SULIVAN

SULIVAN
Wajah


__ADS_3

Tera mencomot keripik kentang yang sengaja dibawa untuk menemani misi mengintainya kali ini.


Dirapatkan jaketnya erat-erat mencegah angin malam memasuki sela-sela tubuhnya.


Ia lupa jika angin akan berhembus semakin kencang di tempat yang lebih tinggi, sementara ia memakai jaket kulit tanpa resleting.


Alhasil kedua tangannya sibuk bergantian merapatkan jaket dan memegang teropong; menunaikan tugasnya mengawasi markas musuh dari lantai dua sebuah toko mainan.


Tera sedikit iri menatap sang musuh yang duduk nyaman melingkari meja dengan uap kopi yang mengepul bersama aroma micin semerbak milik pop mie.


Sedangkan ia berdiri bersandarkan pagar besi yang dinginnya mampu menusuk kulit, dengan seplastik keripik kentang dan sebotol kecil sprite digantung di celah pagar dengan bantuan kresek hitam.


Tugasnya tergolong paling mudah dibanding teman lainnya yang berjaga di dekat markas.


Rio bersembunyi di depan gerbang, bertugas mengalihkan perhatian dan memancing mereka meninggalkan markas.


Sementara Doki berjaga di balik pepohonan, bertugas menunggu sinyal aman darinya untuk mengambil barang penting apapun yang ditinggalkan di markas.


Meski awalnya protes keras dengan posisinya yang hanya berdiam diri mengawasi, Tera akhirnya kalah telak mendengar alasan logis teman-temannya.


Perutnya masih belum sembuh dari serbuan mereka dua minggu lalu, sedangkan ketiga temannya masih sehat walafiat.


Rio terlihat paling marah dengan kejadian itu; sampai mengusulkan rencana ini untuk mengancam mereka.


Rencana mencuri beberapa barang berharga mereka; ponsel atau dompet, untuk mencegah mereka menggerebek tanpa rencana lagi.


Mata untuk mata, gigi untuk gigi, itu judul yang diusulkan Tera untuk rencana kali ini yang mendapat cacian Rio dan ditertawakan Zalva.


Ngomong-ngomong soal Zalva, kenapa jam segini ia belum juga muncul?


Apakah pimpinan mereka itu sedang kesulitan menyelesaikan beberapa soal demi ijin keluar?


“Lama banget si Zalva.”


Badan Tera berjingkat kaget mendengar suara manusia lain, hampir mengumpat keras kalau saja orang yang berdiri di sebelahnya bukan Doki.


“Apa-apaan teropong itu? Dikira jaman megalitikum kali..”


Doki menunjukkan layar ponselnya pada Tera yang masih belum sadar dari kekagetannya.


“Lihat, bisa zoom sampai ke pori-pori. Hape kentang mana bisa!”


Tepukan keras pada lengannya membuat Doki mengaduh pelan mengelus kulit yang terasa panas.


“Hape bagus selalu lose streak buat apa!”


Notifikasi pesan dari Rio muncul dari ponsel yang diperdebatkan, mengakhiri adu mulut yang hampir melibatkan fisik diantara mereka.


Zalva gimana?


Doki mengetik balasan ketika Tera menyandarkan berat badannya pada pagar dan mengerucutkan bibir.


"Masa aku cuma diam melihat pas kalian bertarung dan lari-larian? Aku juga ingin ikut lari, lah.."


Doki mengabaikan kegiatan pundung Tera yang tidak bermanfaat itu.


"Ya bilang sendiri sama Zalva."


Tera kembali mengerucutkan bibirnya, mengetahui kalau usulannya sudah pasti ditolak Zalva.


"Hapeku mana?"


Doki menghentikan kegiatan senam jempolnya sebentar.


"Lupa," ujarnya lalu kembali mengetik.


"Masih di bawah?"


"Iya."


Tera hampir memukulkan botol sprite ke pagar kalau saja ia tidak sedang mengintai yang mengharuskannya bergerak tanpa suara apapun.


Jadi ia hanya mengayunkan botolnya kencang di udara kosong.


"Masih... di bawah, kan?"


Tera menatap keriuhan Doki menelusuri setiap kantong yang ada di tubuhnya.


"Apanya?"


"Hapemu!"


Tera menautkan alis, menerka maksud tersembunyi yang terkandung dalam percakapan mereka.


Seingatnya kata-kata itu tidak masuk dalam kesepakatan kode mereka.


"Coba baca," ucap Doki panik.


Tera menatap layar ponsel Doki berisi pesan percakapannya dengan Rio.


Percakapan berisi kerandoman mereka yang berubah membingungkan di akhir pesan.


"Jadi maksudnya... aku ngirim pesan ke Rio.."


Doki mengangguk.


"....barusan?"


Doki mengangguk lagi dengan tempo yang lebih cepat.

__ADS_1


Tiga detik kemudian mereka saling bertatapan sambil menahan napas.


Hening yang menegangkan sebelum badan Tera terjengkang karena didorong cepat oleh Doki.


Tongkat baseball yang hampir saja mengenai kepala Tera berbalik menghantam pagar besi.


Pertemuan kedua benda keras itu menimbulkan keributan menggelegar di kesepian malam.


Tera mengambil ponsel Doki yang dilemparkan padanya dan bersiap menuruni tangga.


Meninggalkan Doki yang tengah menendang dada lawannya, mencoba menumbangkannya lalu kabur mengikuti Tera.


Sayangnya lawan yang tertendang bangkit dengan cepat dan mengayunkan tangannya pada Doki yang hendak berlari kencang.


Jarak sempit diantara mereka memungkinkan tinju itu mendarat ke leher Doki sebelum sempat menghindar.


Tera mengantisipasinya dengan melempar kencang botol sprite yang digenggamnya.


Botol hijau kecil itu melesat gesit, mendarat tepat di jidat lawan mereka, membuat badannya tumbang ke samping.


Mengenai pagar besi yang bergetar hebat dengan suara keras.


Lalu dilumpuhkan Doki dengan menendang keras ulu hatinya.


Tera menahan jeritannya dengan meninju kepalan tangannya ke atas, bersorak atas kesuksesannya.


Ia hampir melompat kegirangan kalau saja tangan Doki tidak menyeret paksa lengannya, membuatnya berbalik dan membuntuti Doki kabur menuruni tangga.


Mereka berlari melewati markas yang sudah kosong melompong tanpa barang berharga yang bisa dibawa.


Doki mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan pada Zalva dengan napas tersengal.


Tera menarik napas panjang sambil berjalan pelan menuju gerbang depan.


Rio adalah prioritas utama mereka saat ini.


Doki mengikuti langkah Tera yang mulai dipercepat, seringan mungkin untuk meminimalisir suara gesekan yang timbul antara tanah yang tidak rata dengan sepatunya.


Tera berhenti di balik pagar kayu terakhir yang melindungi keberadaan mereka.


Nampaklah Rio yang terpojok, bersandar di tembok memegang kayu balok, dikelilingi tiga orang geng Oreo sang target mereka.


Nampaknya mereka sedang berbicara satu sama lain.


Tera memperhatikan pembicaraan mereka sembari mengetukkan jarinya pada Doki yang juga fokus mengawasi.


Fokusnya terganggu akan ketukan Tera pada lengannya yang makin kencang, mengisyaratkan ia harus maju menyerang.


Doki sedikit menyesalkan keputusan Zalva untuk membiarkan anak kurang ajar ini bersantai dalam rencana mereka.


Ia lalu menyerahkan ponselnya pada Tera dan berlari kencang menerjang kawanan lawan.


Tera tersenyum senang mengetahui keinginannya untuk ikut bertarung sebentar lagi terwujud.


Dimiringkan kepalanya ke kanan menghindari tinju lawan, kemudian ditariknya kencang kepalan tangan yang hampir menimpa pipinya itu ke bawah.


Membuat sang lawan kehilangan keseimbangan dan oleng ke depan.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Tera untuk menendang perut lawan dengan lututnya.


Cukup kencang sampai sang lawan mengaduh keras.


Tera lalu bersiap memasang kuda-kuda untuk menendang melihat lawannya berdiri.


Hampir saja tubuhnya tumbang kalau sedikit saja ia terlambat melompat menghindari tendangan lawan dari arah bawah.


Karena melompat tiba-tiba, tubuhnya mendarat tidak sempurna, membuatnya hampir terjengkang ke belakang.


Tinju sang lawan dari samping sudah diperkirakan tak sempat ditepis.


Tera hanya bisa pasrah dan berharap luka jahitan di perutnya tak terbuka.


Perawatannya sungguh merepotkan karena harus telaten mengganti perban dan bolak-balik rumah sakit untuk mengecek perkembangannya.


Untungnya kemungkinan itu tidak terjadi karena sang lawan terbanting ke kanan oleh tendangan kuat dari sepatu merah yang tidak asing.


"Zalva!"


Zalva memastikan lawannya tak bisa lagi berkutik lalu menarik Tera.


"Sudah kubilang tugasmu hanya mengawasi! Kenapa kamu ikut-"


Teriakan kesakitan Rio dari kejauhan membuat Zalva berbalik, berlari menuju kedua rekannya yang lain.


Meninggalkan Tera yang berdiri mematung, kaget dengan bentakan tak biasa dari mulut Zalva.


Zalva nampak amat marah dengan mata merah dan nada melengkingnya.


Apalagi dengan suara-suara khas pertarungan yang semakin intens kala Zalva bergabung.


Suara pukulan badan yang makin kuat dan lenguhan kesakitan saling beradu menambahkan soundtrack adegan aksi yang ditonton Tera secara langsung dari kejauhan.


Melihat Zalva benar-benar bertarung adalah impiannya; yang saat ini telah terwujud.


Selama ini ia hanya menyaksikan dan mendengar Zalva hanya bertarung sekenanya, meskipun gerakannya sangat gesit dan lincah, tak bisa terbaca perkiraan pola serangannya.


Rio yang mantan pegulat pun mengakui tak berani satu lawan satu dengan Zalva.


Bahkan rumor tentang Zalva yang mengalahkan lawan dalam pertandingan lima banding satu dipercayai mentah-mentah olehnya.

__ADS_1


Itulah mengapa mereka bertiga sepakat mengangkat Zalva sebagai pemimpin; meski akhirnya disesali Tera karena mereka tak pernah bertarung sungguhan.


Model pertarungan Zalva umumnya masuk dalam kategori menghindar; tidak akan melawan jika musuh tak menyerang.


Sebisa mungkin ia menghindari cekcok dan menyelesaikannya tanpa berkelahi.


Namun geng musuh bebuyutan mereka, oreo, adalah sekumpulan anak beringas yang hobi bertarung tanpa alasan jelas.


Membuat frekwensi berkelahi mereka beberapa bulan belakangan ini meningkat.


Tera senang-senang saja mendapat kesempatan memamerkan tinju bermanuver kebanggaaannya yang mendapat dua jempol saat diperlihatkan pada Zalva.


Meski berbuntut perut sobek dan terjahit karenanya.


Namun Zalvalah yang paling tidak suka dengan perubahan ini. Sebisa mungkin ia menghindari berurusan dengan siapapun di kalangan Oreo.


Melihat Zalva yang pasif, pemimpin Oreo nampaknya makin agresif dan merasa egonya tercoreng.


Seperti perkataan sang pemimpin biadab itu kala ia disergap tiba-tiba ketika keluar dari supermarket sepulang sekolah sekitar tiga minggu lalu.


Mereka mengumandangkan orasinya dengan penuh jumawa sambil memojokkannya dengan pertarungan yang tidak adil; empat orang bersenjata melawan dirinya seorang yang hanya membawa sekantong jajan.


"Hubungi pemimpin sombongmu itu! Mari kita lihat apakah dia akan datang menolong tikus kecil sekarat ini!"


Tera masih mengingat betapa kacaunya suasana saat itu.


"Kalian harus diberi pelajaran karena berani mengabaikan tantangan perkelahian kami!"


Saat itu, Tera sudah pasrah dengan tubuhnya yang lemas, mencoba menyimpan energi untuk kabur.


"Oh, kalau badanmu cacat, apakah bocah sialan itu tertarik mendatangi duel kita?"


Tawa keras biadab mereka membuat Tera menyetujui prinsip Zalva yang sempat diragukannya; pantang mengusik sebelum diusik.


Karena dari tatapan menghina mereka, ia tahu persis mereka adalah sekumpulan orang gila.


Plang!


Tera berjingkat kaget menatap pemukul baseball mengayun keras menimpa pipi Zalva.


Mulutnya terbuka lebar menatap darah segar mengalir dari mulut Zalva.


Rio dan Doki menghentikan aksi mereka; mematung menatap wajah sang pimpinan terluka.


Pimpinan Oreo yang tidak waras itu tertawa kencang, menertawai darah segar yang diusap kasar oleh tangan penuh debu pemiliknya.


Membuat Tera, Rio, dan Doki saling bersitatap, melalui jeda sementara pertandingan malam itu dengan napas tercekat.


Zalva kemudian menyeriangi, merebut tongkat pemukul itu dengan cepat dan meluluhlantakkan tiga lawan mereka dengan beringas.


Doki dan Rio hanya bisa mundur, menyerahkan semuanya pada sang ketua dengan kebingungan.


Ada apa dengan Zalva hari ini?


Setelah membuat ketiga lawannya tak lagi sanggup berkutik, Zalva melempar tongkat itu ke tanah sampai memantul jauh.


"Bubar kalian! Jangan ganggu kami lagi!"


Momen pasca pertarungan berlangsung begitu cepat hingga mereka berempat sudah duduk di motor masing-masing.


Tak ada yang angkat suara perihal kelakukan Zalva yang nampak tak biasa malam ini.


Tera dan Rio kemudian pamit, menuruti Zalva yang menyuruh mereka segera pulang untuk mengobati luka mereka masing-masing.


Doki mengencangkan helmnya sembari menatap Zalva yang sedang menenggak sebotol air.


"Kau... baik?"


Ia meringis menatap panorama asing di wajah Zalva; pipi yang lebam separuh.


"Ya."


Doki tahu persis Zalva konsisten menjaga keutuhan wajahnya.


Meski tangan dan badannya penuh lebam, ia selalu punya cara khusus menghindari lawan yang menargetkan wajahnya.


Semua itu dilakukan karena Zalva menjaga reputasinya di sekolah; menjaga wajah anak baiknya.


Sekecil apapun luka yang nampak di area yang sulit ditutup; terutama wajah, mengakibatkan Zalva diomeli sang ibu dan membuatnya terkunci di kamar seminggu setelahnya dengan berbagai soal latihan pemeras otak.


Hembusan kasar napas Zalva semakin menguatkan kecurigaannya.


"Kompres air hangat bisa mengurangi bengkaknya, cobalah."


Zalva tersenyum, sedikit meringis karena terasa perih.


Membuat Doki yang berprinsip anda tersenyum kami curiga semakin memikirkan berbagai spekulasi buruk.


Tangannya gatal hendak mengetik spekulasi ini lalu mengirimkannya pada Rio dan Tera.


"Oke."


Doki menerka-nerka pikiran apa yang tengah berputar di otak sang ketua sambil menatapnya memakai helm dengan lenguhan kesakitan.


"Langsung pulang?"


Zalva menghidupkan mesin motor, membenahi kemiringan spion, lalu menjawab Doki lewat kaca spion.


"Entah. Rumahku mungkin sudah hilang."

__ADS_1


Zalva melesat memacu motornya, meninggalkan Doki yang tertegun.


__ADS_2