SULIVAN

SULIVAN
Celah


__ADS_3

“Jumat depan ada makan malam perusahaan.”


Seseorang mengetuk pintu, membuat wanita paruh baya yang sedang menelepon itu memindahkan ponsel yang dipegangnya ke pundak kanan, menjaga ponselnya agar tidak terjatuh selagi ia mengurus dokumen dengan bantuan kepala yang dimiringkan.


“Alamatnya akan kukirim setelah ini. Seperti biasa, kita bertemu di depan restoran, lalu masuk bersama.”


Tumpukan kertas di sisi kanannya diangkat kemudian diserahkan pada pegawai wanita yang masuk untuk mengambilnya.


“Ibu Zalva?”


Wanita itu terkesiap mendengar panggilan khas sang suami yang dilontarkan kepadanya ketika marah.


Ia mungkin merasa diabaikan.


Ucapannya tak segera dijawab karena istrinya sedang memilah dan menumpuk beberapa dokumen murid les baru yang hendak diserahkan pada karyawannya tadi.


“Iya, Ayah Zalva.”


Percakapan antara suami istri itu lalu terputus setelah sang suami dipanggil seseorang untuk mengurus sesuatu.


Yang membuat kemarahan berpindah pada sang istri.


Ibu Zalva mengepalkan tangan demi mendengar suara perempuan menggelitik telinganya di seberang telepon.


Suara yang sama dengan perempuan yang kemarin malam datang berkunjung ke rumah mengambil berkas lemburan suaminya.


Penampilannya kala itu yang tetap segar dengan semerbak parfum meskipun bekerja sampai malam membuat ibu Zalva menaruh rasa curiga.


Namun kecurigaan itu segera ditepis untuk kembali fokus pada pekerjaan rumahnya yang belum selesai.


Kecurigaan itu muncul lagi dan semakin meningkat ketika hari ini ia kembali mendengar suara centil itu di telepon suaminya, menyuruhnya mendekat untuk mengecek sesuatu.


Suara yang seakan tahu keberadaan dirinya di seberang telepon.


Suara yang terdengar begitu jelas hingga bisa membayangkan ekspresi wajah menyebalkan perempuan itu ketika mengatakannya.


Dengan kualitas suara sejernih itu, ia menyimpulkan dua kemungkinan yang sedang terjadi di kantor suaminya.


Pertama, suaminya menelepon dengan mode loudspeaker.


Kedua, perempuan itu memang sengaja bersuara keras agar suaranya terdengar oleh orang di seberang telepon.


Ia mungkin tidak akan curiga jika sang suami mengabaikan perempuan itu untuk menyelesaikan pembicaraan mereka.


Namun sang suami malah membuat pembicaraan mereka terhenti di tengah jalan lalu berkata hendak mengetik sisa pembicaraannya melalui pesan whatsapp.


Semua perbuatan tidak biasa suaminya yang belakangan ini diperbuat muncul satu persatu.


Sering lembur dan pulang telat, mengabaikan pesannya, hingga parfum asing yang tercium dari kemejanya.


Meski sudah menduga keadaan seperti ini mungkin akan terjadi, tetap saja ia ingin menjaga keutuhan keluarga hasil pernikahan bisnis ini.


Ia dan sang suami memang menikah bukan karena suka sama suka.


Bahkan Zalva lahir dari ketidaksengajaan; di luar rancangan masa depan mereka.


Rumah tangga mereka memang sedingin ini sejak pertama kali berdiri.


Masalah internal yang hanya diketahui mereka bertiga tidak begitu mempengaruhi karir mereka.

__ADS_1


Ia dan suaminya tetap hadir sebagai pasangan di berbagai event bisnis pribadi maupun perusahaan sang suami, juga hadir sebagai orang tua Zalva di berbagai acara sekolahnya.


Ia rela tak pernah berangkat bersama suaminya menuju makan malam perusahaan yang digelar setiap tahun.


Ia rela menjadi budak semalam selama acara keluarga besar suaminya di tahun baru.


Ia juga rela mengurusi bisnis sekaligus mengawasi tumbuh kembang sang anak.


Semua itu dilakukannya demi menjaga rumah tangga ini tetap berjalan.


Kemudian muncul orang lain yang hendak menyeruak meninggalkan celah pada rumah tangga yang nampak kokoh ini.


Bagaimana jika kelak celah ini terkuak; lalu mempengaruhi rumah tangga yang susah payah dibangun dan dijaganya?


Ia sudah memprediksi kejadian ini jauh-jauh hari lalu mendirikan bisnis sebagai solusinya.


Meskipun bisnis les ini belum sempurna menjadi aset perlindungannya karena dibangun atas nama suaminya.


Ia masih harus mencari cara untuk membalikkan nama itu diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya dan relasinya yang mengakar dimana-mana.


Ring ring...


Dering telepon kabel mengalihkan pikirannya.


Sang sekretaris kemudian masuk membawa sebuah kardus kecil dan menaruhnya di meja.


Pengirimnya adalah guru mapel matematika Zalva, yang minggu kemarin bertemu dan mengajaknya berinvestasi pada bisnis penginapannya.


Ia tidak menerima tawaran sang guru kala itu, mengatakan akan memikirkannya jika mendapat tawaran yang setimpal.


Tawaran itu kemudian dikirimkan kepadanya lewat sekretarisnya.


"Kirimkan sebuah kardus roti ke alamatnya. Sampaikan aku puas dengan hadiahnya."


Sang sekretaris pamit keluar setelah menerima kartu atm kantor.


Ibu Zalva menatap isi kardus berupa tiga lembar kertas ini dengan senyuman merekah.


Ia puas karena kertas ini bisa mendukung salah satu aset perlindungan diri ketika rumah tangganya retak; yaitu Zalva.


Ibu Zalva memasukkan kertas itu ke tas jinjingnya, tidak sabar untuk memberikannya pada sang anak.


Namun ketika kertas ini diberikan, Zalva malah membuatnya naik pitam karena berdiri menghamburkannya.


Menghamburkan usaha yang dibangunnya dengan susah payah.


"Soal ujian matematika bulan depan? Apa ibu tidak sadar dengan perbuatan ibu?!"


Zalva mengabaikan ponselnya yang bergetar di meja, menampilkan panggilan dari salah satu kontak bernama Rio.


"Ibu tidak akan melakukannya kalau saja nilaimu tidak turun dan mempermalukan nama ibu sebagai pimpinan tempat les matematika!"


Ponsel yang bergetar di meja kemudian mengedip mati setelah menampilkan panggilan tak terjawab sebanyak dua kali.


"Apa kamu tahu betapa susahnya mendapatkan soal ini?!"


Sang ibu berkacak pinggang dan berteriak dengan mata nyalangnya.


"Ibu bahkan tak pernah melarangmu keluar malam dan melakukan kegiatan tidak berguna dengan motor jelekmu itu!"

__ADS_1


Ia mendekati sang anak dan menamparnya keras.


"Lalu dengan tidak tahu malunya kamu menolak melakukan sesuatu semudah ini! Sementara ibu berusaha melakukan semua yang bisa ibu lakukan!"


Zalva yang masih berdiri tegak meski terhuyung dengan tamparan pertama mulai goyah dengan tamparan kedua di pipi kanannya.


"Kamu sudah tidak waras!"


Zalva meraba pipinya yang berdenyut oleh sentuhan sang ibu.


Denyutan itu berpindah ke dadanya yang terasa sesak.


"Permintaan ibu tidak banyak! Ibu hanya memintamu jadi yang terbaik-"


"Memangnya aku pernah meminta pada ibu?"


Zalva melangkahkan kakinya mundur, mengantisipasi tangan sang ibu yang bersiap hendak menamparnya lagi.


"Aku sudah menuruti perintah ibu menjadi murid berkelakuan baik dan mempertahankan peringkat satu paralel selama lima tahun ini-"


Sang ibu melangkah maju, membalas ocehan anaknya dengan menjerit keras.


"Itu kewajibanmu karena ibu berbaik hati mendukungmu-"


"Berbaik hati?!"


Zalva berteriak membantah untuk mengimbangi suara melengking sang ibu yang menusuk dinding hatinya.


"Ibu bahkan tidak peduli pada tubuhku yang sakit-sakitan dan mimisan demi mencapai yang ibu namakan kewajiban itu!"


Sang ibu terdiam mengatur napasnya yang mulai memburu.


"Apa ibu tahu apa yang kudapatkan dari kewajiban itu?"


Layar ponsel yang tadinya mati kembali berkedip, menampilkan panggilan dari kontak lain bernama Doki.


"Ibu bahkan tidak tahu berapa banyak temanku berbalik jadi musuh demi mencapai peringkat itu?!"


Zalva mengangkat tangannya, menekan telunjuknya di dada.


"Setelah menahan semua penyiksaan itu demi menjadi anak baik yang disukai ibu, lalu ibu menyuruhku menjadi anak jahat yang melakukan perbuatan keji hanya untuk mendapat nilai sempurna?"


Kalimat panjang yang diucapkan dengan berapi-api membuat mata Zalva terasa panas.


"Seberapa jauh ibu akan bertindak demi kepuasan ibu sendiri?"


Zalva bergerak mendekati kursi, menumpukan berat tubuhnya pada kursi itu.


"Seberapa banyak siksaan yang harus kuhadapi?!"


Zalva meraih jaketnya yang tergantung di punggung kursi, menggenggamnya kuat untuk mencegah air mata yang hendak merangsek keluar.


"Apakah ibu ingin membuatku jadi seorang monster?!"


Zalva meraih kunci motornya dan melenggang keluar tanpa menoleh ke belakang, membiarkan air matanya turun membasahi wajahnya.


Meninggalkan ponselnya yang kembali berkedip memunculkan pesan dari kontak bernama Doki.


Cepat kemari! Rio dipukuli sampai hampir pingsan karena oreo tahu rencana kita!

__ADS_1


__ADS_2