SULIVAN

SULIVAN
Positif


__ADS_3

Sena menatap kumpulan murid SMP yang melewatinya sambil tertawa kencang, saling bercanda sampai badan mereka tak sanggup berjalan tegak.


Membuatnya menatap mereka iri.


Sungguh menyenangkan punya banyak teman yang bisa bertukar tawa.


Rere juga menatap gerombolan yang tampaknya hendak berjalan menuju pasar kuliner di depan mereka dengan sorot mata bahagia.


“Hei, Rere.”


Rere mengalihkan pandangannya pada Sena.


“Hm?”


Sena mengulum bibirnya, agak ragu melontarkan pertanyaan yang sudah berbaris rapi di ujung lidahnya, bersiap untuk diluncurkan.


“Apa kamu berteman denganku karena berharap sesuatu dariku?”


Sena tak sanggup membalas tatapan Rere, takut dengan jawaban yang kelak terlontar dari mulutnya.


“Tentu saja.”


Jawaban yang ditakutkan itu pada akhirnya keluar dari mulut Rere.


Melambatkan langkah kakinya tanpa sadar, membuat badan Sena yang mulanya sejajar dengan Rere menjadi sedikit tertinggal.


“Karena kamu jadi temanku-”


Rere menepukkan kedua tangannya dengan semangat, lalu membawa keduanya ke depan dagu.


“-aku ingin mengajakmu pulang bareng dan jajan, pergi nonton bersama pas akhir pekan, mengajakmu main ke rumah..“


Sena menatap ujung rambut Rere yang meliuk terkena angin.


“Aku ingin melakukan semua hal yang hanya bisa dilakukan bersama teman.”


Sena mengikuti pandangan Rere yang tertuju pada sekumpulan anak SMP yang tadi melewati mereka tengah berdiri di depan toko kopi.


Dua orang diantaranya masuk ke toko roti di seberangnya, sedangkan seorang laki-laki yang paling tinggi memakai jaket kotak-kotak merah menunjuk gerobak siomay di depan toko roti.


Mereka sepertinya tengah memutuskan untuk membeli berbagai jajan yang berbeda lalu berkumpul di suatu tempat untuk dimakan bersama.


Sena kemudian mengembalikan pandangannya kembali ke Rere yang melihat layar ponselnya dengan tatapan kosong.


Dari jarak mereka, Sena hanya bisa melihat aplikasi yang sedang dibuka, tidak sampai membaca tulisan yang terpampang di dalamnya.


Rere menatap obrolan whatsapp di ponselnya dengan termenung, mendadak terdiam setelah sebelumnya berbicara dengan riang.


Langkah kakinya melambat perlahan hingga sepenuhnya berhenti.


Sebaliknya langkah kaki Sena tetap melaju, sembari mengangkat tangannya untuk menepuk pundak Rere dan menanyakan keadaannya.


Namun jemarinya terhenti di udara ketika Rere membuka mulutnya untuk kembali berbicara.


“Aku ingin melakukan semua itu, tapi…”


Rere mengeratkan genggamannya pada ponsel yang layarnya telah gelap karena dibiarkan tanpa sentuhan.


“..selalu gak bisa karena keadaanku.”


Pundak Rere tertabrak oleh seorang pekerja kantoran yang tengah menelepon seseorang sambil berjalan cepat.


Wanita itu hanya membenarkan tali tas selempang yang melorot lalu berjalan kembali seperti biasa.


"Maaf, traktiran hari ini batal."


Sena menatap pundak Rere yang perlahan menurun seiring dengan ponsel yang kembali masuk ke dalam tasnya.


"...kenapa?"


Rere memegang tali tas punggungnya, menjadikannya pegangan untuk mengatakan sesuatu yang terdengar mengecewakan.


"Karena aku harus menjemput adikku pulang sekarang."


Rere membawa jam tangannya ke area pandangan sang mata, kemudian menatapnya dengan sendu.


"Dan setelah dia pulang, aku akan sibuk bermain dengannya."


Sena mengedipkan matanya pelan, mengerti alasan Rere.


Rere lalu menengok ke belakang, menatap Sena yang nampak sedang termenung.


Posisi badan Sena yang berada di belakangnya meskipun tadi berjalan di sampingnya membuat hatinya sakit.


"Maaf sudah memberimu harapan palsu, dan terimakasih sudah menjadi temanku..."


Rere mengembalikan pandangannya ke depan ketika Sena menatapnya.


"...untuk hari ini."


Rere hendak melangkahkan kakinya sebelum terhenti karena melupakan sesuatu.


"Aku janji akan mentraktirmu di lain hari."


Lalu melanjutkan langkahnya.


Rere sudah siap mendengar kalimat kebencian yang mungkin akan terlontar dari mulut Sena.


Bagaimana tidak, ia yang memaksa Sena mengikutinya, ia juga yang membatalkannya.


Ia tak sanggup melihat raut wajah apa yang akan diperlihatkan oleh Sena.


Sena mungkin hanya akan diam kecewa dan menerimanya, karena ia orang yang baik.

__ADS_1


Namun baginya akan lebih baik jika Sena marah dan mengumpatinya, mengeluarkan semua stok kalimat jahat yang tersimpan dalam kamus otaknya.


Setidaknya rasa bersalahnya akan berkurang dengan itu.


"Sebentar-"


Sena menatap wajah terkejut Rere yang melihatnya berjalan di sampingnya.


Membuatnya menghentikan langkah kakinya dan menatap Sena ragu-ragu.


"...sekali lagi maaf-"


"Minta nomor whatsapp."


Sena menyodorkan ponselnya ke arah Rere yang entah mengapa berkata sambil menutup mata.


"Apa?"


Sena mengambil telapak kanan Rere yang menggenggam tali tasnya lalu meletakkan ponsel di atasnya.


Rere menggenggam ponsel itu dengan canggung sambil bergantian menatap Rere dan ponselnya.


Lalu ragu-ragu mengetik nomornya.


Ponsel itu diterima sang pemilik dengan tatapan tanda tanya oleh sang pengetik.


"Sekolah adikmu kesana juga?"


Rere mengikuti arah jari telunjuk Sena.


"Iya."


"Belok kanan?"


Rere mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Sena yang berjalan ke arah tujuannya setelah berpikir panjang; antara akan mengikutinya atau tidak.


"Oke, kita berpisah di sana. Rumahku ke arah kiri."


Mereka kembali berjalan beriringan dalam diam.


Sama-sama bingung ingin membahas apa, setelah melewati percakapan rumit yang hampir menjadi salah paham tadi.


Sekitar tiga puluh meter sebelum perempatan tempat mereka berpisah, bibir Rere yang gatal ingin bertanya akhirnya menyerah.


"Hei, Sena."


Pandangan Sena yang tengah mengikuti terbangnya seekor burung camar dialihkan ke perempuan berseragam olahraga di sebelahnya.


"Reaksimu bukan seperti yang aku kira."


Bibir Sena melengkung perlahan mendengar kalimat tak terduga yang keluar dari mulut Rere.


"Jawabanmu juga bukan jawaban yang aku kira."


Membuat dahi Rere yang tertutup poni rata sepanjang alis itu mengernyit.


Sena tertawa pelan, lalu menatap burung camar yang terbang berbalik arah.


Kali ini mengejar mentari yang mulai meredupkan sinarnya dan turun pelan-pelan menuju persembunyiannya.


Lalu mengubah arah pembicaraan mereka.


"Memang kenapa dengan reaksiku?"


Rere menggerakkan pupilnya berbelok ke arah Sena tanpa memutar kepalanya.


"Gapapa, sih. Kukira kamu bakalan..."


Pupilnya kembali ke tempat semula, menatap jalanan penuh dedaunan kering yang bersuara unik ketika diinjak.


"...marah."


Sena menertawakan kesimpulan Rere yang dianggapnya lucu.


"Aku yang memaksamu pergi, aku juga yang membatalkan rencana itu."


Rere mengatakannya dengan cepat, merasa harus membuat alasan yang logis dan tepat untuk menanggapi tawa Sena.


"Ya gimana lagi... aku ada adik yang belum mandiri-"


"Cowok apa cewek?"


Rere terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba Sena setelah tawanya usai.


"...cewek."


Sena menepuk pundaknya lumayan kencang, membuat Rere kaget dan bahunya berjingkat.


"Wih, asik tuh, punya adek cewek."


Dua puluh meter selanjutnya terlewati dengan cerita tentang sang adik.


Dari caranya bercerita, Rere nampak bangga dengan adik kecilnya.


Bocah berusia lima menjelang enam tahun itu bersekolah di PAUD yang menyediakan tempat penitipan anak.


Panggilannya Rara.


Bocah manis itu adalah anak periang yang tidak malu bertemu orang.


Setiap tetangga yang bertemu mereka di jalan pergi maupun pulang disapanya dengan ceria.


Rara terlihat begitu menggemaskan ketika bernyanyi sambil menari; menggoyangkan badan, perut, dan pantatnya ke kanan dan kiri.

__ADS_1


Cita-cita terbesarnya adalah menjadi penyanyi yang naik panggung megah.


Karena itu rencananya saat Rara menari di acara kelulusan sekolahnya nanti, Rere dan sang ibu berniat mengajukan ijin seharian untuk mendukungnya.


Mereka sudah berencana membawa banner besar dan menyemangatinya dengan heboh.


Rara juga anak yang pintar.


Meski sering ditinggal sang ibu, ia tidak banyak merengek dan menangis.


Satu-satunya tangisan paling menyedihkan Rara adalah ketika balon merah muda pemberian gurunya meletus di jalan.


Membuat Rere kebingungan menenangkannya yang tak mau pulang dan merengek meminta balonnya dikembalikan.


Setelah tenang dan sesenggukannya berakhir, terungkap bahwa balon itu rencananya akan diberikan kepada sang ibu.


Dari cerita-cerita itu, Sena jadi ingin bertemu dan bermain dengannya.


"Kapan-kapan ayo main ke rumahku. Aku punya banyak kue dari tempat kerja ibuku."


Sena menyanggupinya.


"Oke. Kapan-kapan kalau latihanmu berakhir lebih awal."


Rere membalas tatapan Sena dengan senyuman kecil.


"Kamu orang baik."


Pandangan Rere beralih menatap batako yang tersusun rapi di bawahnya.


"Meski aku tak bisa pergi main seperti anak muda lain untuk menjaga Rara, kamu tetap mau menjadi temanku."


Sena tersenyum menatap awan kumulus yang berkumpul menutupi matahari, berjalan perlahan menampakkan cahaya di baliknya.


Membangkitkan kenangan masa lalunya ketika Tina meninggalkan Rere sendirian lalu tersenyum berjalan menuju dirinya.


Kenangan yang sempat dialaminya sendiri.


"Aku pernah punya teman yang..."


Rere menjeda kalimatnya, tengah memikirkan padanan kata yang tepat untuk ungkapan selanjutnya.


"...tidak sebaik kamu."


Sena menangkap kesenduan yang terpancar dari sorot matanya.


Lalu menanggapi kalimat bernada sedih itu dengan sedikit bijak.


"Meskipun temanmu dulu tidak baik, bukan berarti teman selanjutnya juga sama."


Sena menatap kabel panjang yang terbentang di atas kepalanya, sambung menyambung melewati beberapa tiang listrik yang berjajar di sepanjang jalan.


"Dan kita tidak boleh mengambil kesimpulan hanya dari persangkaan kita sendiri."


Kalimat ini khususnya ditujukan kepada dirinya sendiri, yang juga menyimpulkan pikiran rumitnya seenak hati.


"Barangkali, sesuatu yang ditakutkan itu hanya ada di pikiran kita, tidak seburuk kenyataannya. "


Langkah mereka terhenti di persimpangan, menandakan waktunya berpisah.


Sebelum berbelok, Sena menanyakan sesuatu yang agak sensitif.


Waktunya sengaja dipilih tepat sebelum berpisah demi mengurangi kecanggungan yang mungkin akan terjadi karenanya.


"Apakah teman lamamu itu.... Tina?"


Rere menatapnya dengan pandangan kosong, kemudian berpamitan melambaikan tangannya.


Membiarkan pertanyaan itu buram tak terjawab.


Perjalanan Sena selanjutnya dilalui dengan menjalin berbagai pikiran rumit.


Memikirkan persaaman masalah antara dirinya dan Rere.


Mereka sama-sama berpikir negatif meski kenyataannya tidak selalu begitu; masih abu-abu.


Ia lalu teringat nasihat sang ayah di pertandingan pertamanya yang hampir gagal karena ia sangat gugup.


Kegugupan itu membuatnya hampir menyerah sebelum bertanding.


Lima menit sebelum pertandingan, ia ditarik oleh ayahnya untuk menepi ke belakang.


Menyemangatinya dengan fokus memikirkan usaha apa yang bisa dilakukan untuk membuatnya menang.


Fokus ke hal-hal positif, bukan negatif. Maka pikiran positifmu menarik semua hal positif sampai semua hal negatif tertutupi olehnya.


Kalimat yang selalu diingatnya ketika akan mengikuti turnamen, namun malah dilupakannya di keadaan sehari-hari seperti kejadian tadi.


Begitu melewati waduk besar yang airnya beriak tenang dengan kilau pantulan cahaya matahari, Sena memutuskan untuk berhenti sejenak di sana setelah membeli sekotak jus jambu.


"Sena?"


Suara familiar itu menyapa gendang telinganya, membuat jantungnya hampir meloncat.


Adalah Zalva, yang keluar dari pintu indomart menenteng sekaleng kopi dan sewadah pop mie.


Namun, ada yang berbeda dari detakan jantungnya kali ini.


Tidak seperti degupan kencang siang tadi yang membuatnya gugup dan resah.


Degupan ini membuatnya tenang, lega, dan nyaman.


Seperti meminum segelas es kelapa muda di tengah teriknya matahari.

__ADS_1


Seperti menatap indahnya senja di atas bukit setelah lelah memanjat.


Sena tidak tahu bertemu Zalva di penghujung hari yang melelahkan ini membuatnya nyaman.


__ADS_2