ipar? Dia pasti kelelahan setelah bertempur semalaman. Ha-Ha-Ha!” ejek Jean di balik telepon.


“Berhenti bercanda atau aku tutup teleponnya!” ancam Vendy.


“Oke. Oke. Jangan marah. Aku dan Joan menunggu kalian di restoran. Cepat ke sini!” ucap Jean lalu mengakhiri teleponnya.


“Siapa?” tanya Chenoa.


“Jean, dia menunggu kita di restoran,” jawab Vendy.


“Baiklah. Ayo kita ke sana!”


“Kau sudah baikan?”


“Sudah, tenang saja.”


Vendy dan Chenoa segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang telah di sediakan oleh Jean dan Joan. Vendy dan Chenoa benar-benar takjub pada saudara kembar itu. Bukan hanya menyusun rencana gila tetapi juga mampu menyiapkan segala kebutuhan Vendy dan Chenoa. Termasuk pakaian ganti.


####


Vendy dan Chenoa berjalan menghampiri Jean dan Joan di restoran hotel.


“Kenapa cuma kalian berdua? Yang lain ke mana?” tanya Chenoa sembari duduk di kursi.


“Mereka semua ada di rumah Tante Diandra,” jawab Joan.


“Jean! Jawab dengan jujur! Kejadian tadi malam, apa Tante Diandra yang menyuruhmu melakukannya?” tanya Vendy.


“Tentu saja. Siapa lagi,” jawab Jean dengan cepat.


“Sudah kuduga,” timpal Vendy.


“Tapi rencana itu berhasil kan, kalian bisa melewati malam pertama kalian dengan penuh gairah,” tukas Jean.


Uhuk! Uhuk!


Chenoa terkejut mendengar ucapan Jean.


“Kenapa Kakak Ipar? Apa kau kurang sehat? Apa Vendy terlalu kasar padamu?” tanya Jean khawatir.


Vendy segera memukul Jean.


“Berhenti membahasnya!” perintah Vendy.


“Baiklah. Maafkan aku! Aku hanya tidak sabar menantikan kehadiran keponakan kecil di pangkuanku, itu saja.”


“Chenoa masih terlalu muda untuk mengandung. Ia juga harus melanjutkan pendidikannya,” sergah Vendy.


“Oh iya, Kakak Ipar. Kau mau kuliah di mana?” tanya Joan.


“Di Kampusmu,” jawab Chenoa.


“Ah, itu sih masalah gampang. Kakak Ipar tinggal masuk saja. Aku yang akan mengurus segalanya,” ucap Jean.


“Tidak usah! Aku tidak mau masuk ke Universitas Hansen karena koneksi. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya berjuang untuk masuk ke sana,” jelas Chenoa.


“Kau tidak usah ikut campur, Jean! Jika Kakak Ipar mau, dia sudah minta bantuan pada Tante Diandra. Lagi pula, ada Vendy di sampingnya. Pasti dia akan membantu Kakak Ipar,” sela Joan.


“Tentu saja. Aku pasti akan membantu istriku,” ucap Vendy dengan penuh keyakinan.


“Kalau tidak salah, pendaftaran sudah terbuka. Lalu, bagaimana dengan honeymoon kalian? Tante Diandra bahkan sudah mempersiapkan segalanya,” ujar Jean.


“Aku ingin menundanya. Nanti akan aku bicarakan dengan Tante Diandra. Tidak apa-apa kan, Ven?” tanya Chenoa.


“Tidak apa-apa. Aku juga akan sibuk menyiapkan rencana pembukaan restoran baru di sini.”


“Benarkah?” tanya Joan.


“Iya. Aku sudah meminta Ayahku untuk membuka cabang baru di sini. Dan tentu saja, aku yang akan mengelolanya,” jelas Vendy.


“Wah ... aku tidak sabar menantikannya,” kata Jean dengan penuh semangat.


“Sudahlah! Dari tadi kita cuma mengobrol saja. Ayo pesan makanan, aku sudah lapar!” sela Joan.


“Tenang saja. Ini kan, hotel keluarga Hansen, kita bebas makan apa saja di sini,” tukas Jean.


Bersambung...


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2