SULIVAN

SULIVAN
Danau


__ADS_3

Zalva melangkah keluar dari bus dengan perasaan menyesal.


Bus yang ia kira rutenya melewati gang depan rumah ternyata malah melaju lurus, sedangkan rute yang ia tuju berbelok ke arah kanan.


Ia menyesal karena memutuskan tidak turun di pertigaan krusial itu.


Sebab ia yakin bus ini akan berbelok kanan dilihat dari penumpang yang cukup penuh, sampai ia harus berdiri bergelantungan menghadap ke belakang.


Ia sempat berpikir ingin turun saat melihat penjual ikan asin mengacungkan tangan untuk turun di sana.


Tapi jika ia turun, kakinya akan berjalan kurang lebih lima ratus langkah lebih banyak dibandingkan jika ia turun di depan gang.


Kepadatan yang membuatnya sulit bergerak juga membuatnya malas untuk turun.


Toh ia yakin bus ini akan berbelok ke kanan.


Namun bus ini malah berjalan terus tanpa berbelok.


Zalva menatap sang penjual ikan asin yang mulai menjauh.


Lalu pelan-pelan ia melipir ke pintu belakang dan berhenti tepat di depan hutan kota.


Jadilah ia harus berjalan lebih dari seribu langkah menuju ke rumahnya.


Zalva melangkah sambil mengamati kebisingan jalan.


Di jam-jam hampir rush hour ini, jalanan telah penuh dengan kendaraan pribadi yang saling balap membalap hendak cepat-cepat pulang.


Kepadatan itu membawa kembali pikiran yang tadinya telah terhapus oleh aroma kuat yang saling bercampur di dalam bus.


Pikiran tentang pengunduran dirinya dari sulivan.


Dan mungkin juga, pembubarannya.


Zalva menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke langit lepas.


Ia lalu menatap baliho besar berisi iklan asuransi yang berdiri megah di pembatas jalan raya.


Iklan itu berlatar belakang putih polos, menampilkan tulisan font besar hitam dan logo merah di pojok kiri atas.


Kalau hampir menyerah, ingatlah sulitnya pijakan pertama.


Tulisan yang mengingatkannya di masa pertama kali ia bertemu dengan Tera.


Kala itu ia dan Doki, tetangga sekaligus teman sekelasnya, mencoba melewati jalan pintas yang mereka temukan kemarin sore sepulang les karate.


Tujuan utama mereka adalah mengunjungi toko penyewaan komik yang berada di pojok jalan pintas tersebut.


Doki bahkan telah bersiap membawa lebih banyak uang dengan hanya membeli dua potong mendoan ketika istirahat tadi.


Mereka sengaja bolos karate hari ini untuk mengunjunginya; khawatir kalau kalau toko itu telah tutup.


Ketika telah sampai di depannya, ternyata toko itu tidak hanya tutup, melainkan tidak lagi beroperasi.


Terlihat dari pengumuman yang terpampang di kertas kecil yang tertempel di dekat pintu masuk.


Mereka lalu meneruskan perjalanan mereka dengan kecewa; tengah berpikir hendak keluar main atau pulang ke rumah.


Kalau main lagi, mereka harus pergi jauh-jauh agar tidak bertemu ayah Doki yang bekerja sebagai sopir bus.


Kalau pulang ke rumah, mereka akan kelimpungan mencari alasan yang tepat untuk menutupi acara bolosnya.


Berjalanlah mereka mengikuti jalan setapak yang sepuluh meter lagi tembus ke arah jalan raya.


Hari itu gang kecil kumuh tersebut tidak sesunyi ketika pertama kali dilewati.


Ada suara keramaian anak-anak yang mengudara di sekitar mereka.


Ternyata, kericuhan itu berasal dari pintu keluar bangunan besar usang di depan mereka, dari murid berseragam batik sekolah sebelah yang nampak sedang bergurau.


Ketika dirinya dan Doki lewat, mereka semua mendadak diam, menatap langkahnya yang melambat.


Zalva sadar mereka tidak sedang bergurau dari tatapan tajam yang seakan-akan ingin menguliti mereka berdua.

__ADS_1


Gurauan berwujud perundungan dengan terduga korban terduduk ketakutan di belakang mereka, memeluk tasnya erat-erat.


Terjadilah percakapan satu arah yang menantang dirinya untuk menelpon polisi.


Yang tidak ditanggapi olehnya dan membuat sang pemimpin marah.


Satu menit kemudian, Doki malah berlari kabur meninggalkannya yang hendak diserang.


Zalva yang telah terpojok tak dapat pergi mengikuti Doki kabur.


Terpaksa ia mengeratkan kepalan tangannya dan memasang kuda-kuda.


Meski awalnya takut, ternyata lima orang itu tidak bisa bertanding.


Mereka hanya bisa menendang dan memukul kencang tanpa memperhatikan arah dan ketepatan serangan.


Jadilah kelima orang itu tumbang lima menit berikutnya, hasil dari menghindari pukulan mereka.


Tera yang saat itu masih menutup matanya rapat-rapat, ditariknya pergi setelah kelima perundungnya kabur ketakutan.


Sejak saat itu, Tera selalu mengikuti dia dan Doki pergi main kemanapun sepulang sekolah.


Tera juga yang mengusulkan nama SULIVAN untuk menamai grup whatsapp mereka setelah ketambahan seorang personil lagi, yaitu Rio, sang teman sekelas Tera.


Kebetulan mereka punya hobi yang sama; sama-sama suka melakukan sunmori, menjelajahi jalan terjauh di sekitar kota yang bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.


Mereka hanyalah anak motor biasa yang kebetulan jago bela diri.


Ia dan Doki dari les karate, Rio entah dari mana, dan Tera yang diajari oleh mereka bertiga.


Mereka lalu mengikuti berbagai pertandingan kecil-kecilan antar geng sepulang sekolah mereka.


Dari membantu pertarungan sekolah sebelah, sampai bertarung satu lawan satu dengan geng lain.


Dengan kemampuan mereka, nama sulivan melejit di kalangan para petarung.


Sampai terbitlah musuh bebuyutan dari geng kabupaten sebelah yang terkenal kejam dan bengis, Oreo.


Tentu saja mereka melakukannya untuk bersenang-senang.


Setidaknya itu adalah alasan mereka bertiga; tidak dengan Zalva yang selalu berjajar di tiga besar paralel sekolah sejak SMP.


Doki sering bercanda bahwa ia menyia-nyiakan aura anak pintarnya dengan bergabung bersama mereka.


Yang tentu saja tak pernah ditanggapi dengan serius oleh Zalva.


Karena alasan sebenarnya Zalva melakukan hal itu adalah masa-masa bermain mereka adalah masa paling menyenangkan di hidupnya.


Masa-masa yang membuatnya merasa hidup; merasa menjadi bagian dari dunia yang terus berputar.


Masa-masa di mana ia tak harus berkelakuan baik di sekolahnya.


Masa-masa di mana ia tak harus menjadi anak pendiam dan penurut di rumah.


Namun masa-masa menyenangkan itu sekarang harus dilepaskan demi kebaikan teman-temannya.


Mungkin sudah saatnya ia memasuki dunia orang dewasa, di mana kesenangan tidak lebih penting daripada bertahan hidup.


Zalva memutuskan membelokkan langkahnya ke supermarket, hendak membeli pop mie kari ayam dan sekaleng nescafe vanila.


Entah mengapa riak waduk di depan supermarket itu menarik raganya untuk mendekat dan menarik jiwanya untuk merenung memandanginya.


Setelah menuangkan air panas ke wadah pop mie, Zalva membuka pintu berpegas dengan sikutnya, lalu terkejut dengan sosok familiar yang tengah berdiri diam menatap kilauan waduk.


"Sena?"


Rambut Sena yang menari terkena angin bersamaan dengan mata yang berpaling menatapnya, terputar dalam adegan lambat di otak Zalva.


Adegan singkat itu membuatnya takjub, mengakar di pusat penyimpanan data di otaknya.


"Hai."


Sena menyapa singkat dengan melengkungkan bibirnya, kemudian berlalu masuk ke indomart untuk membeli sekotak jus jambu dan sepotong donat.

__ADS_1


Lalu duduk tidak jauh dari tempat Zalva menyesap kopinya.


Diselonjorkan kedua kakinya, membiarkan kaki itu menjuntai ke bawah, bergerak di udara bebas.


Sementara Zalva memandanginya dari jarak dua meter di samping kanannya dengan duduk bersila.


Mereka hanya duduk diam di tempat masing-masing, merasakan semilir angin yang bergerak lembut menurunkan suhu di sekitarnya.


Merasakan terpaan sinar matahari yang menjalar menghangatkan punggung mereka.


Merasakan hawa segar yang timbul dari aliran air waduk di bawah mereka.


Merasakan ketenangan yang dibawa oleh gemerisik dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin.


Merasakan keberadaan satu sama lain.


Dua puluh menit mereka lalui dengan terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Zalva yang memikirkan arti kesenangan, dan Sena yang memikirkan arti pertemanan.


Dua puluh menit keheningan itu dilalui tanpa kecanggungan, meski tak sepatah katapun terlontar dari bibir mereka.


Setelah sisa jus jambu tak dapat lagi disedot, Sena meremuk kemasan karton itu.


Lalu mencari sesuatu yang bisa melenyapkan kesunyian menenangkan ini.


"Kamu baik?"


Zalva menatap Sena dengan ujung matanya tanpa memalingkan kepala.


"...sedikit."


Entah mengapa sepatah kata itu membuat Sena menarik bibirnya ke atas.


Membuatnya menghembuskan napas lega mendapati persamaan situasi mereka.


Membuatnya merasa tidak sendirian di dunia seluas ini.


"Gak sama si Tera?"


Zalva memasukkan wadah bekas pop mie ke dalam kresek putih bertuliskan indomie seraya menjawab pertanyaan basa basi Sena.


"Langsung pulang dia."


Sena menurunkan frekwensi gerakan tungkainya yang menyepak udara.


"Sehat sehat, kan, si Tera? Tadi siang kaya kelihatan pucat.."


Zalva menahan tawa begitu mengetahui alasan muka pucat pasi Tera.


Yang tentu saja disebabkan oleh dirinya sendiri yang kepergok menyembunyikan rahasia.


"Barusan ngambil hasil check up dia tadi."


Sena menatap Zalva yang menyenderkan tubuhnya ke belakang, ditopang oleh kedua tangannya.


Lalu beralih menatap kedua tangannya yang juga menopang tubuhnya ke depan.


Mereka berdua sama-sama duduk dengan bantuan kedua tangan, bedanya Zalva meluruskan punggungnya condong ke belakang sedangkan Sena melengkungkan punggungnya ke depan, membungkuk menatap riak air.


"Hasilnya tidak buruk, kan?"


Zalva menatap gerakan awan yang terbang sangat pelan.


"Cukup buruk."


Meluncurlah percakapan sehari-hari yang mengalir lancar tanpa kecanggungan.


Dengan jarak yang masih sama dan tatapan mata tak lebih dari dua detik, percakapan itu terasa manis bagi pembicaranya.


Menyentuh sanubari terdalam dan menyebarkan kehangatan di dalamnya.


Saling mendukung satu sama lain lewat kehangatan itu.

__ADS_1


Hingga tak menyadari seseorang yang berdiri di dekat pohon sambil tersenyum licik, tengah mengawasi mereka berdua.


Bi, sang pemimpin Oreo.


__ADS_2