Sudah Berhenti

Sudah Berhenti
PART 26


__ADS_3

Sudah 2 bulan Chenoa menjalani harinya tanpa kehadiran Vendy di sampingnya. Kesepian, sedih, rindu adalah kata yang pas untuk menggambarkan perasaan Chenoa saat ini.


Dengan wajah muram, Chenoa menatap kalender kecil di meja belajarnya. Ia menatap lingkaran merah pada salah satu tanggal di kalender itu. Di bawah lingkaran itu terdapat tulisan kecil 'pengumuman kelulusan' yang hanya bisa dibaca dari jarak dekat.


Drrrttt


Besok pengumuman kelulusanmu, kan? Aku akan kembali. Tunggu aku!


Aku mencintaimu!


Mata Chenoa terbelalak membaca pesan itu. Seketika wajah muramnya berubah menjadi ceria.


Chenoa melompat ke tempat tidurnya. Menyetel jam weker, menarik selimut, lalu memeluk bantal gulingnya.


“Sampai jumpa besok, Vendy. Aku juga sangat sangat mencintaimu!” gumamnya.


Chenoa memejamkan matanya, berharap malam ini cepat berlalu dan berganti pagi yang cerah.


####


Keesokan harinya...


Semua teman-teman Chenoa sedang bergembira merayakan kelulusan mereka, sementara Chenoa malah asyik memandangi gerbang sekolah.


Revina yang dari tadi memerhatikan Chenoa, menghampiri gadis itu, “Chen, ayo bergabung dengan kami!” ajak Revina.


“Tidak, Ah. Aku sedang menunggu kedatangan Vendy,” tolak Chenoa.


Revina menarik tangan Chenoa, “Ayolah! Mari rayakan hari kelulusan ini! Anggap saja ini sebagai perpisahan pada masa lajangmu. Sebentar lagi kan, kau akan menikah,” bujuk Revina.


“Baiklah.” Chenoa mengalah. Ia pun ikut bergabung dengan teman-temannya.


Tidak lama kemudian, Pak Satpam menghampiri Chenoa.


“Apa kau yang bernama Chenoa?” tanya Pak Satpam.


“Iya. Ada apa, Pak?” Chenoa balik bertanya.


“Ada seorang wanita yang ingin bertemu denganmu,” jawab Pak Satpam.


“Wanita? Siapa, yah?” pikir Chenoa.


Chenoa berjalan menuju pintu gerbang untuk menemui wanita tersebut.


Saat tiba di sana, Chenoa melihat seorang wanita muda sedang tersenyum ke arahnya.


“Kau Chenoa, kan?” tanya wanita itu saat Chenoa sudah berada di hadapannya.


“Iya. Kau siapa, yah?” Chenoa penasaran.


“Perkenalkan, namaku Rara. Bisa kita bicara di tempat lain?” tanya Rara.


“Boleh.” Tanpa berpikir panjang, Chenoa langsung setuju dengan ajakan Rara.


“Masuklah ke dalam mobil!” perintah Rara.


Keduanya pun masuk ke mobil dan segera meninggalkan area sekolah.


####


Saat ini Chenoa dan Rara berada di sebuah kafe yang lumayan dekat dengan sekolah Chenoa.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Chenoa.


“Apa kau kenal Vendy Carnavaro?” Rara balik bertanya.


“Tentu saja kenal. Dia kan, pacarku,” batin Chenoa.


“ Iya, kenal,” jawab Chenoa.

__ADS_1


“Apa benar kalian pacaran?”


“Benar. Kenapa kau menanyakan itu? Apa sebenarnya tujuanmu?” Chenoa mulai curiga.


Rara menggenggam tangan Chenoa, “Aku mohon padamu! Tolong, lepaskan Vendy!” pinta Rara.


Chenoa benar-benar bingung dengan permintaan Rara, “ Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”


Rara membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah foto. Ia menunjukkan foto tersebut kepada Chenoa.


Mata Chenoa terbelalak saat melihat ada gambar Vendy dan Rara memakai gaun pengantin dalam foto itu.


Brakkk!


Chenoa memukul meja dengan keras.


“Apa maksudnya ini?” tanya Chenoa dengan nada marah.


“Sebenarnya, aku dan Vendy sudah menikah. Pernikahan kami diadakan satu bulan yang lalu. Pernikahan kami terjadi atas permintaan kedua orang tua Vendy. Walaupun dia tidak mencintaiku, tapi aku percaya, lambat laun dia akan membuka hatinya untukku. Oleh karena itu, aku mohon lepaskan dia!” pinta Rara dengan penuh derai air mata.


“Tidak! Aku tidak percaya padamu! Vendy tidak mungkin menghianatiku. Aku akan bicara sendiri dengannya,” ucap Chenoa mantap. Ia berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari kafe.


Chenoa berlari menjauhi kafe lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Vendy.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.


Chenoa tidak putus asa, ia mencari nomor Paman Sam di kontaknya dan segera menghubunginya.


“Halo. Chenoa, ada apa?” tanya Paman Sam.


“Apa benar Vendy sudah menikah dengan Rara?” tanya Chenoa to the point.


“Dari mana kau tahu? Apa Vendy sudah mengatakannya padamu?”


Kalimat terakhir Paman Sam seakan berubah menjadi pisau tajam yang menusuk hati Chenoa. Ponsel Chenoa terjatuh. Cairan bening sudah membasahi kedua pipinya. Ia berjongkok sambil memegangi dadanya yang sesak. “Aaahhh ... sakit! Sakit sekali!” rintihnya.


Tiba-tiba suasana menjadi mendung dan hujan pun turun membasahi tubuh Chenoa. Tangisnya semakin keras. Ia tidak peduli jika ada orang yang melihat ataupun mengejeknya.


“Ada apa denganmu?” tanya salah seorang wanita sambil memayungi tubuh Chenoa.


Chenoa mendongak memandangi wanita itu, “Aku tidak apa-apa,” jawab Chenoa.


Chenoa berusaha berdiri namun tiba-tiba ia terjatuh kembali.


“Sini, aku bantu!” Wanita itu mengulurkan tangannya dan membantu Chenoa berdiri.


“Terima kasih,” ucap Chenoa, kemudian berjalan meninggalkan wanita itu.


####


Di tengah hujan deras, kini Chenoa sedang berdiri di depan rumah Paman Sam. Walaupun ia tahu jika Vendy tidak ada di dalam rumah itu, tapi ia berharap Vendy segera datang menemuinya, “Aku akan menunggumu! Kau sudah berjanji akan menemuiku di hari kelulusanku. Aku butuh penjelasan darimu Vendy!” teriak Chenoa.


Chenoa berjongkok di depan rumah Paman Sam untuk menunggu kedatangan Vendy.


Detik berganti menit, menit berlalu berganti jam. Akhirnya Chenoa menyerah, dengan tubuh yang menggigil kedinginan, ia berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Paman Sam.


Chenoa berjalan tak tentu arah, saat ini pikirannya benar-benar kacau. Ucapan Rara dan Paman Sam bahkan kembali terngiang di telinganya. Seketika dada Chenoa kembali sesak. “Ibu ... apa yang harus aku lakukan?”


Tiba-tiba, Chenoa teringat seseorang. Ia segera mencari taksi lalu pergi ke rumah orang tersebut.


Beberapa menit kemudian...


Chenoa telah sampai di tempat tujuan. Ia memencet bel kemudian menunggu si pemilik rumah membuka pintu rumahnya.


Tiba-tiba, kepala Chenoa menjadi pusing, penglihatannya mulai kabur dan...


Bugghh


Tubuh Chenoa terjatuh, “Tante Diandra ...” gumamnya, dan ia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Chenoa membuka matanya, ia menatap Tante Diandra yang sedang duduk memegangi tangannya.


“Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?” tanya Tante Diandra khawatir.


“Aku baik-baik saja sekarang,” jawab Chenoa.


“Dasar gadis bodoh! Kenapa kau bisa kehujanan? Lihat, sekarang kau jadi sakit begini.”


Chenoa tersenyum mendengar ucapan Tante Diandra.


“Kenapa kau tersenyum? Tante bahkan hampir jantungan melihat kau tergeletak di depan pintu.”


“Tenangkan dirimu Nyonya! Lebih baik saya memeriksa keadaannya dulu,” ucap seorang dokter yang dari tadi berdiri di samping Tante Diandra.


Tante Diandra berdiri dan mempersilakan kepada dokter untuk memeriksa Chenoa.


“Dia sudah baik-baik saja sekarang. Demamnya juga sudah turun. Hanya perlu beristirahat saja,” ucap dokter itu.


“Baik, Dok!”


“Kalau begitu, saya permisi.”


“Terima kasih, Dok!” ucap tante Diandra dan Chenoa bersamaan.


Dokter itu pun pergi meninggalkan Chenoa dan Tante Diandra.


“Baiklah! Tante juga akan pergi. Beristirahatlah!” ucap Tante Diandra sembari mengelus kepala Chenoa.


Belum sempat Tante Diandra melangkahkan kakinya, Chenoa menarik tangan Tante Diandra.


“Aku perlu bantuanmu, Tante!”


“Apa? Katakan! Tante pasti akan membantumu.”


“Bisakah Tante membantuku pergi dari negara ini? Aku benar-benar ingin melupakan segalanya. Semua kenangan tentang Vendy, aku ... aku ingin menghapusnya,” pinta Chenoa. Air matanya kembali menetes.


“Apa yang telah terjadi dengan gadis ini? Kenapa dia begitu frustasi?” batin Tante Diandra.


Tante Diandra memeluk Chenoa. Ia berusaha menenangkan Chenoa dengan menepuk-nepuk punggungnya.


“Apa yang telah terjadi?” tanya Tante Diandra sambil melepaskan pelukannya.


Ia menghapus air mata di kedua pipi Chenoa kemudian mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


Chenoa memejamkan matanya, merasakan kehangatan di setiap sentuhan Tante Diandra.


Saat mulai merasa tenang, Chenoa membuka matanya. Ia menggenggam tangan Tante Diandra lalu menceritakan semua kejadian yang telah ia alami hari ini.


Tante Diandra menghela napasnya, “Aku akan membantumu. Kau tenang saja. Serahkan semuanya pada Tante,” ucap Tante Diandra.


“Satu lagi, jangan katakan kepada siapa pun kalau sekarang aku ada di rumah Tante,” pinta Chenoa.


“Baiklah! Tante berjanji tidak akan bilang kepada siapa pun. Sekarang, lebih baik kau istirahat dulu. Tante akan mulai mengurus semua yang kau butuhkan,” kata Tante Diandra.


“Terima kasih, Tante! Suatu hari nanti aku akan membalas segala kebaikan Tante.”


“Sudahlah. Jangan dipikirkan! Lihat! Gara- gara kau, Tante sampai menangis.”


“Maaf, Tante!” Chenoa merasa bersalah.


“Tidak apa-apa. Istirahatlah!”


Tante Diandra pun keluar dari kamar dan membiarkan Chenoa beristirahat.


“HP-ku ada di mana?” pikir Chenoa. Ia melihat bajunya sudah diganti dan tasnya pun tidak ada di kamar itu.


“Ah, baguslah kalau hilang! Aku tidak perlu repot-repot mengganti nomorku,” katanya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, rate, vote dan jadikan favorit untuk mendukung author.


Terima kasih


__ADS_2